Cinta memang gila, bahkan aku berani menikahi seorang wanita yang dianggap sebagai malaikat maut bagi setiap lelaki yang menikahinya, aku tak peduli karena aku percaya jika maut ada di tangan Tuhan. Menurut kalian apa aku akan mati setelah menikahi Marni sama seperti suami Marni sebelumnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Tirakat
"Ada yang tidak beres dengannya?" ucap Damar
"Sepertinya begitu, soalnya tatapan matanya kaya orang mesum gitu?" sahut Ruri
"Hust, jangan ngaco!"
"Lihat aja tatapannya kosong kaya melihat sesuatu, lingkar matanya menghitam kaya panda, ih serem banget. Sebentar lagi pasti bola matanya jadi putih semua atau hitam semua kaya di film-film," celetuk Ruri
Benar saja semenjak kembali dari klinik kondisi Amar semakin memburuk. Ia sesekali terlihat seperti orang kesurupan. Tertawa sendiri bahkan menangis ketakutan.
Seharian Damar dan Ruri tak bekerja keduanya tampak kelelahan menjaga Amar di ruang kesehatan.
Keduanya sudah menawarkan diri untuk mengantarnya pulang namun Amar menolak. Ia seperti ketakutan saat Damar menyarankan untuk izin pulang. Amar juga melarangnya untuk memberitahu kondisinya kepada istri dan kedua orang tuanya.
"Terus kamu maunya apa?" tanya Damar
"Tolong bawa aku ke rumah mu, aku ingin bertemu dengan ayahmu. Aku ingin menanyakan tentang lebam di tangan ku ini. Aku takut lebam ini yang membuat aku seperti ini,"
Amar menunjukkan luka lebam di tangannya, namun hanya Damar yang bisa melihatnya, sedangkan Ruri tidak melihat apapun.
"Mana ada luka lebam, kok aku gak lihat ya?" celetuk Ruri
"Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya Ri,"
"Oklah,"
Atas permintaan Amar, Damar pun membawa Amar ke rumahnya. Suara kicauan burung seperti menyabut kedatangan Amar. Mendengar burung peliharaannya berkicau tanpa henti membuat pemiliknya pun keluar.
Seorang pria dengan kopiah hitam berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang. Alisnya mengkerut saat melihat kedatangan Amar.
Suara burung-burung seketika berhenti berkicau saat Amar tiba di bibir pintu.
"Assalamualaikum Pak Dhe," sapa Amar kemudian mencium punggung tangan ayah Damar.
"Waalaikumsalam, silakan duduk Mar," jawab pria itu
Amar pun segera duduk diikuti oleh Ruri dan Damar.
"Ada apa le?" tanya Rasyid
Amar pun menceritakan tentang istrinya dan apa yang ia alami setelah menikah dengan wanita itu. Mulai dari Banaspati yang sering menerornya hingga kejadian malam Selasa Kliwon yang memakan korban.
Rasyid tampak manggut-manggut mendengar cerita Amar.
Ia pun melihat telapak tangan Amar yang lebam.
"Kamu sudah terkena sengatan bisanya le?". Rasyid mengamati dengan seksama luka lebam di lengan Amar
Amar hanya mengangguk.
"Tapi kamu masih beruntung, buktinya kamu masih hidup sampai saat ini, karena setahuku semua orang yang terkena bisa siluman itu pasti akan mati,"
Seketika wajah Amar memucat mendengar ucapan Rasyid.
"Mungkin si Amar Demam dan kesurupan itu tanda-tanda mau mati kali!" celetuk Ruri membuat semua mata seketika tertuju padanya
"Ups, sorry!" Ruri buru-buru menutup mulutnya
"Benar, mungkin setelah ini kamu akan sakit-sakitan sampai kamu meninggal," ucap Rasyid menimpali
"Yang bener Pak Dhe, jangan nakut-nakutin si Amar dong kasian dia!" seru Ruri saat melihat ekspresi wajah sahabatnya
"Ya... memang benar begitu, kecuali dia mau melawannya?" sahut Rasyid
Lelaki lima puluh tahun itu mengambil sebatang rokok kemudian menghisapnya.
Amar tampak gelisah, bagaimanapun ia belum siap untuk mati. Namun untuk melawannya dia tidak mungkin bisa. Ia tak punya kekuatan supranatural untuk menghadapi siluman yang ada di dalam tubuh istrinya.
"Bagaimana caranya??" tanya Amar memberanikan diri
"Tirakat, apa kamu sanggup?" jawab Rasyid balik bertanya
"Kalau cuma tirakat insya Allah Amar sanggup Pak Dhe,"
Rasyid kemudian memberitahu Amar untuk melakukan tirakat selama 4 hari berturut-turut. Dalam ilmu kejawen tirakat yang dimaksud adalah tidak makan dan tidak minum juga dilarang berhubungan badan dengan sang istri.
"Kamu hanya boleh makan nasi putih dan air putih saja saat malam hari selebihnya kamu harus puasa. Di hari keempat kamu harus menunggu kemunculan siluman itu dan menggiringnya masuk ke dalam kelapa hijau. Jika kamu berhasil maka tanda lahir pada istrimu akan menghilang," terang Rasyid
Merasa apa yang di sarankan oleh Rasyid tidak terlalu berat Amar pun menyanggupinya dan bertekad untuk menjalaninya keesokan harinya.
Seperti pesan Rasyid pagi itu Amar mulai melakukan tirakat. Ia sengaja merahasiakan apa yang ia lakukan dari kedua orang tuanya juga istrinya Marni.
Meskipun kondisinya masih kurang sehat, Amar berusaha kuat menjalani tirakat di hari pertama. Tak ada godaan terbesar saat ia menjalani tirakat kecuali dari istrinya sendiri Marni.
Kecantikan Marni selalu membuat Amar klepek-klepek dan tergoda untuk menyentuhnya.
Siang itu sepulang dari kantor, ia melihat Marni tampak menggunakan daster diatas lutut tanpa lengan.
Kulit putih Marni tampak bersinar dengan daster hitam dengan motif bunga tersebut. Buah dada Marni tampak menyembul membuat Amar berdesir melihatnya. Ia bahkan dengan sengaja menggesekkan kedua gunung kembarnya itu saat membantu melepaskan pakaian kerjanya.
Sebagai lelaki normal yang belum pernah merasakan malam pertamanya dengan sang istri membuat darah mudanya bergelora. Apalagi kondisi rumah sedang sepi karena Paijo dan Surti sedang di sawah.
"Mas, apa kamu tidak ingin mencoba lagi," jari lentik Marni mulai bergerilya meremas bagian sensitif suaminya
Wanita itu tersenyum saat menyadari sesuatu yang terbangun di bawah sana. Ia segera menarik Amar dan mendorongnya ke ranjang. Marni tak canggung untuk menanggalkan pakaiannya.
Kali ini ia merasa harus mengambil alih permainan. Ia tidak mau gagal lagi seperti sebelumnya.
Amar tak kuasa menolak, saat wanita itu mulai membuatnya melayang.
Namun suara ketukan pintu membuat Amar tersadar.
"Sayang, sepertinya ada yang datang, mungkin kita bisa melanjutkannya nanti malam," ucap Amar segera bangun dan memakai pakaiannya
Marni terlihat kesal dan menggerutu. Ia bahkan tak berhenti memaki membuat Amar tersenyum tipis melihat sisi lain istrinya.
Ia buru-buru keluar untuk melihat siapa yang datang. Wajahnya seketika berubah saat melihat kedatangan Rasyid ke rumahnya.
"Pak Dhe??" ucapnya tak percaya
"Kenapa, kaget??" jawab Rasyid kemudian berjalan masuk kedalam rumah
"Inggih," ucap Amar tersenyum memperlihatkan gigi putihnya
"Gimana tirakatnya?"
"Alhamdulillah masih lancar Pak Dhe,"
"Syukurlah, ngomong-ngomong dimana istrimu?" tanya Rasyid
"Ada di dalam, sebentar saya panggilkan,"
Baru saja Amar beranjak dari duduknya, Marni sudah keluar dari kamarnya. Wanita itu berjalan menghampiri keduanya dengan senyuman khasnya.
"Sugeng sonten Ustadz, ( selamat sore, ustadz)" sapa Marni kemudian duduk di samping suaminya
"Sugeng sonten Nyai," jawab Rasyid
Seorang wanita tua tampak tidak suka dengan kehadiran Rasyid. Tatapan matanya jelas mengisyaratkan kebenciannya kepada pria itu.
Berbeda dengan Rasyid yang memperkenalkan dirinya dengan begitu ramah. Lelaki itu memberikan sirih lengkap dengan pinang kepadanya.
"Mohon maaf jika kedatangan ku menganggu mu Nyai, jujur saja aku hanya ingin berkenalan dengan khodam penjaga menantuku," ucap Rasyid
Tanpa basa-basi Marni mengambil sirih itu dan langsung mengunyahnya.
"Sebaiknya berhenti saja le, gak usah tirakat segala, percuma. Sabar saja, jika kamu memang jodohnya Marni kamu pasti bisa menghapus toh brahma itu. Jangan membahayakan nyawamu, urus saja bapak ibumu!"