Ketidakmampuan Marsha dalam hubungan intim dengan suaminya membawa dirinya berkenalan dengan seorang pria beristri yang juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.
Perselingkuhan pun terjadi hingga membuat suami dari Marsha mengalami kebangkrutan perusahaanmu miliknya hingga meninggalkan hutang yang banyak.
Bagaimana hubungan Marsha dengan pria selingkuhannya? Apakah Masha memilih bertahan hidup dengan suaminya yang sangat baik padanya ataukah pergi dengan lelaki selingkuhannya?"
Ikuti perjalanan cinta segitiga ini melalui banyak rintangan..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Rasa Kehilangan
Marsha menghadiri pemakaman suaminya tanpa putranya disisinya. Tuan Excel setia menemani Marsha yang masih menangis sesenggukan di atas gundukan tanah merah itu.
Wajah cantik itu berubah sembab dengan kelopak mata bengkak tertutup kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Walaupun beberapa tahun terakhir pernikahan mereka mulai retak karena kurang perhatian suami, namun Abimanyu sangat baik dan sangat bijak dalam memanjakan istrinya.
Namun sejalannya waktu, rupanya setiap pria selalu kalap kalau sudah menyangkut uang dan kekuasaan menjadi teman baru mereka.
Mereka akan lupa diri, lupa keluarga dan bahkan lupa Tuhan yang menciptakannya. Seakan tidak pernah habis pundi yang dihasilkan mereka hanya demi bersaing dengan para pengusaha lainnya untuk menaklukkan dunia.
"Nona Marsha! Pemakaman sudah sepi. Tidak baik berada lama di pemakaman karena banyak setannya di sini. Lebih baik merenung dalam doa, bersedih dalam sujud dan mengeluh pada Tuhan. Kamu tidak akan mendapatkan apapun di sini karena setan akan terus menghasut pikiranmu yang kosong."
Ucap Excel membujuk Marsha yang masih terlihat syok.
Akhirnya Marsha berusaha berdiri dengan bantuan Excel yang menarik tangannya untuk berdiri. Iapun melangkah dengan gontai menyusuri setiap jalan di antara pemakaman itu.
Tubuh Marsha benar-benar lemas hingga tuan Excel tidak sabar memapah tubuh jenjang itu.
Ia langsung menggendong Marsha dan gadis ini terlihat pasrah karena saat ini rasanya ia ingin pingsan.
Mobil sedan mewah itu kembali melaju menuju ke apartemen milik Marsha. Ibu dari Al ini tidak lagi mempedulikan putranya yang saat ini sedang terbaring sakit, karena ia sendiri tenggelam dalam dukanya. Hanya Asisten pribadi tuan Excel menemani Al yang masih belum siuman dan tidak tahu ayahnya sudah meninggal.
Tuan Excel membaringkan tubuh Marsha di tempat tidur wanita itu. Tuan Excel mengurus sendiri Marsha yang tidak mau makan dan minum selama mereka baru tiba di Jakarta hingga sampai saat terakhir pemakaman suaminya, seteguk air pun belum sempat ia sentuh sampai saat ini.
"Marsha...! Tolong minum airnya atau teh manis untuk membasahi kerongkongan mu. Kamu nanti bisa dehidrasi dan itu akan membuat kamu bisa sakit.
Apakah kamu tidak ingat dengan putramu Al. Saat ini dia sedang sakit dan lebih membutuhkan kamu daripada sebelumnya. Kenapa kamu malah menghukum dirimu sendiri?" Ucap tuan Excel frustasi.
Alih-alih mendengarkan nasehat Excel, Marsha malah menangis lagi. Kali ini tangisannya semakin kencang karena ia tidak bisa menahan beban di hatinya.
"Tidak apa kalau kamu ingin menangis jika hatimu masih sangat sedih. Aku juga pernah mengalami hal yang sama dengan dirimu. Malah dua kali kehilangan orang yang paling aku cintai dan itu membuat memori ku terganggu.
Kamulah yang telah menyelamatkan jiwaku dan aku bisa menerima kenyataan bahwa dua orang wanita yang sangat berharga dalam hidupku pergi untuk selamanya.
Mereka tidak akan pernah kembali lagi walaupun kamu memaksakan dirimu pada mereka untuk hidup dalam pikiranmu.
Kehilangan itu menyakitkan bahkan waktu tidak mampu untuk mengobati kehilangan itu hingga kamu menemukan seseorang yang akan mengembalikan semua yang hilang itu dengan kebahagiaan yang ia tawarkan kepadamu."
Ucap Excel panjang lebar untuk menenangkan hati Marsha.
Sesaat kemudian, tangisan Marsha mulai reda walaupun masih tersisa isak tangis di sana namun, ia mulai bangkit untuk menerima kebaikan Excel yang sudah susah payah membuatkan teh untuknya.
Seorang mafia seperti Excel mana mungkin mengurus orang lain kalau bukan karena ia memiliki perasaan khusus dihatinya dengan orang itu.
Marsha meneguk minumannya dan duduk bersandar di tempat tidur sambil mengusap air mata yang tersisa. Ia tidak peduli bengkak di matanya dengan wajah bengap karena kelamaan menangis.
Secangkir teh mampu meredakan haus di tenggorokannya yang cukup kering. Melihat kemajuan dari Marsha, Excel menawarinya menyuapi makan untuk Marsha.
"Cobalah makan walaupun sedikit!" Ucap Excel setengah memaksa.
Tanpa banyak kata Marsha menerima suapan itu dan itupun hanya tiga suap. Tuan Excel tidak ingin memaksa lagi. Marsha sudah makan saja, itu sudah cukup membuatnya lega. Ia menghabiskan makanan sisa milik Marsha dan membuat Marsha tersentak.
"Tuan! Itu makanan sisa dariku kenapa anda memakannya?"
"Memangnya kenapa? Itu sisa makanan dari kamu bukan orang lain." Ucap Excel acuh.
Marsha hanya bisa terbungkam karena kepalanya juga terus berdenyut kencang. Ia memijit pelipisnya sendiri dan Excel bergerak cepat memberikan wanitanya obat aspirin untuk mengurangi rasa sakit kepala.
Marsha akhirnya tertidur dibawah penjagaan Excel yang masih setia bertahan menunggu wanitanya. Selimut Marsha di naikan sedikit ke atas untuk memberikan rasa nyaman dan hangat.
Excel sengaja mengutak-atik tas milik Marsha dan ingin tahu apa isinya. Ia begitu kaget saat melihat obat tidur milik Marsha dan obat anti depresan.
"Astaga gadis ini! Apakah ia ingin mati muda?" Excel mengeluarkan obat itu dan membuangnya ke kloset.
Excel tidur di sofa panjang dekat dengan pintu balkon kamarnya Marsha. Keduanya terlelap dalam mimpi mereka. Tidak lama terdengar bel kamar berbunyi. Merasa takut tidur Marsha terganggu, Excel bangkit memeriksa siapa yang datang.
Ia begitu terkejut ketika melihat tuan Cal, selingkuhannya Marsha. Tuan Excel mematikan bunyi bel itu agar Marsha tidak mendengarnya.
Ia menghubungi pihak keamanan apartemen untuk menyeret Cal keluar dari depan pintu utama apartemen Marsha.
"Kenapa bajingan itu kemari? Rasanya aku ingin membunuh lelaki itu. " Umpat Excel sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Siapa yang datang?" Tanya Marsha menghampiri Excel yang langsung menangkap tubuh Marsha yang terlihat limbung.
"Siapa yang memintamu keluar kamar? Apakah tidak cukup aku yang menemui tamu mu..?" Ucap Excel terlihat cemburu.
Ia menuntun lagi Marsha kembali ke kamarnya. Siapa yang datang Tuan? Apakah mereka teman suamiku? Mungkin mereka mau mengucapkan duka padaku." Ucap Marsha lalu berbaring lagi.
"Bukan siapa-siapa, hanya orang yang salah alamat. Nomor kamarnya sama hanya lantainya saja berbeda."
"Kenapa tuan tidak pulang? Aku ini seorang janda yang baru ditinggalkan suamiku. Apakah kamu juga ingin membuat aku terhina?"
"Kamu lagi kurang sehat dan aku tidak akan melakukan hal buruk apapun padamu dan berhentilah memikirkan moralitas. Aku akan tetap menjaga kamu di sini dan akan menikahimu setelah masa Iddah mu selesai." Imbuh Excel.
"Kenapa kamu menjadi keras kepala? Kamu malah makin membebani pikiranku dan aku tidak ingin menikah lagi. Berhentilah merayuku dan mengharapkan aku!"
Ucap Marsha terlihat bingung dengan ucapannya sendiri.
"Aku tahu, saat ini kamu membutuhkan orang lain di sampingmu dan aku harap kamu tidak perlu berpura-pura di hadapanku seakan kamu paling kuat. Menjaga tubuhmu saja kamu tidak bisa. Apa lagi mengendalikan dirimu." Ucap Excel lalu berbaring lagi di sofa yang tadi ia tidur.
Kalau tidak ingat Marsha dalam keadaan berduka ingin rasanya ia memeluk dan mencium bibir wanitanya.
Tapi itu tidak mungkin ia lakukan karena Marsha terus menyalahkannya dirinya sendiri karena perselingkuhannya keadaan rumah tangganya menjadi hancur dan dia merasa penyebab suaminya meninggal.
Dan sekarang putranya juga lagi sakit parah di rumah sakit sementara tubuhnya sendiri tidak mampu untuk beraktivitas dalam keadaan duka mendalam seperti ini.
aku rasa ini adalah dari kisah hidupmu sendiri alias kau adalah wanita tukang selingkuh yang menceritakan kisahnya dalam novel
penampilan berjilbab tidak bisa memastikan katakter seseorang, bahkan bisa lebih menjijikan dari pada pelacur sekalipun
kemunafikan terlihat dari novel2 nya sendiri, terlalu jauh bandingkan novelnya dengan novel karya author lain, banding saja novelnya dengan novelnya sendiri
kita bongkar kemunafikan author ini
*dalam novelnya yang konfliknya pemeran utama pria yang salah, maka akan dibuat dapat balasan, menderita, menyesal, ngemis maaf, berjuang keras, karakter istri tegas pergi dan tidak mudah memaafkan, akan dihadirkan lelaki lain yang baik pada istrinya, pelakor dibinasakan
banding kan dengan novelnya sendri
*novelnya yang konfliknya pemeran utama wanita salah (selingkuh), apapun kesalahannya dia bebas dan akan bahagia akhirnya, tidak perlu susah minta maaf, karakter suami dibuat bodoh, perebut istri orang selalu dispesialkan, pelakor dipuja
dari novel saja kita bisa lihat begitu munafiknya karaktermu, kasian sekali lelaki yang menjadi suamimu punya istri munafik kayak dirimu, bahkan kalau kau selingkuh sekalipun kau akan membenarkan perselingkuhan mu,
balah jijik aku baca karya2 hasil pemikiran munafikmu
keles: ini hanya halu dan imajinasi
fakta: novel adalah halu dan imajinasi sesuai karakter novelis itu sendiri
jenis sifat author
author baik2 : dia akan buat novel perlingkuhan dan yang selingkuh dia akan laknat dapat balasan setimpal dan akan buat berjuang menebus kesalahannya
author tegas : dia akan buat novel perselingkuhan dan yang selingkuh dia akan laknat dan dapat balasan setimpal dan dibinasakan, perselingkuhan tiada maaf
author?????? : dia akan buat novel perselingkuhan dan yang selingkuh dia benarkan malah dia putar balik fakta yang korban selingkuh yang dia salahkan dan manusia selingkuh akan berakhir bahagia
KLO LO CBA2 NNTG EXCEL, HABIS LOO
ELO MLH LBH HINA DRIPADA JALANG.