NovelToon NovelToon
Ada Cinta Di Langit Madinah

Ada Cinta Di Langit Madinah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Cinta Murni / Romansa / Cinta setelah menikah / Perjodohan
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: alana alisha

Alfarizqi, putra Kyai pemilik Pesantren Bustanul Huffazh, kembali ke Indonesia setelah menamatkan studi di Madinah. Ia membawa serta janji suci yang terlanjur ia berikan pada wanita asal Maroko yaitu Sarah, seorang perempuan yatim piatu korban pemerkosaan yang kini tengah mengandung. Meskipun tidak ada cinta di hatinya, Alfa merasa bertanggung jawab penuh untuk menikahi dan melindungi Sarah, sebagai wujud pengorbanan dan rasa kemanusiaannya. Namun, janji itu terbentur takdir ketika ayahnya menjodohkannya dengan Rayya, demi keberlangsungan pesantren. Rayya, seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Belanda, memiliki mimpi dan masa depan yang telah ia rencanakan bersama Adam, teman sekaligus cinta pertamanya semasa SMA. Mereka berjanji akan menikah setelah Rayya kembali ke Tanah Air. Hidup Rayya yang bebas dan penuh ambisi seketika hancur saat ayahnya memaksanya pulang untuk sebuah perjodohan. Ada lagi Rumanah, santri pintar berprestasi yang sejak dulu sudah diam-diam menaruh hati pada Alfarizqy. Di bawah langit yang sama, dua insan yang tidak saling mengenal, dengan janji dan cinta yang berbeda, kini terpaksa berada di persimpangan takdir. Alfa terhimpit antara janji yang harus ia tepati dan kewajiban keluarga yang tak bisa ia tolak. Sementara Rayya, harus memilih antara cintanya pada Adam atau menuruti permintaan orang tua. "Ada Cinta di Langit Madinah" adalah kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan pencarian makna cinta sejati. Akankah Alfa dan Rayya menemukan cinta di antara ikatan yang tak mereka inginkan, atau akankah mereka tetap berpegang teguh pada janji yang telah terucap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Lengan Yang Melingkar di Punggung~

Rayya berjalan pulang ke kamar dengan langkah goyah. Ia meminta izin kembali lebih cepat dari ruang makan. Begitu pintu menutup di belakangnya, seluruh kekuatan yang ia pertahankan runtuh. Ia jatuh berlutut di lantai, menutup wajah dengan kedua tangan.

Tangisnya pecah—bukan tangis pelan, tetapi tangis yang keluar dari tempat paling dalam di dada. Bahunya bergetar hebat.

Setiap kata Adam tadi berputar-putar di kepalanya. Setiap luka lama yang kembali terbuka. Setiap penyesalan yang tidak bisa ia benarkan.

“Aku sakit… tapi aku… lebih menyakitinya… aku benar-benar menyakitinya…” lirihnya, suara patah di antara isak yang sulit dikendalikan.

Ia mengepal ujung sajadah, seolah mencari pegangan agar tidak tenggelam sepenuhnya.

Pernikahannya… perjodohan itu… semua di luar kuasanya. Tapi luka Adam tetap terasa seperti dosa yang entah bagaimana bisa ia cegah.

Namun Rayya tidak tahu—di ujung lorong, tepat setelah ia menutup pintu kamar, seseorang berdiri mematung.

Alfarizqi__ Ia tadi diam-diam mendengar percakapan Rayya dan Adam sejak awal. Setiap kalimat. Setiap hembusan napas yang bergetar. Tatapannya kosong, tidak menunjukkan marah, kecewa, atau cemburu. Hanya datar.

Seakan-akan ia sedang mencoba memahami sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin benar atau tidak.

Perasaannya terhadap Rayya? Tidak ada yang tahu. Tidak sekarang.

Ia membuka pintu kamar perlahan. Tangisan Rayya langsung berhenti mendadak—bukan berhenti benar-benar, tapi tersendat ketakutan.

Rayya tersentak dan bangkit berdiri, menyeka air mata secepat mungkin. “Maaf… aku—”

“Cukup.” Suara Alfarizqi rendah… terlalu rendah. Tapi dingin.

“Kau tidak boleh bertemu Adam lagi.”

Rayya membeku. “Aku—itu hanya—”

“Kau dengar?” Nada suaranya naik, untuk pertama kalinya malam itu ia benar-benar marah.

“Aku bilang tidak boleh. Bertemu laki-laki yang bukan mahram… itu tidak pantas. Apalagi dalam situasi seperti tadi.”

Rayya menunduk, tangannya gemetar. “Kami hanya menyelesaikan masa lalu…”

“Masa lalu itu tidak lagi penting,” potongnya tajam. “Kita sudah menikah. Meski pernikahan ini… bukan tentang cinta.”

Kalimat itu mengenai Rayya seperti cambuk kedua.

Alfarizqi memalingkan wajah sejenak, rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang ia tahan, tapi tidak ia keluarkan. Emosi macam apa… Rayya sendiri tidak bisa menebaknya.

Ia melangkah keluar tanpa menunggu jawaban. Menemui kedua orang tua adalah tujuannya.

Di ruang tengah, suasananya jauh berbeda dari biasanya.

Hanya ada Alfarizqi, Kiai Ishak, Ummi Maryam, dan Ning Kamila.

Tapi hawa di ruangan itu jauh lebih panas daripada udara menjelang siang di luar.

Wajah Alfarizqi masih memerah, rahangnya mengeras.

Ia berusaha menahan emosi—dan itu terlihat jelas dari cara ia menarik napas kasar namun teratur.

“Ummi… Abah…” suaranya terdengar rendah tapi berat, mengandung tekad yang teguh.

“Saya akan mengumumkan pernikahan kami pada khalayak ramai. Malam ini juga.

Ummi Maryam terlonjak kecil, matanya melebar tak percaya.

“Gus… mengapa mendadak begitu? Bukankah kalian bersepakat untuk merahasiakan dulu demi kemaslahatan?”

“Tidak ada maslahat dari rahasia ini, Ummi.”

Tatapan Alfarizqi kokoh, nyaris tak bisa digoyahkan. Ummi Maryam memperhatikan sorot mata itu, beliau menelusuri wajah putranya dengan lebih seksama. Ada banyak yang beliau lihat di sana—amukan, luka, dan tekad seorang lelaki yang sudah memutuskan sesuatu.

“Pernikahan harus disyiarkan. Tidak boleh ada fitnah. Saya juga akan mengadakan walimah dalam waktu dekat.”

Kiai Ishak hanya mengusap janggut putihnya, gerakannya tenang.

Di sisi lain, Ning Kamila meledak seperti api menyambar minyak.

“Gus! Kau sudah hilang akal?!” Semburnya.

“Aku tidak sudi menerima dia sebagai iparku! Sarah jauh lebih pantas menjadi istri kiai daripada dia!”

“Ning Kamila!” tegur Ummi Maryam, suaranya naik satu oktaf.

“Istighfar, nduk! Jangan bicara seperti itu!”

Tapi Ning Kamila tidak berhenti.

Kemarahan membuat wajahnya memerah, matanya mengerjap dengan air mata yang tertahan.

“Ummi, Abah… Rayya itu punya kekasih sebelum menikah dengan Gus Alfa!! Dia tidak pantas—”

“Cukup.” Kata itu keluar pelan, tapi dinginnya menusuk seperti bilah tipis. Semua langsung diam. Wajah Alfarizqi kehilangan kelembutan yang biasa menyelimutinya. Yang tersisa hanyalah garis tegas seorang pemimpin muda—dan semburat emosi yang disembunyikan mati-matian.

Ummi Maryam mencoba meredakan suasana.

“Ning Kamila… itu semua tidak ada buktinya. Dan Rayya adalah istri Gusmu. Hormati dia.”

“Tidak, Ummi!” Kamila menggeleng keras, suaranya bergetar.

“Ning tidak bisa menerima!”

Kiai Ishak berdehem panjang. Meski lirih, suaranya menggetarkan udara seperti palu mengetuk meja hakim.

“Hm… biarkan saja,” ujarnya tenang.

“Alfarizqi sudah dewasa. Dia berhak menentukan jalan hidupnya. Kalau pun suatu hari dia mau menikahi Sarah… biarkan. Islam tidak melarang poligami.” Alfarizqi sempat menoleh, terkejut. Namun ia tidak membantah.

Kedua tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya. Kiai Ishak melanjutkan dengan nada berat,

“Dulu pun Abah begitu. Sudah menikah dengan Ummimu, tapi ketika dakwah membutuhkan, Abah menikahi Nyai Subang Lara. Tidak ada yang sulit. Semua ada aturannya.” Ruangan mendadak sunyi—sunyi yang berat dan menekan.

Alfarizqi akhirnya berdiri.

Suaranya ketika berbicara lebih terkendali, namun tetap dingin seperti logam yang baru ditempa.

“Abah, Ummi… mohon restu. Saya akan memanggil seluruh santri dan ustadz. Pengumuman dilakukan malam ini.” Ummi Maryam hendak menahan, namun ketika menatap mata putranya, ia tahu:

ada badai di dalam diri Alfarizqi—badai yang ia tutupi dengan keputusan cepat.

Ia bukan hanya marah.

Ia terluka.

Dan ia sedang melindungi sesuatu… atau seseorang… dengan caranya sendiri yang kasar namun putus asa. Setidaknya itulah yang ibunya pikirkan.

“Baik… kalau itu keputusanmu, nak,” ujar Ummi Maryam lirih.

Alfarizqi menunduk hormat, lalu melangkah keluar dari ruang tengah.

...****************...

Angin malam menyambutnya—dingin, namun tak cukup untuk meredakan bara di dadanya.

Ia berjalan cepat menuju lapangan pesantren.

Namun tepat di tengah lorong, langkahnya terhenti.

Dadanya mengembang dan mengempis, berat.

Ucapan Ning Kamila barusan menusuk lebih tajam daripada pisau.

“Rayya punya kekasih sebelum menikah denganmu…” Dan setelah mendengar percakapan Rayya dengan Adam tadi…

Ia tahu itu bukan sekadar gosip.

“Ya Allah…” bisiknya, suaranya pecah halus.

“…kuatkan aku. Jangan biarkan aku berbuat zalim pada siapa pun.”

Ia menarik napas panjang. Menegakkan bahu.

Menyusun ulang wajahnya yang tadi retak—menjadi dingin, tenang, dan tegas seperti semula. Malam ini, ia akan berdiri di tengah lapangan pesantren.

Di hadapan ratusan pasang mata.

Dan ia akan menyatakan kepada dunia—

dengan suara paling lantang yang pernah ia keluarkan—

bahwa Rayya adalah istrinya yang sah.

Pengumuman itu benar-benar mengguncang seluruh pesantren. Ketika Alfarizqi mengakhiri kalimatnya—

bahwa Rayya adalah istrinya yang sah—

suasana lapangan seakan membeku. Para ustadz saling pandang. Santri-santri putra berbisik pelan. Namun para santriwati… merekalah yang reaksinya paling keras.

Sebagian dari mereka menutup mulutnya.

Sebagian lain langsung meletakkan tangan di dada, seperti tersengat listrik. Bahkan beberapa hampir pingsan karena shock.

“Astaghfirullah… Gus Alfa… menikah?” bisik salah satu.

“Aku kira cuma rumor…”

“Ya Allah, aku belum siap…!”

Ada yang menangis dalam diam. Ada yang pucat seperti kehilangan masa depan. Ada yang terlihat marah—sangat marah—seolah seseorang merenggut mimpi terbesarnya.

“Kenapa harus dia?!”

“Kami santrinya… tidak diberi tahu sama sekali”

“Dan istrinya… Rayya? Serius?” Sebagian lain merapatkan jilbabnya, menggeleng kecewa.

“Padahal Gus Alfa itu idola pesantren…”

“Kakak tingkat paling tawadhu, guru paling berwibawa…”

“Kenapa menikah diam-diam dengan orang luar?” Suara-suara protes itu bercampur dengan suara tangis kecil yang terselip di antara kerumunan. Namun di sisi lain, beberapa santriwati tampak menunduk dalam-dalam.

Pipi mereka memerah oleh rasa malu.

“Kayaknya… kita selama ini salah menilai Ning Rayya…”

“Benar..”

“Padahal… beliau itu ibu nyai…”

Rasa bersalah menyergap sebagian santriwati sampai dada terasa sesak.

“Astaghfirullah… kita ikut membicarakan beliau…”

“Kita tidak tahu apa-apa, tapi ikut menghakimi…”

“Kalau beliau istri Gus Alfa… berarti beliau ibu nyai kita…” Beberapa santriwati bahkan menitikkan air mata penyesalan—diam-diam, agar tak terlihat siapa pun.

Di antara kerumunan santriwati, berdiri Rumanah. Wajahnya keras, tapi matanya gelap.

Ia tidak menangis. Ia tidak terkejut. Ia hanya… terluka dan kecewa pada Rayya.

Rayya, gadis yang ia anggap sahabat dan orang yang ia percaya untuk ia curahkan isi hatinya ternyata menusuknya. Ia merasa seperti keledai bodoh.

...****************...

Setelah membuat seisi pesantren heboh, Alfarizqi turun dari mimbar dengan wajah yang ia angkat sempurna. Tak lupa ia mencari wajah Adam dan menatapnya dalam. Seolah-olah ia telah melakukan tugasnya untuk menyatakan pada dunia kepemilikannya atas Rayya.

Di sebuah koridor yang sepi, suara langkah kecil menyusulnya.

“Alfa…” Suara itu lembut. Alfarizqi berhenti.

Memejam sejenak sebelum berbalik. Di sana berdiri Sarah. Matanya bulat, lembut seperti biasa, tetapi kini dipenuhi kebingungan dan… sesuatu yang sulit dijelaskan. Kerudungnya sedikit tergeser oleh angin malam, dan tangannya menggenggam ujung bajunya dengan gugup.

“Mengapa… mengapa kau melakukan itu?” tanyanya lirih.

“Pengumuman barusan… begitu tiba-tiba. Semua orang kaget.” Sarah menunduk, suaranya semakin pelan.

“Sarah, kau disini? Seharusnya kau di kamar istirahat, kau belum pulih sepenuhnya!”

“Alfa… Bukankah kau belum… kau belum mencintai nya?” Todong Sarah bertubi-tubi mengabaikan pertanyaan Alfarizqi. Pemuda itu menghela napas berat. Ia ingin pergi. Ingin berhenti membahas hal ini. Namun pertanyaan Sarah terlalu langsung untuk dihindari.

“Aku tidak perlu mencintainya untuk menghormatinya,” jawabnya datar.

“Tapi…” Sarah mengangkat wajah, mata beningnya berkaca-kaca.

“Bukankah ini terlalu berat? Untuk kamu… dan untuk Rayya?”

Untuk sesaat, Alfarizqi terdiam. Lalu tiba-tiba—

Sarah melangkah maju. Dan sebelum Alfarizqi sempat mundur. Ia merasakan lengan seseorang melingkar di punggungnya. Memeluknya.

Sekejap dunia seperti terhenti. Sarah menegang, seolah baru menyadari apa yang barusan ia lakukan. Ia langsung melepaskan pelukannya, menutup mulut dengan kedua tangan.

“A… Aku… maaf, … aku tidak sengaja…” suaranya gemetar.

“A-aku tidak tahu kenapa… aku hanya… aku merasa sangat khawatir pada mu dan Rayya…”

Matanya membesar—seperti seseorang yang melakukan dosa yang bahkan ia sendiri tidak pahami.

“Aku tidak bermaksud… sungguh tidak bermaksud memeluk…”

Alfarizqi menatapnya tajam. Tatapan yang membuat udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya.

“Jangan lakukan itu lagi, Sarah.”

Suaranya datar… terlalu datar.

Dingin… terlalu dingin.

Sarah terbelalak, pipinya memanas oleh rasa malu.

“A-apapun kondisinya,” lanjut Alfarizqi, suaranya kini merendah namun keras seperti palu.

“Jangan pernah lakukan itu lagi.”

Sarah menunduk dalam-dalam.

“Iya, maafkan aku!” Alfarizqi tak berkata apa-apa lagi.

Ia hanya memandang Sarah dengan sorot yang sulit diterjemahkan. Ia berbalik, pergi tanpa menoleh barang sekalipun. Sarah berdiri mematung. Napasnya tercekat. Sikap Alfarizqi begitu dingin. Tidak seperti Alfarizqi yang ia kenal. Alfarizqi yang peduli padanya, ia seperti tidak mengenal pemuda itu. Ada perasaan kecewa yang menyusup hatinya melihat punggung Alfarizqi yang menjauh.

Tanpa di sadari, Ning Kamila muncul dari balik tiang besar, wajahnya dipenuhi senyum licik yang ia sembunyikan di balik kerudungnya.

...****************...

1
Prince Star
Naaah kan, sesuai dugaan kalau Sarah ni diam diam diam diam 🙄 ternyata ada rencana cikli 🧐 kayaknya next bakal ada huru hara deh

Si alfa juga salham, kayaknya doi mkir si Rayya masih suka ma Adam
✨: tes tes.. ini ga up lagi ya?
total 1 replies
Muti Imelda
salah paham deh si alfa 🤭
Rey
Ternyata sarah dan ibunya jahat ya 🙃
Kirana R: Tidak disangka ternyata jahat , padahal Sarah keliatan lemah lembut
total 1 replies
Prince Star
Alhamdulillah up, jejak dulu 🙌🏻
Blue Whale Kingdom
jejak
Tari 👑
suka banget dengan cara kak alana menyampaikan isi ceeita, bahasanya mengalir dan mudah dmengerti walaupun rangkaian katanya juga indah
Anonim
lanjut kak
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Apakah ibunya Sarah menyadari kalau ada yang tidak biasa antara rayya dan Alfa meskipun Rayya mengakui bahwa dia adik Alfa???
Denisa kiky: iya bener mba 👍
total 3 replies
Ali Ruby
Kirain baik, ternyata..
Qamariah 🌹
Lanjut kak
Kirana R
Semakin hari Alfarizqi semakin memuliakan Rayya , alhamdulillah
Prince Star
Dari gelagatnya maknya Sarah ni tipe yg ribet n ntar mau menang sndiri 🧐 Rayya harus waspada sih 🙄 awas aja dy suruh si alfa nikahin anaknya , ngapain sih ke Indo , beban bgt !
✨: wkwkwk semoga berhasil 😝😝 udh lama banget ga up
total 11 replies
Denisa kiky
semakin seru , saya terus menanti ceritanya
Rey
Next
Qamariah 🌹
Raya udah sukak sama alpa ya?
Kupu-kupu putih
Konflik akan segera datang sepertinya
Kirana R
Ya Allah Rayya, jangan sampai cerai sama Alfarizqi 🙁
Prince Star
Selalu suka interaksi canggung antara Rayya dan Alfarizqi… tapi Rayya? Kenapa malah ngaku adiknya Alfarizqi? Bukannya malah nambah masalah 💔
Kayaknya Sarah n Emak mmg tulus ya… cuma yaaitu, ngeselin beuudddd 💔
Rayya jd mau ceraikan suaminya, klo bgtu…. Yaaa Adam udah siap untuk nampung wkwkwkwk💔🤣
✨: Ah ga kuku kalau beneran poligambreng.. jgn sampe Rayya ngenes kayak Iqlima.. ini si Sarah masih abu2, apa dy emang baik atau malah jd kayak Lamed? 🥵
total 22 replies
Prince Star
Kak Alanaaa, up donkkk
Rey
Serasa semakin sulit memilih 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!