NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Update setiap (Senin, Rabu dan Jum'at)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan jujur Rio

PEMBERITAHUAN!!

(Ini bukan update bab baru. Bab ini sudah pernah di update sebelumnya, tapi karena ada beberapa REVISI, maka terjadi pergeseran bab untuk beberapa bab berikutnya. 🙏)

Selamat membaca! 😊

...**~**...

Kafe lumayan ramai malam ini. Nadia bahkan belum sempat istirahat untuk makan malam.

"Nadia, kamu belum makan malam kan?" tanya Adit menghampiri Nadia.

"Belum sih bang. Tapi, tadi sore sudah makan kok, jadi belum lapar."

"Ya tapi, kamu butuh istirahat. Kaki kamu pasti pegal berdiri dari jam lima sore tadi, sekarang sudah jam delapan lewat loh."

Belum sempat Nadia menanggapi obrolan Adit, dia sudah harus melayani pelanggan lagi.

Pegal sih iya, Nadia sudah cukup lelah hari ini. Apa lagi tadi pemotretan juga memakan waktu cukup lama dan Nadia juga harus berdiri saat pengambilan gambar tadi. Tapi, apa ada pilihan? Tidak, Nadia tidak berada di situasi yang bisa membuatnya memilih sesuatu yang nyaman.

Setidaknya dengan aku sibuk bekerja, semua hal buruk masa lalu sedikit tersamarkan di kepalaku.

Di apartemen Kevin, Sean sudah selesai memasak sayur sup. Jeni membantu membawa sup itu untuk di tata di meja makan. Bas menyiapkan nasi, Sean menyiapkan mangkuk dan sendok untuk makan sup.

Begitu keluar dari kamar, Kevin tersenyum lega melihat kedua sahabatnya mengajak pacarnya ngobrol, sehingga pacarnya tidak merasa sendirian dan bosan.

"Wah udah siap aja nih!" seru Kevin menghampiri Jeni yang berdiri di belakang kursi meja makan.

"Sayang suka sup juga kan?" tanya Jeni pada Kevin.

"Iya dong. Apa lagi sayur sup buatan Sean enak banget, sayang." bisiknya sambil meletakkan dagunya di pundak Jeni.

"Sayang malu..." bisik Jeni memberi isyarat bahwa agar Kevin sedikit menjauh darinya.

Bukannya menjauh dari Jeni, Kevin malah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jeni, kemudian mengecup pipi Jeni. "Gak usah malu sama mereka. Mereka udah biasa banget melihat adegan seperti ini, bahkan adegan yang lebih mesra dari ini, sayang."

Bas dan Sean saling melempar pandangan sambil mendengus kesal melihat pemandangan di hadapan mereka.

Setelah semua makanan siap, mereka pun duduk di kursi masing-masing. Jeni tentu saja duduk di samping Kevin, Bas dan Sean duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan pasangan itu.

Tidak berselang lama, Rio ke luar dari kamar dalam keadaan segar. Rambutnya sudah dia keringkan tapi masih sedikit lembab.

"Eh ada Jeni!" Sapanya yang langsung duduk di samping Bas.

"Iya dong. Kak Rio udah baikan?"

"Ya lumayan. Tapi masih agak pusing nih."

"Kak Rio patah hati ya!" tebak Jeni sambil menggoda Rio.

"Kok tau?"

Jeni mengernyitkan matanya, dia tidak menyangka tebakannya ternyata benar.

"Jadi kak Rio benaran patah hati?!"

Rio mengangguk lesu. "Kenapa terkejut sampai segitunya, Jen?"

Sebentar Jeni menoleh kearah Kevin dan Kevin pun mengangguk seakan membenarkan apa yang dikatakan Rio.

"Ya gak nyangka aja. Seorang penakluk wanita ternyata bisa patah hati juga. Jadi, kayak aneh gitu gak sih!"

Rio mendengus sedih. "Gue juga manusia loh Jen. Punya hati yang rapuh sama seperti manusia pada umumnya." jawabnya yang membuat tiga sahabatnya tertawa mengejek.

"Iya tau, kak Rio manusia dan punya hati yang mungkin juga rapuh. Tapi kan itu yang buat gue malah penasaran, wanita seperti apa sih yang bisa membuat seorang Rio frustasi sampai seperti ini."

"Nah iya, gue juga penasaran!" celetuk Kevin.

Bas dan Sean masih terus menyendok kuah sup kedalam mulut mereka tanpa berniat ikut dalam pembicaraan itu.

Sebentar Rio menghirup beberapa sendok sup dihadapannya. Kemudian mereguk setengah gelas air putih. Setelah itu, dia menarik napas dalam berulang kali, mempersiapkan diri sebelum memulai bicara serius pada Jeni.

"Jadi gini, sebenarnya gue butuh bantuan lo, Jeni." ucap Rio tanpa basa basi.

"Bantuan apa!" celetuk Kevin sinis.

"Ini tentang gadis yang membuat gue rapuh seperti ini."

Kening Jeni mengerut, tapi pupil matanya melebar. Ia menunggu Rio untuk melanjutkan kalimatnya.

"Lo kenal Laura, kan, Jen?"

"Laura! Ya, gue punya sahabat namanya Laura. Kenapa dengan Laura!" Jeni bicara dengan meninggikan suaranya, karena khawatir sahabatnya itu mungkin salah satu korban laki-laki playboy ini.

Kevin menyentuh pelipisnya, dia mulai mengingat-ingat sesuatu yang mungkin terlewatkan olehnya.

Rio mengeluarkan ponselnya untuk memperlihatkan foto Laura yang ia ambil tangkap layarnya dari ponsel Sean saat memeriksa akun media sosialnya.

"Loh, iya ini Laura. Ini Laura, sayang." racau nya sambil memperlihatkan foto itu pada Kevin.

"Oh, jadi..." Kevin mengingat kembali kejadian saat Rio mabuk dan terus menerus memanggil nama Laura.

"Jangan bilang kak Rio ngincar Laura!"

Rio menggeleng cepat. "Gue pernah pacaran sama Laura."

"What?!" Kevin dan Jeni kaget luar biasa.

Rio pun mulai bercerita tentang awal mula pertemuannya dengan Laura dan memutuskan untuk menjalin hubungan pacaran. Rio juga menceritakan tentang dia yang begitu sibuk pada tahun-tahun itu sehingga tidak punya waktu untuk menghubungi Laura.

Rio juga menceritakan tentang betapa terkejutnya dia saat semua akses komunikasinya dengan Laura telah di blokir oleh Laura. Rio juga menceritakan tentang dia yang sempat datang ke rumah Laura, tapi berakhir di usir oleh ayah Laura.

"Sumpah, Jen. Gue benar-benar mencintai Laura. Saat bersama Laura, tidak ada sedikitpun terbersit dipikiran gue untuk main-main. Tapi, ya waktu itu Laura masih sekolah, jadi gue belum berani berkomitmen." Rio mengakui semuanya pada Jeni.

Namun, setelah kehilangan Laura, Rio mengaku dia kembali ke dunia lamanya, bermain perempuan.

"Gue bersumpah, sejak hari gue kehilangan Laura, gue gak pernah mencintai atau jatuh cinta pada wanita mana pun. Gue hanya melanjutkan hidup. Gue gak suka berlarut-larut dalam ketidak pastian." Akunya jujur.

Jeni speechless, dia juga tidak tau harus bereaksi sedih atau terharu saat mendengar keseluruhan cerita Rio. Namun, ada sedikit rasa kecewa karena Laura belum pernah menceritakan tentang hubungan masa lalunya.

"Kak Rio benaran masih cinta sama Laura kan?" tanya Jeni sekali lagi, sekedar untuk menyakinkan dirinya sendiri.

"Sumpah demi tuhan, aku sangat mencintai Laura." tegasnya.

Sebentar Jeni menghela napas, lalu melihat kearah Kevin yang hanya diam mendengarkan detail cerita Rio tentang masa lalunya.

"Rio tidak pernah benar-benar mencintai wanita manapun. Aku bisa pastikan itu, sayang." sambung Kevin untuk memperkuat penjelasan Rio.

Jeni diam beberapa saat sebelum akhirnya mulai bicara lagi. "Mungkin gue bisa bantu. Tapi, sebenarnya ada orang lain yang lebih meyakinkan untuk membantu kak Rio membujuk Laura supaya Laura mau bicara dengan kak Rio."

"Siapa?" tanya Rio tidak sabar ingin tahu.

"Nadia. Dia tinggal serumah sama Laura. Gue rasa sepertinya Nadia yang lebih banyak tau tentang Laura dibanding gue."

"Nadia!" lirih Rio mengulang nama itu.

"Kalau kak Rio setuju, biar gue aja yang coba ngobrol sama Nadia. Gue akan ceritakan semuanya ke Nadia. Lalu, kita bisa minta tolong Nadia untuk bicara sama Laura."

Rio mengangguk, kemudian dia menatap teman-temannya secara bergantian seakan minta persetujuan.

"Gue rasa ide Jeni boleh juga." ujar Sean.

"Gue juga setuju." Lanjut Bas dan Kevin bersamaan.

Rio menghela napas lega, setidaknya dia masih punya sedikit harapan untuk bisa bicara dengan Laura.

"Thanks guys. Kalian the best." Menatap mereka satu persatu dengan mata yang berbinar-binar.

Bersambung...

1
Miranda.
adit langsung gassin aja. soalnya nasib Nadia terlalu kasihan untuk berjuang sendirian/Frown//Frown/
THE GIRL COOL😑
aduhhhh jangan nangis nanti aku ikut nangis😭😭🥺🥺🥺🙏🙏
kenzi moretti
astaga teganya
Miranda.
feeling seorang sahabat memang kadang tepat
Melissa McCarthy
nadia kalo didunia nyata udah aku angat jadi sodara deh kasian banget
Arni Arlinawati pratiwi
bagus sih mengasuh anak yang di telantarkan, tapi.. ada tapinya nih, kalo emang gak mampu gak usah di paksain kasian anaknya! mampu pun harus benar benar persetujuan bersama ga boleh kayak gini.. lebih baik serahin anak yang telantar nya ke panti asuhan.. /Smile/
Arni Arlinawati pratiwi
ini ngurus anak bukan ngurus ayam.. yang realistis aja sama emak mah nak! hahh... /Doubt/
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Adit naksir Nadia nih
naws
oalah. jadi dulu segitunya ya sama rio.
dia sampe makan nasi pecel terus demi nurutin kesukaannya rio 🥴
naws
wkwk manjur banget trik si mama.
tapi bener itu yo, kamu harus upgrade diri biar lauran jatuh cinta lagi /Facepalm/
naws
ih si jeni kok jadi sejahat ini sih sama nadia 🥲
Mochi
tiap nanya selalu jawabnya tanya bagian administrasi😭
bioin tambah galau.
My_Lucia
Hm... galau dia
My_Lucia
Nadia kapan di kasih cowok Thor? 🤭
kasian banget dia, kalau ga jadi tempat curhat .. ya, jadi obat nyamuk
My_Lucia: Astagaa... PO 🤣🤣
wahh... pasti ini yang terbaik dari yang terbaik 🤭
total 2 replies
My_Lucia
Emmm... penasaran sama si Kevin ini
M. T🌻
cerita dan alurnya bagus
Miranda.
ceritanya bikin gemes dan kesel. sang MC terus²an diperas sama ibu dan saudara² tirinya. tanpa pernah bisa membalas sebab dia sendiri tak punya sanak saudara kecuali keluarga tirinya.
Miranda.
lah? lu ibunya? masa minta sama anaknya sih?😡😡
Miranda.
bukannya nomornya udah kmu blokir ya Nadia?🤔🤔
Miranda.
tiga tempat? gokil sih ngatur waktunya kek gimana itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!