NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pulang ke realita

Bandara internasional Juanda menyambutku dengan sapaan udara lembap yang terasa begitu akrab di kulit. Setelah hampir satu bulan berpindah dari satu zona waktu ke zona waktu lainnya, menghirup aroma tanah air rasanya seperti akhirnya bisa melepaskan napas yang selama ini kutahan. Aku, baru saja menyelesaikan perjalanan maraton yang barangkali bagi sebagian orang adalah impian. bukan hanya mimpi tapi setiap perjalanan memang sebuah pembelajaran.

​Langkahku terasa berat, bukan hanya karena kelelahan, Di belakangku, beberapa koli paket besar berisi gulungan kain dan sampel tekstil dari Lyon, Milan, hingga pasar grosir di Guangzhou, sudah lebih dulu meluncur ke arah kargo menuju butik. Kain-kain itu bukan sekadar material; mereka adalah nyawa bagi koleksi musim depan yang sudah direncanakan matang-matang dan meeting final hingga detail terkecil.

​"hah... Masih harus naik kereta lagi " gumamku nafas berat

​Menjadi seorang owner sekaligus penulis adalah cara terbaik untuk kehilangan kewarasan, namun aku mencintai keduanya. Editor novelku sudah mengirimkan tiga email pengingat selama aku berada di Italia. Aku menarik napas panjang, memposisikan jemariku di atas keyboard, dan mulai mengetik. Kata-kata mengalir seperti air bah yang menjebol bendungan. Aku menulis tentang kehilangan, tentang ruang kosong di hati yang coba diisi dengan kesibukan. Ironis, karena itulah yang sedang kulakukan sekarang.

​Tiga jam berlalu. Jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi saat aku menekan tombol send. Satu beban terangkat, namun beban lainnya sudah mengantre di depan pintu.

​Pagi hari berikutnya adalah badai yang berbeda. Aku berada di studio, dikelilingi oleh tim kreatif dan beberapa model yang akan mencoba prototipe koleksi terbaru. Gulungan kain dari Guangzhou yang baru tiba pagi tadi sudah terbuka di atas meja panjang.

​"Kain ini punya drape yang luar biasa, mbak Aleea. Sutra dari Italia ini juga memberikan kesan mewah yang kita butuhkan," ujar ibu sambil membelai kain jacquard berwarna tembaga.

​Aku mengangguk, namun mataku tetap fokus pada detail jahitan pada model di depanku. " ibu ingin potongan di bahunya lebih tegas. Kita bawa kesan maskulin dari tren yang kulihat di Paris kemarin, tapi tetap pertahankan kelembutan materialnya. Dan tolong, pastikan sampel warna dari China itu dicek kembali di bawah lampu siang hari. khawatir warnanya berubah menjadi kusam saat dipakai di luar ruangan." sambung ibu.

​Rapat itu berlangsung berjam-jam. Kami berdebat tentang estetika, fungsionalitas, hingga biaya produksi. Ponselku bergetar berkali-kali. Bukan dari editor, melainkan dari rekan bisnis yang menanyakan jadwal pertemuan sore nanti. Aku berpindah dari satu meja ke meja lain, memegang meteran, menyentuh tekstur kain yang dingin, dan memberikan instruksi dengan suara yang mulai serak.

​"mbak leea, kau sudah makan siang?" tanya ibu yang tiba-tiba muncul di ambang pintu studio. Beliau adalah sosok di balik layar yang selalu memastikan operasional butik berjalan lancar saat aku sibuk dengan sisi kreatif.

​"Nanti, Bu. Satu meeting lagi dengan vendor kancing, lalu aku harus merevisi plot bab dua," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari pola baju di depanku.

​Ibu hanya menghela napas, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. " gpp, mbak leea istirahat saja, ibu bisa gantikan dengan ila, jangan di paksa mbak leea, dari kemaren Dateng mbak leaa belum istirahat sama sekali, biar ibu saja ya" ucap ibu, aku menoleh ke arahnya dan menyetujuinya

​Malam kembali turun menyelimuti kota. Aku duduk di sudut ruang kantorku, suara bising air yang jatuh membuat aku nyaman dan mengantuk, rasanya seperti di timang alam, di ayun angin dan di puk puk hujan.

Tidak perlu merasa kuat, memaksa untuk tidak capek dan terlihat baik-baik saja. Apa yang aku lakukan... Aku penuh dengan cinta Abah dan ibu juga aylin adikku. Pelarian apa ini hingga aku lupa kehidupan sebelum pergi sudah senyaman ini.

what's up...

(Editor)​ 16.57 : "Aleea, bab pertamamu sangat emosional," "Tokoh utamanya terasa sangat nyata saat dia merindukan seseorang dalam diam. Di mana kau mendapatkan inspirasi itu?"

​Aku terdiam saat membacanya. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang.

(aku) 17.05 "Hanya imajinasi. Penulis memang harus ahli berpura-pura, bukan?"

(editor) 17.06 : ​"Atau mungkin, kau hanya menuliskan apa yang tidak berani kau katakan,"

Tak kubalas pesan itu, aku taruh handphone ku dan menyenderkan tubuhku, menikmati kembali suasana sore ini, tiba-tiba aku merindukan duduk di halaman belakang dengan backsound suara santri dan mengarang di sore hari. membuat butik memang membuat aku sibuk, tapi aku hanya membantu.

​Selama ini, aku telah membangun dinding yang begitu tinggi. Aku membentengi diriku dengan gulungan kain. melapisinya dengan ribuan kata dalam naskah, dan menyembunyikannya di balik jadwal rapat yang padat. Aku meyakinkan diriku bahwa aku terlalu sibuk untuk merasa sepi. Bahwa perjalanan ribuan kilometer ke belahan dunia lain telah membuatku lupa pada satu nama.

​Nama yang selalu kupanjatkan dalam bisikan diam di setiap sujudku. Nama yang tidak pernah kusebut dalam percakapan dengan siapa pun, namun selalu bergema di sela-sela denting mesin jahit atau di antara baris-baris dialog naskahku.

​Aku teringat saat berada di Piazza del Duomo, Milan. Saat itu salju tipis mulai turun, dan aku melihat sepasang kekasih tertawa di bawah payung yang sama. Untuk satu detik yang rapuh, aku aku bergumam lirih. 'Aku melihat salju, mari kesini suatu saat nanti' Namun, akal sehat segera menarikku kembali. Aku menutup mata dan kembali fokus pada sampel kain yang sedang kupelajari.

​Kesibukan adalah obat bius terbaik. Namun, obat bius selalu memiliki waktu kedaluwarsa.

​Kini, di ruang kantorku, benteng itu mulai retak. Sampel kain yang memenuhi ruang meeting dan beberapa sample yang beserakan di ruangan kantorku juganaskah yang baru saja ku selesaikan, dan kesuksesan yang mulai terpampang di depan mata, mendadak terasa tidak cukup. Aku menyadari bahwa sejauh apa pun aku pergi—ke Paris yang romantis, Italia yang artistik, hingga China yang penuh hiruk pikuk—aku tidak pernah benar-benar pergi meninggalkan perasaan itu.

​Aku hanya sedang berputar-putar di tempat yang sama, membawa rindu yang kupaketkan rapi di dasar hati, persis seperti gulungan-gulungan kain besar yang kukirimkan dari luar negeri. inilah kenapa aku ingin terus menyibukkan diri karna jika aku diam sebentar seperti ini, perasaan dan pikiranku terus mengarah ke arah yang sama dan membuat aku kesulitan mengelolanya.

​Aku memutuskan untuk pulang lebih awal meninggalkan ibu yang masih bergelut dengan kertas dan meteran. Aku menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas, dan kembali memacu diri ke dalam jalanan yang tidak terlalu sepi, Besok akan ada lebih banyak kain yang harus dipotong, lebih banyak bab yang harus ditulis, dan lebih banyak rapat yang harus dipimpin. Aku akan terus sibuk. Aku akan terus berlari. Dan mungkin, dalam kesibukan yang tak berujung itu, aku akan kembali belajar untuk berpura-pura bahwa aku sudah lupa.

​Walaupun jauh di dalam sana, bisikan diam itu masih tetap sama, menjaga satu nama agar tidak pernah benar-benar hilang tertelan waktu. Aleea akan kembali menjadi sosok yang dunia kenal ambisius, berbakat, dan tak tersentuh. Sementara di balik itu semua, aku hanyalah seorang perempuan yang sedang menjahit kembali kepingan hatinya dengan benang kesibukan yang paling kuat.

" hah.... Perasaan aneh ini lagi " gumamku pelan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!