Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.
Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."
Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.
Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beberapa hari kemudian
Rana (narasi)
Hari ini Selasa dan sudah empat hari sejak nenekku dioperasi, tapi beliau belum sadar juga. Aku hancur. Aku sudah menangis sampai air mataku habis. Sepanjang sore aku di rumah sakit menunggu dokter untuk bicara, tapi beliau tidak memberiku harapan, hanya menyuruhku tetap beriman dan percaya bahwa Tuhan bisa memberi keajaiban. Jadi aku penuh harapan dan percaya Tuhan akan mengeluarkan nenekku dari ini semua.
Dokter Reza hampir tiap hari mengirimiku pesan, tapi aku membalasnya biasa saja, tanpa maksud apa-apa. Dia sangat perhatian padaku.
Cantika tidak mengganggu lagi, dan Lia jadi sahabat baikku. Jagung sekarang kalau ketemu aku di jalan pura-pura tidak melihat. Entah kenapa anak itu.
Aku sampai rumah hampir jam tujuh malam. Joni mengantarku sampai depan rumah lalu pergi. Aku mandi air dingin karena panas sekali, memakai baju santai, lalu ke dapur membuat nasi goreng dan salad selada. Kubuka sekaleng Coca-Cola, duduk di meja, dan makan. Seharian aku belum makan.
Setelah itu kucuci piring, menyikat gigi, dan menonton film. Aku mendengar ada yang memanggil, ternyata Joni.
"Ya?" kataku sambil menghampiri pagar.
"Bos nyuruh saya nyerahin ini ke Ibu." katanya sambil menyodorkan amplop.
"Apa ini?" tanyaku.
"Nggak tahu, Bu Bos. Dia cuma nyuruh saya mampir ke lapak dan bawain ini buat Ibu." katanya, lalu kembali ke seberang jalan. Dia di sini sampai jam sepuluh malam, lalu digantikan anak lain sampai jam sepuluh pagi.
Aku masuk rumah dan membuka amplopnya. Isinya setumpuk uang kertas pecahan seratus. Kuhitung, jumlahnya tiga ribu reais, setara Rp 7,5 juta. Aku murka. Dia pikir dia siapa, membayar jasaku? Kuambil ponsel dan langsung kutelepon dia. Di dering kedua dia mengangkat.
📱
"Ngomong." katanya.
"Boleh aku tahu untuk apa kamu kirim uang ini?" kataku, sudah kesal.
"Buat lo beli keperluan lo, sialan. Gue tahu lo udah nggak kerja, dan lo pasti butuh." katanya.
"Aku nggak butuh apa-apa darimu. Jangan kira aku sama seperti perempuan-perempuanmu yang kamu tiduri lalu kamu bayar." kataku, sudah kesal.
"Tapi emang itu yang lo lakuin, cantik. Lo jual diri ke gue, dan sekarang lo milik gue, nggak ada tawar-menawar lagi. Ambil aja duitnya, gue tahu lo butuh." katanya.
"Kalau kamu terus merasa kamu pemilikku, aku akan cari cara melunasi utangku padamu dan membayarnya, lalu aku nggak akan menginjakkan kaki ke sana lagi." kataku, benar-benar kesal.
Kututup teleponnya di mukanya dan kunyalakan mode pesawat, karena aku tahu dia akan meneleponku terus.
Aku naik ke kamar, berbaring di ranjang, memasang alarm ponsel jam lima pagi, dan menatap langit-langit sampai tertidur.
Macan (narasi)
Hari-hari ini berat, banyak banget yang harus gue urus sampai gue nggak sempat ngobrol layak sama tukang pelet itu. Gue tahu keadaan neneknya, Kerempeng ngasih tahu gue semua yang terjadi sama dia. Untungnya adik ipar gue sahabatan sama cewek itu dan cerita semuanya ke Kerempeng, terus Kerempeng cerita ke gue.
Gue tahu Rana dulu kerja mati-matian, dan sekarang dia nggak kerja lagi. Di kedai Pak Mansur dia udah nggak kerja gara-gara gue yang nyuruh dia dipecat, dan di bukit gue, apa yang gue bilang itu hukum.
Gue telepon Joni dan nyuruh dia mampir ke lapak buat ambil duit buat Rana. Gue udah ngasih tahu Kerempeng buat nyisihin duit buat dia, dan gue suruh Kerempeng nguatin dia tiap minggu.
Gue lagi rebahan di ranjang mikirin hidup dan nyusun rencana buat cepat keluar dari sini, waktu ponsel gue bunyi dan gue lihat itu Rana. Gue angkat, dan dia ngamuk cuma gara-gara gue kirim duit. Cewek gila, bro. Kalau itu Cantika, dia bakal loncat-loncat kegirangan, dan cewek ini hampir nyalib gue cuma karena gue ngasih dia duit. Lo ngerti nggak, gue nggak.
Gue panas banget dia nutup telepon di muka gue, bro. Serius, dia udah mulai biasa ngelakuin itu dan gue bakal nagih hal itu dari dia. Dia hancur di tangan gue. Dia pikir dia lagi berurusan sama siapa, di sini penjahat, bukan pecundang.
Gue telepon balik dan tuh sialan malah matiin ponselnya. Nggak bisa gue pungkiri, cewek itu berani. Semalaman gue coba telepon dan ponselnya di luar jangkauan. Bro, tinggal itu cewek ini nekat dan nggak datang pas kunjungan. Kalau dia berani, gue suruh gundulin dia, serius. Dia udah mulai kurang ajar.
Gue sama sekali nggak tidur gara-gara emosi. Gue isap sebatang ganja dan lihat udah hampir jam enam pagi. Gue duluan mandi, karena nanti jadi antre. Gue pakai boxer putih, celana pendek hitam parasut, dan singlet putih. Gue semprot parfum dan pakai sandal jepit. Udah siap, gue gelisah banget, dan hari ini gue bakal bikin cewek itu nurut.