[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19. Break Game
"Kak Farhan ..." lirih Zahra canggung saat mendapati Farhan berdiri di sampingnya setelah menyimpan sepiring nasi Goreng dan Sebotol air mineral.
"Nggak di suruh duduk nih?" ujar Farhan dengan memainkan alisnya.
Zahra tersenyum tipis setelah itu mempersilahkan kakak kelasnya ini untuk duduk. Farhan duduk di bangku Syila yang berada di depan bangku Zahra, karena kebetulan Syila sedang ada di pojok belakang kelas bersandar di tembok sambil nonton drama Korea dengan teman-temannya.
Audy menetralkan kembali mimik wajahnya dan tersenyum tipis ke arah Farhan untuk mengurangi kecanggungan dalam dirinya.
"Kak, ini untuk Zahra?" tanya Zahra sambil melirik sepiring nasi goreng di depannya.
Zahra memang sangat menyukai nasi goreng, apalagi masakan Raihan yang menurut Zahra tidak ada duanya itu.
Farhan terkekeh dan mengangguk kecil, membuat Zahra tersenyum cerah dan segera menyantap makanan di depannya.
"Audy mau?" tanya Zahra sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi ke arah Audy.
Audy berusaha menghilangkan fikiran negatif dalam dirinya, dia tidak ingin persahabatannya dengan Zahra yang masih berbau kencur hancur begitu saja.
"Hmm gimana yahh ..." pikir Audy Bercanda sambil mengetuk-ngetuk dagunya. Setelah itu membuka mulutnya untuk menerima suapan Zahra.
Zahra tersenyum cerah dan langsung menyuapi Audy. "Anak pintar ..." ucap Zahra dengan senyum yang tercetak jelas di bibir nya.
Farhan mematung melihat keakraban dua gadis itu. Farhan tidak menyangka sekarang Audy telah lembali seperti dulu, Farhan harap Audy akan tetap seperti ini gadis cantik nan ceria, bukan gadis dingin yang susah tersentuh.
"Makasih kak," ujar Zahra yang membuyarkan lamunan Farhan.
Farhan menatap Zahra setelah itu menatap Audy, dan kembali menatap Zahra. Farhan akui gadis kecil seperti Zahra lah yang membuat Farhan merasakan indahnya jatuh cinta, walau Farhan tak tahu rasanya di balas atau tidak. Farhan tidak peduli yang terpenting gadis yang di sukainya baik-baik saja.
"Iya sama-sama, gue ke kelas dulu," pamit Farhan setelah itu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas.
"Iya kak hati-hati, kalo ada belokan belok yah kak jangan lurus," celutuk Zahra tanpa menatap ke arah Farhan.
Farhan terkekeh dan mengganguk.
Audy masih menatap punggung Farhan yang mulai menjauh, tercetak senyum tipis di wajahnya. Sedangkan Zahra sekarang tengah asik memakan makanannya.
"Audy mau lagi?" tanya Zahra tanpa menatap Audy.
"Nggak," Jawab Audy kembali cuek.
"Audy suka sama kak Farhan?" tanya Zahra tanpa memalingkan wajahnya, entah kenapa pertanyaan itu terucap begitu saja dari mulutnya.
Audy yang mendengarnya langsung membulatkan matanya, tidak tau harus menjawab apa.
"Gu--e mau lagi," ujar Audy gugup sambil menarik piring yang berisi nasi goreng itu di hadapan Zahra.
Zahra memasang wajah cemberut akibat sikap Audy, tapi tiga detik berikutnya Zahra tertawa.
"Nih," ujar Audy tanpa dosa, mengembalikan piring yang kosong tak bersisa itu.
"Untuk?"
"Kasih ke ibu kantin! Balikin piringnya!"
"Aku nggak mau! Kan bukan aku yang beli," tolak Zahra sambil melipat kedua tangannya di atas meja.
"Bukan gue juga dong berarti!"
"Suruh kak Farhan aja!"
"Farhan kan beli ini untuk lo, jadi lo dong yang balikin, nih!" kesal Audy, menyodorkan kembali piring kosong itu ke arah Zahra dan langsung didorong kembali oleh Zahra.
"Yang ngabisin?" tanya Zahra sambil mendorong piring itu ke meja Audy.
Audy mendorong piring itu ke meja Zahra kembali, dan terjadilah aksi dorong mendorong piring yang dilakukan dua gadis yang baru saja menjalin ikatan persahabatan.
"Balikin piringnya Audy, kan Audy yang ngabisin," ujar Zahra santai, berbeda dengan Audy yang raut wajahnya berubah masam.
Audy mendelik mendengar penuturan Zahra, Audy bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas meninggal Zahra yang senyum-senyum menyebalkan.
####
Verrel, Daniel dan Deon sekarang tengah berada di rooftop. tak ada yang mengetahui keberadaan 3 pemuda itu. Setelah hukuman dari Bu Siti selesai, mereka bertiga memilih untuk bolos sampai jam pelajaran terakhir.
Deon yang sibuk dengan game yang dimainkannya. Verrel sedang tertidur dan Daniel yang memakai handset sambil bernyanyi.
"Niel, suara lo bagus," seru Deon dengan nada sedikit berteriak karena posisi Daniel yang berada di ujung rooftop.
Verrel meminta Daniel untuk menyendiri di ujung rooftop, karena suara Daniel dapat menggangu tidurnya.
"Thanks Yon, tumben lo bener," teriak Daniel.
"Tapi lebih bagus kalo lo DIEM!" teriak Deon dengan malasnya menekankan kata Diam.
Verrel yang tertidur pun terbangun, sebenarnya Verrel tidak benar-benar tertidur dia hanya menutup mata. Rasa ngantuknya hilang setelah perdebatannya dengan Zahra tadi pagi.
Mendengar ocehan kedua sahabatnya tak kunjung reda, Verrel mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk dan menatap tajam kedua sahabatnya.
"Berisik lo berdua," Bentak Verrel.
"Rel, lo nggak balik ke kelas? Kasian entar bebeb Zahra nyariin," seru Daniel dengan santainya. Sambil memainkan ponselnya dan membuka aplikasi game Freefire-nya.
"Nggak, gue lagi nggak mau ketemu ama tuh bocah!" sahut Verrel mulai jengah.
"Yakin?" tanya Deon memastikan.
"Hm."
"Kalo misalnya Zahra diganggu sama fans lo gimana?" tanya Deon lagi tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel yang di pegangnya.
"Kalaupun iya tenang aja, kan ada Audy dan--- Farhan," jawab Verrel dengan nada merendah di akhir kalimatnya.
Verrel tidak sepeduli itu dengan Zahra hingga iya melupakan tujuannya untuk bolos dan memilih ke kelas.
"Permainan lo?" Kali ini Daniel yang membuka suara, sedikit berteriak, karena jaraknya yang berada di ujung jauh dari mereka berdua.
"Gampang, gue bosan aja hari ini. Tuh bocah masih pagi udah marah-marah," ngoceh Verrel tanpa sadar. Membuat Deon dan Daniel saling menyunggingkan senyum misterius.
"Ya udah sih sans aja," balas Deon sambil beranjak dari duduknya.
"Mau kemana Yon?" pekik Daniel.
"Kantin, laper gue lagian ini udah jam istirahat kan," sahut Deon.
Daniel dan Verrel mengangguk dan beranjak menghampiri Deon.
####
Verrel dan kedua sahabatnya, berjalan dengan wajah datar memasuki kantin dan menghampiri meja khusus untuk mereka. Tapi sebelum itu, Verrel sempat berpapasan dengan Audy dan Zahra yang membawa semangkuk bakso di tangannya masing-masing.
Verrel menghentikan langkahnya dan menatap Zahra yang sekarang berada di depannya dengan semangkuk bakso di tangannya.
Zahra hanya memasang wajah kesal dan enggan untuk menatap pemuda di depannya. Zahra masih kesal dengan Verrel, yang membuatnya harus mendapatkan hukuman. Walau tidak sepenuhnya salah Verrel, tapi tetap Zahra masih kesal dengan cowok muka datar itu. Bahkan liat! Verrel tidak menanyakan alasan Zahra kesal padanya, malah berdiri di depannya dengan raut wajah datar.
Zahra mendengus kasar, "Minggir aku sama Audy mau lewat," ketus Zahra.
Verrel hanya mengangkat bahunya acuh dan berjalan meninggalkan Zahra dan Audy yang di ikuti oleh Daniel dan Deon.
Sedangkan Audy hanya memilih diam tak ingin memperkeruh suasana.
"Ra, kita duduk di sana aja yah," usul Audy sambil melirik meja yang kosong yang lumayan jauh dari meja Verrel dan kedua sahabatnya.
"Iya ide bagus, mejanya jauh dari meja si cowok muka datar itu," cibir Zahra dan berjalan menghampiri meja itu.
Audy terkekeh dan berjalan mengikuti Zahra. Saat sedang asyik-asyiknya mereka makan, ada seorang pemuda yang menghampiri mereka dan duduk di dekat Audy, karena Audy dan Zahra duduk berhadapan.
"Gue boleh gabung?" tanya pemuda itu setelah mendudukkan dirinya di samping Audy dan menyimpan semangkuk bakso yang di bawanya.
"Bo--leh kok," jawab Audy Kikuk.
"Thanks Dy," balas pemuda itu.
Pemuda itu menatap Zahra yang fokus menatap makanannya. Sesekali Zahra mendongak untuk melihat pemuda di meja lain dengan wajah cemberutnya.
"Ra ... Lo lagi liat apa?" tanya pemuda itu--Farhan.
"Lagi liat gajah terbang," jawab Zahra asal yang pandangannya tertuju pada meja Verrel.
Farhan terkekeh mendengar jawaban Zahra, Sedangkan Audy hanya menikmati dalam diam. Mengetahui Farhan berada di dekatnya saja Audy sudah merasa senang. Hanya Saja ada hal aneh yang sedikit mengganjal fikirannya, tentang kedekatan Zahra dan Farhan.
"Kalo mau dekat sama Zahra kenapa nggak duduk dekat Zahra aja?" kesal Audy dalam hati.
Audy tak berani mengucapakan pertanyaan itu dan memilih menikmati dalam diam semangkuk bakso yang ada di hadapannya. Audy tidak boleh berfikiran negatif yang dapat merugikan dirinya dan Zahra.
"Ra, lo kemarin pulang bareng Verrel?" tanya Farhan memecah keheningan diantara mereka.
"Iya kak," jawab Zahra.
"Naik angkot?" tanya Farhan lagi.
"Iya kak."
Audy yang mendengar percakapan mereka terkejut saat mengetahui Verrel pulang naik angkot. Bahkan mencium aroma kendaraan satu itu dari jauh pun Verrel tidak akan tahan.
Farhan pun sama terkejutnya dengan Audy. Farhan kira Verrel hanya main-main dengan ucapannya kalo pun tidak, Verrel punya cukup uang untuk memesan taksi, dan tidak perlu naik angkutan umum yang tak pernah disentuhnya. Farhan paham betul tentang sikap dan sifat adik durhaka nya itu!
"Serius?" tanya Farhan masih kurang percaya dengan pernyataan Zahra.
"Iya kak, kenapa emangnya?" tanya Zahra mulai bingung.
"Gue heran aja si Verrel nggak pernah naik angkot soalnya," ujar Farhan.
Zahra mengangguk mengiyakan.
Mereka bertiga sempat makan dalam diam hingga suara dentingan sendok yang cukup keras membuyarkan keheningan dan menatap si pelaku.
####
Bella cs datang menghampiri meja Verrel dan duduk di bangku tepat di dekat Verrel, membuat selera makan pemuda itu hilang seketika.
"Lo ngapain sih kesini?" sentak Verrel setelah meletakkan sendoknya dengan keras membuat suara yang cukup nyaring.
"Aku mau duduk sama kamulah," girang Bella dengan nada lembut yang di buatnya. Membuat Verrel menatapnya jijik.
"Lo mimpi yah? Lo minggir nggak sekarang," sinis Verrel dengan senyum remehnya.
"Nggak kok aku nggak mimpi," balas Bella dengan nada lembut yang di buat-buatnya dan semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Verrel. Verrel yang mulai tersulut emosi akan sikap murahan Bella pun bangkit dari duduknya.
Verrel tersenyum miring. "Lo pergi sekarang? atau gue tendang. "Ancam Verrel pelan tapi tajam.
Semua penghuni kantin yang sudah menyaksikan perdebatan itu bergidik ngeri. Verrel memang tidak akan main-main dengan kalimat ancamannya, Verrel jarang menyakiti perempuan namun tak menuntut kemungkinan Verrel akan menyakitinya bukan?
"Memangnya kamu berani nendang aku?" jawab Bella dengan nada berani. Walau dalam hati, Bella pun merasa ketakutan mendengar ancaman dan nada dingin pemuda itu.
"Udah deh Bel, lo mending pergi aja sana. Belum ngerasain tendangan si Verrel aja Lo!" imbuh Daniel dengan nada sinisnya.
"Kan nggak lucu lo pulang tinggal nama RIP Bella," timpal Deon dengan nada tak kalah sinisnya. Membuat Bella menatap tajam dua pemuda di depannya.
Pila dan Rani yang berdiri di belakang Bella pun mulai berbisik untuk menyuruh temannya itu agar segera menyerah, " Bell, mending Lo nyerah aja deh. Verrel kayaknya nggak mood buat lo gangguin hari ini," bisik Pila sambil membungkukkan badannya dan berbisik tepat di telinga Bella.
Bella menggeram kesal dan berdiri dari duduknya setelah menghentakkan kakinya, mulai berjalan keluar kantin beriringan dengan Rani dan Pila.
Verrel menghela nafas lega karena Bella sudah pergi dari hadapannya. Verrel ingin muntah mendengar nada lembut yang keluar dari mulut Bella dan apa itu 'aku--kamu' Cih! Pencitraan tingkat akut. Bella hanya menggunakan aku kamu dan bicara lembut seperti itu hanya di depan Verrel. Sedangkan di depan orang lain? Bella akan menunjukan sikap aslinya.
Verrel melirik sekilas ke meja Zahra, dan kebetulan Zahra juga belum memalingkan wajahnya, membuat kelereng beda warna itu saling bertubrukan. Tapi hanya berlangsung beberapa detik karena Zahra lebih dulu memalingkan wajahnya menghadap ke arah Farhan.
Farhan tersenyum tipis saat Zahra menatapnya, "Ra, lo udahan kan kita balik ke kelas yuk," ajak Farhan.
"Gue juga udah nih," imbuh Audy.
"Ya udah yuk," ucap Zahra.
Audy dan Zahra berjalan beriringan keluar dari kantin, sedangkan Farhan mengikuti dua gadis itu dari belakang.
"Sih Farhan makin gercep aja," celutuk Daniel.
"Ya udah sih, biarin Farhan rasain indahnya jatuh cinta," imbuh Deon sok dramatis.
"Rel, permainan lo?" tanya Deon mengalihkan pandangannya menatap Verrel yang berdiri dengan raut wajah datarnya.
Verrel tersenyum remeh, "Pause aja dulu entar gue lanjut," jawabnya dengan nada remeh.
"Nggak semudah itu Han. Kisah lo nggak semudah yang lo kira. Gue emang bakalan ngelepasin Zahra karena memang gue nggak punya perasaan apa-apa sama tuh bocah! Gue cuman ingin lo ngerasain apa yang gue rasain dulu," batin Verrel tersenyum remeh.