NovelToon NovelToon
Seikhlas Awan Menemani Hujan

Seikhlas Awan Menemani Hujan

Status: tamat
Genre:Pengganti / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:803.5k
Nilai: 5
Nama Author: picisan imut

Aku menatap dirinya dalam kedukaan yang tak berangsur mereda. Sebuah kebahagiaan yang hilang dalam sekejap mata membawanya pada hari-hari penuh awan hitam.

Dimana pendar mentari yang selama ini menghiasi paras manisnya, berganti hujan yang tak pernah selesai.

Ayudia... gadis itu meraung-raung di atas pusaran suaminya yang pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan benih dalam kandungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar kelahiran

Sudah berbulan-bulan lamanya tak mengetahui kabar Ayudia. Pagi ini, saat mentari bahkan belum keluar—pemuda berkacamata itu sudah siap dengan jaket hitam, ransel berisi laptop juga beberapa file pekerjaan, dan helm yang terpasang di kepalanya.

Sebenarnya, tidak ada pekerjaan pagi di Sekolah tempat dia mengajar. Melainkan pesan chat Pak Ulum tadi malam lah yang membuatnya bersemangat untuk keluar lebih awal.

Ya, laki-laki paruh baya yang menjabat sebagai kepala sekolah itu membutuhkan cepat baterai yang sesuai dengan laptop miliknya. Karena akan ia gunakan untuk rapat hari ini. Dan beruntungnya Ilyas sedang memiliki stok, jadilah ia bersedia untuk datang pagi itu juga sebelum Pak Fatkhul Qulum berangkat.

Selain itu, ada keinginan kuat untuk melihat kabar Bidadari bermata sendu yang sudah lama tak ia ketahui kabarnya. Apakah sudah melahirkan ataupun belum. Sehingga mendorong dirinya untuk bersiap mendahului mentari demi bisa datang ke rumah Pak Ulum lebih dulu tanpa membuatnya terlambat untuk ke sekolah.

"Nu, jangan lupa air di matiin. Abas suka lupa soalnya," tuturnya sambil menekan bendik starter.

"Iya, Mas," jawabnya yang berniat untuk kembali menutup pintu rumah.

"Oh iya..." Merogoh saku di celananya. "Nih, uang. Pakai seperlunya– kasih tambahan dua puluh ribu buat Abas. Hari ini dia pulang sore soalnya."

Ibnu menerima uang tinggalan untuknya dan Abas hari ini sebelum Ilyas mengucap salam dan membawa laju sepeda motornya, pergi.

Pemuda dengan sarung yang menutupi area pinggang hingga mata kaki itu menatap sang kakak hingga punggungnya menghilang ditelan langit temaram. Setelahnya menghela nafas. Ada perasaan kasihan padanya yang harus memikul semua sendiri. Padahal sebagian besar teman-teman sepantaran beliau sudah pada menikah dan memiliki anak. Sementara Kakaknya masih saja melajang.

"Ku harap, aku cepat lulus biar bisa bantu Mas Ilyas." Ibnu menanamkan sebuah tekad yang kuat setelah ini. Dan sepertinya, niat untuk jualan es boba akan segera ia realisasikan juga. Hanya tinggal menunggu tabungan modalnya cukup, setidaknya dengan itu— beban Kakaknya akan berkurang. Dan Ilyas bisa fokus untuk membahagiakan dirinya dengan cara merajut hubungan pernikahan dengan seorang wanita.

Ibnu kembali masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu. Rutinitas kesehariannya akan segera berjalan sebagaimana mestinya.

***

Langit sudah mulai terang, Ilyas mematikan mesin motornya tepat di depan gerbang yang tergembok rapat. Sambil melepas helm, sekaligus melongok ke bagian dalam pagar besi tersebut. Batinnya terus bertanya-tanya tentang sepinya keadaan rumah Bapak Fatkhul Qulum ini.

"Kok kaya nggak ada orang, ya?" Pemuda itu bergumam sambil meletakkan helm, ia pun bangkit. Berjalan lebih mendekat lalu mengetuk-ngetuk gembok ke pagar sambil menyerukan salam.

Beberapa kali ia serukan salam namun tak ada jawaban. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengeluarkan ponsel, lantas menghubungi Pak Ulum.

Sambungan telepon hanya berderu beberapa kali. Sebelum akhirnya suara yang syarat akan kesan bijaknya itu terdengar.

"Walaikumsalam warahmatullah..."

Ilyas tersenyum, "anu, maaf Pak. Saya ada di depan rumah Bapak."

"Astaghfirullah, saking terburu-burunya sampai lupa nggak ngasih tahu kamu," tuturnya di sebrang yang membuat Ilyas hanya terdiam mendengarkan sambil tersenyum. "Saya lagi di rumah sakit, ini. Gimana ya?"

Mendengar kabar itu, bibirnya yang semula melengkungkan senyum lantas meredup.

"Rumah sakit?" Gumamnya mengerutkan dahinya. "Kalau boleh tahu, siapa yang sakit, Pak?"

"Bukan sakit, Ayudia hari ini mau melahirkan."

Rasa khawatir bercampur bahagia tiba-tiba saja menyeruak di dada pemuda dengan kedua mata terbingkai kacamata minus.

"Ayu lahiran, Pak?"

"Iya, Nak. Tadi pagi saya bawa ke rumah sakit," jawabnya yang lantas membuat Ilyas termenung.

Lahiran tanpa Suami, pasti berat untuk Ayu. –Entah mengapa ia jadi membayangkan wajah Ayu yang memang sudah tidak seceria dulu.

"Mohon doanya, ya," sambung Ulum. "Karena ada sedikit masalah, jadi Dia harus menjalani persalinan secara Caesar."

"Ya Allah, Caesar, Pak?" Lirihnya yang masih terdengar di sebrang. Ulum bisa menangkap kekhawatiran di diri pemuda tersebut. "Saya hanya bisa berdoa, semoga Ayu dan anaknya sehat."

"Aamiin, jadi bagaimana?" Ulum kembali menanyakan tentang kedatangannya pagi ini.

"Emmm, itu— begini aja, gimana kalau saya antar sekalian nengok kondisi Ayu, Pak. Omong-omong, rumah sakit tempat Ayu bersalin dimana, ya?"

Di sebrang nampak sepertinya Fatkhul Qulum sedang berpikir. Karena tidak ada suara sama sekali.

"Maaf, Pak. Bukan karena saya nggak sabar dengan uangnya. Tapi, saya pengen sekalian memastikan keadaan Ayu dan anaknya." Ilyas mengatakan dengan jujur.

Karena saat mendengar kabar Ayu sedang di ruang operasi, ia jadi merasa panik layaknya seorang pria yang mendengar kabar isterinya akan melahirkan. Walaupun itu terdengar berlebihan, nyatanya seperti itulah yang di rasakan Muhammad Ilyasa.

"Kamu nggak ngajar hari ini?"

Ilyas melirik jam tangannya, kurang dua puluh lima menit lagi waktu akan menujukkan pukul enam pagi.

"Itu–" duh alasan apa yang akan aku kemukakan biar nggak menimbulkan prasangka. Pemuda itu memutar otak.

"Kamu tahu rumah sakit umum yang paling dekat dengan rumah saya, 'kan?" Tanyanya melanjutkan. Kontan, Ilyas langsung mengangguk seolah sedang berhadapan langsung dengan lawan bicara.

"Tau, Pak."

"Di rumah sakit itulah Saya bawa puteri saya. Posisi di depan ruang bersalin."

"MashaAllah, boleh saya langsung kesana?"

"Silahkan, jika nggak mengganggu waktu Nak Ilyas."

"InshaAllah enggak, Pak." Dengan intonasi penuh semangat, Ilyas menjawab. Tak lama, selepas salam pemuda itu buru-buru tancap gas, menuju rumah sakit yang di sebutkan tadi.

––

Sesampainya di depan ruang bersalin. Ia langsung menghampiri ibu dan Ayah Qonni yang sama-sama sedang menunggu selesainya proses operasi persalinan.

"Assalamualaikum," sapa Ilyas menghampiri mereka berdua. Di hadapannya, ia hanya menangkap senyum ramah dari Fatkhul Qulum, berbeda dengan Aida yang menampilkan ekspresi wajah kurang suka.

"Walaikumsalam warahmatullah, beneran datang." Aida menanggapi dengan nada sedikit sinis, yang membuatnya mendapatkan tepukan pelan di bagian tangannya dari Ulum sebagai teguran kecil.

Karena sejujurnya, ia tadi mendengar hampir seluruh dari percakapan Suaminya dan pemuda berkacamata itu. Tanpa mau tahu isi hati Ilyas yang sebenarnya. Ia telah menilai Ilyas kurang sopan sekaligus tak melihat kondisi saat ini yang sedang di sesaki kepanikan.

Memang, perempuan yang masih memiliki tubuh ramping itu kurang suka dengan Ilyas, sejak lamaran beberapa bulan yang lalu. Namun, baru kali ini ia benar-benar merasakan risih melihat kehadiran pemuda berpenampilan rapi tersebut. Adapun Ilyas hanya mengangguk sekali sambil tersenyum. Tak lama seorang perawat perempuan keluar.

"Alhamdulillah, bayi berjenis kelamin perempuan telah lahir, Pak/Bu," tuturnya mengabarkan dengan ekspresi wajah ceria. "Dan ibunya juga dalam keadaan baik."

"Allahuakbar... Alhamdulillah." Mereka bertiga menjawab hampir bersamaan. Kelegaan tercipta setelah beberapa menit di sesaki rasa was-was.

Adapun perawatan tersebut langsung menggeser pandangannya terakhir pada Ilyas. "Bapak suami dari Ibu Ayudia? Silahkan ikut saya untuk mengadzani bayinya."

Nampak ketiganya mematung, lebih-lebih Ilyas yang mendadak kaku saat di kira Dia lah suami dari Ayudia.

1
Anjellita
aku sudah otw thor
moga bisa up teratur
Wisang Geni
Alhamdulillah, setelah beberapa purnama akhirnya bisa melepas rindu pada othor ustadz Irsyad 😍😍😍
Ai yuli
jazakillah,,neng imut,
g kerasa dah abis aja,
semangat bikin cerita baru lagi ya
Ai yuli
bajagiaanyaa kaka beradik ini,
Ai yuli
alhamdulilah dapat ilmu lagi dengar kajiannya ustadz irsyad.makasih thor
Ai yuli
hmm ademnyaa,,banyak banget pelajaran yg bisa di ambil buat pasangan dalam RT,sehat selalu neng imut.
Ai yuli
alhamdulilaah,,sabar yg membuahkn hasil yg manis
Ai yuli
sakit banget rasanya,,tapi ilyas se iklhas itu meski yg disebut selalu nama masa lalu nya Qonni,
Ai yuli
cinta oh cinta,g ada yg bisa nebak seperti apa kedepannya,
yg tadinya kekeh nolak malah sekarang mulai merasakan cinta yg menguat,
Ai yuli
hmm kangen sama rahma&irsyad,
Ai yuli
berkat ke iklhasan&ketulusan ilyas membuahkan hasil yg amat luar biasa
Ai yuli
alhamdulilah, makasih neng udah bikin cerita yg selalu diselipin kisah2 dari lara rosul kita,walau belum bisa memcontoh minimal tau&bisa jadi pengingat diri,🙏👍
Ai yuli
jangan sampe atuuh Qonni kehilangan suami yg kedua x nya mana udah mulai ada rasa lagi,
Ai yuli
masya allah,beekah selalu neng imut,
Ai yuli
😭😭
Ai yuli
dah mulai normal,alhamduliah.
Ai yuli
nah kan sekarang mulai g rela ada cewek lain yg cinta banget sama suami kamu
Ai yuli
ya allah se iklhas itu ilyas mencintai Qonni,sampe bilang walau cukup jadi suami di dunia jika kelak Qonni leboh milih harun,,aku nangis bagian itu nya,😭😭
Ai yuli
si ilyas ada2 aja masa harun persi sushet,😂😂
Ai yuli
ya allah paak ko gitu amat ya,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!