Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.
Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria di Sudut
Sore turun perlahan, membawa cahaya yang makin redup. Warna langit di luar jendela memudar, tak lagi jelas batas antara siang dan malam.
Ruangan itu kembali sepi. Mama Mei sudah pulang sebentar, begitu juga Fero, ada keperluan penting katanya. Entah mana yang lebih penting dirinya atau pekerjaan, Mei tidak tahu tinggal dia dengan suara mesin tak pernah lelah berbunyi
Bip.
Bip.
Bip.
Hari itu, kesunyian terasa begitu besar dan menyesakkan dada. Mei menatap langit-langit putih, pikirannya tak mau berhenti berputar. Cincin dingin di jarinya, wajah dingin Fero, dan sorot mata pria asing itu…semuanya bertumpuk, tapi tak pernah bisa menyatu menjadi satu cerita yang utuh, tentang dirinya atau kenangan yang tersimpan.
“Kenapa semuanya terasa setengah?” gumamnya pelan, berbicara pada ruang hampa. Tidak ada yang menjawab, kesunyian bisu dengan puluhan pertanyaan.
Hingga akhirnya pintu terbuka pelan sekali. Tidak ada langkah tergesa, hanya gerakan hati-hati, seolah takut mengganggu udara di dalamnya.
Meisyah tidak langsung menoleh. Tapi ia tahu. Entah insting apa yang bekerja di dalam otaknya mengundang siapa yang datang.
" Mengapa kamu datang lagi? Kalau hanya cuma untuk melihat." Kalimat itu meluncur duluan, dingin dan datar, bahkan sebelum ia melihat wajahnya.
Laki laki itu hanya diam menatap nya lamat.
Sunyi menyelimuti sejenak, lalu suara penuh kesedihan terdengar menggema didalam ruangan sunyi.“Izinkan aku melihatmu lagi?”
Sua
Gadis menoleh, dia berdiri di tempat yang sama seperti kemarin - di ambang pintu, tidak sepenuhnya masuk, tapi tidak juga pergi seperti ada garis tak terlihat membatasi langkahnya
Hari ini, kesadaran sedikit berbeda, karena kehadirannya makin terasa… mengganggu, mengganggu ketenangan yang sedang ia paksakan merangkai
“Kenapa kamu selalu di sana?” tanya nya sedikit gusar
Mata itu hanya memandang tanpa lelah, berkaca kaca, “…karena kamu belum izinkan aku masuk."
Jawaban itu terdengar aneh, membuat alis Mei berkerut.“Kenapa kamu butuh izin aku?”
“Karena… sekarang aku orang asing dimatamu."Kalimat itu diucapkan dengan tenang, tapi ada sesuatu yang retak di baliknya, kesedihan menggumpal menyesakan dada.
Meisyah terdiam, Ia tahu itu mungkin itu benar secara logika. Tapi entah kenapa, rasanya… ada yang salah di hati
" Orang asing ? Kamu memang orang asing yang selalu datang."
" M-maafkan jika ini salah."
" Duduklah, " katanya menunjuk sebuah kursi pendamping pasien tidak berapa jauh dari tempat tidurnya.
“…boleh?”
“Kalau kamu terus berdiri di sana kayak patung, aku yang melihatnya lucu.”
Andra mendekat setiap langkah terasa berat, satu per satu menghantam nurani perasaan nya. Ia duduk menjaga jarak tidak terlalu dekat, dan tidak pula terlalu jauh
Dari lubuk hatinya terdalam, ia ingin sekali menyentuh nya, bersandar dalam pelukan dan menangis tapi hanya keheningan yang mencekam detik per detik terasa sejam dan waktu terus menikam
“Namamu siapa?”
Andra terdiam sesaat lalu “…Andra.”
Nama itu jatuh pelan di telinga Mei, tapi Ia mengulangnya didalam hati. Andra ? Tidak asing, tapi juga tak punya tempat yang jelas di memori.
“Kenapa kamu di sini, Andra?”
“…karena kamu.”
" Karena aku ? " Ia menghela napas panjang, jawaban itu terlalu klise. “Semua orang di sini pasti jawabannya sama karena aku, karena aku sakit, karena aku lupa, perlu dikasihani."
“Tidak, " Andra menggeleng pelan, " Kamu tidak sakit, kamu tidak lupa “Aku punya alasan berbeda.”
Mei menatapnya tajam, mencoba menerobos dinding di antara mereka. “Alasan kamu apa?”
" Terlalu panjang untuk di ceritakan."
" Point nya saja." Mei melihat betapa hancurnya sorot matanya.
“…Aku tidak bisa meninggalkan mu."
Jawaban tidak jelas, tidak masuk akal bagi otaknya, begitu berat hingga menekan dada." Kita tidak punya hubungan," jawab nya tegas, " Aku bukan siapa siapamu."
Wajah Andra seketika pucat,'matanya menyipit menahan tangis, " Aku tahu, maafkan jika aku salah, maafkan untuk semuanya."
" Untuk apa kamu meminta maaf ?"
Andra menarik napas pelan, suaranya bergetar tipis.“…aku memang mengenal mu.”
“Enggak." Ia menggeleng cepat, reflek." Jangan menambah cerita, mengada ngada."
Andra tidak membantah hanya menatapnya wajah pasrah. “ Tapi sekarang aku mengenalmu " Kalimat itu pelan, tapi tepat sasaran
Mei memalingkan wajahnya. Ia tidak suka perasaan ini seolah ia tertinggal jauh di belakang, dan laki laki di depannya memegang seluruh cerita yang tidak ia ketahui dan mungkin terlupa “Jangan ngomong kayak gitu lagi,” katanya parau.
“…maaf.”
Kembali sunyi lebih lama dan lebih berat.
Mei memutar-mutar cincin perak itu pelan. Tanpa sadar, pertanyaan itu meluncur keluar dari bibir nya.
“Ini dari kamu?”
Andra membeku. Seluruh tubuhnya seakan berhenti bergerak. Satu detik. Dua detik..
“…Eh..”
" Betul ? "
Ia hanya diam, tapi sorot matanya mengatakan benar
" Menapa kamu kasih aku cincin sementara aku tidak mengenalmu."
" Aku tidak tahu, tapi aku ingat kamu pernah mengatakan, " keindahan itu bukan dari bentuk dan harga tapi rasa dan keikhlasan."
" Kapan aku ngomong begitu? Kamu jangan mengada- ada."
“…Aku tidak berbohong, memang itu kenyataan nya."
" Jawab jujur."
Andra hanya tersenyum percuma saja menjelaskan jika pikiran nya selalu menolak. "Boleh tahu siapa namamu ? "tanyanya mengalihkan
" Kamu bodoh, mengapa menanyakan namaku jika kamu kenal."
" Siapa tahu namamu telah berganti."
" Tidak, silahkan tebak jika kamu tahu."
" Meisyah."
" Kamu tahu? Cukup ! Kepala ku pusing." Logikanya segera kembali mengambil alih, menutup celah baru saja terbuka, suaranya kembali dingin. “Kamu harus pergi. Maaf, Jangan datang lagi."
Andra tidak protes tidak bertanya kenapa. Ia langsung berdiri, menerima keputusan walau hati nya tersurut pedih “Baik, terima kasih. Mei." Ia berjalan menuju pintu lalu berhenti sejenak, " Mei..."kalau kamu melihat ku aneh itu gak salah.”
“Aneh membuatku tidak nyaman.”
Ia mengangguk pelan, matanya menyiratkan kesedihan mendalam.“…tapi itu juga bukan kebetulan.”
Mei diam tak menjawab memalingkan wajahnya menolak untuk mengerti. Dan Ia tidak mau percaya pada hal yang tidak bisa di jelaskan dengan akal sehat
Pintu tertutup sunyi kembali menyelimuti ruangan.
Gadis itu berdiri mematung, tangannya kembali menyentuh cincin di jari. Dan untuk beberapa alasan yang tak bisa ia mengerti, ia tidak melepas meskipun pikirannya berteriak menolak. Namun hatinya, entah sampai kapan belum sepenuhnya terima