Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
******
"Mmm, makanan ini enak, tidak begitu manis. " Calista menggerakkan kepalanya kanan kiri bertanda senang.
"Cukup menyenangkan menikmati makanan manis sambil menikmati pemandangan matahari terbenam. " tambahnya sambil menatap mentari senja yang perlahan lahan mulai terbenam.
"Makanlah sepuasnya, ini semua milikmu, tidak akan ada yang mengambilnya. " Damar mengelus pelan rambut Calista lalu melap krim yang terlihat berantakan di sisi pinggir mulut Calista karena makan terlalu bersemangat.
Arkana yang melihat itu hanya berdecih kesal, Damar ini kenapa selalu menang banyak daripada dia? Tidak adil!
Padahal ia juga suami sah Calista.
"Ini semua untukku? Lalu kalian tidak ikut memakannya juga? " tanya Calista bingung, menatap lima piring berisikan makanan manis di atas meja.
"Kami tidak menyukai makanan manis, Calista. Kecuali kamu, dan bila kamu bersedia untuk kami makan kembali seperti semalam. " ujar Arkana sembari menaik turunkan alisnya.
"Dasar pria mesum. " Calista mendelikkan matanya menatap Arkana dengan kesal.
"Mesum dengan istri sendiri itu hal lumrah, sayang. Kecuali aku mesum pada istri orang. " ujar Arkana santai.
"Yak, Arkana. Mau ku sentil bibir mu, hah? "
"Di cium saja, sayang. Kalau bisa di jilat sekalian aku tidak masalah. " goda Arkana menjadi jadi, ia memajukan kedepan bibirnya pada Calista yang wajahnya sudah merah padam.
"Dasar orang gila! "
******
Sehabis memakan makanan manis sambil menatap matahari terbenam, dilanjutkan dengan makan malam dan berjalan sebentar di pinggiran pantai.
Ketiganya kini sudah tiba di penginapan tepat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, belum begitu larut malam untuk tidur. Namun Calista sudah terlihat begitu lelah dan ingin cepat cepat menidurkan diri di atas kasur dan terbenam pada mimpi.
"Kamu harus membersihkan diri terlebih dahulu baru bisa berbaring di atas kasur, Calista. " ujar Arkana yang melihat Calista hendak melemparkan diri pada kasur yang empuk itu.
"Aku lelah, bahkan untuk melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan membuka pakaian pun aku tak mampu. " mengadu Calista, ia menghembuskan napas dalam-dalam.
"Aku akan membantumu membersihkan diri. " Arkana dengan cepat menggendong Calista dan di bawanya ke kamar mandi saat melihat Damar yang hendak mendekati Calista untuk ia gendong.
Kali ini ia tidak ingin kalah dari Damar.
"Dasar pencemburu gila. " gumam Damar melihat kelakuan Arkana tanpa bercermin.
Padahal ia juga cemburu buta.
Sementara di dalam kamar mandi. Arkana terlihat begitu hati hati membuka kancing tiap kancing dress yang dikenakan Calista, wanita itu tengah bersandar nyaman di dalam bathup.
Tubuhnya benar-benar lemah, Arkana bahkan terlihat begitu hati hati saat akan menyentuh tubuhnya.
"Aku tidak akan memandikan mu, melihat bagaimana lemas dan dinginnya tubuh mu, Calista. Aku akan mengelap pelan tubuh mu dengan kain. " Arkana mengambil kain kecil lembut khusus mengelap muka dan membasahinya sedikit di keran wastafel.
"Aku membawakan salep, jangan lupa di oleskan sebelum berpakaian. " Damar datang dengan tangan yang membawa salep untuk Calista dan juga pakaian tidurnya.
"Kamu terlihat begitu lemas sekali, Calista. Kamu sakit? " Damar mendekati Calista yang tengah memejamkan mata, menyentuh dahi dan leher istrinya. "Badanmu panas sekali, apa ini karena angin pantai yang begitu kencang tadi? " khawatir Damar.
"Mau ku panggilkan dokter untuk memeriksa? "
"Tidak perlu, aku hanya perlu tidur saja, aku mengantuk sekali. " tolak Calista pelan dengan lemas.
"Jangan terlalu lama membersihkan tubuh Calista, Arkana. Membiarkannya berlama lama dengan kondisi tak berpakaian begini akan membuat sakitnya semakin parah. "
Damar menyerahkan salep pada Arkana untuk mengoleskan pada area pribadi Calista agar cepat sembuh, sedangkan ia sibuk memakaikan Calista pakaian tidur atasannya, setelah Arkana telah selesai mengoleskan salep maka berganti memakaikan bawahan pakaian tidur.
"Kalau sampai besok sakit mu ini masih juga berlarut, aku langsung memanggilkan dokter untuk memeriksa kondisi mu, Calista." Arkana menggendong Calista keluar kamar mandi menuju kasur untuk membaringkan tubuh lemas istrinya itu.
"Selamat tidur, sayang. Semoga saat kamu membuka mata di pagi hari besok, rasa sakit kamu sudah hilang," Arkana ikut berbaring disebelah Calista dan memeluk tubuh istrinya itu dengan lembut. "Aku tidak bisa melihat kamu sakit seperti ini, rasanya juga ikut sakit melihat wanita tercintaku lemas seperti ini. " terakhir ia bumbuhkan ciuman lama di kening Calista lalu ikut terpejam.
Ceklek!
"Sebaiknya kamu membersihkan diri, Arkana. Dengan kamu memeluk Calista dalam kondisi kamu belum mandi dan berganti pakaian, kuman di tubuh kamu malah berpindah pada Calista, dia tidak akan bisa sembuh besok pagi seperti yang kamu minta. " ujar Damar yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.
Udara malam ini lebih dingin dari malam kemarin, pantas saja Calista bisa langsung jatuh lemas begini, belum lagi tubuh Calista memang sudah pegal pegal karena kejadian kemarin malam itu.
Damar tidak munafik, ia memang agak sedikit kasar dan brutal saat memperlakukan Calista. Maklum, setelah sekian lama pernikahan mereka, ia akhirnya mendapatkan malam pertamanya.
Ya walaupun harus rela berbagi dengan Arkana.
"Ck, dasar pengganggu! " kesal Arkana, namun ia tetap mengikuti apa yang di katakan Damar.
Damar hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arkana, sudah biasa, pikirnya.
Setelah meletakkan handuk kecil yang tadi ia gunakan untuk mengelap mukanya di atas kursi sofa. Damar ikut berbaring di sisi kanan Calista, sudah jadi hak paten miliknya, sedangkan Arkana di sebelah kiri Arkana.
"Cepat sembuh, sayang. Aku gak suka kamu sakit begini. " Damar mengecup sebentar bibir Calista lalu ikut memejamkan untuk menyelam ke alam mimpi.
******
‘Di alam bawah sadar’
Calista menatap sekitarnya dengan kebingungan.
‘dimana lagi ia sekarang? Bukannya tadi tengah tertidur karena suhu tubuhnya tiba-tiba panas?’ pikir Calista.
"Nona muda, harusnya anda sadar diri. Tuan Atharva mana mau kembali pada wanita bersifat buruk dan posesif seperti anda, jadi wajar saja mengapa saudara saya Lili bisa mengambil hati milik Tuan Atharva dari anda. Dia cantik, lemah lembut, dan lebih penting tidak tempramen buruk seperti anda. "
Calista mengernyit dahinya bingung saat mendengar suara perempuan yang bicara dengan suara lembut namun begitu menusuk.
‘siapa? ’ dalam hatinya Calista bertanya-tanya, ia tidak bisa berbicara. Bahkan saat mulutnya terbuka lebar siap untuk berteriak kencang, tidak ada suara apapun yang keluar.
‘apa aku kembali bermimpi seperti malam itu? ’ Calista menganggukkan kepalanya paham.
Ia berjalan semakin mendekat pada asal suara, dan mendapati tubuh Sekar bersama seorang wanita di depannya.
‘Elina? ’ Calista melebarkan kedua matanya, kali ini ia bisa melihat dengan jelas siapa seseorang yang menjadi lawan bicara Sekar.
‘apa ini karena aku sudah mengetahui beberapa hal yang menjadi dalang kehancuran di hidup, Sekar?’
"Jaga bicara mu itu dasar pelayan rendahan! Ingat posisi mu sekarang, kamu mau aku siksa dan melempar mu dari mansion seperti kotoran?! " Sekar bergemuruh marah, dia mendorong tubuh Elina hingga pelayan itu mundur beberapa langkah kebelakang.
"Anda berani? Bila itu terjadi, saya akan melaporkan ini kepada Lili dan Lili akan mengadu kepada Tuan Atharva. Dan anda tau apa yang akan terjadi setelahnya...?" Elina tersenyum pongah, menatap berani Sekar didepannya.
"Anda tidak bisa melakukan apapun kepada saya Nona muda Sekar yang terhormat, karena kelemahan anda saya pegang erat. Bila anda berbuat sesuatu kepada saya, Tuan Atharva akan membalas dua kali lipat—
—anda tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan Lili si tuan putri untuk Tuan Atharva, apa yang dia minta akan selalu Tuan Atharva kabulkan secepatnya. "
"K-kamu..... " Sekar menatap Elina dengan mata memerah menahan amarah dan tangisan.
"Anda hanya perlu diam dan menuruti semua apa yang saya katakan dan inginkan bila anda tidak mau Tuan Atharva semakin murka dan benci pada anda. Aahhh, Lili saja bisa mendapatkan hati Tuan Atharva. Apalagi saya, Tuan Arkana dan Tuan Damar juga pasti bisa melirik saya. Saya cantik, baik dan yang terpenting tidak temperamen dan gila pada pria lain bahkan saat sudah memiliki dua suami tampan. " Elina menatap Sekar di hadapannya dengan wajah mengejek.
"Sialan! Berani kamu menggoda kedua suami ku, aku tidak akan segan segan membunuhmu perempuan sialan!! " Sekar berseru marah, tidak terima akan semua yang di katakan Elina.
"Kita lihat saja nanti, apa Tuan Arkana dan Tuan Damar tidak tergoda pada perempuan baik lemah lembut seperti saya. "
Setelah mengatakan itu Elina pergi berlalu meninggalkan Sekar, ia bahkan dengan sengaja menyenggol bahu kirim Sekar hingga tubuh wanita itu sedikit oleng ke samping.
Tiba-tiba saja, Calista terlempar dan kini beralih pada kejadian saat Sekar terlihat terus menggoda dan berusaha menarik perhatian Arkana dan Damar.
Calista mengerti sekarang, bahwa semua kelakuan Sekar selama ini karena atas provokator dari Elina yang mengatakan akan menggoda dan merebut kedua suami Sekar.
Dari ujung sana. Calista terus menonton semua aksi Sekar yang terus menerus berusaha untuk menarik perhatian kedua suaminya, alur terus berubah dari hari ke hari seperti Calista tengah menonton sebuah film menyedihkan dari seorang istri.
Dan kini alur berubah pada kejadian di taman belakang dekat kolam.
‘kenapa tiba-tiba kejadian ini kembali muncul?’ benak Calista bertanya-tanya.
Ia melangkah semakin dekat, sungguh keajaiban. Ia kini bisa melihat dua pelaku yang sudah membuat Sekar terjatuh dan berakhir ke rumah sakit.
‘ini yang namanya Atharva? Wajahnya bahkan tidak ada apa-apa nya di banding Arkana, ku pikir ia dan Arkana memiliki wajah yang sangat mirip dan mungkin akan ada sedikit perbedaan. Namun ini malah sebaliknya, Arkana dan Atharva bahkan tidak ada kemiripan sedikitpun, hanya suaranya saja yang sedikit sama. Sekar melihat apa dari sosok pria jelek playboy begini?’ Calista terus menggunjing melihat dengan jelas wajah Atharva bagaimana.
‘bahkan wajah Dimas saja masih tampan dari pria kardus ini. ’ Calista terus membandingkan wajah biasa Atharva ini dengan beberapa pria yang pernah ia bertemu di kehidupannya sebagai Aruna dulu.
‘ppfff— jadi ini perempuan yang namanya Lili yang katanya perempuan cantik itu? Kenapa wajahnya malah terlihat seperti perempuan kampungan dan norak? Apa mata manusia manusia hina itu buta?!’
Calista terus menghina kedua manusia tidak tau malu di depannya ini, ia bahkan sampai menampar wajah Atharva dan Lili walau hasil sia sia karena saat tangannya hendak menyentuh pipi mereka, tangannya malah menembus seakan ia adalah hantu gentayangan.
Lelah karena terus mengomel, Calista mengedarkan pandangannya ke seluruh taman belakang. Dahinya mengernyit saat melihat sesuatu, ‘cahaya putih apa itu? ’
Calista melangkah dekat pada cahaya putih itu dengan penasaran, ‘eh eh, kenapa ini?! ’ Calista berseru keras saat tubuhnya tiba-tiba saja tersedot masuk di cahaya putih itu.
Tanpa di sadari bahwa di kolam taman belakang itu hanya berdiri Sekar seorang diri, ia menatap kejadia Calista yang seperti ditarik paksa untuk masuk ke dalam cahaya putih itu.
"Maafkan aku Aruna karena sudah mengambil jiwamu dari tubuhmu. Ku mohon jagalah kedua suami ku dan tolong balas lah dendam ku pada manusia manusia kotor itu. Dan terimakasih, Aruna. " setelah mengatakan itu tiba-tiba saja tubuh Sekar hancur lebur dan bertebaran menyatu pada udara.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭