Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19.
Kamar kost kecil itu terasa begitu sunyi malam ini.
Kayla duduk diam di lantai bersandar pada sisi ranjang dengan mata kosong menatap jendela. Lampu kamar belum dimatikan, tapi suasananya tetap terasa gelap dan sesak.
Tangannya masih sedikit gemetar setelah kejadian tadi.
Suara Arka.
Tatapan marahnya.
Cara cowok itu menarik Dimas.
Semua terus terulang di kepala Kayla tanpa henti.
Perempuan itu memeluk lututnya sendiri pelan. Dadanya terasa berat sampai sulit bernapas lega. Untuk pertama kalinya, Kayla benar-benar merasa lelah.
Lelah sama semuanya.
Ponselnya yang sejak tadi diam akhirnya ia ambil perlahan. Jemarinya ragu beberapa detik sebelum akhirnya menekan satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi malam-malam seperti ini.
Mama.
Nada sambung terdengar beberapa kali sampai akhirnya suara lembut di seberang sana muncul.
“Kayla?”
Begitu mendengar suara ibunya, pertahanan Kayla langsung runtuh.
“Mama...” suaranya kecil dan serak.
“Loh? Kamu kenapa, sayang?” Nada suara wanita itu langsung berubah panik.
Kayla menggigit bibirnya kuat menahan tangis, tapi gagal.
“Aku capek, Ma...”
Hening beberapa detik.
“Mama denger kamu nangis.” Suara ibunya terdengar jauh lebih lembut sekarang. “Cerita sama Mama.”
Kayla menunduk sambil menghapus air matanya kasar.
“Aku pengen pulang...”
Kalimat itu langsung membuat dadanya semakin sesak.
Sudah lama Kayla menahan semuanya sendirian di Jakarta. Kuliah, kerja part time, masalah dengan Arka, tekanan hidup yang makin berat—semuanya perlahan menguras tenaganya.
Dan malam ini, Kayla merasa tidak kuat lagi.
“Mau pulang ke Bandung...” bisiknya lirih.
Di seberang sana, ibunya menghela napas pelan.
“Pulang aja kalau itu bikin kamu tenang.”
Tangis Kayla pecah seketika.
“Aku gagal ya, Ma...?”
“Hey.” Suara ibunya langsung memotong lembut. “Kamu gak gagal.”
“Tapi aku capek banget...”
“Kalau capek istirahat dulu. Rumah selalu ada buat kamu.”
Kayla memejamkan matanya kuat-kuat. Air mata terus jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.
Sudah lama ia ingin mendengar kalimat itu.
Sudah lama ia ingin pulang.
Di luar kamar kost, suara motor terdengar samar melewati jalanan malam Jakarta yang dingin.
Sementara di dalam kamar kecil itu, Kayla menangis sendirian sambil menggenggam ponselnya erat.
Dan jauh di dalam hatinya, Kayla mulai berpikir untuk benar-benar pergi meninggalkan semuanya.
Termasuk Arka.
Kayla menatap langit-langit kamarnya lama setelah telepon dengan ibunya berakhir. Dadanya masih terasa sesak, tapi setidaknya sekarang ada sedikit rasa hangat yang menenangkan.
Rumah.
Bandung.
Mama.
Hal-hal sederhana itu tiba-tiba terasa sangat jauh sekaligus sangat ingin ia datangi sekarang juga.
Ponselnya kembali bergetar di tangannya.
Nama Arka muncul di layar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kayla hanya diam memandanginya tanpa berniat mengangkat. Air matanya kembali turun pelan saat mengingat bagaimana cowok itu menatapnya tadi.
Marah.
Kecewa.
Dan entah kenapa, itu lebih menyakitkan dibanding bentakan apa pun.
Tak lama kemudian, pesan-pesan Arka mulai masuk bertubi-tubi.
Arka: Angkat.
Arka: Gue cuma mau ngomong.
Arka: Kay.
Kayla menggigit bibirnya pelan lalu mematikan layar ponsel. Ia tidak sanggup membaca lebih banyak lagi malam ini.
Bukan karena tidak sayang.
Justru karena terlalu sayang.
Kayla takut kalau ia terus bertahan, dirinya akan semakin tenggelam dalam hubungan yang perlahan membuatnya kehilangan diri sendiri.
Perempuan itu bangkit pelan dari lantai lalu membuka lemari kecilnya. Tatapannya jatuh pada koper abu-abu di sudut kamar.
Sunyi.
Untuk beberapa detik, Kayla hanya berdiri diam memandang koper itu dengan pikiran kosong.
Sampai akhirnya ia menarik napas panjang.
Dan perlahan mengambil koper tersebut.
...---...
TO BE CONTINUE