yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 2 Bicara Dalam Diam
Yovada membuka matanya dan kemudian melihat bahwa dirinya sedang terduduk di lantai dan bersandarkan dinding. Di hadapannya kini ada seseorang wanita dengan tatapan dingin, tanpa senyum, tanpa suara, hanya sebuah rasa penasaran yang ada di dalamnya. Yovada yang melihat itu langsung tersadar dan langsung bangkit sambil membersihkan bajunya dan celananya. Ia menatap sekitarnya, tiada banyak orang dan hanya wanita itu yang memperhatikannya. Yovada kembali meliriknya dengan tatapan datar tanpa rasa. Ia mengucapkan terima kasih padanya lalu berjalan menjauh dengan buku yang ia ambil tadi.
Wanita itu menatapnya tanpa banyak berbicara. Hanya tatapan kosong dengan kesunyian dan kemudian mengangguk kepada Yovada. Ia kembali pergi ke mejanya dan kembali membaca buku yang ia pinjam.
Meja di sana seperti meja makan, hanya ada 3 baris meja yang sangat panjang dengan masing-masing 1 tempat duduk di setiap sisinya seperti meja makan yang ada di kantin. Yovada duduk paling ujung di belakang bagian kiri sedangkan wanita itu duduk di ujung depan bagian kanan dekat pintu. Yovada kembali ke buku yang ia ambil dari rak tadi. Buku itu membicarakan bagaimana orang zaman dulu bisa belajar dengan gigih dan mendapatkan pengetahuan yang sangat luas. Bukan hanya itu, di sana juga ada buku yang membahas tentang pengetahuan dan pemikiran orang zaman dahulu yang membuatnya cukup betah. Setidaknya dari sekian banyaknya buku yang ia temui di perpustakaan itu, hanya buku-buku seperti ini yang membuatnya tertarik karena sisanya tidak lebih dari buku-buku pembelajaran zaman dahulu yang sudah tidak relevan dan juga membosankan karena hanya membahas daras yang baginya sudah ia pelajari mulai sekolah dasar.
Sesekali tatapan Yovada berpindah kepada wanita yang menolongnya, ia membetulkan posisi kaca matanya. Wanita itu begitu tenang, dingin, tanpa banyak bicara dan sangat mencolok karena rambut pendeknya yang membuat banyak pria kadang meliriknya namun tidak banyak yang berani menyapanya karena mereka tahu bahwa wanita itu layaknya balok es abadi yang berada di tengah gurun karena sangat mustahil untuk di balas sapaannya tersebut. Tatapan wanita itu seperti ketenangan yang tidak di miliki wanita lain. Di saat wanita lain bersikap berbeda dari yang lain seperti ceria, aktif, atau mendekati pria populer, wanita yang satu ini hidup dalam ketenangan dan tatapan dingin yang membuatnya sangat mencolok dari yang lain.
Beberapa wanita melintas melewatinya namun tidak ada yang menyapanya. Sebagian lain malah membicarakannya di belakangnya seakan ia adalah seseorang yang aneh. Wanita itu mengetahui hal bahwa dirinya di bicarakan oleh teman-temanya namun ia tetap hidup dalam ketenangan.
Tiba-tiba bel kelas berbunyi yang menandakan jam istirahat ke 2 sudah mau berakhir dan para siswa dan siswi di haruskan untuk memasuki kelas mereka karena jam pembelajaran akan segera di mulai. Yovada yang mendengar itu langsung bergegas meninggalkan mejanya dan keluar dari perpustakaan itu. Namun di saat ia keluar, ia berbarengan dengan wanita yang menyelamatkannya itu lagi. Kali ini mereka berjalan berdampingan menuju kelas mereka masing-masing. Ia melihat bahwa wanita itu memasuki kelas 12C sedangkan ia ada di kelas 12D. Mereka pada akhirnya memasuki kelasnya masing-masing dan pertemuan mereka terputus hingga depan pintu kelas.
Di kelas, Yovada kembali duduk di bakunya dan teman-tamannya menemuinya untuk mengucapkan terima kasih padanya karena membantu mereka belajar. Yovada tersenyum kemudian ia berbicara pada mereka bahwa yang paling penting baginya bukanlah nilai namun bagaimana kalian menyelesaikan soal tersebut sesuai dengan apa yang kita pelajari. Ia akan sangat senang jika jawaban esai mereka nanti di jawab dengan pemahaman kalian dan jawabannya memang mewakili bagaimana mereka berpikir. Sebelum ia mengakhiri pembicaraan itu ia bilang “kemampuan seseorang dalam menilai sebuah jawaban memanglah berbeda dan pasti memiliki jalannya. Masalah benar atau tidaknya di mana orang lain adalah masalah nanti karena kebenaran di mata filsafat adalah relatif dan filsafat adalah ibu dari berbagai ilmu pengetahuan”
Mereka kembali ke tempat duduk mereka dan kemudian bersiap untuk menjawab soal yang akan di bagikan nanti. Di saat ibu guru mereka datang dan membagikan soal dan lembar jawaban kepada para peserta didik, Yovada dan teman temannya tanpa ragu langsung memulai menjawab dari bagian esai dan lanjut ke bagian pilihan ganda. Mereka begitu cepat mengerjakannya dan mengumpul lembaran tersebut lebih awal dan kemudian bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing.
Saat mereka di parkiran motor, mereka berbicara bahwa soal yang di bagikan b\=tidak seburuk yang mereka pikirkan. Mereka saling mengaku bahwa jawaban yang mereka miliki sebagian besar berasal dari apa yang mereka diskusikan tadi dan sangat membantu. Mereka tertawa di parkiran dan kemudian menyalakan mesin motor untuk memanaskan mesinnya.
“Yovada, apa yang kamu lakukan dengan Mahfuz di taman literasi tadi? Aku melihat kalian seperti berbicara begitu serius.” Ucap nova kepadanya.
“ya, apa ia memintamu mengajarkannya bagaimana menjadi pintar sepertimu agar dirinya yang dahulu kembali lagi?” tanya Zico padanya dengan penasaran.
“hanya sedikit hal yang ingin aku tanyakan padanya. Bukan hal penting seharusnya namun sebaiknya kalian tidak perlu tahu akan hal ini.” Ucap Yovada pada ke tiga temannya.
“namun aku mendengar bahwa kamu sempat pingsan di perpustakaan dan di tolong seorang wanita. Apa itu benar? Jika iya, ini sebuah hal yang langka. Selama aku mengenalmu tidak ada satu wanita pun yang membuatmu tertarik. Namun kini ada seseorang yang membuatnya tertarik? Itu keren sekali.” Ucap Zikri pada Yovada dengan penuh kagum karena hal itu.
Yovada yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala lalu mengenakan helmnya. Ia menjawab bahwa itu hanya kebetulan dan tidak akan terulang lagi. Ia menarik gas motornya dan kemudian pergi dari parkiran motor itu. Di jalan, ia singgah di beberapa tempat seperti toko buku untuk membeli sebuah buku sejarah industri lalu pergi lagi ke toko buah dan kemudian pergi ke toko makanan agar ia memilik persediaan untuk sarapan dan makan malam nanti. Di jalan ketika ia pulang, ia teringat wanita yang menolongnya tadi, ia melamun sebentar tersadar karena ada sebuah teriakan seorang wanita yang sangat keras. Menyadari hal itu Yovada langsung menarik tuas remnya dan membuatnya terjatuh ke aspal. Wanita itu marah-marah kepada Yovada karena hampir saja menabraknya. Namun Yovada baru sadar bahwa ibu-ibu itu salah karena ia menyeberang di luar penyebrangan jalan dan rambu untuk menyeberang saja berwarna merah. Yang menandakan bukan waktunya menyeberang. Yovada yang melihat itu langsung menaiki motornya dan kemudian pergi meninggalkan ibu-ibu yang sedang marah-marah padanya. Namun ketika ia sedang pergi, seorang anak menatapnya dengan tatapan dingin seakan ia melihat sesuatu padanya. Yovada tidak memedulikannya dan langsung menarik gasnya dan pergi dari tempat itu.
Di dalam rumah, Yovada seperti biasa ia kembali dengan sebuah buku yang ia tadi malam. Ia kembali dari 2 halaman sebelumnya agar ia mengingat apa yang ia baca sebelumnya. namun di saat ia memulai membaca buku itu, perhatian ia langsung teralihkan dengan beberapa pesan yang ada di ponselnya. Ia melihat melirik sedikit dan membaca bahwa besok sekolahnya libur karena ada rapat di ruang guru. Yovada yang mendengarnya langsung tersenyum dikit dan melanjutkan bacaannya. Ia membaca buku yang menceritakan sejarah seseorang yang mencintai pasangannya hingga menjadi gila. Jujur saja, Yovada tidak tertarik dengan buku ini namun karena ia telah membelinya maka ia harus membacanya hingga selesai. Namun baru beberapa halaman ia sudah menyerah. Ia sadar bahwa ia bukan seseorang yang mudah di butakan cinta.
Ia menutup bukunya dan menaruh bukunya di rak buku. Namun di saat ia menaruh bukunya, ia sadar bahwa banyak buku yang berhamburan di kamarnya. Buku-bukunya tergeletak di lantai dan ia mulai mengambi bukunya satu persatu yang ada di lantai dan mulai menyusunnya kembali ke rak buku. Namun di saat ia menyusun buku itu, ia menemukan sebuah buku yang pernah di berikan di saat ia kelulusan SMP dulu. Namun di saat ia membuka bukunya, ada sebuah pesan tersirat dari temannya yang saat itu memberikan bukunya.
“yova... aku tahu kamu mungkin tidak akan membaca buku ini dalam waktu lama. Lagi pula aku tidak tahu buku apa yang kamu sukai dan pola pikir kita memang beda jauh. Namun aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Jujur saja aku menyukaimu sejak kita berbicara di kelas 7. Aku pikir kamu akan menyadarinya namun kamu malah bersikap begitu dingin padaku. Aku memberikan buku ini karna aku tidak tahu apa yang kamu suka namun aku tahu kamu membutuhkan cara untuk mencintai seseorang dalam hidupmu.”
Dibawah-Nya ada sebuah nama yang tertulis “Sinta Laura”
Ketika membaca nama itu, Yovada langsung teringat seseorang yang sangat dekat dengannya, Yovada memang tidak memiliki perasaan suka padanya namun Yovada sendiri sadar bahwa sikapnya dengan orang lain memang berbeda jika di banding dengan Yovada itu sendiri. Ketika di baca judul buku itu bertuliskan “surat cinta untukmu di masa depan”
Membaca itu, Yovada langsung menyipitkan matanya dan melempar buku itu ke bak sampah yang di penuhi dengan tumpukan kertas dan rautan pensil. Ia kembali membereskan buku-bukunya hingga semuanya bersih. Ia mengambil sebuah sapu dan menyapunya hingga bersih hingga tiada debu di kamarnya. ia mulai berbaring di ranjangnya dan kemudian menatap langit dengan tatapan pasrah dan juga kebingungan dengan dirinya sendiri. Ia merasa ada yang aneh jika ia menerima cinta itu sendiri, seakan ada yang membuatnya berbeda dari biasanya. Sikap dingin baginya adalah sebuah sikap biasanya pada setiap orang. Ia membenci seseorang yang terlalu berlebihan dalam sikapnya. Pada akhirnya ia menarik selimutnya dan berkata.
“apakah... cinta itu... baik untukku? Atau... hanya sebagai... penghalang dalam menuntut ilmu pengetahuan?”
Malam itu Yovada tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kepalnya berisik seakan ada perdebatan yang sangat sengit di dalam kepalanya untuk saat ini.