Nicole Louisa Edgar mendapatkan surat undangan dari kekasih pertamanya yang merupakan raja dari kerajaan Artaleta.
Tapi ia harus merasakan pernikahan dengan sahabat raja Artaleta sendiri yang merupakan musuhnya ketika mereka masih bersekolah diluar negeri.
Apakah pernikahan itu akan berlangsung lama?
Apakah ia akan jatuh cinta pada suaminya yang sangat menyebalkan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nipi Nupu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat tinggal, duke
Vale membuka matanya. Ia terbangun karena sinar matahari yang masuk. Ia melihat bantal disampingnya. Tiba-tiba ia panik. Ia mengingat kejadian semalam. Tanpa pikir panjang, Vale berlari keluar kamar.
Ia mendengar seseorang sedang bersenandung didapur. "Nicole!"
Nicole menyimpan piringnya dimeja. Ia menatap Vale dengan senyuman manis dibibirnya. "Kau sudah bangun?"
"Kita harus bicara!" ucap Vale gugup.
Senyuman Nicole menghilang. Ia bingung melihat Vale seperti itu. "Ada apa?"
"Aku minta maaf. Aku minta maaf atas apa yang terjadi tadi malam. Itu tidak seharusnya terjadi. Aku menyesal. Aku minta kau jangan ingat-ingat kejadian tadi malam."
Dengan cepat Nicole melayangkan tangannya di pipi Vale. Bibirnya bergetar karena marah. Air matanya keluar dengan cepat. Tangannya bergetar akibat kerasnya tamparan pada pipi Vale.
"Kau....." ucapnya gugup sambil menunjuk wajahnya dengan telunjuk.
"Pukul aku! Aku memang salah." ucap Vale kesal.
Tanpa banyak bicara, Nicole pergi keluar. Ia membenci pria didepannya. Ia berlari untuk cepat sampai di tempat yang membuatnya nyaman. Ketika sampai di istal, ia membukanya dengan keras dan menutupnya perlahan. Tubuhnya menyandar pada pintu. Ia menutup wajahnya kecewa. Dan ia mulai menangis tersedu-sedu. Ia menutup mulutnya dengan pakaiannya agar tangisannya tidak terdengar.
Ia tidak menyangka Vale akan begitu menyakitinya. Vale telah menyesali kejadian yang terjadi antara mereka tadi malam. Ia terlalu kecewa untuk menyadari bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
"Lady..."panggil Elissa
"Pergilah Elissa, aku tidak pantas dikasihani." Isak Nicole.
"Buka pintunya, Lady. Kita bisa bicara. Aku akan mendengarnya." jawab Elissa cemas.
Perlahan Nicole membuka pintu. Ia berhadapan dengan Elissa dalam keadaan rapuh. Elissa memegang tangan Nicole. "Apakah begitu menyakitkan?" tanyanya.
Nicole langsung memeluk Elissa. "Aku membencinya, Elissa."
"Menangis lah nak, keluarkan semua yang terpendam didalam hatimu. Seorang Elissa akan mendengarmu."
Vale menatap meja makan yang telah tersedia berbagai masakan Nicole. Ia bersalah. Ia tidak seharusnya mengatakan hal itu pada Nicole. Ia seperti menuduh Nicole sebagai pelacur. Kesuciannya telah direnggut olehnya. Namun ia malah meminta maaf karena telah melakukan kesalahan itu.
Vale merasakan ada yang berdiri dibelakangnya. Ia membalikkan tubuhnya dan terkejut melihat ibu dan ayahnya berada diistana nya. "Mama?"
"Mama sungguh kecewa padamu. Mengapa kau bisa tinggal ditempat terpencil seperti ini?" Sahut Imelda marah.
"Papa dengar kau meninggalkan istrimu berminggu-minggu ditempat ini!" Duke of Vanguard mulai mengeluarkan suaranya. Mereka berdua menatap Vale untuk meminta penjelasan.
"Ya, itu semua memang benar." Jawab Vale lemas. Ia ingin membantah tapi tidak ada gunanya. Semua cerita kedua orangtuanya benar dan memang terjadi.
Tiba-tiba Elissa datang bersama Nicole. Imelda terkejut melihat Nicole. Ia tampak rapuh dan kacau. "Ada apa sayang? Mengapa kau seperti ini?" tanya Imelda panik.
Sedangkan Vale merasa hatinya bergetar dengan hebat. Ia menyakiti Nicole luar dalam.
"Aku.. aku.. aku ingin berpisah dengan Mylord. Maafkan aku telah mengecewakan kalian" seru Nicole dengan tubuh bergetar dan berurai airmata. Ia menundukkan kepalanya pada kedua orangtuanya.
Vale membelalakkan matanya. Ia terkejut luar biasa. Tidak menyangka Nicole akan mengatakan itu didepan kedua orangtuanya. Tidak, ia tidak mau berpisah dengan Nicole. Ia menggelengkan kepalanya tanpa melepaskan tatapannya pada Nicole.
Imelda terharu melihat kesakitan Nicole walaupun ia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Iapun menghampirinya dan memeluknya. "Aku menyetujuinya, sayang. Maafkan aku karena melibatkanmu pada situasi seperti ini."
Vale tidak dapat melakukan apapun. Ia hanya menatap Nicole penuh penyesalan.
"Elissa, bawa Nicole ke kamar. Jangan biarkan ia seorang diri. Kau harus terus menemaninya." Ucap Imelda.
"Kau puas?"tanya Xavi marah.
Vale menunduk. "Aku memang bersalah, papa.”
"Kalian harus berpisah." Ucap Imelda cepat. Vale langsung menatap ibunya. "Aku tidak mau!"serunya.
"Mulai hari ini aku akan membawa Nicole pergi. Aku akan mengurus surat perpisahan kalian dengan cepat. Dan meminta pengadilan untuk menjadikan Nicole sebagai anak angkatku."
Vale membelalakkan matanya." Itu tidak mungkin, apa maksud mamamenjadikan Nicole anak angkat? Aku tidak menyetujuinya! Tidak akan pernah. Nicole selamanya hanya menjadi menantu mama. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Nicole" Teriak Vale sambil pergi meninggalkan ruangan.
Anak? Mama sudah gila! Aku tidak akan menerimanya sampai kapanpun. Nicole sudah masuk kedalam keluarga Vanguard. Selamanya. Bukan sebagai anak angkat, tapi sebagai menantu.
Vale berlari ke istal dan mengeluarkan kudanya dengan cepat. Ia langsung membawa kudanya menjauhi istana yang menyimpan segala kebusukannya pada Nicole.
Kuda Vale membawanya kesebuah sungai yang biasa didatangi Nicole. Ia menatap seluruh tempat. Tempat itu tenang, hanya terdengar suara air. Menurut Elissa, Nicole selalu menghabiskan harinya disungai ini.
Iapun turun dari kudanya dan berjalan mengitari sungai. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Kejadian semalam seharusnya membuatnya semakin menghormati dan melindungi Nicole. Nyatanya ia malah membuat hati wanita itu sakit. Ia tidak termaafkan.
Jika saja Nicole memang benar-benar menjadi anak angkat ibunya, itu berarti ia akan menjadi adik angkatnya. Vale menggelengkan kepalanya. Itu tidak boleh terjadi. Ia mencintainya. Lalu mengapa ia mengatakan hal yang menyakiti Nicole?
Iapun kembali menuju kudanya. Dengan cepat ia membawa kudanya pulang. Ia harus menghentikan orangtuanya.
"Anda sudah siap, Lady?"tanya Elisa. Ia menatap wajah Nicole dari cermin. Wajahnya terlihat lelah. Ia merasa benar-benar kasihan.
"Aku sudah siap, Elissa. Kau hanya tinggal merapikan pakaianku. " ucap Nicole sambil berdiri. Ia menatap wajah Elissa lama. Elissa memeluk Nicole dengan cepat. "Aku akan merindukanmu."
Kuda Vale membawanya pulang kerumah dengan kencang. Dari kejauhan ia melihat orangtuanya sedang berjalan menuju kereta. Kemudian dari belakang mereka terlihat Nicole dan Elissa berjalan mengikutinya. Vale semakin mengencangkan kudanya.
Ia turun dan berlari mengejar Nicole. Ia menarik lengan Nicole dengan kencang dan membuat wanita itu terkejut. "Kau tidak boleh pergi!"
Nicole menatap wajah Vale dingin. "Lepas!"
Vale menatap wajah dingin itu pertama kalinya. Sudah tidak ada raut wajah sedih. Yang ada hanya kekecewaan mendalam. Perlahan Vale melepas lengan Nicole.
"Saya dan Lady pergi, Mylord." Ucap Elissa.
Kereta yang mereka tumpangipun mulai pergi meninggalkan Vale seorang diri. Sesaat Vale termenung ditempatnya berdiri. Ia menatap kepergian kereta itu sampai tidak terlihat lagi. Suasana disana menjadi sangat sepi.
Iapun masuk kedalam rumah dan menaiki tangga. Ketika memasuki kamar, ia tertegun. Ia teringat pada kejadian tadi malam. Semalaman ia terus memeluk tubuh Nicole. Ia tidak ingin melepaskan sama sekali. Nicole begitu pasrah dan menyatu dengannya. Ia merasa dicintai olehnya.
Aargh!!! Vale berteriak dengan kencang.
Bertahun-tahun ia membenci wanita itu tanpa alasan yang jelas. Kini ia merasa dirinya tidak berguna sama sekali. Seorang pria yang tidak bertanggungjawab. Ia kini sendiri. Seorang diri di istana karena kesalahannya.
Jangan lupa mampir di karya ku juga!☺️Mari kita saling mendukung semua karya anak bangsa🇮🇩😎
_
Terima Kasih🙏 @Karolinly🤓
Tema rumah tangga angsat. Makasih