Ibu Alya meninggal karena menyelamatkan anak majikannya yang bernama Bagas, dia adalah tuan muda dari keluarga Danantya.
~
Bagas patah hati karena kepercayaannya dihancurkan oleh calon istrinya Laras, sejak saat itu hatinya beku dan sikapnya berubah dingin.
~
Alya kini jadi yatim piatu, kedua orang tua Bagas yang tidak tega pun memutuskan untuk menjodohkan Bagas dan Alya.
~
Bagas menolak, begitupun Alya namun mereka terpaksa menikah karena terjadi sesuatu yang tidak terduga!
~
Apakah Bagas akan menerima Alya sebagai istrinya? Lalu bagaimana jika Alya ternyata diam-diam mencintai Bagas selama ini?
Mampukah Alya meluluhkan hati Bagas, atau rumah tangga mereka akan hancur?
Ikuti kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon znfadhila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
Alya baru saja selesai bersiap, pagi ini seperti biasa Alya memulai harinya dengan beribadah, namun hari ini ada yang berbeda karena Alya akan menjalani hari pertamanya sebagai istri dari Bagas.
"Aku masih gak nyangka kalo sekarang udah resmi jadi istri Bang Bagas." gumam Alya menghela nafas berat.
"Jantung aku masih gak aman kalo inget kemarin malem." pipi Alya bersemu begitu mengingat Bagas yang mencium keningnya semalam.
Bagas melakukan itu sebelum pergi untuk beristirahat, jujur Alya sampai salah tingkah sekali.
"Aihh jantung ini murahan banget, untung Bang Bagas engga sadar kalo sadar bahaya banget pasti." gumam Alya menahan senyum.
Alya menarik nafas supaya tidak salah tingkah, setelah tenang Alya memutuskan untuk keluar rumah dan menghampiri Husna serta Berlian yang baru duduk untuk bersiap sarapan.
"Pagi Tante, Berlian." sapa Alya tersenyum manis.
"Eh kok manggilnya masih Tante sih." Husna langsung protes.
"Iya harusnya panggil Ibu sama kaya aku." Berlian ikut protes, Alya tersenyum kikuk.
"Maaf Ibu." ucap Alya pelan, Husna tersenyum dia segera bangkit untuk menggandeng menantu barunya supaya duduk dan mereka bisa sarapan bersama.
"Ini aku sama Ibu loh yang masak." kata Berlian bersemangat, dia memang sengaja memasak bersama Husna.
"Kok gak ajak aku Lian?" bisik Alya yang merasa canggung sekaligus malu, Alya tentu saja tak enak hati karena membiarkan Berlian dan Husna memasak sendiri.
"Soalnya aku pengertian, kamu pasti cape kan? udah santai aja." Berlian menjawab tanpa beban sama sekali.
"Tapi tetep aja aku gak enak." bisik Alya yang sudah duduk disamping Berlian.
"Hayo pada bisik-bisik apa?" tanya Husna bercanda, wajah Alya sedikit memerah.
"Ini loh Ibu, katanya Alya gak enak soalnya gak ikutan masak." Berlian membocorkan perkataan Alya tanpa ragu, jelas saja Alya makin salah tingkah.
"A-anu.."
"Alya jangan sungkan lagi dong sayang, sekarang kamu udah jadi istrinya Bagas berarti kamu menantu Ibu." Husna menggenggam tangan Alya, dia tau selama ini Alya masih merasa canggung pada mereka.
"T-tapi.."
"Kita sarapan ya." Husna mengelus pucuk kepala Alya dengan lembut, selama ini Husna sudah menganggap Alya seperti putrinya sendiri.
Apalagi Alya bersahabat baik dengan Berlian, sekarang rasanya Husna sangat bahagia karena Alya lah yang jadi menantunya.
"Makasih banyak Ibu." ucap Alya tulus, Husna tersenyum lembut.
"Sama-sama Nak, ayo makan." ujar Husna, Alya mengangguk.
Berlian tersenyum senang karena Alya sudah menjadi iparnya, Berlian yakin jika hubungan Alya dan Bagas akan berjalan dengan lancar, bahkan Berlian yakin jika Bagas akan bucin pada Alya.
'Hihi, gak sabar banget nunggu Abang bucin gimana.' batin Berlian, saat bersama Laras dulu Berlian kesal sekali tapi jika dengan Alya maka Berlian sangat bahagia.
"Oh iya Ibu, Bang Bagas sama Ayah dimana? sama suaminya Berlian juga?" Alya baru sadar jika para pria tidak ada disini.
Satu hal lagi, Alya begitu canggung dan takut pada suami Berlian karena tatapan nya yang begitu tajam, ekspresi wajahnya juga sangat datar.
"Mereka lagi ke kantor desa buat buktiin kalo kamu gak bersalah." ucap Husna santai, memang sudah benar keputusan Bagas tidak mengajak Alya, sudah cukup mental Alya dirusak disini jadi lebih baik Bagas menyelesaikan ini sendiri.
Alya membulatkan matanya tak percaya, dia ingin protes tapi Berlian lebih dulu bersuara.
"Eitss, ini keputusan Bang Bagas katanya dia gamau lagi liat kamu diejek sama mereka makanya Bang Bagas yang bakal beresin semuanya, Bang Bagas beneran khawatir sama kamu." Berlian menaik turunkan alisnya menggoda Alya yang wajahnya memerah.
"Betul itu, kamu gak perlu pikirin masalah itu Bagas sama Ayah dibantu Joshua bakal bersihin nama baik kamu, kita percaya kalo kamu gak mungkin ngelakuin hal itu." Husna menenangkan Alya.
Mendengar kepercayaan keluarga Berlian padanya membuat mata Alya berkaca-kaca, tapi hatinya menghangat karena masih ada yang percaya padanya.
"Makasih Ibu, Berlian, aku berharap nama baik aku kembali lagi." gumam Alya bergetar.
"Itu pasti." Husna dan Berlian mencoba menguatkan Alya, memang dituduh secara keji itu sangat tidak menyenangkan apalagi penjelasan Alya sama sekali tidak di percaya.
****
Di kantor kepala desa, Bagas duduk dengan penuh wibawa ditemani Joshua dan juga Zaki. Beberapa anak buah juga menemani mereka, dan sesuai janji Bagas akan melayangkan tuntutan hukum pada orang yang dianggap memprovokasi terutama bagi orang yang pertama kali menyebar fitnah.
"Saya tidak akan berbasa-basi disini Pak Kades, ini bukti yang saya bawa." Bagas memberikan flashdisk pada pak kades.
"Baik."
Disana sudah ada layar monitor besar untuk melihat apa yang ada di dalam flashdisk tersebut.
Sepupu Alya jelas gelagapan karena dialah yang hamil bukan Alya, selain itu dia dipaksa hadir karena kan awal yang melaporkan tuduhan itu dirinya sendiri.
'Sial harusnya aku kemarin bisa kabur, tapi semua anak buah mereka jaga ketat daerah ini! kalo aku ketahuan gimana?' batin Mila gemetaran, belum sempat kabur sudah dijaga oleh anak buah Bagas.
Selain itu Mila juga masih stres karena ayah dari anak yang dikandungnya benar-benar tidak mau bertanggung jawab padanya.
Kembali pada posisi depan dimana sebuah CCTV ditaman ditemukan, tentu saja Mila terkejut dan tidak menyangka jika disana ada CCTV.
Yang lebih mengejutkan suaranya terdengar jelas, tapi itu bukan dari rekaman CCTV melainkan rekaman yang tidak sengaja terekam oleh orang lain yang kebetulan sedang membuat video disana, awalnya dia juga tidak sadar namun setelah pulang ke rumah dia sadar dan memberitahu orang yang kebetulan sedang mencari bukti.
Semua orang membulatkan matanya tak percaya setelah mendengar rekaman suara itu, selanjutnya ada bukti video dari pria yang merupakan kekasih Mila.
Hal itu membuat para warga yang kemarin menuduh Alya langsung gemetaran terutama si Ibu julid yang paling bersemangat, dia masih dendam karena Alya menolak putranya.
"Semua sudah jelas bukan? istri saya tidak bersalah, tapi wanita itu lah yang bersalah!" Bagas menatap tajam Mila yang kini gemetaran, bahkan dia hampir menangis karena semua kejahatannya terbongkar.
Pak Kades terdiam bingung harus menjawab apa, masalahnya sekarang Alya sudah menikah karena di paksa oleh warga, dan sekarang Alya terbukti tidak bersalah masa iya Alya dan Bagas harus membatalkan pernikahan.
"Apa kalian sudah puas membuat menantuku tertekan?" suara Zaki dingin sekali, dia menatap para warga yang kemarin bersikap anarkis.
"Tapi disini kami juga tidak salah, dia yang menyebarkan fitnahnya." salah seorang pria paruh baya masih berani bersuara, dia tidak mau disalahkan begitu saja.
"Lalu kalian bisa mendesak seseorang begitu saja tanpa mencari tau fakta begitu." suara Zaki sedikit naik, pria itu langsung bungkam kembali.
"Ayah jangan terlalu repot berdebat sama mereka, tugas kita itu cuma buktiin Alya gak bersalah sama sekali, setelah ini mereka akan mendapat hukumannya sendiri di kantor polisi." ucap Bagas dingin, Bagas kemudian menatap Mila yang hendak kabur.
"Dan untuk wanita itu, hukumannya 2x lipat sepertinya kamu merindukan Ibumu bagaimana jika aku mengirimmu untuk menemani Ibumu?"
DEG!
"Dan satu lagi mulai saat ini Alya bukan lagi warga disini, dia akan segera pindah dan dokumennya harus diurus cepat tanpa dipersulit!"
'Mulai sekarang gak akan aku biarin siapapun nyakitin kamu Al.'
Bersambung...........