rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Malam Minggu.
Minggu malam, pukul 19:45.
Vila Agung terasa lebih berat dari biasanya. Lampu kristal di ruang tamu lantai satu menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding marmer. Sofa kulit hitam membentuk U besar seperti arena pertarungan. Meja kaca tebal di tengah sudah penuh gelas anggur kosong dan asbak cerutu yang masih mengepul tipis. Bau kuba dan alkohol mahal menggantung tebal di udara, seperti kabut sebelum badai.
Farhank tiba terakhir. Mobil BMW hitamnya berhenti di halaman depan, lampu depan mati pelan. Ia masuk dengan langkah cepat, jas hitam rapi tapi wajah pucat karena kurang tidur. Baron ikut di belakang, pistol emas gradasi silver terlihat samar di pinggang. Shadiq sudah duduk di pinggir sofa, tangan di lutut, tatap kosong ke karpet Persia. Empat anak buah Agung berdiri di sudut ruang, tangan dekat sarung senjata.
Agung duduk di ujung sofa utama, tubuh tegap, jas abu-abu rapi, mata seperti elang yang lapar. Danu di sebelahnya, lebih pendek tapi lebih lebar, otot kawat menonjol di bawah kemeja, tato naga di leher terlihat jelas.
Agung buka suara duluan, suara seperti guntur pelan tapi mengancam.
“Farhank. Lo datang tepat waktu. Bagus.”
Farhank duduk di seberang Agung, angguk pelan. “Undangan lo nggak bisa gue abaikan. Apa kabar?”
Agung tersenyum tipis, tapi mata tetap dingin. “Kabar baik. Harman dan Taplo sudah di Indonesia. Sampai Senin sore tadi. Pesawat mereka mendarat di Soekarno-Hatta jam 15:30. Gue pancing mereka ke vila gue di Bogor.”
Danu maju, tangan mengepal di meja. “Mereka setuju datang Senin malam. "
Farhank tatap Agung. “Rencana lo apa?”
Agung angkat jari satu. “Tangkap mereka saat masuk vila. Interogasi. Kalau mereka dalang kontainer hilang, gue habisi sendiri.”
Farhank angguk pelan. “hati-hati. Diplomat punya perlindungan.”
Danu ketawa kecil. “. Pengawal cuma dua. Mobil lapis baja tipis. mana mungkin mereka bawa banyak pengawal untuk urusan pada kami.”
Agung lanjut. “Gue minta bantuan lo, Farhank. Lo dan Baron bantu interogasi. Lo tahu seluk-beluk pengiriman. Lo tahu siapa yang bisa akses kontainer. Kalau Harman dan Taplo dalang, lo yang tanya dulu. Gue yang selesaikan.”
Farhank angguk. “Deal. Gue bawa tim gue.”
Shadiq duduk diam, dengar semua. Di kepalanya berputar: *Harman & Taplo ke vila. Undangan palsu. Kalau mereka terbukti nggak bersalah, tuduhan balik ke gue. Tapi kalau mereka dalang, gue aman. Tapi gue punya peti. Dan Kelinci Perak tahu.*
Agung tatap Shadiq. “Lo ikut. Lo tahu pelabuhan. Lo tahu kontainer. Kalau ada apa-apa lo yang tutup.”
Shadiq angguk pelan. “Oke. Gue ikut.”
Agung angkat tangan. “Cukup. Rencana jelas: Senin malam, jam 16:00, mereka tiba di vila. Kita tangkap di halaman belakang. Tim gue blokir jalan masuk. Baron dan anak buah lo tutup belakang. Shadiq lo bantu identifikasi kalau mereka coba kabur.”
Danu tambah. “Kalau mereka bawa pengawal lebih banyak, kita tembak. No mercy.”
Farhank angguk. “Deal. Gue siapkan tim gue.”
Pertemuan bubar jam 20:30. Agung dan Danu keluar duluan. Farhank tatap Shadiq sebelum pergi.
“Lo jangan main-main. Besok malam lo di vila. Kalau lo bohong lagi, gue bunuh lo duluan.”
Shadiq angguk. “Gue tahu.”
Farhank dan Baron pergi. Shadiq sendirian di ruang tamu vila.
Ia keluar ke halaman, nyalakan motor butut. Jalan pulang ke kontrakan terasa lebih panjang. Angin malam dingin menusuk tulang. Di kepala:
*Senin malam. Vila. Undangan palsu. Harman & Taplo datang. Interogasi. Kalau gagal, gue mati. Kalau berhasil, gue aman. Tapi Kelinci Perak menunggu. Mereka tahu gue punya peti.*
Shadiq sampai rumah jam 21:15. Pintu depan terkunci. Ia masuk, duduk di sofa. Tatap peti di bawah kasur.
*Besok malam. Vila. Dan gue harus selamatkan diri sendiri… dan Arva & Irva.*
Di bawah kasur, dua AK-47 masih diam seperti penjaga setia.
Di vila Agung, Agung tatap foto Harman & Taplo. “Besok lo datang ke rumah gue. Dan gue akan tahu siapa lo sebenarnya.”
Shadiq tatap ponsel Kelinci Perak. Pesan baru.
*Kebohongan dalam kebohongan. Gue sudah terjebak di tengah.*
Ia matikan ponsel.
*Senin malam. Vila."
---