Beverly seorang gadis terpelajar yang terpaksa harus menerima sebuah perjodohan yang di adakan oleh orang tua angkatnya .Tapi laki laki yang menikahinya itu malah mempersunting wanita lain setelah beberapa bulan pernikahanannya. Entah nasib apa yang dia alami saat itu?? Niat baiknya membalas budi kedua orang tuanya justru malah menghancurkan masa depannya sendiri.
Dia mengajukan kesepakatan bercerai saat satu tahun pernikahannya.
Bagaimana kelanjutan nasib Beverly selanjutnya???
Akankah dia menemukan seseorang yang bisa menerima status jandanya saat itu??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Warsiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa itu metode penyiksaan brunya???
Beverly segera keluar dari mobil itu, namun sebelum dia melangkahkan kakinya memasuki gedung perusahaan itu dia sempat mengatakan sesuatu kepada Kenzie.
"terimakasih banyak pak atas kebaikan bapak dan kemurahan hati bapak hari ini"kata Beverly.
"hmm"jawab Kenzie singkat.
"astaga.. irit sekali dia"gumam Beverly.
"jangan lupa tersenyum pak"kata Beverly yang malah mendapatkan tatapan menghardik dari Kenzie.
"apa aku salah bicara"gumam Beverly saat melihat sorot mata Kenzie yang sedikit menakutkan baginya.
"ahh...maaf!! saya permisi"pamit Beverly dengan segera memilih pergi dan meninggalkan Kenzie.
Beverly segera memasuki kantor itu, sementar Kenzie segera turun saat sudah tidak bisa melihat Beverly lagi
Dia mengambil kaca mata serta masker dan memakainya.
Kenzie berjalan menujj lift yang sama dengan karyawan dan naik menuju ruangannya.
Tidak ada orang yang mengenali Kenzie di sana, karena memang tertutupi oleh masker yang dia gunakan.
**
Beverly yang baru sampai di divisinya, di smabut heboh oleh teman temannya.
"Beverly"kata Fatir.
"syukurlah...kamu sudah datang"lanjut Chelsea.
"buruan sini...mana proposal yang kamu buat, kita tidak memiliki banyak waktu lagi"kata Morgan.
"maksudnya??"tanya Beverly heran karena memang belum tahu akar permasalahannya.
"apa kamu belum tahu, bahwa direktur baru itu tiba hari ini, dan meminta mengadakan rapat pagi ini"kata Dievan.
"apa??"kata Beverly terkejut.
"sudah buruan kamu temui pak Sbastian"kata Morgan.
"aduhh..gkmana ini kak.. proposal ini masih banyak kesalahan, dan aku belum sempat memperbaikinya"kata Beverly dengan raut wajah paniknya.
"sudah tidak apa apa, ini bukan sepenuhnya kesalahan kamu, kami akan ikut menanggungnya jika kamu di marahi nanti"kata Morgan.
"sekarang lebih baik kamu temui pak Sbastian dulu"lanjut Morgan.
"ahh ...baik kak"kata Beverly kemudian berjalan menuju ruang Sbastian.
"tokk... tokkk...tokk"Beverly mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.
"masuk"kata Sbastian.
Beverly segera melangkahkan kakinya masuk setelah mendapatkan perintah.
"maaf pak"kata pertama yang terucap dari mulut Beverly.
"bagaimana propsalnya?"tanya Sbastian.
"ini sudah selesai pak"kata Beverly sambil menunjukan flashdisk di tangannya.
"tapi masih banyak typo yang belum saya perbaiki"lanjut Beverly.
"sudah biarkan saja itu dulu, kamu cepat cetak sekarang juga, akan ada brefing dari pak direktur pagi ini"kata Sbastian.
"baik pak"jawab Beverly.
"bawa ke sini dulu setelah kamu selesai mencetaknya"kata Sbastian lagi.
"baik pak"jawab Beverly Sebelum pamit undur diri.
Beverly segera pergi dan melaksanakan perintah Sbastian.
**
Saat ini Kenzie telah berada di ruangannya.
Dia memanggil Sbastian untuk datang ke ruangannya.
Sementara Sbastian nampak begitu gugup saat akan memasuki ruang milik Kenzie.
Sbastian datang dengan membawa proposal yang sudah Beverly buat cetak tadi.
Sbastian segera menyerahkan proposal itu kepada Kenzie dengan raut wajah kecemasannya.
Dia tahu bahwa proposal itu belum sempat di edit dan masih banyak typo yang bertebaran.
Kenzie segera memeriksa proposal yang kini sudah berada di tangannya.
Di bacanya proposal itu dari halaman awal sampai halaman akhiirnya.
Setelah selesai Kenzie segera melirik ke arah Sbastian dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"sudah ku duga... pasti dia akan menyadarinya.."gumam sbastian dengan exspresi ketakutannya.
Melihat Sbastian yang nampak begitu takut Kenzie malah menyunggingkan sedikit senyuman di bibirnya.
"hah...apa aku salah lihat...tadi dia tersenyum."gumam sbastian yang nampak terkejut melihat Kenzie yang terkenal dingin dan begitu angkuh iti tersenyum.
"apa itu metode penyiksaa barunya?"gumamnya lagi yang malah semakin takut dengan exspresi Kenzie yang menurutnya tidak biasanya.
"brakkk"
Tiba tiba Kenzie melemparkan proposal yang tadi berada di tangannya ke atas meja.
"siapa yang mengerjakan proposal ini?"tanya Kenzie.
"iii.... itu..tim perencana yang membuatnya"jawab Sbastian
"kalau itu aku sudah tahu... tapi siapa penyusunnya?"tanya Kenzie.
"apa dia berencana menyiksa dari bawah dulu...orang jahat ini...aku tidak bisa membiarkannya memarahi Beverly...walau bagaimanapun dia masih baru, dia bisa menyusun proposal ini dengan sangat baik meskipun masih banyak typo itu sudah termasuk pencapaian yang luar biasa.... lagian ini bukan sepenuhnya kesalahan beverly...."gumam sbastian dengan memberikan tatapan penuh kekesalan pada Kenzie.
"tatapan macam apa itu?"kata kenzie saat melihat sorot mata milik Sbastian yang seakan ingin menerkam mangsanya.
"hei...apa kamu tidak tahu diri... tadinya kan rencananya kamu akan balik besok dan rencananya proposal ini akan di serahkan sehari setelah kamu bekerja tapi kamu malah meminta menyerahkannya sekarang... tadinya aku berniat memeriksa dan merevisinya terlebih dahulu...tapi kamu malah tiba tiba memintaku menyiapakannya saat ini juga...di mana kamu menggunakan otakmu"kata Sbastian dengan segala unek uneknya. Dia begitu kesal terhadap Kenzie karena pertemuan pertamanya swtelah lima tahun justru merupakan pertemuan menegangkan baginya.
"hei...pak kepala departemen Sbastian... perhatikan kata katamu...ini di kantor bukan di rumahmu"kata Kenzie.
"ahh..maafkan saya pak direktur"kata Sbastian memilih meminta maaf pada kenzie dan kembali menundukan kepalanya saat dia menyadari posisinya saat ini.
"ini memang di kantor tapi kan kita sudah berteman hampir 28 tahun...dan kita baru bertemu setelah lima tahun kamu pindah tugas ke luar negeri"kata Sbastian lagi namun dengan suara pelan.
"jangan membawa urusan pribadi ke dalam kantor"kata Kenzie.
"dasar raja iblis.."gumam sbastian memaki kenzie.
"bisa bisanya kamu bicara itu padaku...padahal aku sudah mengabdikan diriku di perusahaanmu dan mengabaikan semua mimpi mimpiku untuk menjadi seorang pelukis terkenal"kata Sbastian.
"cih...mau sanpai kapan kamu membahas mimpi yang tak jelas itu..."ejek kenzie.
"sampai mati... memangnya kenapa?"teriak Sbastian.
"cihh... hasil lukisan kayak anak sd gitu juga masih sepercaya diri itu"lanjut kenzie masih mencemooh Sbastian.
"kamu....."tunjuk Sbastian dengan mata melototnya.
"dasar iblis.....kejam... walaupun kamu menilai lukisanku seperti itu tapi masih banyak yang mengapresiasikan karyaku itu tau...cuma kamu aja yang sedikit buta menilai karya orang"umpat Sbastian secara langsung di depan Kenzie.
"memangnya aku peduli"jawab Kenzie.
"dasar iblis tak berperasaan"kata Sbastian masih dengan kekesalan yang menggebu gebu, Sbastian sampai melupakan status Kenzie yang menjabat sebagai atasannya saat ini.
"kamu bisa diam nggak"bentak kenzie.
"ahh iya"kata Sbastian yang mulai kembali takut pada Kenzie saat mata Kenzie mengarah ke arahnya dengan bola mata yang membulat sempurna.
"kali ini aku mengampunimu, jika lain kali kamu masih bicara seperti itu di hadapanku, tunggi saja, akan ku teleportasi kamu ke Afrika"kata Kenzie.
"iblis ini benar benar ingin membuatku mati kesal karenanya"gumam Sbastian.
"panggil orang yang menyusun proposal ini sekarang"kata kenzie sambil menunjukan nama Beverly sebagai penyusun di halaman terakhir proposal itu
Sementara Sbastian nampak gugup dan takut.
Rencananya ingin menutupi siapa penyusun proposal itu gagal karena Kenzie sudah membaca nama penyusunnya.
"pak kepala Sbastian"panggil kenzie saat Kenzie tidak melihat pergerakan dari Sbastian.
"ahh.. baiklah saya akan memanggilnya"kata Sbastian kemudian pamit undur diri dan segera menemui Beverly
semangat
ku memilihmu karena adikku