NovelToon NovelToon
Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kūkyo

Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desa Membutuhkan Besi

​Matahari baru saja menggantung di ufuk timur ketika Haruto duduk di beranda rumah, menyeruput teh hangat yang diracik dari daun mint hutan. Di hadapannya, Brom sedang duduk dengan tenang sambil mengamati kapak bayangan milik Haruto yang sedang tergeletak di atas meja kayu. Sejak resmi menjadi bagian dari komunitas kecil ini, beban di pundak sang Dwarf seolah menguap, digantikan oleh gairah yang sudah lama terkubur.

​Haruto meletakkan cangkirnya, menatap Brom dengan pandangan menyelidik. "Brom, aku sudah memperhatikan bagaimana kau terus memperbaiki peralatan kami selama beberapa hari ini," ujar Haruto membuka percakapan. "Sebagai seorang pandai besi, sejujurnya, apa yang paling kau butuhkan agar bisa bekerja dengan benar di sini?"

​Brom menoleh ke sekeliling. Matanya menelusuri setiap sudut desa. Ia melihat kapak batu yang retak di bagian ujungnya, pisau batu yang sudah berkali-kali diasah hingga menipis, dan tungku dari batu sungai yang mulai retak karena panas yang tidak merata. Ia menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang membawa aroma logam dan bara api—aroma yang telah menjadi bagian dari jiwanya selama puluhan tahun.

​"Besi," jawab Brom singkat, tegas, dan tanpa keraguan.

​Haruto terdiam sejenak. "Besi, ya. Masalahnya, kita tidak punya. Aku tidak tahu di mana tempat mencarinya di hutan luas ini."

​Mendengar kata 'besi', Elara yang baru saja selesai menghitung stok di lumbung mendekat. Ia meletakkan buku catatannya di atas meja. "Sebenarnya, ada sesuatu yang pernah aku lihat," ujar Elara dengan nada hati-hati. "Saat aku dan kelompok pengintai sedang memetakan jalur aman jauh di utara, kami pernah melihat lereng tebing yang permukaannya diselimuti batu-batu berwarna kemerahan pekat, hampir seperti warna karat. Namun, kami tidak pernah berani mendekat."

​"Kenapa?" tanya Haruto.

​"Karena tebing itu adalah sarang bagi kelompok monster besar," jawab Elara, wajahnya menunjukkan keseriusan. "Kami selalu menghindar karena risikonya terlalu besar dibandingkan manfaatnya."

​Mata Brom langsung melebar. "Batu kemerahan? Itu bisa jadi bijih besi mentah, atau setidaknya batuan yang mengandung kadar logam tinggi! Jika tebing itu mengandung endapan tersebut, itu adalah harta karun bagi siapa pun yang bisa mengolahnya."

​Haruto menggaruk kepalanya dengan bingung. "Tunggu dulu, Brom. Bukannya besi ya... besi? Maksudku, bukankah besi itu memang berbentuk batangan atau logam yang tinggal kita ambil?"

​Brom menatap Haruto seolah-olah pemuda itu baru saja menanyakan apakah matahari terbit dari barat. Ia terdiam selama beberapa detik, mencoba mencerna kebodohan yang baru saja didengarnya. "Apa kau baru saja bertanya apakah besi... adalah besi?"

​Haruto mengangguk polos. "Aku kan petani. Pekerjaanku berurusan dengan benih, tanah, dan air. Aku tidak pernah belajar tentang bagaimana cara membuat perkakas. Bagiku, alat-alat besi itu muncul begitu saja di toko."

​Brom memijat pelipisnya dengan jari-jari tangan yang kasar dan penuh bekas luka bakar. "Demi dewaku, Haruto... kau benar-benar tidak tahu apa-apa soal ini, ya? Besi itu berasal dari bijih yang terkubur di perut bumi. Kau harus menambangnya, membakarnya di suhu tinggi untuk memisahkan logam dari batuan, baru kemudian kau bisa menempanya menjadi sesuatu yang berguna."

​Haruto terbelalak. "Jadi, kita tidak hanya harus melawan monster di tebing itu, tapi kita juga harus menambang, lalu membakar batu untuk mendapatkan besi?"

​"Itulah pekerjaan seorang pandai besi," sahut Brom dengan bangga.

​Haruto hanya bisa menghela napas panjang, menyadari bahwa tantangan yang akan mereka hadapi jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. "Berarti, kita akan sangat sibuk setelah ini."

​Mereka tidak langsung berangkat. Haruto sadar bahwa ekspedisi ke wilayah monster besar bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan tangan kosong. Hari itu dihabiskan dengan persiapan yang intens. Brom mengarahkan Haruto dan anggota Ras Kelinci lainnya untuk membuat keranjang-keranjang pengangkut yang diperkuat dengan serat tanaman yang direbus agar lebih alot. Mereka membuat tandu kayu sederhana yang bisa digunakan untuk mengangkut bongkahan batu besar jika nanti mereka menemukannya. Bekal makanan pun disiapkan—daging asap Nidhra yang kaya protein dan buah kering untuk menjaga energi mereka selama perjalanan.

​Brom sesekali menjelaskan perbedaan antara sistem yang ia ketahui di kota dengan apa yang akan mereka lakukan sekarang. "Di kota," jelas Brom sambil mengikat tali pada tandu, "seorang pandai besi tidak pernah menyentuh tambang. Ada penambang khusus, ada orang yang ahli meleburkan bijih, dan aku hanya menerima logam yang sudah siap. Tapi di sini... kita adalah semuanya. Kita adalah penambang, kita adalah pelebur, dan kita adalah pengrajin."

​Haruto mengangguk, memahami beratnya tanggung jawab tersebut. "Setidaknya kita punya keahlian masing-masing. Elara tahu jalurnya, Mira dan Fira bisa berjaga dari serangan monster, dan kau... kau adalah ahlinya."

​Brom terdiam sejenak. Ia melihat sekeliling, melihat Ras Kelinci yang sedang sibuk memastikan peralatan mereka siap. Sudah lama sekali sejak ia merasa terlibat dalam sebuah proyek yang berarti. Biasanya, ia hanya menatap api di bengkelnya sendirian, memikirkan pesanan kerajaan yang tak pernah puas. Sekarang, ia sedang mempersiapkan sebuah ekspedisi untuk membangun masa depan bersama orang-orang yang bahkan tidak peduli apakah ia seorang buronan atau bukan.

​Malam harinya, suasana desa jauh lebih tenang dari biasanya. Api unggun tidak sebesar biasanya, hanya cukup untuk memberikan kehangatan kecil di bawah langit yang dipenuhi bintang. Brom duduk sendirian di pinggir beranda, menatap langit malam yang bersih. Ia teringat masa-masa pelariannya—tidur di bawah hujan, makan sisa-sisa makanan, dan ketakutan setiap kali mendengar suara langkah kaki tentara. Sekarang, ia memegang cangkir teh hangat yang baru saja diletakkan oleh Haruto di sebelahnya.

​Haruto duduk di sampingnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk waktu yang cukup lama. Pemuda itu tidak bertanya tentang masa lalu Brom, tidak menuntut janji, dan tidak memintanya untuk membuktikan kesetiaan. Kehadiran Haruto di sana hanyalah sebuah bentuk kepercayaan yang sunyi.

​"Besok," kata Haruto akhirnya, suaranya pelan namun mantap, "kita cari besi itu."

​Brom menoleh, menatap Haruto yang sedang menatap api unggun dengan pandangan fokus. Ia menyesap tehnya, merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke dadanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa di tengah Hutan Kematian yang berbahaya, ia justru menemukan kembali alasan untuk bekerja. Ia bukan lagi sekadar buronan yang lari dari kenyataan; ia adalah seorang Dwarf yang memiliki misi.

​Brom tersenyum tipis—senyuman tulus pertama yang ia tunjukkan sejak meninggalkan ibukota. "Baik," jawabnya singkat.

​Dalam keheningan malam itu, Brom tahu satu hal: besok akan menjadi hari yang panjang, penuh dengan keringat dan risiko. Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa takut. Ia merasa dibutuhkan. Baginya, itu adalah besi terbaik yang pernah ia miliki—sebuah tujuan hidup.

​Di dalam rumah, ia mendengar tawa riang si kembar Fira dan Fina yang sedang berebut kain tenun untuk bekal besok. Elara sedang memberikan instruksi terakhir kepada Mira mengenai arah mata angin dan titik-titik rawan monster. Desa ini, meski kecil dan amatir, adalah sebuah komunitas. Dan bagi Brom, itulah tempat di mana ia akhirnya memutuskan untuk menancapkan akarnya. Hutan Kematian mungkin adalah tempat orang mati bagi dunia luar, tapi bagi Brom, ini adalah tempat di mana ia terlahir kembali sebagai seorang pengrajin yang memiliki tujuan. Ia kembali menggenggam palu warisan ayahnya, tidak lagi sebagai senjata pertahanan diri yang ia genggam erat saat tidur, melainkan sebagai alat untuk membangun hari esok. Besok, mereka akan melangkah ke utara, menuju tebing merah, menuju masa depan yang ditempa dari api dan keringat.

1
Nadja 🎀
seruu merasa baca manga.. mengingatkan manga itu yg Isekai itu
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nadja 🎀
bagus ceritanya ✨
ラマSkuy
keren Thor mirip dua manga yang pernah kubaca tentang terpanggil ke dunia lain dan membangun desa didunia lain 👍👍
Nadja 🎀
seruuu bgt lanjut!
ラマSkuy
emang kehidupan santai itu paling enak untuk orang introvert 😁
ラマSkuy
mirip sekai nonbiri bertani didunia lain 👍
ラマSkuy
akhirnya ada juga novel yang bukan fantasy timur 👍👍 nice Thor lanjutkan
NURC
menarik ceritanya, untuk referensi saya yg menulis novel fantasy juga
Nurul
masih menantin apakah sampai tamat atau tidak/Doubt/
Luthfi Afifzaidan: tetap sehat n semangat thor
total 2 replies
Fiks_imajinasiku
Thor dagig asap itu tanpa api kalau mau berhasil, pakai inkubasi tungku besar bisa dari batu atau kayu yang dilapisi tanah liat jadi asapnya terpokus ke daging tidak menyebar keluar, juga cara panggang gunakan tanpa api dengan cara menekan api menggunakan daun tua atau hijau bukan kering.
Kūkyo: Makasih banyak infonya, Kak.
Mungkin bisa saya pakai di bab-bab selanjutnya. Soalnya di bagian yang sekarang Haruto juga belum punya pengetahuan tentang teknik seperti itu, jadi saya usahakan perkembangannya bertahap. Terima kasih sudah berbagi ilmunya.
total 1 replies
Fiks_imajinasiku
nice thor, apakah akan ada eps 2 dengan ambisi mendirikan kerajaan di hutan?, semangat 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!