NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Reuni yang Tak Terduga

Naomi Liem hampir menjatuhkan gelas sampanye di tangannya saat melihat lelaki itu berdiri di seberang ballroom.

Lampu kristal Hotel Aruna Megah memantul di permukaan marmer, memecah cahaya menjadi kilau kecil di antara gaun-gaun mahal, jas hitam, dan senyum para pebisnis yang saling mengukur keuntungan. Di tengah semua kemewahan itu, Darren Wijaya berdiri dengan satu tangan masuk ke saku celana, seolah seluruh ruangan memang diciptakan untuk menjadi latar belakangnya.

Empat tahun.

Selama itu Naomi belajar menata napas setiap kali nama Wijaya Group muncul di berita bisnis, belajar mengalihkan mata setiap kali melihat mobil hitam dengan nomor polisi yang mirip, belajar pura-pura tidak apa-apa saat malam terlalu panjang dan ingatan terlalu kejam.

Namun semua latihan itu runtuh hanya karena sepasang mata rubah yang menatapnya dari jarak beberapa meter.

Darren tidak banyak berubah. Tubuhnya masih tinggi, bahunya masih lebar, wajahnya masih terlalu tampan untuk seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya tanpa hadir di sana. Bedanya, aura di sekelilingnya kini jauh lebih tajam. Dulu dia pemuda ceroboh yang bisa tertawa sambil mencuri kentang goreng dari piring Naomi. Sekarang dia CEO Wijaya Group, nama yang cukup membuat semua orang di ballroom meluruskan punggung.

Naomi memaksa dirinya tersenyum pada klien di hadapannya.

"Maison de Belle bisa menyesuaikan detail payet dengan konsep acara Ibu," ucapnya, suaranya terdengar stabil. "Kalau Ibu menginginkan siluet yang lebih ringan, saya bisa kirimkan dua sketsa tambahan besok pagi."

Wanita paruh baya itu mengangguk puas. "Kamu memang teliti, Naomi. Tidak heran banyak istri direksi mulai pesan gaun di tempatmu."

"Terima kasih, Bu."

Tangan Naomi tetap menggenggam kaki gelas. Jemarinya dingin. Kuku-kukunya hampir memutih karena tekanan yang ia sembunyikan.

Ia tidak boleh panik.

Malam ini penting untuk boutique-nya. Undangan gala itu bukan sekadar pesta, melainkan pintu masuk ke lingkaran klien yang lebih besar. Maison de Belle tumbuh dari tabungan terakhir, cicilan mesin bordir, dan malam-malam tanpa tidur.

Ia tidak akan membiarkan seorang Darren Wijaya merusak malam itu.

"Naomi?"

Suara pria dari sisi kirinya membuat Naomi menoleh. Seorang pria berjas abu-abu berdiri terlalu dekat. Namanya Reza, salah satu vendor event yang sejak awal acara sudah beberapa kali mencoba membuka percakapan.

"Iya, Pak Reza?"

"Jangan terlalu formal begitu." Reza tertawa kecil. Matanya turun sebentar ke bahu Naomi yang terbuka oleh gaun hitam sederhana rancangannya sendiri. "Kita kan hampir seumuran. Panggil Reza saja."

Naomi menggeser tubuhnya setengah langkah, membuat jarak yang sopan. "Baik, Pak Reza. Ada yang bisa saya bantu?"

Senyum pria itu menipis, tetapi ia belum menyerah. "Setelah acara ini, beberapa vendor mau lanjut minum di lounge. Kamu ikut, ya? Sayang sekali kalau malam sebagus ini langsung pulang."

"Terima kasih, tapi saya ada pekerjaan."

"Pekerjaan bisa besok." Reza mencondongkan tubuh. Aroma parfum tajamnya membuat Naomi menahan napas. "Aku bisa antar pulang nanti. Kamu tidak perlu khawatir."

Naomi hendak menjawab ketika bayangan tinggi berhenti di sampingnya.

Udara di sekitar mereka seolah berubah.

"Dia bilang tidak."

Suara itu rendah, tenang, dan malas. Namun di balik kemalasan itu ada tekanan yang membuat Reza spontan meluruskan punggung.

Naomi tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Tubuhnya tahu lebih dulu. Napasnya tersangkut. Jantungnya memukul tulang rusuk seperti hendak keluar.

Reza menatap Darren, lalu warna wajahnya berubah. "Pak Darren."

Darren hanya meliriknya. Alisnya terangkat sedikit, gaya yang dulu sering membuat Naomi kesal karena selalu tampak seolah ia sedang menertawakan dunia.

"Telingamu bermasalah?" tanya Darren.

Reza kaku. "Maaf, Pak?"

"Wanita ini sudah menolakmu." Darren mengambil gelas dari tangan Naomi yang mulai bergetar, lalu meletakkannya di nampan pelayan yang kebetulan lewat. Gerakannya santai, tetapi posisinya menutup Naomi dari pria itu. "Apa perlu aku belikan alat bantu dengar?"

Beberapa orang di sekitar mulai menoleh. Di gala seperti ini, skandal sekecil apa pun bisa menyebar lebih cepat daripada foto di Instagram Story.

Reza tertawa gugup. "Saya cuma bercanda, Pak. Tidak ada maksud apa-apa."

"Bagus." Darren tersenyum tipis. "Pergi."

Satu kata itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Reza mundur. Pria itu mengangguk berkali-kali, lalu menghilang ke arah meja minuman.

Naomi menatap lantai marmer di depan sepatunya. Ia seharusnya berterima kasih. Ia seharusnya marah. Ia seharusnya pergi.

Namun tubuhnya hanya diam.

"Nao."

Panggilan itu jatuh pelan, hampir terlalu lembut untuk pria yang baru saja mengusir orang dengan satu kata.

Naomi mengangkat wajah.

Darren menatapnya tanpa senyum. Dari dekat, mata rubah itu lebih berbahaya daripada ingatannya. Ada lelah di sana, sesuatu yang gelap dan terlalu dalam. Naomi pernah mencintai mata itu sampai merasa dunia tidak perlu memberinya apa-apa lagi. Ia juga pernah membenci mata itu saat berdiri di pagar jembatan, ketika angin malam memotong kulit dan tidak ada satu pun pesan darinya yang datang.

"Jangan panggil aku begitu," ucap Naomi.

Rahang Darren bergerak pelan. "Kamu masih gemetar."

Naomi cepat menarik tangannya ke belakang tubuh. "Aku baik-baik saja."

"Kamu selalu bilang begitu saat tidak baik-baik saja."

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang Naomi harapkan. Ia tertawa kecil, kering. "Empat tahun tidak bertemu, dan kamu masih merasa mengenalku?"

"Aku memang mengenalmu."

"Tidak." Naomi menatapnya lurus. "Orang yang mengenalku tidak akan menghilang begitu saja."

Untuk pertama kalinya, wajah Darren retak. Hanya sepersekian detik, tetapi Naomi melihatnya. Rasa sakit. Penyesalan. Sesuatu yang hampir membuatnya mundur.

Ia tidak mau peduli.

"Selamat malam, Pak Darren." Naomi memaksakan senyum profesional. "Terima kasih sudah membantu. Saya harus menyapa tamu lain."

Ia berbalik, tetapi Darren menangkap pergelangan tangannya.

Sentuhan itu tidak kasar. Justru terlalu hati-hati, seolah ia menyentuh benda yang pernah pecah di tangannya sendiri.

Tetap saja, seluruh tubuh Naomi menegang.

Darren langsung melepasnya.

"Maaf," katanya.

Naomi menatap bekas sentuhan di pergelangan tangannya. Kulitnya terasa panas. "Jangan lakukan itu lagi."

"Baik."

Jawaban yang terlalu patuh itu membuat dadanya makin sesak. Dulu Darren akan menggoda, merajuk, atau menyelipkan lelucon buruk sampai Naomi menyerah tersenyum. Kini ia berdiri seperti lelaki yang takut salah bernapas.

Naomi membenci kenyataan bahwa bagian kecil di hatinya sakit melihat itu.

"Aku tidak tahu kamu akan datang," ucap Darren.

"Kalau tahu, kamu tidak akan datang?"

"Kalau tahu, aku akan datang lebih cepat."

Naomi menahan napas. "Jangan."

"Jangan apa?"

"Jangan bicara seolah semua masih sama."

Darren menunduk sedikit, cukup dekat hingga suara pesta di sekitar mereka terdengar menjauh. "Tidak ada yang sama, Nao. Aku tahu."

Naomi merasakan matanya memanas. Ia segera memalingkan wajah ke arah panggung, tempat pembawa acara mulai mengumumkan sesi lelang amal. Tepuk tangan memenuhi ballroom, menyelamatkannya dari keharusan menjawab.

Darren tidak bergerak dari sisinya.

Selama beberapa menit berikutnya, Naomi berpura-pura memperhatikan lelang. Ia bertepuk tangan saat orang lain bertepuk tangan, tersenyum saat kamera event mengarah, dan menolak menoleh meskipun ia bisa merasakan Darren menatapnya.

Seorang pelayan datang membawa kartu nama dari calon klien. Naomi menerimanya dengan kedua tangan, mencatat permintaan gaun malam warna champagne untuk acara bulan depan. Ia bekerja seperti biasa. Rapi. Tenang. Tidak bercela.

Hanya saja, setiap kali Darren bergeser sedikit, tubuhnya bereaksi seolah ada badai di sampingnya.

Ketika acara memasuki sesi networking bebas, Naomi tahu ia harus pergi sebelum pertahanannya habis. Ia mengirim pesan singkat kepada asistennya, lalu mengambil clutch dari meja.

Darren muncul di pintu keluar ballroom lebih dulu.

"Sopirmu belum datang," katanya.

Naomi berhenti. "Kamu mengawasi aku?"

"Aku memastikan kamu pulang aman."

"Aku sudah hidup empat tahun tanpa kamu, Darren. Aku bisa pulang sendiri."

Senyum Darren muncul tipis, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. "Aku tahu. Itu yang paling membuatku takut."

Naomi menggenggam clutch lebih erat. "Kamu tidak punya hak takut untukku."

"Aku tahu."

Lagi-lagi jawaban itu. Tenang, menerima, dan membuat Naomi kehilangan tempat untuk melempar kemarahannya. Ia lebih mudah menghadapi Darren yang arogan. Darren yang begini membuat luka lama bergerak di bawah kulit.

"Berhenti mengikutiku," ucapnya.

"Tidak bisa."

Naomi menatapnya tajam.

Darren memasukkan kedua tangan ke saku. Sikapnya kembali malas, tetapi suaranya serak. "Aku sudah mencoba berhenti selama empat tahun. Gagal."

Naomi tidak sanggup mendengar lebih banyak. Ia berjalan melewatinya dengan langkah cepat. Di luar ballroom, koridor hotel terasa lebih dingin. Suara pesta tertinggal di belakang.

Ia tidak melihat ke belakang.

Lift turun terlalu lambat. Bayangannya di dinding stainless tampak pucat, bibirnya kehilangan warna. Naomi menekan kalung kecil di dadanya, liontin bertuliskan Hal Baik Akan Datang yang selalu ia pakai sejak ayahnya memberikannya bertahun-tahun lalu.

"Hal baik," bisiknya nyaris tanpa suara.

Pintu lift terbuka.

Naomi melangkah ke lobi, menyerahkan tiket valet, lalu menunggu di bawah kanopi hotel. Hujan gerimis turun tipis, membuat udara Kota Megah berbau aspal basah dan bunga dari dekorasi acara. Mobil-mobil mewah datang bergantian. Kilatan lampu kamera masih sesekali muncul dari pintu utama.

Mobil putih Naomi akhirnya berhenti di depannya.

Ia masuk dengan cepat, ingin segera menutup dunia. Namun begitu pintu terbuka, tubuhnya membeku.

Di kursi penumpang depan terbaring sebuket mawar putih.

Bukan mawar merah yang biasa dikirim pria-pria untuk menggoda. Bukan bunga mahal yang dipilih asal oleh sekretaris. Mawar putih. Bunga yang dulu ia sukai karena ayahnya selalu membeli satu tangkai saat Naomi kecil.

Di antara kelopak yang masih basah, ada sebuah kartu kecil.

Tangan Naomi gemetar saat mengambilnya.

Tulisan di kartu itu rapi, hitam, dan sangat Darren.

Aku sudah menunggu 4 tahun.

Napas Naomi berhenti sejenak.

Di luar kaca mobil, di bawah cahaya lampu hotel yang pecah oleh gerimis, Darren berdiri tidak jauh dari pintu lobi. Ia tidak mendekat. Ia hanya menatapnya, seolah seluruh jawaban yang tidak pernah ia terima selama empat tahun tersangkut di antara mereka.

Naomi meremas kartu itu di dadanya.

Untuk pertama kalinya malam itu, air matanya jatuh tanpa sempat ia tahan.

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!