Blurb :
ARJUNA, seorang advokat/pengacara/lawyer yang profesional di bidangnya. Namun, karena pesonanya itu, dia kerap didatangi para wanita-wanita cantik hingga gelar 'Play Boy' pun melekat pada dirinya. Ada alasan tersendiri kenapa rumor yang kurang enak disandang itu menyebar begitu saja.
Persidangan telah mempertemukan Arjuna dengan jaksa muda bernama SHADRINA ARIMBIE. Intrik mewarnai kisah cinta mereka hingga terungkap jati diri Arjuna yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu yang tepat
“Tapi untuk apa, jika dia hanya menyukai penampilanmu saja?” Arjuna coba meyakinkan Arimbie. “Kamu perlu orang yang benar-benar tulus mencintaimu, Bie.”
“Tolong berhenti dulu bicara, karena kita akan segera menemui keluargaku.” Arimbie berhenti untuk mengingatkan Arjuna, lalu kembali melangkah masuk lewat pintu utama.
Ketika Arimbie mulai masuk, semua mata tertuju padanya yang memang datang terlambat. Mereka cukup lama menunggunya untuk hadir dalam acara, karena orang tua Arimbie ingin membahas sesuatu yang penting bersama orang tua Adrian.
Sambil berjalan menuju tempat keluarganya berkumpul, Arimbie menyalami beberapa tamu yang sudah dia kenal karena sudah sering bertemu sebelumnya. “Selamat malam semuanya. Maaf saya datang terlambat,” ucap gadis cantik ini sambil membungkukkan kepalanya.
Penampilan Arimbie cukup menyita perhatian, terlebih pada Adrian yang mulai berubah pikiran. Adrian mengurungkan niatnya untuk pulang ketika melihat Arimbie baru datang. “Bie, kamu baru datang? kenapa terlambat?” Adrian menghampiri lalu mengajak Arimbie menemui keluarga besarnya yang tengah menunggu.
“Sepertinya Mas Adrian sudah mau pulang, ya?”
“Tidak, Bie. Aku sedang menunggu kamu. Ayo ketemu kakek dulu,” ajaknya. Matanya tak henti menatap Arimbie yang tampil sederhana tapi elegan dan tidak berlebihan. Make up-nya natural, tidak norak seperti terakhir kali ia melihatnya.
Sebelum mengikuti langkah Adrian, Arimbie menoleh kebelakang mencari keberadaan Arjuna yang ternyata sudah di sambut oleh nkembar bersaudara. Arimbie membiarkan mereka menikmati obrolannya, lalu pergi mengikuti ajakan Adrian.
Sementara Arjuna sempat menatap Arimbie yang mulai masuk bersama Adrian, tiba-tiba perhatiannya beralih pada kembar bersaudara yang datang menyapanya. Ternyata dunianya tidak bisa lepas dari triple G—sang trio bebek yang selalu berisik.
“Ya, ampun, Bang. Ternyata kita emang gak bisa dipisahin, loh.” Ghibran datang dari belakang bersama dua saudaranya.
“Lha, kok, kalian ada di sini? Bukannya ada acara lain malam ini?”
“Ya inilah acara kita. Kami baru tahu kalau ternyata orang tua Bu Jaksa itu temannya Papa,” balas Ghiffari.
“Abang terima saja kenyataan bahwa kita ini memang berjodoh,” timpal Ghaisan seraya memeluk pundak Arjuna.
“Bilang jodohnya jangan sambil pegang-pegang gini, ya. Maaf, merinding loh, gue jadinya.” Mata Arjuna menunjuk pada tangan Ghaisan yang melingkar di pundaknya.
“Mumpung kita lagi kumpul, aku mau kenalin Abang pada mama sama papa,” ucap Ghibran sambil melongokkan wajah kesana dan kemari, mencari keberadaan orang tuanya.
“Setuju ...!” seru dua saudara kembarnya.
Di tempat lain, Arimbie yang datang bersama Adrian mendapat sambutan dari keluarga besar beserta rekan dan sahabat dari orang tua dan juga kakeknya. Termasuk orang tua tiga bersaudara dan juga calon mertua Arimbie hadir di sana.
“Ya ampun. Calon mantu mama, kok, baru datang?” dr Lisa memeluk Arimbi—calon mantu kesayangannya.
“Mama, apa kabar, Ma?” Arimbie membalas pelukan dr. Lisa yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri. “Arimbie udah kangen curhat nih sama mama.”
Di sisi lain, sang kakek tersenyum tengah menunggu pelukan dari cucu perempuan satu-satunya yang manja meski usianya sudah dewasa.
“Kakek ... jangan-jangan kakek tahu aku gak bawa kado? kenapa menatapku seperti itu?” Arimbie menghampiri lalu mencium punggung tangannya.
“Apa?! tidak hanya datang terlambat, kamu juga tidak bawa kado?”
“Besok-besok Arimbie akan sering datang dan bawa kado yang banyak.”
“Itu tidak perlu. Kakek cuma mau lihat kamu menikah dan kasih kakek cucu buyut sebelum kakek tutup usia.”
“Nikah? Doakan, ya, kek,” tukas Arimbie sambil kembali mencium kedua tangan keriput milik kakeknya.
“Bie, itu ada om Ali sama Tante Ayya. Kamu masih ingat?” tanya Shasha pada anak gadisnya.
Arimbie segera menoleh dan menatap satu persatu tamu di sana. Pandangannya tertuju pada orang tua kembar bersaudara, yang duduk di sebelah ayahnya.
“Ingatlah, Ayah.” Arimbie datang dan menyalami satu persatu. “Mana anak om dan tante yang kembar tiga itu? Apa mereka masih suka jahil, hem?” tanya Arimbie seraya menaikkan alisnya.
“Arimbie masih ingat dengan mereka juga? Kalian kan masih kecil waktu bertemu dulu?” tanya Ali—sang polisi
“Arimbie memiliki Sindrom Hyperthymesia, Bang. Dia pasti ingat semua,” sela Luthfie—ayahnya Arimbie.
“Wahh, menarik sekali,” timpal Ayya, yang tak lain adalah ibu dari si kembar. “Coba Arimbie lihat ke sana, siapa mereka?” Ayya menunjuk ke arah anak-anaknya yang datang bersama Arjuna dan sudah berdiri cukup lama, mungkin mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk gabung di sana.
“Hhah! mereka si kembar?!” tanya Arimbie seraya membelalakkan matanya. “Ini lucu sekali, ya ampun, mendadak aku ingin mencari Dinda,” batin Arimbie cekikikan sambil mengedarkan pandangannya.
Shasha segera berdiri memanggil Arjuna ketika ia menyadari keberadaannya.
“Juna, kemarilah. Ternyata kamu datang, Nak.”
Arjuna menjelaskan alasan kenapa ia dan Arimbie datang terlambat, di saat para tamu sudah mulai pamit untuk pulang. Lalu di serahkannya sebuah kado pada Pak Ammar yang tengah berulang tahun malam ini.
“Wah, apa ini? Sepertinya berat sekali. Boleh aku membukanya,” tanya Pak Ammar.
“Silakan, kek ...,” jawab Arjuna sambil tersenyum pada pria tua yang sebelumnya ia kenal sebagai pemilik ruko.
Arjuna menghadiahkan sebuah papan catur pada Ammar karena dilihatnya masa tua lelaki itu sedang membutuhkan hiburan untuk mengisi waktunya. Namun, sang lelaki tua tampak kebingungan. Bagaimana ia bisa bermain catur, sementara ia tidak memiliki teman untuk dijadikan lawan mainnya.
“Apa ... kakek tidak suka dengan kadonya?” tanya Arjuna ketika dilihatnya wajah wajah Pak Ammar sangat datar.
“Bukan begitu. Masalahnya kakek tidak punya lawan main. Di rumah hanya tinggal dengan ART saja.”
“Kalau begitu, Arjuna akan sering datang untuk menjadi lawan kakek, gimana?
Seketika sang kakek menjadi sangat semringah mendengar tawaran Arjuna. Bagaimana tidak, selama ini anak dan cucunya sibuk dengan urusan masing-masing di Bandung.
“Wah, kayaknya Jaka tarub modus, nih,” batin Arimbie dalam hatinya.
Melihat Arjuna selangkah lebih maju karena dia bisa mencuri hati calon kakek mertua, tiba-tiba Adrian berbisik di telinga dr. Lisa. Dia membujuk ibunya untuk segera menentukan tanggal pernikahan dirinya dengan Arimbie. Sepertinya dia putuskan untuk kembali merebut Arimbie.
“Malam ini sungguh menyenangkan,” ucap dr. Lisa membuka percakapan. “Jarang sekali kita bisa berkumpul seperti ini. Bagaimana jika sekarang kita tentukan tanggal pernikahan Adrian dan Arimbie? Kebetulan juga kakek sangat menginginkannya.”
Arjuna membulatkan matanya lalu menatap ke arah Arimbie.
“Apa secepat ini aku harus patah hati? Padahal aku baru saja ingin memulainya,” batin Arjuna.
“Gimana Arimbie sama Adrian? Kalian sudah siap? Bunda pikir, kalian sudah sangat dewasa. Sudah saatnya berumah tangga, tapi keputusan tetap ada di tangan kalian.”
“Kami sudah siap, Bunda!” jawab Adrian dengan cepat.
Tiba-tiba Arimbie berdiri karena ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting. Ini atas permintaan Adrian melalui pesan singkatnya beberapa jam yang lalu.
“Mohon maaf sebelumnya, saya menyela pembicaraan para orang tua, karena ada sesuatu hal yang harus disampaikan oleh Mas Adrian.”
Adrian yang duduk di sebelahnya terus menarik tangan Arimbie supaya ia duduk kembali. Arimbie berhenti bicara seraya menatap Adrian sesaat.
“Silakan Mas Adrian. Sampaikanlah semua hal yang mengganggu pikiranmu.”
“Tidak, tidak ... tidak ada yang mengganggu pikiranku selama ini. Aku hanya ingin tanggal pernikahan dipercepat saja,” ucapnya sambil mengedipkan matanya pada Arimbie berkali-kali.
“Kalau begitu, biar Arimbie saja yang menyampaikan,” ucapnya sambil menarik napas yang panjang lalu membuangnya pelan-pelan sebelum bicara. “Jadi, sebenarnya Antara Arimbie dan Mas Adrian sudah tidak ada hubungan apa-apa. Kami sudah putus beberapa waktu yang lalu.”
Arimbie mengabaikan kode-kode dari Adrian yang melarang Arimbie untuk tidak mengatakannya.
“Tidak, tidak. Itu tidak benar.” sanggah Adrian. “Bie, aku sudah berubah pikiran. Jadi kita jangan putus, ya,” pinta Adrian sambil meraih kedua tangan Arimbie.
“Benarkah ...? Mas Adrian sudah berubah pikiran lagi sekarang?” Arimbie menunjukkan senyumnya pada Adrian yang tengah memohon-mohon di depan orang tuanya.
...—BERSAMBUNG—...
Readers ... aku tunggu like, koment dan vote-nya. Terima kasih 😘🙏
hanya 🌹yg dapat mewakili perasaan ku saat membaca nya 🥰🥰🥰
🙏🙏🙏🙏🙏
ku simak terus ya Thor