NovelToon NovelToon
Figuran Yang Polos

Figuran Yang Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
​Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Kertas yang Menyesatkan

​Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kelas XII-A, menyinari butiran debu yang beterbangan di atas meja kayu. Di sana, Raisa duduk dengan punggung tegak, jemarinya bertaut di atas pangkuan. Ia tampak seperti pualam yang cantik namun rapuh.

​Tiga hari. Ini adalah hari ketiganya menghirup udara sekolah umum setelah bertahun-tahun terkurung dalam sangkar emas bernama homeschooling.

​"Rai ...?"

​Sebuah suara pelan memecah keheningan di sampingnya. Riri, teman sebangkunya, tampak ragu. Ia sudah memperhatikan Raisa sejak hari pertama—gadis yang selalu diantar jemput dengan pengawalan ketat. Riri tidak tahu saja, bahwa di balik ketenangan itu, ada trauma masa kecil yang membayangi. Luka lama saat Raisa diculik karena persaingan bisnis sang Papa masih menyisakan proteksi berlebihan dari keluarganya.

​"Iya, Ri?" Raisa menoleh, senyum tipis terukir di wajahnya yang lembut.

​Riri sedikit lega. "Ehm, kamu ... suka baca novel enggak?"

​Raisa mengangguk pelan, matanya berbinar kecil. "Suka banget."

​"Mau coba baca ini?" Riri menyodorkan sebuah buku dengan sampul berwarna gelap yang tampak misterius. "Tapi ... genrenya mungkin kamu agak kurang suka. Ini dark romance sekolah gitu."

​"Coba dong," jawab Raisa lembut sembari menerima buku itu.

​"Kamu bawa pulang aja. Aku yakin kamu bakal suka, atau minimal ... penasaran sampai akhir," ucap Riri dengan nada meyakinkan.

​Malam harinya, suasana kamar Raisa begitu sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan gemerisik kertas yang dibalik. Raisa meringkuk di balik selimut, matanya terpaku pada setiap baris kalimat di dalam novel pemberian Riri.

​Awalnya, ia hanya ingin membaca beberapa lembar. Namun, narasi drama remaja yang kelam itu seolah menariknya masuk ke dalam lubang hitam yang tak berujung.

​"Hah? Kok dia tega banget sih?" gumam Raisa kesal.

​Wajahnya berubah-ubah seiring emosi yang dipermainkan. Kadang ia tersenyum tipis saat ada momen manis, namun sedetik kemudian ia bergidik ngeri membaca obsesi gila tokoh-tokoh di dalamnya.

​Hingga sampailah ia di bab-bab terakhir. Jantung Raisa berdegup kencang, berharap ada keajaiban. Namun, matanya membelalak tak percaya saat membaca kalimat penutup.

​"Apa-apaan ini?!" Raisa berseru tertahan, menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa malah begini akhirnya?"

​Napasnya memburu karena emosi. Logikanya menolak keras ending tragis tersebut. Bagaimana bisa pemeran utama perempuan berakhir tersiksa selamanya karena obsesi gila sang antagonis? Dan yang lebih parah, pemeran utama pria yang seharusnya menjadi pelindung justru tewas terbunuh?

​"Penulisnya sakit hati ya? Kok jahat banget sama karakter sendiri!"

​Raisa mengacak rambutnya frustrasi. Ia melirik ke arah jam beker di nakas. Pukul 03.00 pagi. Rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba menyerang kesadarannya yang sedang emosi.

​Pandangan Raisa mulai mengabur, buku itu masih memeluk dadanya saat ia perlahan kehilangan kesadaran dan jatuh ke dalam tidur yang sangat dalam.

​BRAKK!

​"Apaan sih lo?! Gue udah bilang untuk jangan ganggu Zella lagi!"

​Bentakan menggelegar itu menghantam kesadaran Raisa seperti martil. Kepalanya berdenyut hebat. Kebisingan yang asing menyerbu indranya suara bisik-bisik yang tajam, tawa sinis, dan derap langkah kaki di atas lantai koridor yang dingin.

​Raisa mengerjap, mencoba mengumpulkan nyawanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sensasi dingin dan basah yang mengalir dari pelipisnya. Spontan, ia menyentuh bagian itu. Cairan kental berwarna merah menghiasi jemarinya. Darah.

​"Gue ... kenapa?" gumamnya lirih.

​Ia mendongak dan seketika membeku. Ia tidak lagi berada di kamarnya yang nyaman. Ia terduduk di lantai koridor sekolah yang ramai. Di sekelilingnya, puluhan siswa berseragam asing menatapnya dengan pandangan menghina, seolah ia adalah hama yang mengganggu pemandangan.

​Dan tepat di hadapannya, berdiri seorang laki-laki dengan aura yang sangat mengintimidasi. Rahangnya mengeras, matanya menatap Raisa dengan kobaran amarah yang murni.

​"Jangan berani-berani lo sentuh dia lagi, atau lo bakal tahu akibatnya!" laki-laki itu membentak lagi, suaranya rendah namun mematikan.

​Raisa gemetar. Siapa mereka? Kenapa aku ada di sini?

​Matanya yang berkaca-kaca tanpa sengaja melirik ke arah dada kiri laki-laki itu. Sebuah nametag hitam tersemat di sana, kontras dengan kemeja putihnya yang berantakan.

​ARLAND.

​Jantung Raisa serasa berhenti berdetak. Nama itu ... wajah itu ... bukannya dia pemeran utama pria di novel yang ia baca semalam? Laki-laki yang seharusnya menjadi pahlawan namun berakhir tragis karena obsesi?

​"Arland?" suara Raisa nyaris tak terdengar, tenggelam dalam ketakutan.

​"Aku... aku pasti masih tidur. Ini cuma mimpi buruk, kan?" gumam Raisa dengan suara bergetar.

​Ia menyentuh pelipisnya yang masih berdenyut. Perihnya terasa begitu nyata, menyengat hingga ke saraf, membuat pertahanannya runtuh. Jika ini mimpi, kenapa rasa sakitnya tidak kunjung hilang?

​Raisa mengalihkan pandangannya ke arah samping Arland. Di sana, seorang gadis cantik berseragam rapi tengah terisak pelan. Matanya sembab, dan di dadanya tertera sebuah nama: Zella.

​Mata Raisa membelalak sempurna. Loh?! Beneran dia? Zella si pemeran utama wanita?

​Jantungnya berpacu gila. Jika itu Zella dan di depannya adalah Arland, lalu dia siapa? Dengan tangan gemetar, Raisa menunduk, mencari identitas di seragamnya sendiri.

​Anna Eliam.

​"Anna... Eliam?" Raisa bergumam tak percaya.

​Ingatannya tentang novel semalam berputar cepat. Anna Eliam hanyalah seorang figuran—gadis yang tidak punya peran penting selain menjadi pengganggu yang tergila-gila pada pria antagonis utama, Ezkiel De Luca.

​Ezkiel adalah definisi mimpi buruk. Pria dingin yang terobsesi pada Zella. Nama "De Luca" bukan sembarang nama; mereka adalah keluarga terkaya nomor satu yang kekuasaannya menyentuh segala aspek kehidupan di dunia novel ini. Dan Anna? Anna hanyalah pion yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian Ezkiel.

​"Jadi... aku beneran jadi figuran?" gumamnya lemas.

​Merasa terpojok oleh tatapan tajam Arland dan bisikan kebencian dari siswa lain, Raisa—yang kini berada dalam tubuh Anna—merasa sesak. Ketakutannya memuncak. Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga, berusaha keluar dari kerumunan yang menghakiminya.

​Aku harus pergi dari sini! Aku harus bangun!

​Karena terlalu panik, Raisa tidak memperhatikan jalan di depannya.

​BRUK!

​Tubuh kecilnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh, layaknya menabrak dinding beton. Dampaknya begitu kuat hingga ia jatuh terduduk di lantai koridor yang dingin untuk kedua kalinya.

​"Aduh..." Raisa meringis, memegangi kepalanya yang semakin pening.

​Ia mendongak untuk meminta maaf, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan. Di depannya berdiri seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap. Sepasang mata tajam menatapnya dengan binar kebencian yang begitu pekat, seolah-olah kehadiran Anna di depannya adalah sebuah noda kotor.

​Raisa tanpa sengaja melirik nametag di jas mewah pria itu.

​EZKIEL DE LUCA.

​Napas Raisa tercekat. Pria ini adalah puncak dari segala konflik tragis yang ia baca semalam. Dan sekarang, ia tepat berada di bawah bayang-bayang pria yang paling ditakutinya.

1
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
wahyu andria
suka karyanya. . .up yang bnyak thor
Teguh Aliyanto
up yg bnayak thorr jagan 1 satu aja
Teguh Aliyanto
semagat💪💪
Teguh Aliyanto
ug yg banyak thor😍😍
Teguh Aliyanto
lanjuth thorr😍
Teguh Aliyanto
lanjuttt🤭🤭
Teguh Aliyanto
lanjur thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!