"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siti pergi
"Semua barang sudah masuk, Ti?" tanya Yusuf pelan, matanya menatap koper dan tas besar yang sudah diletakkan di bagasi mobil. Di gendongannya, bayi kecil itu terlelap tenang, dibalut selimut tebal.
"Sudah, Mas. Sudah beres semua," jawab Siti lembut, tangannya mengelus pipi anaknya dengan penuh kasih namun juga berat hati.
Yusuf menyerahkan bayi itu ke dalam gendongan Siti dengan sangat hati-hati. Lalu ia mengambil selembar kertas dan satu buku tabungan, menyodorkannya pada wanita itu.
"Ini surat kepemilikan rumah di kota sebelah, aman, tenang, dan lingkungannya baik. Kuncinya sudah ada di dalam amplop. Dan ini rekening khusus. Setiap awal bulan, Mas akan kirimkan uang nafkah dan kebutuhan anak sampai dia dewasa dan mandiri. Kamu tidak perlu khawatir soal biaya hidup atau pengobatan apa pun."
Siti menerima itu dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih, Mas..." lirih Siti menahan sesak di dada.
"Dengar baik-baik, Ti," nada suara Yusuf berubah tegas namun tetap tenang. "Ada satu syarat penting yang sudah kita sepakati, dan kamu harus ingat selalu. Mulai hari ini, kita tidak boleh bertemu atau berkomunikasi secara langsung tanpa sepengetahuan dan izin Nora. Kalau pun kamu atau Mas ingin bertemu anak ini, maka Mbak Nora yang akan mendampingi dan hadir bersama. Tidak ada pertemuan berdua saja, mengerti?"
Siti mengangguk pelan, menundukkan wajah. Kata-kata itu terdengar sangat menyakitkan.
"Aku mengerti, Mas. Aku ingat betul perjanjian itu. Aku tahu posisiku. Aku tidak akan melanggar atau meminta lebih dari yang sudah disepakati. Aku sudah sangat bersyukur Mas masih mau bertanggung jawab dan membantu kami." Wanita itu berusaha tetap tenang.
"Bagus. Itu satu-satunya cara agar semuanya tetap terjaga batasnya dan tidak ada pihak yang terluka lagi," sahut Yusuf. Ia menoleh ke samping, di mana Nora berdiri tenang, menatap mereka dengan ekspresi yang terkendali namun jelas memancarkan ketegasan.
"Dan kamu juga tahu, kan Ti? Rumah itu di luar kota, cukup jauh dari sini. Tujuannya supaya kita sama-sama bisa melangkah maju, tidak teringat terus pada masa lalu, dan supaya anak ini tumbuh di lingkungan yang damai tanpa beban status orang tuanya."
"Aku paham, Mas. Semuanya sudah aku terima dan aku setuju. Aku akan hidup tenang di sana, mendidik anakku dengan baik, dan tidak akan pernah mengganggu ketenangan rumah tangga Mas dan Mbak Nora lagi," ucap Siti dengan tulus.
Nora melangkah maju sedikit, suaranya terdengar jernih dan mantap.
"Kami percaya padamu, Siti. Selama kamu memegang janji dan kesepakatan ini, kami pun akan menepati janji kami. Biaya kebutuhan anak akan selalu kami kirim tepat waktu, dan hak anak akan selalu kami penuhi. Tapi ingat, setiap kali ada keinginan bertemu atau berhubungan, semuanya harus lewat aku. Tidak ada jalur rahasia, tidak ada pertemuan diam-diam. Demi kebaikan kita semua."
"Aku mengerti, Mbak. Aku tidak akan pernah berani melanggar kepercayaan yang Mbak berikan," jawab Siti dengan sungguh-sungguh.
Yusuf membuka pintu mobil, membantunya masuk.
"Jaga dirimu dan anak baik-baik ya, Ti. Besar atau kecil masalah apa pun, kabari kami lewat Mbak Nora saja. Kami akan bantu sebisa mungkin, tapi tetap sesuai aturan yang ada."
"Iya, Mas. Terima kasih untuk segalanya. Sekarang... aku pamit ya," ucap Siti, air matanya akhirnya jatuh juga saat ia duduk di kursi mobil, memeluk erat anaknya. Kenapa rasanya sesakit ini.
"Jaga diri, Ti," ucap Yusuf pelan, menutup pintu mobil perlahan.
Mobil itu pun mulai bergerak, menjauh perlahan meninggalkan halaman rumah, membawa Siti dan bayinya menuju tempat tinggal baru yang jauh di luar kota.
Yusuf berdiri diam menatap mobil itu hingga hilang di tikungan jalan. Napasnya keluar panjang dan berat. Ia merasa kehilangan dan rasa lega bercampur jadi satu. Lalu ia merasakan tangan halus yang menyentuh lengannya. Ia menoleh dan melihat wajah Nora yang menatapnya tenang namun penuh makna.
"Dia sudah pergi, Mas. Sesuai kesepakatan. Rumah ini dan hidup kita sudah kembali seperti sedia kala," ucap Nora pelan.
Yusuf menggenggam tangan istrinya, mencium punggung tangan itu dengan penuh rasa hormat dan penyesalan.
"Terima kasih, Nora... Terima kasih sudah mau memahami, terima kasih sudah mau memberi jalan dan kesempatan ini. Mas janji, mulai sekarang, tidak akan ada lagi rahasia, tidak akan ada lagi hal yang disembunyikan. Semuanya akan Mas lakukan bersama kamu, atas izin dan sepengetahuan kamu. Kamu satu-satunya pemegang kendali dan kepercayaan penuh dalam hidup Mas."
"Aku tahu, Mas. Aku percaya sama kamu. Dan aku percaya sama keputusan yang kita buat bersama ini. Yang penting sekarang, batas sudah jelas, aturan sudah tegas. Kita bisa melangkah maju tanpa ada keraguan atau ketakutan lagi," jawab Nora lembut.
"Benar, Sayang. Mulai sekarang, hanya ada kita berdua dan Haikal. Tidak ada orang lain yang masuk di antara kita. Dan soal anakku... Mas akan tetap bertanggung jawab, tapi selalu dengan cara dan aturan yang kamu tentukan. Kamu yang akan selalu ada di sisi Mas setiap kali kita bertemu. Tidak ada yang lain selain kamu."
Nora tersenyum tipis, menarik tangan Yusuf agar berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
"Aku tahu, Mas. Dan aku akan selalu ada di sini, mendampingi dan memastikan semuanya berjalan baik dan benar. Sekarang, ayo masuk. Kita punya banyak waktu ke depan untuk membangun kembali semuanya."
"Siap, Nyonya. Mas ikut kemana pun kamu mau. Mulai hari ini, Mas milikmu seutuhnya, tanpa bagi-bagi lagi."
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, menutup pintu dan menutup rapat bab yang penuh cobaan itu, dengan hati yang jauh lebih kuat dan keyakinan yang kembali kokoh di antara mereka berdua.
Sementara itu di perjalanan. Siti masih menangis mendekap bayinya. "Maafkan Bunda, Nak. Kamu tidak perlu khawatir ya, ada bunda yang akan selalu bersamamu. Bunda akan memberikan semua cinta dan kasih sayang untuk kamu."
Bersambung....