Benar kata orang, tidak ada hal yang lebih menyakitkan kecuali tumbuh tanpa sosok ibu. Risa Ayunina atau kerap disapa Risa tumbuh tanpa sosok ibu membuatnya menjadi pribadi yang keras.
Awalnya hidup Risa baik baik saja meskipun tidak ada sosok ibu di sampingnya. Karena Wijaya—bapak Risa mampu memberikan kasih sayang penuh terhadapnya. Namun, di usianya yang menginjak 5 tahun sikap bapak berubah drastis. Bapak yang awalnya selalu berbicara lembut kini berubah menjadi sosok yang keras, berbicara kasar pada Risa dan bahkan melakukan kekerasan fisik.
“Bapak benci sama kamu, Risa.”
Risa yang belum terlalu mengerti kenapa bapaknya tiba tiba berubah, hanya bisa berdiam diri dan bersabar. Berharap, bapak akan kembali seperti dulu.
“Risa sayang bapak.”
Apakah Bapak akan berubah? Apa yang menyebabkan bapak menjadi seperti itu pada Risa? Ikuti terus kisah Risa dan jangan lupa untuk memberikan feedback positif jika kalian membaca cerita ini. Thank you, all💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hyeon', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 19
“Risa masih marah sama gue nggak ya.” Gumam Jeff yang saat ini berdiri di depan rumah Risa. Jeff yakin Risa belum berangkat karena sepeda Risa masih terparkir di rumahnya. Ingin masuk, namun Jeff ragu.
Ia bimbang akan pikirannya sendiri. Hingga Jeff menoleh ke belakang kala seseorang menepuk pundaknya. Matanya menyipit, mencoba mengingat siapa orang yang tak asing itu.
“Om yang kemarin kan?” Tanya Jeff yang mendapat anggukan sebagai jawaban.
“Iya, ada apa kamu ke sini?”
“Anu, itu…” Jeff menggantungkan ucapannya karena bingung harus menjawab seperti apa.
“Risa tidak masuk hari ini, sampaikan ke teman sekelasnya.” Sontak mata Jeff membulat kala mendengar penjelasan dari pria di depannya.
“Kenapa Risa nggak masuk, Om? Risa sakit?”
“Iya, saya masuk dulu.” Ingin bertanya lagi namun pria itu sudah lebih dulu pergi meninggalkannya. Dengan terpaksa, Jeff melangkah pergi dari sana.
“Lo sakit apa, Sa? Kenapa sekarang lo sering sakit. Gue khawatir sama lo, Risa.” Batin Jeff seraya melihat ke arah balkon kamar Risa. Berharap orang yang ia cari muncul dari sana. Namun, nihil. Dengan berat Jeff terus melangkahkan kakinya hingga tubuhnya tak lagi nampak.
Di dalam, Risa saat ini masih terbaring dengan mata yang terpejam. Di sampingnya, ada bapak yang setia menunggu Risa membuka matanya. Terdengar pintu yang dibuka membuat kepala bapak menoleh sekilas. Terlihat Alex yang berdiri di ambang pintu.
“Lebih baik kau makan dulu, biar Risa aku yang jaga.” Saran Alex yang dibalas gelengan oleh bapak. Alex hanya berdecak pelan melihat sahabatnya yang tetap kekeh pada pendiriannya.
“Wijaya, ayolah. Kau dari kemarin belum makan. Jika kau jatuh sakit, siapa yang akan mengurus putrimu? Bukannya kau terlihat biasa saja ketika melihat putrimu sakit?”
Alex sontak tersenyum tipis kala bapak menatapnya tajam. Bapak ini terlalu plin plan. Alex pun inisiatif turun ke bawah guna mengambilkan makan bapak. Setelah selesai Alex segera naik kembali.
“Makan.” Titah Alex yang tetap tidak digubris oleh bapak. Alex yang geram terus memaksa bapak untuk makan. Hingga akhirnya bapak mengalah, ia pun mulai mengambil makanan yang dibawa Alex.
“Terima kasih.” Alex hanya berdehem sebagai jawaban. Ia pun mendudukkan tubuhnya pada sofa yang ada di kamar Risa. Alex memandangi seluruh inci kamar Risa. Terlihat rapi, tak ada pakaian ataupun barang barang yang berceceran.
“Sungguh anak yang bersih.” Gumam Alex dengan lirih.
Tiba tiba tangan Risa mulai bergerak pelan. Aksi itu membuat bapak menghentikan makannya. Ia segera menaruh piring itu di sampingnya.
“Ibu…” Lirih Risa yang membuat bapak dan Alex saling pandang. Keadaan menjadi hening sejenak.
“Sakit, Ibu..Sakit. Bapak jahat.” Ucap Risa sekali lagi dengan mata yang masih terpejam. Buliran bening jatuh membasahi pipi bapak. Hatinya begitu sakit mendengar suara lirih putrinya.
Perlahan, mata Risa mulai terbuka. Ia mengerjap beberapa kali, bibirnya terasa kelu. Badannya seakan kaku, terakhir kali ia masih berada di kamar mandi dengan teman bapaknya yang memukulinya. Dan, samar samar ia melihat bapak yang datang menolongnya.
Risa melirik ke arah samping, matanya membulat kala melihat bapak di sampingnya. Yang membuat Risa lebih terkejut, pipi bapak terlihat basah karena air mata.
“Bapak…” Lirih Risa dengan suara yang terbata-bata. Netra mereka sempat bertemu. Cukup lama hingga akhirnya bapak memilih mengakhiri tatapan itu. Melihat mata putrinya, mengingatkannya akan mendiang sang istri.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, bapak beranjak pergi dari sana. Tangan Risa sontak meraih pergelangan tangan bapak. Namun, dengan kasar bapak menepis tangan Risa. Ia pun pergi meninggalkan kamar Risa.
Risa memandang punggung bapak yang kian menjauh. Kenapa rasanya sakit, apakah bapak masih membencinya? Risa ingin sekali bapak mengurusnya kala sakit, meskipun itu hanya sekali.
“Jangan terlalu memikirkan bapakmu. Fokus saja pada kesembuhan mu. Sejak kau pingsan, bapakmu lah yang menjagamu, Risa. Mungkin sekarang dia butuh waktu untuk sendiri. Saya tinggal dulu.”
Setelah Alex pergi, keadaan menjadi sunyi. Air mata terus keluar dari pelupuk mata Risa. Jadi untuk apa bapak menjaganya? Setelah dibuat terbang setinggi langit, tiba tiba dijatuhkan begitu saja. Lalu apa gunanya bapak rela menjaganya kalau akhirnya ditinggal begitu saja.
Sejujurnya, Risa ingin sekali merasakan perhatian kecil dari bapak kembali. Sekali saja, apakah terlalu sulit untuknya?
“Kalau endingnya gue harus ngurusin diri gue sendiri. Kenapa bapak nggak biarin gue mati ditangan temennya.”
Tak mau berlama-lama meratapi nasibnya, Risa lantas bangun dari tidurnya. Ia memilih untuk membersihkan badannya. Toh, dia sudah biasa mengurus dirinya sendiri.
“Oke, kita balik ke dulu lagi. Lo udah biasa bukan.” Gumam Risa dengan sendirinya seraya menatap wajahnya di pantulan cermin.
*****
Saat ini Jeff berada di dalam kelasnya yang ricuh. Meskipun kelasnya ricuh karena kelakuan para teman temannya, itu tak membuat Jeff berhenti melamun. Pikirannya terus tertuju pada teman favoritnya–Risa.
“Jeff.” Panggil salah satu teman Jeff yang dikenal dengan nama Reno. Sadar akan panggilannya tak digubris, Reno pun lantas menepuk bahu Jeff.
“Apaan?”
“Gue panggil kaga jawab jawab, ngelamun aja lo.”
Reno tersenyum kecut kala Jeff yang tak menyahut. Entah apa yang membuat temannya ini murung. Tiba tiba, ide jahil muncul dari otak sengklek Reno. Namun, belum sempat Reno melancarkan aksinya, Jeff sudah lebih dulu pergi meninggalkan kelas.
“Padahal baru aja mau dijahilin.” Gumam Reno yang melihat Jeff keluar yang entah ingin ke mana.
Jeff memilih rooftop sebagai tempat tujuannya. Di sana ia menikmati angin yang berhembus dengan pelan. Andai di sini ada Risa, pasti akan lebih seru.
“Risa sekarang lagi apa ya?” Jeff menatap lurus ke depan. Kenapa hubungannya dengan Risa menjadi seperti ini. Baru saja ia bisa berteman dengannya. Berteman dan dekat dengan Risa se–susah itu. Tidak mungkin harus berakhir secepat ini.
Di sisi lain, Risa tengah termenung di balkon kamarnya. Sama halnya dengan Jeff, ia terus memandang langit yang biru itu.
“Hidup gue udah hancur, apa pantas Jeff punya temen seburuk gue? Hidup gue terlalu berantakan, akan lebih baik gue menjauh dari Jeff.”
Buliran bening jatuh tanpa izin. Kali ini, Risa membiarkan air matanya terus keluar. Hidupnya dengan hidup Jeff sungguh berbeda. Jeff yang memiliki keluarga cemara. Sedangkan dirinya? Bahkan ia ragu, apakah ini bisa disebut keluarga?
“Ibu, harusnya aku yang pergi, bukan ibu. Hidup aku berantakan tanpa ibu. ”
Tumbuh tanpa adanya ibu, seberat itu. Hidup seakan hilang arah, tidak tahu ingin ke mana ataupun ke sini. Semuanya berjalan tanpa arah dan tujuan.
“Ibu, ini arahnya ke mana ya..”
*****
HAPPY READING👀✨