NovelToon NovelToon
SIMURA SANG PEWARIS

SIMURA SANG PEWARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: LukmanÆ

Simura Seorang pangeran yang diasingkan dinegeri asing karena difitnah saudaranya. Dia menonjol dalam bidang strategi dan politik namun disisi lain ada sebuah kekuatan magis didalam tubuhnya yang sengaja ia sembunyikan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LukmanÆ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membongkar Kebusukan

​Setelah menerima mandat rahasia dari Kaisar Mei Tian, Simura bergerak cepat. Ia mengutus Liusan, tangan kanannya untuk membantu mengaudit seluruh pejabat Negara Mei secara senyap. Strategi Simura tergolong jenius, ia memanfaatkan jaringan toko miliknya yang tersebar luas sebagai mata dan telinga. Dengan koneksi yang menggurita di setiap sudut negeri, informasi mengalir deras layaknya air sungai menuju muara.

​Liusan dan timnya, yang sudah kenyang dengan asam garam dunia spionase, menjadi instrumen yang mematikan. Mereka membagi tugas, Liusan memantau gerbang kamp militer untuk mengawasi arus logistik pangan, sementara Simura sendiri mengawasi gerak gerik para menteri di jantung ibu kota.

​Kecurigaan mulai mengerucut saat Simura menemukan anomali pada data logistik. Angka yang tertera di dokumen resmi jauh melampaui jumlah barang yang sebenarnya masuk ke gudang militer. Benang merah itu menarik dua nama besar yakni Menteri Perdagangan, Xuiling, dan Menteri Pertahanan, Sanmo. Segala akses keluar masuk kebutuhan militer berada di bawah genggaman mereka.

​Berbulan bulan Simura melakukan pengintaian dalam bayang bayang hingga bukti bukti absolut terkumpul. Menteri Xuiling terbukti sengaja menimbun bahan pangan demi melambungkan harga dan menaikkan pajak dengan dalih dana perang, meski kas negara sebenarnya masih melimpah. Sementara itu, Menteri Sanmo melakukan dosa yang lebih besar, menjual senjata rahasia negara kepada pihak asing dan menjalankan sindikat perdagangan budak yang terkutuk.

​Malam itu, di ruang kerjanya yang sunyi, Simura tengah merapikan laporan terakhir untuk Kaisar. Tiba tiba, udara di sekitarnya terasa membeku. Sebuah insting purba memperingatkannya akan bahaya.

​Wusss!

Sebuah pisau beracun melesat, namun dengan refleks yang melampaui batas logika manusia, Simura menghindar. Matanya yang berwarna keemasan berpendar redup, menangkap sesosok bayangan di balik jendela. Dalam satu kedipan mata, Simura menghilang dan muncul tepat di belakang sosok bayangan tersebut.

​"Siapa yang mengirimmu?" tanya Simura dingin, ujung belatinya sudah menempel di leher sang pembunuh.

​Si pembunuh terperanjat. Target yang seharusnya menjadi mangsa kini justru berubah menjadi predator. Tanpa suara, pembunuh itu mencoba menyerang balik, dia menyadari perbedaan kekuatan antara dirinya dan Simura bagaikan bumi dan langit. Ranah kekuatan Simura berada di level yang tidak bisa ia jangkau.

​Merasa terdesak, si pembunuh menggunakan teknik pelarian. Ia melompat dari atap ke atap bagai kera yang gesit, lalu melemparkan bom asap putih untuk mengaburkan pandangan. Namun, Simura hanya memejamkan mata, mengaktifkan teknik instingnya. Di tengah kabut pekat, ia mendengar detak jantung yang memburu.

​Simura melemparkan pisaunya. Senjata itu membelah kabut dengan kecepatan peluru dan menghujam tepat di bahu kanan lawan. Si pembunuh mengerang, namun berhasil menghilang di kegelapan malam.

​Simura hendak mengejar, namun langkahnya terhenti oleh kedatangan anak buah Liusan yang terengah engah. Sebuah surat tebusan diserahkan, Liusan telah disandera. Amarah Simura memuncak, meremas kertas itu hingga hancur.

​Sesuai instruksi, Simura menuju sebuah hutan di kaki Gunung Kunlun. Di sana, ia melihat Liusan yang terikat, bersimbah darah akibat siksaan kejam.

​"Hentikan!" teriak Simura, suaranya menggelegar.

​"Tuan... jangan pedulikan saya..," lirih Liusan dengan napas tersengal.

​Seorang pria dengan perban di bahunya melangkah maju, pria itu adalah sosok bayangan yang hendak membunuh Simura di malam sebelumnya.

"Berlutut lah! Serahkan buku laporan itu, atau kepalanya akan terpisah dari tubuhnya!" ancamnya sembari menghunuskan pedang.

​Demi nyawa sahabatnya, Simura menurunkan egonya. Ia bersiap untuk berlutut. Namun, tepat sebelum lututnya menyentuh tanah, alam semesta seolah menolak penghinaan terhadap sosok Simura. Langit di atas Gunung Kunlun mendadak bergejolak. Awan hitam pekat bercampur kilatan emas berputar membentuk pusaran raksasa. Petir menyambar dengan suara guntur yang memekakkan telinga.

​Itulah Awan Petaka, fenomena yang hanya muncul jika seorang kultivator tingkat tinggi melepaskan aura sejatinya. Tekanan gravitasi di sekitar hutan meningkat drastis. Para pembunuh itu tersungkur, kultivasi mereka anjlok seketika karena ketakutan yang luar biasa. Mereka sadar, pria di depan mereka bukanlah sekadar pengawal atau pedagang kaya, melainkan entitas yang tak boleh disinggung.

​Simura berjalan tenang di tengah badai tersebut, membebaskan Liusan tanpa ada satu pun pembunuh yang berani berkutik.

​Beberapa hari kemudian, di kediaman rahasia, Menteri Sanmo dan Xuiling tampak murka mendengar kegagalan para pembunuh bayaran. Sanmo yang haus darah berniat menghabisi anak buahnya yang gagal, namun Xuiling yang licik mencegahnya.

"Jangan sia siakan mereka. Jual saja sebagai budak perang agar kita tetap mendapat untung," usulnya dingin.

​Namun, rencana busuk itu tak pernah terlaksana.

​Suara derap kaki puluhan pasukan Dinasti Mei tiba tiba mengepung kediaman mereka. Pintu gerbang didobrak paksa. Di tengah kepungan prajurit. muncul Sang Perdana Menteri, tangan kanan Kaisar, membawa gulungan sutra kuning keemasan.

​"Menteri Pertahanan Sanmo dan Menteri Perdagangan Xuiling, berlutut lah!" titah Perdana Menteri.

​Dengan gemetar, kedua pengkhianat itu bersujud. Perdana Menteri membacakan dekrit dengan suara menggelegar.

​"Atas bukti pengkhianatan terhadap negara, penimbunan logistik, dan perdagangan gelap. Kaisar Agung Mei Tian memerintahkan pencabutan jabatan dan hukuman pancung segera bagi Sanmo dan Xuiling. Harta benda disita untuk rakyat, dan nama mereka dihapus dari sejarah kehormatan!"

​Dunia seolah runtuh bagi kedua menteri tersebut. Di kejauhan, dari atas bukit Simura berdiri bersama Liusan yang mulai pulih, menatap matahari terbenam. Keadilan telah ditegakkan, namun mereka tahu, ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar di Negara Mei.

​(Bersambung)

1
3RSEL
cerita nya bagus dan mudah di pahami, alurnya juga menarik.Meskipun tidak dijelaskan dengan detail tingkatan kekuatan si cerita ini.Semangat terus Thor.
3RSEL
semangat terus Thor
3RSEL
sejauh ini cerita nya bagus dan enak dibaca.Tetap semangat, berkarya tidaklah mudah jadi sehat sehat selalu.Pertahankan alur ceritanya, efesien tidak bertele-tele namun tetap jangan terlalu dipaksakan.😁😁😁Maaf bukan menasehati hanya keinginan saya saja ✌️✌️✌️
LukmanÆ: ok, makasih sarannya👍👍
total 1 replies
Leha Rahman
lanjut Thor 😍
Andira Rahmawati
hadir..
Alia Chans
First baca 1 bab dah seru
semangat thor ✍️🤭😉🌹


kalo berkenan mampir juga ya thor😉🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!