Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Teknologi Para Dewa Atau Hanya "Wi-fi" Yang Hilang?
Pasir di pantai Pulau Tanpa Nama ini tidak seperti pasir di Pantai Selatan. Butirannya halus, namun berkilau seperti serpihan berlian, dan yang paling aneh—terasa hangat di telapak kaki meskipun tidak ada matahari yang terik. Alesia, Magnus, Kael, dan Lily melangkah hati-hati menuju sebuah bangunan berbentuk piramida kristal yang berdiri angkuh di puncak bukit.
"Tempat ini... tidak terasa seperti Orizon," bisik Jenderal Kael. Tangannya tetap waspada di gagang pedang. "Heningnya terlalu sempurna. Bahkan burung pun tidak berani berkicau."
"Ini bukan sihir, Jenderal," sahut Alesia sambil menatap dinding piramida yang permukaannya sangat rata dan halus. "Ini mah lebih mirip... laboratorium. Bang Magnus, liat pintu masuknya. Kagak ada lubang kunci, kagak ada pegangan."
Magnus mendekati dinding kristal itu. "Legenda mengatakan hanya mereka yang memiliki 'Darah Langit' yang bisa masuk. Ibu Suri menghabiskan puluhan tahun mencari mantra untuk membuka tempat ini, tapi selalu gagal."
Alesia maju, ia melihat sebuah panel persegi kecil berwarna hitam legam yang tertanam di dinding. Panel itu tampak sangat kontras dengan kristal di sekelilingnya. Begitu Alesia mendekat, panel itu tiba-tiba menyala dengan cahaya biru tipis.
“AUTHENTICATION REQUIRED,” sebuah suara mekanik yang datar terdengar dari dinding.
"ASTAGA! DINDINGNYA NGOMONG!" Lily langsung melompat ke belakang punggung Kael.
Magnus mengernyitkan dahi. "Bahasa apa itu? Kedengarannya seperti bahasa kuno yang belum pernah kudengar."
Alesia membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengenal bahasa itu. Itu bahasa Inggris, tapi aksennya sangat... futuristik. "Bang, itu bukan bahasa kuno. Itu... bahasa dari tempat asal gue."
Alesia memberanikan diri menempelkan jempol kanannya ke panel tersebut.
“SCANNING... BIOMETRIC DATA MATCHED. USER: ALESSIA-SITI. STATUS: TEMPORAL TRAVELER. ACCESS GRANTED.”
Sshhhht!
Dinding kristal itu terbelah secara vertikal, bergerak menyamping dengan suara hidrolik yang halus. Udara dingin yang berbau seperti ruangan ber-AC keluar dari dalam, membuat Magnus dan yang lainnya terpaku.
"Ayo masuk, Bang. Jangan bengong mulu," ajak Alesia, meskipun kakinya sendiri sedikit gemetar.
Bagian dalam piramida itu luar biasa. Cahaya putih keluar dari langit-langit tanpa adanya obor atau lampu minyak. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja konsol besar dengan layar holografik yang melayang-layang, menampilkan data-data yang berputar cepat.
"Siti... apa semua benda bercahaya ini?" Magnus bertanya dengan nada takjub sekaligus ngeri. Ia mencoba menyentuh salah satu hologram, namun tangannya menembus cahaya itu.
"Ini namanya hologram, Bang. Semacam bayangan yang punya informasi," jawab Alesia. Ia mendekati meja konsol pusat. Di sana, terdapat sebuah slot berbentuk oval yang sangat familiar. "Liat ini! Bentuknya pas bener sama pecahan Cermin Kebenaran yang gue simpen!"
Alesia mengeluarkan pecahan cermin dari kantongnya dan meletakkannya di slot tersebut. Seketika, seluruh ruangan berubah menjadi gelap, lalu sebuah proyeksi besar muncul di depan mereka. Seorang pria mengenakan jas putih panjang dengan kacamata canggih muncul dalam bentuk hologram 3D.
"Selamat pagi, rekan sesama pengembara waktu," ujar pria dalam hologram itu. Suaranya kini diterjemahkan secara otomatis oleh sistem ke dalam bahasa Orizon. "Jika kau melihat pesan ini, berarti kau adalah 'Bug' selanjutnya yang terlempar ke koordinat ini."
"Bug? Dia manggil gue serangga?" gerutu Alesia.
"Namaku Dr. Aris. Aku dari tahun 2145. Proyek 'Mirror-Portal' yang kubangun mengalami anomali saat terjadi ledakan supernova. Aku terdampar di sini ribuan tahun sebelum masamu. Orang-orang lokal di sini menganggapku Dewa, dan mesin navigasiku mereka sebut sebagai Cermin Kebenaran."
Magnus menatap hologram itu dengan serius. "Jadi, Dewa Pencipta Cermin itu... hanya seorang manusia dari masa depan?"
"Keliatannya gitu, Bang. Cermin itu sebenernya mesin navigasi buat portal pulang," Alesia mendengarkan dengan seksama penjelasan Dr. Aris.
"Mesin ini rusak parah," lanjut Dr. Aris. "Pecahan yang kau bawa adalah 'Kunci Booting'. Tapi untuk mengaktifkan portal pulang, kau butuh energi murni yang hanya bisa didapat dari inti Pulau ini. Tapi peringatanku: Portal ini hanya searah. Jika kau membukanya, kau akan pulang, tapi mesin ini akan hancur selamanya. Kau tidak akan bisa kembali ke sini."
Hologram itu menghilang, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam ruangan. Alesia menatap layar yang kini menampilkan tulisan: "INITIATE RETURN PROTOCOL? (YES/NO)".
"Siti..." Magnus memegang bahu Alesia. Suaranya berat, penuh dengan kepedihan yang ditahan. "Jadi itu jalannya. Kau tinggal menekan tanda itu, dan kau akan kembali ke 'Depok'-mu."
Alesia menatap tombol virtual yang berkedip-kedip di depannya. Di sana ada jalan pulang. Kembali ke kamarnya, kembali ke mi ayam favoritnya, kembali ke dunianya yang aman. Tapi kemudian ia menoleh ke arah Magnus. Ia melihat ketulusan di mata pria itu, ia melihat Lily yang ketakutan tapi tetap setia, ia teringat rakyat desa nelayan yang menari bersamanya.
"Bang Magnus," ucap Alesia pelan. "Dokter itu bilang, mesin ini bakal hancur kalau gue pake buat pulang."
"Jika itu harganya agar kau selamat dan kembali ke tempatmu yang seharusnya... maka lakukanlah," ujar Magnus, meskipun tangannya yang memegang bahu Alesia gemetar. "Aku tidak ingin egois menahanmu di dunia yang penuh perang dan fitnah ini."
Alesia terdiam. Ia melihat panel kontrol itu lagi. Lalu, dengan gerakan tiba-tiba, ia menekan tombol "CANCEL" dan mengetikkan sesuatu di papan ketik virtual dengan kecepatan tinggi—buah dari pengalamannya sering main game dan mengetik laporan kerja lembur di dunia lama.
“SYSTEM OVERRIDE. CONVERTING PORTAL ENERGY TO SHIELD STABILIZER.”
"Siti! Apa yang kau lakukan?" Magnus kaget.
"Gue kaga mau pulang, Bang! Kagak sekarang!" seru Alesia sambil terus mengotak-atik sistem. "Kalau gue pulang, siapa yang bakal ngelawan Ibu Suri? Siapa yang bakal ngerubah Orizon jadi lebih bener? Lagian... di Depok kaga ada Raja yang gantengnya kayak lu!"
“SHIELD ACTIVATED. CLOAKING ISLAND STATUS: ON.”
Tiba-tiba, getaran hebat melanda pulau itu. Cahaya dari piramida memancar ke langit, menciptakan kubah transparan yang menutupi seluruh pulau dari radar atau penglihatan luar.
"Gue baru aja ngunci pulau ini dan mindahin energinya buat jadi benteng rahasia kita," Alesia berbalik dengan senyum kemenangan, meski matanya berkaca-kaca. "Cermin itu kaga bakal bisa dipake buat portal lagi, Bang. Mesinnya udah gue re-program buat jadi sistem pertahanan Orizon."
Lily langsung lari memeluk Alesia. "Gusti! Hamba pikir Anda akan pergi meninggalkan hamba!"
Magnus tidak berkata-kata. Ia menarik Alesia ke dalam dekapan yang sangat erat, seolah-olah takut wanita itu akan berubah pikiran. "Kau... kau benar-benar gila, Siti. Kau membuang kesempatan untuk pulang demi kerajaan ini? Demi aku?"
"Gue kaga membuang, Bang. Gue cuma milih rumah yang baru," bisik Alesia di dada Magnus. "Tapi janji ya, lu jangan bikin gue nyesel udah milih stay di sini. Kalau lu macem-macem, gue hack sistem pertahanan ini biar lu kaga bisa masuk kamar!"
Magnus tertawa, suara tawa paling lega yang pernah didengar Alesia. "Aku berjanji, dengan nyawaku sebagai taruhannya."
Namun, di tengah momen haru itu, layar konsol tiba-tiba berkedip merah. Sebuah peringatan muncul:
“WARNING: EXTERNAL INTERFERENCE DETECTED. UNAUTHORIZED ACCESS FROM SUB-LEVEL 2.”
"Waduh! Ada orang lain di bawah tanah!" seru Alesia.
"Bram!" desis Jenderal Kael. "Dia pasti masuk lewat terowongan air saat kita sibuk di sini!"
Alesia mencabut Golok Seliwa-nya. "Wah, si Mawar Hitam itu beneran minta dikasih 'pestisida'. Bang, ayo kita kasih liat mereka kalau teknologi masa depan digabung sama silat Depok itu kaga ada obatnya!"
Magnus menghunus pedang emasnya, matanya berkilat tajam. "Kael, Lily, lindungi pintu keluar. Siti, mari kita tunjukkan pada mereka siapa pemilik sebenarnya dari Pulau ini."
Petualangan di Pulau Tanpa Nama ternyata baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan hanya rahasia masa lalu, tapi kelangsungan hidup mereka di markas teknologi dewa ini.
semangat kak up nya😍😍
semangat up nya😍
kocaghh...
permaisuri tekocak, terbetawi, Terplot twist karena goloknya, dan tentu karena panggilan nya pada raja jadi Abang /Facepalm//Facepalm/