Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: FAJAR BARU DI ATAS PUING-PUING
Sinar matahari pertama yang menembus jendela kaca gedung A&A Venture pagi itu terasa berbeda. Bukan lagi cahaya yang membawa kecemasan akan intaian musuh, melainkan cahaya yang menandai berakhirnya sebuah dinasti yang dibangun di atas kebohongan. Di luar sana, Jakarta mulai terbangun dengan berita utama yang menggemparkan: Kejatuhan Ratu Arkananta. Foto Victoria yang digiring masuk ke mobil tahanan dengan wajah tertutup selendang sutra menjadi ikon runtuhnya sebuah era.
Arlan berdiri di balkon lantai teratas, menghirup udara pagi yang masih sedikit beraroma embun dan asap knalpot. Ia tidak lagi mengenakan jas formal. Hanya kaos hitam polos dan celana kain, penampilannya jauh lebih santai namun auranya tetap dominan. Di belakangnya, Arumi melangkah pelan, membawa dua cangkir kopi hangat.
"Kau tidak tidur sama sekali?" tanya Arumi lembut, menyodorkan salah satu cangkir.
Arlan menerima kopi itu, jari-jarinya bersentuhan dengan jari Arumi, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Sulit untuk tidur ketika kau menyadari bahwa beban sepuluh tahun baru saja terangkat dari pundakmu. Aku merasa seperti pria yang baru lahir kembali, Arumi."
Arumi menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Ibu sudah lebih baik pagi ini. Dokter bilang fungsi motoriknya kembali dengan cepat. Dia terus menanyakan Leon."
"Dia akan memiliki banyak waktu dengan cucunya sekarang," Arlan mengecup kening Arumi. "Dan kau... kau akan memiliki banyak waktu untuk menjadi dokter yang kau impikan. Aku sudah bicara dengan dekan fakultasmu. Semua tuduhan Adrian telah dicabut secara resmi. Kau akan kembali ke kampus minggu depan sebagai pahlawan, bukan sebagai tersangka."
Namun, Arlan tahu bahwa kemenangan ini membawa tanggung jawab besar. Ratusan korban obat 'Arkananta-Plus' masih menderita di luar sana tanpa kompensasi yang layak. Ia tidak bisa begitu saja membiarkan Arkananta Group bangkrut dan meninggalkan para korban dalam ketidakpastian.
"Raka sudah menyiapkan berkasnya," Arlan mengajak Arumi duduk di meja kerja yang kini penuh dengan dokumen hukum. "Aku memutuskan untuk tidak melikuidasi seluruh aset Arkananta. Aku akan mengambil alih divisi riset dan distribusi mereka, lalu mengubahnya menjadi Yayasan Salsabila Medical Center.
Semua keuntungan dari divisi lain akan dialirkan untuk pengobatan gratis para korban malapraktik ayahku dulu."
Arumi menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Arlan... itu jumlah uang yang sangat besar. Kau bisa saja hidup mewah tujuh turunan tanpa harus melakukan itu."
"Aku sudah pernah hidup mewah, Arumi, dan itu tidak memberiku ketenangan saat aku melihatmu menangis di gudang tua itu," jawab Arlan tegas.
"Aku ingin Leon bangga pada nama Arkananta, bukan malu karenanya. Dan aku ingin kau yang menjadi Direktur Operasional Medis di sana. Kau yang paling tahu bagaimana rasanya menjadi korban, dan kau yang paling tahu cara menyembuhkan mereka."
Siang harinya, Arlan memutuskan untuk melakukan satu hal yang paling sulit dalam hidupnya: mengunjungi Victoria di rumah tahanan. Arumi bersikeras untuk ikut, meskipun Arlan sempat melarangnya karena khawatir akan kesehatan mental istrinya.
Di ruang kunjungan yang dingin dan berjeruji, Victoria duduk dengan pakaian oranye yang sangat kontras dengan kulitnya yang biasanya terawat mahal. Wajahnya tampak menua sepuluh tahun dalam satu malam. Tidak ada lagi kilatan sombong di matanya, hanya ada kehampaan.
"Kau datang untuk menertawakanku, Arlan?" suara Victoria serak.
"Aku datang untuk membawakanmu ini," Arlan meletakkan sebuah foto di atas meja kaca. Foto Leon yang sedang tersenyum lebar. "Aku ingin Ibu tahu bahwa meskipun Ibu mencoba menghancurkan hidup kami, Leon akan tumbuh besar dengan mengetahui bahwa ayahnya melakukan hal yang benar."
Victoria menatap foto itu, jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan kertas. Air mata perlahan jatuh di pipinya yang cekung. "Ayahmu... dia selalu bilang bahwa kelemahan adalah dosa terbesar. Aku hanya mencoba melindungimu dari menjadi lemah seperti dia di akhir hayatnya."
"Ibu salah," sela Arlan. "Cinta bukan kelemahan.
Cinta adalah alasan aku bisa mengalahkanmu. Arumi adalah kekuatanku, dan Leon adalah masa depanku. Ibu menghabiskan hidup Ibu membangun benteng, tapi Ibu lupa membangun rumah."
Arumi, yang sedari tadi diam, melangkah maju.
"Nyonya Victoria... saya tidak membenci Anda. Saya hanya kasihan. Anda memiliki segalanya, tapi Anda tidak memiliki siapa-siapa. Jika suatu hari Anda benar-benar menyesal, pintu rumah kami tidak akan terkunci sepenuhnya untuk Anda melihat Leon. Tapi itu butuh waktu lama."
Victoria terisak, sebuah pemandangan yang tak pernah dibayangkan Arlan sebelumnya. Sang Matriark Arkananta akhirnya runtuh, bukan oleh kekuatan senjata atau uang, melainkan oleh pengampunan dari wanita yang dulu ia anggap sebagai pelayan.
Saat mereka keluar dari penjara, Raka menyambut mereka dengan wajah gelisah. Ia memegang tablet yang menampilkan aktivitas siber yang mencurigakan di server pusat A&A Venture.
"Tuan, seseorang sedang mencoba menembus protokol keamanan kita. Mereka tidak mencari uang. Mereka mencari data lokasi persembunyian Dante," bisik Raka.
Arlan mengernyit. "Dante sudah menghilang. Siapa yang masih mencarinya?"
"Sindikat farmasi internasional itu, Tuan. Mereka menganggap Dante telah mengkhianati mereka dengan memberikan jurnal penelitian itu pada Anda. Mereka menempatkan harga lima juta dolar di kepala Dante."
Arlan teringat surat terakhir Dante. Meskipun pria itu kasar dan berbahaya, Dante adalah saudaranya. Tanpa Dante, Arumi mungkin tidak akan pernah bisa menyelamatkan ibunya.
"Lacak sumber serangannya, Raka. Jangan biarkan mereka menemukan Dante. Jika perlu, buat identitas palsu untuknya di luar negeri. Dia berhak mendapatkan kehidupan baru seperti kita."
Malam itu, mereka kembali ke rumah baru mereka yang asri. Tidak ada lagi pengawal yang berjaga di setiap jengkal tanah, hanya ada satpam kompleks yang ramah. Di ruang tengah, Ibu Arumi sedang duduk di kursi roda, menonton televisi bersama Leon yang merangkak di karpet bulu.
Arlan membantu Arumi menyiapkan makan malam. Mereka memasak bersama—sebuah aktivitas yang dulu dianggap mustahil bagi seorang Arlan Arkananta. Aroma pasta aglio olio dan ayam panggang memenuhi ruangan.
"Kau tahu," Arumi berkata sambil mengaduk pasta. "Ini adalah pertama kalinya aku merasa benar-benar bebas. Tidak ada kontrak, tidak ada ancaman, tidak ada rahasia."
Arlan memeluk pinggang Arumi dari belakang, menghirup aroma rambutnya yang kini berbau melati dan bumbu dapur. "Masih ada satu kontrak yang berlaku, Arumi."
Arumi menoleh dengan dahi berkerut. "Kontrak apa lagi?"
Arlan mengeluarkan sebuah map kecil dari laci meja makan. Di dalamnya ada secarik kertas yang ditulis tangan oleh Arlan sendiri.
> KONTRAK HIDUP ARLAN & ARUMI
* Pihak Pertama (Arlan) berjanji akan mencintai Pihak Kedua (Arumi) setiap detik tanpa syarat.
* Pihak Kedua berjanji akan menjadi rumah bagi Pihak Pertama selamanya.
* Bonus: Kebahagiaan tanpa batas dan Leon yang akan memiliki adik dalam waktu dekat.
Arumi tertawa, air mata bahagia menggenang di matanya. "Adik? Kau sudah merencanakannya semudah itu?"
"Aku seorang pengusaha, Arumi. Aku selalu punya rencana jangka panjang," Arlan mencium bibir Arumi dengan lembut. "Tapi kali ini, rencana ini tidak butuh tanda tangan di atas materai.
Hanya butuh janji di depan Tuhan."
Di luar, bintang-bintang Jakarta tampak bersinar lebih terang malam itu. Badai telah berlalu, menyisakan tanah yang basah namun subur untuk masa depan yang baru. Perjalanan dari seorang ibu susu yang terhimpit kemiskinan menuju seorang wanita yang memegang kendali atas takdir dan cintanya telah mencapai puncaknya.