Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi hari, Sagara sudah bangun bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.
Rumah kontrakannya yang sempit masih terasa dingin saat ia duduk di tepi kasur sambil mengusap wajah kasar. Rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi.
Hari ini ia sengaja bangun lebih pagi. Bukan karena terlalu rajin, melainkan karena malas keluar membeli sarapan. Sagara bahkan sudah bisa membayangkan bagaimana isi obrolan ibu-ibu gang pagi ini. Tentang mobil mewah, wanita cantik yang datang bersamanya semalam dan tentu saja hubungan dirinya dengan wanita itu.
Sagara mendengus pelan sambil berjalan menuju dapur kecil di sudut kontrakan. "Pasti udah nyebar satu gang," gumamnya pasrah. Ada sedikit rasa sesal di benaknya, karena ia tidak memilih turun saja di depan pom bensin depan gang untuk menghindari kesalahpahaman.
Untungnya semalam isyarat yang sengaja ia tunjukkan pada Nara agar segera pergi sebelum Andi dan Bu Sari semakin menjadi, bisa dengan cepat ditangkap wanita itu sehingga kesalahpahaman yang dikhawatirkan semakin panjang bisa segera dicegah. Kalau tidak, mungkin satu RT sudah menganggap mereka akan menikah pagi ini.
Karena itu, hari ini ia memilih memasak sendiri daripada harus sarapan di warung Bu Mira dan menjadi bahan interogasi warga.
Sagara menciduk segelas beras lalu mencucinya pelan di bawah keran kecil. Setelah airnya cukup bening, ia memasukkan beras itu ke dalam rice cooker dan menekan tombol memasak. Sambil menunggu nasi matang, ia membuka kulkas kecil di dekat meja. Isinya tidak banyak, beberapa botol air mineral dingin, saus, dan stok makanan sederhana.
Tangannya mengambil dua butir telur, dua siung bawang merah, serta tiga buah cabai rawit merah. Ia berniat membuat dadar telur saja pagi ini. Murah, cepat, dan mengenyangkan.
Sagara mulai mengiris bawang dan cabai di atas telenan kecil. Gerakannya cepat dan terampil, menandakan ia memang terbiasa melakukan semuanya sendiri. Namun, baru beberapa menit suasana tenang itu bertahan ...
BRAK! BRAK!
Pintu kontrakan diketuk keras dari luar.
"GAAAA!"
Sagara langsung memejamkan mata malas. Ia bahkan hafal suara itu tanpa perlu membuka pintu.
"WOI BUKA!"
Sagara berjalan malas menuju pintu lalu membukanya sedikit. Dan benar saja, Andi berdiri sambil nyengir lebar seperti orang paling bahagia sedunia.
"Pagi, calon mantu orang kaya."
Sagara langsung ingin menutup pintu lagi. Namun, Andi buru-buru menahan daun pintu itu sambil tertawa.
"Jangan gitu dong, Ga. Satu gang senggol lagi rame bahas lu!"
Sagara tidak menggubris, ia malah kembali melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda tadi.
"Buset ...." Andi melongok ke dalam kontrakan. "Masak sendiri lagi?" Takut diinterogasi Bu Mira ya?"
Sagara menatap datar. "Kalau lu datang cuma mau ngeledek, mending pulang."
Andi malah masuk seenaknya sambil terkekeh.
"Gue nggak nyangka." Ia duduk sembarangan di kursi plastik kecil dekat dapur. "Lu dengerin omongan gue juga soal ikan besar ntuh."
Sagara melirik sekilas ke arah Andi. Namun, gerakan tangannya tetap sibuk mengocok telur di dalam mangkuk kecil bersama irisan bawang dan cabai yang sudah ia siapkan tadi. "Gue ngga dengerin omongan lu," jawabnya datar. "Semalam cuma kebetulan."
"Kebetulan apaan." Andi mendecak tidak percaya. "Pakaian lu aja rapi gitu. Baju mahal yang lu pake semalem kalau di jual bisa buat beli motor bekas."
Sagara malas menanggapi. Ia menuangkan sedikit garam ke dalam adonan telur lalu kembali mengocoknya pelan. Namun, Andi masih terus mengoceh.
"Bu Sari aja semalem sampai bilang lu beruntung banget dapet cewek kaya Si Non itu." Ia nyengir lebar. "Katanya hidup lu bakal sejahtera, Ga!"
Kali ini Sagara berhenti bergerak sejenak. Ia mengangkat wajahnya perlahan lalu menatap Andi datar. "Hidup gue nggak semurah itu. Dan gue bukan cowok matre."
Andi langsung terdiam beberapa detik. Sagara jarang bicara serius seperti itu.
Sementara Sagara sendiri kembali fokus ke wajannya. Telur mulai dituangkan perlahan hingga suara desisan memenuhi dapur kecil kontrakan tersebut.
****
Di sisi lain.
Suasana apartemen Nara masih begitu tenang. Tirai besar di kamar itu masih tertutup rapat, membiarkan cahaya masuk samar dari sela-selanya. Namun, ketenangan pagi itu berbanding terbalik dengan ponsel Nara yang sejak tadi terus bergetar tanpa henti di atas nakas.
Panggilan masuk, pesan, notifikasi. Semuanya memenuhi layar. Nara yang masih memejamkan mata akhirnya menghela napas panjang sebelum meraih ponselnya dengan malas. Dan seperti yang sudah ia duga. Belasan pesan, beberapa panggilan tak terjawab, bahkan ada pesan suara yang belum ia buka sama sekali.
Nara mendengus pelan lalu melempar kembali ponselnya ke atas kasur. "Berisik sekali ...," gumamnya serak.
Beberapa detik kemudian, layar ponselnya kembali menyala. Kali ini bukan dari Seokjin. Nama yang muncul justru membuat sudut bibir Nara terangkat tipis.
Kakek Dhanubrata. Nara sama sekali tidak terkejut. Ia bahkan sudah memprediksi hal ini sejak semalam. Mustahil kakeknya belum mendengar tentang pria yang datang bersamanya tadi malam. Apalagi acara makan malam bersama Samudra jelas bukan pertemuan kecil biasa. Dan jika sampai ada pria lain yang muncul di tengah pertemuan itu, berarti kabarnya sudah pasti menyebar cepat.
Nara membuka pesan singkat itu perlahan. Dan setelah membacanya, ia hanya menghembuskan napas panjang sambil bangkit duduk di atas kasur. Rambut panjangnya berantakan jatuh di bahu telanjang yang masih tertutup piyama satin tipis.
Ia memijat pelipisnya perlahan. Namun, alih-alih bersiap pergi ke mansion sesuai perintah kakeknya lewat pesan tadi, Nara justru turun dari tempat tidur dan berjalan menuju walk in closet. Di dalam sana, ia memilih satu stel pakaian yang biasa ia kenakan saat pergi ke Kantor. Nara sama sekali tidak berniat menuruti perintah kakeknya.
Datang ke mansion terlalu melelahkan baginya, apalagi harus menghadapi interogasi keluarga sepagi ini. Lagipula, jika ia datang sekarang, Seokjin kemungkinan besar juga ada di sana. Dan pria jangkung itu pasti akan menguliahi dirinya lagi.
Ponsel kembali bergetar. Nama Seokjin muncul lagi di layar. Nara hanya melirik sekilas sebelum tanpa ragu menekan mode diam lalu melempar ponsel itu ke atas meja rias. Ia sama sekali tidak berniat membalasnya.
***
Tiga puluh lima menit kemudian, Mobil hitam milik Nara melaju tenang membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai menjelang siang.
Tangannya bergerak santai di atas setir, sementara pandangannya lurus fokus ke depan. Kacamata hitam bertengger manis di wajahnya, menutupi mata tajam yang sejak tadi tampak lelah kurang tidur. Namun, pikirannya jelas tidak setenang ekspresinya.
Bukan tentang sang kakek, atau Seokjin yang tidak menyerah berusaha menghubunginya sejak tadi. Tapi justru tentang Sagara.
Pria itu terus muncul di kepalanya sejak semalam. Cara bicaranya, tatapannya, sampai ekspresi kesal saat dirinya terus mendesak pertanyaan.
Nara menghembuskan napas pelan sambil membelokkan mobil ke jalan utama.
"Kenapa jadi kepikiran terus sih ...," gumamnya pelan.
Namun, sebelum pikirannya semakin jauh, ponselnya yang tersambung pada dashboard mobil tiba-tiba bergetar menandakan panggilan masuk dari Tiwi.
Nara langsung mengangkatnya. Awalnya ekspresinya masih biasa saja. Namun, perlahan tatapan matanya berubah serius. Tangannya yang memegang setir mulai menegang. Dan beberapa detik kemudian ...
CIT!
Mobil itu mendadak berhenti di pinggir jalan hingga suara klakson kendaraan lain terdengar bersahutan dari belakang.
Nara bahkan tidak peduli. Tatapannya lurus ke depan dengan wajah perlahan mengeras.
Orang yang menyabotase mobilnya tempo hari akhirnya ditemukan. Tapi, bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan ucapan Tiwi yang mengatakan, jika pria itu sempat menyebutkan satu nama yang sangat mustahil untuk terlibat.
Keluarga Dhanubrata.
**** bersambung. ****