Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Singa Betina dalam Kandang Naga
Aiswa berdiri di depan lobi gedung Argian Group dengan napas yang memburu. Kepalanya mendongak, menatap gedung pencakar langit yang puncaknya seolah menembus awan.
"Emang beneran sultan sih ini duda sinting," gumam Aiswa sambil merapikan tasnya yang miring.
"Gedung segede ini isinya dosa semua kali ya, makanya dia hobi banget ngancem orang."
Dengan langkah mantap, Aiswa masuk ke area lobi yang super mewah. Lantai marmernya bahkan lebih bening daripada masa depannya jika ia putus dengan Aditya.
Begitu ia mendekati meja keamanan, seorang satpam bertubuh tegap langsung menyapanya sebelum Aiswa sempat membuka mulut.
"Nona Aiswa, ya?" tanya satpam itu dengan nada yang sangat sopan, bahkan cenderung membungkuk hormat.
Aiswa melongo.
"Ha? Kok... kok Bapak tahu nama saya? Saya bukan artis yang lagi kena skandal, kan, Pak?"
"Silakan, Mbak, ikut saya. Sudah ditunggu oleh Tuan Muda di ruangannya," ucap satpam itu tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Aiswa mengikuti dengan bingung, sampai ia melihat layar ponsel yang dipegang satpam tersebut. Itu adalah pesan singkat dari Lucas, asisten kepercayaan Devan.
Pak Lucas: Jika orang di foto ini datang, langsung antar ke ruangan CEO. Dia calon istri Tuan Devan.
Di bawah pesan itu, terpampang foto Aiswa yang sedang tertawa lebar bersama Zianna di Bali kemarin. Foto candid yang sangat estetik, tapi bagi Aiswa, itu adalah bukti "kejahatan" privasi.
Calon istri?
Darah Aiswa mendidih sampai ke ubun-ubun.
Bener-bener nih ya si Devan! Bisa-bisanya dia bikin pengumuman sepihak ke satpam! Awas aja, gue cincang-cincang tuh orang jadi isian risol! geram Aiswa dalam hati sambil memberikan senyum palsu yang paling manis kepada satpam itu.
"Oh iya, Pak. Mari, saya sudah nggak sabar mau... menyapa calon suami saya," ucap Aiswa dengan penekanan pada setiap kata.
Satpam itu mengantarkannya ke sebuah lift khusus yang terbuat dari kaca dan emas.
"Maaf, Nona, saya hanya bisa mengantar sampai di sini. Lift ini langsung menuju ruangan pribadi Tuan Muda, jadi Nona tidak akan tersesat."
"Terima kasih, Pak," balas Aiswa.
Begitu pintu lift tertutup, wajah manisnya langsung berubah menjadi sangar. Ia mulai melakukan pemanasan kecil, memutar pergelangan tangan seolah siap baku hantam.
Ting!
Pintu lift terbuka, langsung memperlihatkan ruangan kerja yang luasnya mungkin setara dengan tiga kali rumah Aiswa. Di ujung ruangan, di balik meja kerja kayu jati yang megah, Devan Argian duduk dengan wibawa yang luar biasa, matanya fokus menatap layar laptop.
Menyadari kehadiran "tamunya", Devan mengangkat wajah dan menyunggingkan senyum tipis yang mematikan.
Aiswa tidak butuh basa-basi. Ia berjalan cepat, sepatunya berbunyi keras di atas lantai kayu mahal itu. Begitu sampai di depan meja Devan, ia menggebrak meja tersebut dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Tuan Devan yang terhormat! Apa-apaan maksud Anda mengancam pacar saya?! Anda pikir karena Anda punya uang, segalanya bisa Anda beli?!" teriak Aiswa sambil menunjuk tepat ke hidung mancung Devan.
Devan tetap tenang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya.
"Iya, tentu saja. Uang memang bisa membeli segalanya, Aiswa. Termasuk waktu dan masa depan seseorang."
Aiswa terdiam sejenak.
Eh, iya juga ya. Kenapa gue nanya hal retoris begitu ke sultan? batinnya merutuki diri sendiri. Ia segera berdehem untuk mengembalikan harga dirinya yang sempat anjlok.
"Tolong ya, Tuan Duda! Jangan ganggu kehidupan saya! Tolong pisahkan urusan bisnis dan pribadi. Investasi Anda ke Mas Aditya itu jangan ditarik! Urusan kita... biar kita selesaikan secara jantan!" seru Aiswa.
"Kalau saya mau mencampurkannya, memangnya kenapa? Tidak ada yang bisa melarang saya di dunia ini, termasuk kamu!" tegas Devan dengan suara baritonnya yang menekan.
Aiswa hendak membalas dengan omelan yang lebih panjang, namun dalam sekejap, Devan bangkit dan menarik lengan Aiswa. Sebelum Aiswa sempat menghindar, tubuh mungilnya sudah ditarik paksa hingga ia terduduk di pangkuan Devan.
"Eh! Bapak! Lepasin! Jangan kurang ajar ya!" pekik Aiswa panik.
Namun Devan justru menahan pinggang Aiswa dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meraih laptop dan menyalakan tombol mikrofon. Aiswa membeku saat melihat layar laptop itu. Ternyata, Devan sedang berada di tengah-tengah Zoom Meeting dengan puluhan direktur berpakaian rapi.
"Maaf semuanya, rapat kita akhiri sampai di sini. Calon istri saya sedang ngambek hari ini," ucap Devan dengan nada santai, seolah hal itu sangat wajar.
"Hasil rapat silakan kirim ke email saya. Ada hal penting yang harus saya urus."
Klik. Laptop tertutup.
Aiswa melongo dengan mulut terbuka lebar.
"Bapak... Bapak gila ya?! Tadi itu dilihat orang banyak! Harga diri saya mau ditaruh di mana?!"
"Di sini," balas Devan sambil mengetuk dada bidangnya sendiri.
Aiswa segera melompat turun dari pangkuan Devan dengan wajah semerah tomat.
"Jangan nggak sopan ya! Saya laporin polisi atas tindakan pelecehan baru tahu rasa!"
Devan terkekeh pelan, ia meraih sebuah tablet di mejanya.
"Kamu tidak akan bisa mengancam saya, Sayang."
Ia memutar sebuah video di tablet tersebut. Jantung Aiswa nyaris berhenti. Di layar itu, terlihat seorang pemuda yang sangat ia kenali, Arkananta, adik pertamanya yang sedang bekerja mengoperasikan alat berat Beko di sebuah proyek di Kalimantan.
"Arkananta, umur 20 tahun, operator alat berat. Satu telepon dari saya saja, adik kesayanganmu ini bukan cuma akan dipecat, tapi karirnya bisa saya tamatkan di seluruh negeri ini," ucap Devan tanpa ekspresi, suaranya sedingin es.
Mata Aiswa membulat, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap Devan dengan tatapan ngeri sekaligus benci.
"Dasar... DUDA GILA!" teriak Aiswa dengan suara serak.
"Iya, saya memang gila. Dan semua ini karena kamu, Aiswa," Devan berdiri, mendekati Aiswa yang kini terduduk lemas di lantai karena energinya mendadak habis.
"Kalau kamu tidak menurut... saya bisa lebih gila dari ini."
Aiswa menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Ia merasa seperti kancil yang terjebak di tengah lingkaran api. Semua ancaman Devan bukan gertakan sambal. Dari memajukan libur sekolah, mengintervensi seminar, hingga mengancam bisnis Aditya dan masa depan adiknya.
Ya Allah, dosa apa hamba sampai harus berurusan sama alien gila berwujud sultan begini? batin Aiswa meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali Devan Argian.