Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Perhiasan Angel.
...~•Happy Reading•~...
Bagas mengambil kantong di atas meja makan lalu ikuti masuk ke kamar. Mathias menggelengkan kepalanya, saat melihat kamar yang berantakan.
"Bagas, tutup pintu kamarnya." Mathias meminta demikian, sebab dia mau membuka jendela ke arah balkon, agar bisa ada pergantian udara.
"Tolong angkat penutup kasurnya, gulung saja dan masukan ke dalam kantong sampah. Saya akan periksa lemari pakaian." Mathias mengeluarkan kunci dari kantong celananya.
Ketika melihat isi lemarinya, Mathias bernafas lega. Karena semua isinya tidak diotak-atik oleh Angel. Mathias mengijinkan Angel mengunakan lemari yang satu, sedangkan semua miliknya dia pindahkan ke lemari satunya lagi dan kunci.
Melihat lemarinya aman, Mathias membuka lemari yang digunakan oleh Angel. Dia sangat terkejut melihat isinya. Banyak terdapat lingerie berbagai warna dan bentuk.
"Bagas, buka satu kantong sampah." Mathias langsung mengambil semua lingerie tersebut dan memasukan ke dalam kantong sampah. Dia mengambil semua pakaian dalam Angel dan memasukan jadi satu kantong.
"Bagas, ambil spidol dalam kantong belanjaan itu, dan tulis di kantong sampah ini DALAM. Supaya kita tau, mana yang harus dibuang." Mathias merasa jijik saat menyebutnya.
"Bagas, mari bantu angkat baju-baju ini dan letakan di lantai. Kita akan memilahnya. Mungkin ada yang bisa disumbangkan." Mathias mulai mengeluarkan pakaian Angel yang banyak dari dalam lemari.
"Semua kaos-kaos ini masukan ke dalam satu kantong dan tulis KAOS di kantongnya. Agar muda membedakan untuk di sumbang kemana." Mathias terus memberikan petunjuk kepada Bagas.
Sebelumnya Mathias sudah minta Bagas membuang ke tempat sampah. Tetapi setelah dipikirkan lagi, lebih baik disumbangkan kepada orang yang membutuhkan.
Setelah melihat kaos-kaos Angel yang masih baik dan bagus, Mathias terpikirkan untuk diberikan kepada anak-anak panti asuhan yang pernah dibelanya dalam kasus TQ.
"Baju-baju yang ini mau disumbangkan ke mana Pak? Baju-baju ini sangat mahal." Ucap Bagas, ketika melihat baju-baju pesta Angel yang bagus-bagus dan mahal.
"Terserah mau diapakan, yang penting jangan ada sepotong pun yang tertinggal dalam apartemen ini." Mathias berkata sambil mengeluarkan baju Angel.
"Baik, Pak. Serahkan sama saya, nanti besok semua ini akan diangkut dari sini." Bagas teringat pada temannya yang punya butik, karena ada banyak baju mahal yang belum dipakai. Masih ada label harga yang menempel.
Bagas menggelengkan kepalanya, membayangkan jika Angel menikah dengan bossnya. 'Wuuaooh... Kantor bisa ditutup.' Bagas dalam hati dan tersenyum sendiri.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Tanya Mathias, saat melihat senyum di wajah Bagas.
"Melihat semua ini, saya tadi membayangkan. Jika bapak jadi menikah dengan Mba Angel, gaswaaattt." Bagas tidak meneruskan, tapi kembali tersenyum.
"Saya tahu yang ada dipikiranmu, pasti akan sering terlambat terima gaji." Mathias jadi tersenyum dengan apa yang diucapkan.
"Bukan itu, Pak. Lebih dari itu. Bukan terlambat terima gaji, tetapi tidak terima gaji karna kantor bapak tutup. Hehehehe..." Ucap Bagas sambil tertawa. Mathias pun ikut tertawa, tetapi hatinya bergidik membayangkan yang diucapkan Bagas.
Setelah semua pakaian dikeluarkan, Mathias melihat sebuah kotak di dasar lemari. Ketika dibuka, Mathias lebih terkejut dari sebelumnya.
"Wanita ini benar-benar penguras yang super." Mathias menunjukan isi kotak perhiasan kepada Bagas, membuat Bagas melongo.
"Lepasin satu kantong belanjaan itu, biar saya mau memasukan kotak ini. Kau ambil surat-surat mobil dan simpan." Mathias berkata kepada Bagas yang masih terdiam, tidak bisa berkata-kata.
"Apakah Mba Angel ada punya mobil, Pak?" Tanya Bagas takjub, seakan tidak percaya.
"Iya. Ini surat-suratnya, mobil Pak Erwin. Nanti setelah ini, kau bantu jual. Pak Erwin sudah berikan kepada kita untuk tangani kasus TQ.".
"Astagaaa, Mba Angel kuras kering, riiing..." Bagas mengambil surat-surat mobil dari tangan Mathias lalu keluar untuk simpan dalam tasnya, agar tidak terselip diantara baju-baju.
"Apakah bapak punya kunci mobilnya?" Tanya Bagas setelah kembali ke kamar dan menyadari, dia hanya membawa surat tanpa kunci.
"Nanti setelah ini, kita periksa isi tasnya. Mungkin kunci mobil ada di dalam tas itu." Mathias menebak, karena dia tidak menemukan kunci mobil dalam kamar dan lemari. Bagas mengangguk mengiyakan.
Mathias belum pernah membuka tasnya, jadi dia tidak tahu apa saja isi tas Angel. Mathias melihat juga, Angel memiliki beberapa tas bermerek dan masih dalam kantongnya.
"Bagas, ini sekalian kau bawa ke temanmu." Mathias menyerahkan beberapa kantong tas. Ketika Bagas mengintip isinya, kembali dia melongo.
"Mba Angel luar binaszaaa. Pasti sekarang lagi demam mikirin ini semua." Bagas membayangkan Angel harus kehilangan barang-barang yang ada di hadapannya.
"Tapi dia lebih cendrung untuk minta tas yang malam itu. Mungkin karna ada kunci mobil dan lebih membutuhkan itu dari pada perhiasan-perhiasan ini." Mathias menepuk kotak perhiasan di lantai.
"Melihat semua perhiasan ini ada surat-suratnya, dia pasti akan berusah memintanya. Kita akan tetap simpan, karna ada yang saya rencanakan." Mathias punya rencana saat melihat kotak perhiasan Angel.
Dia berpikir, seorang wanita seperti Angel tidak mungkin melepaskan semua perhiasannya. Sehingga timbul ide dalam pemikiran Mathias untuk simpan. Tetapi tidak mau periksa apa saja perhiasannya yang banyak.
'Mungkin nanti suatu waktu, aku akan memeriksanya.' Mathias dalam hati, mengingat pekerjaan Angel yang belum terlalu jelas, tidak mungkin bisa membeli perhiasan sebanyak ini.
Dia baru beberapa kali mengikuti fashion show berskala kecil dan kontrak kerja yang ditawarkan kepadanya belum ada yang bombastis. Mathias mengingat kontrak kerja yang pernah dibicarakan dengannya.
Mathias memasukan kembali perhiasan tersebut ke dalam kantong belanjaan, lalu keluar kamar untuk letakan di samping tas kerja. Kemudian dia kembali masuk ke kamar, untuk melihat kondisi kamar mandi.
Di dalam kamar mandi ada banyak perangkat mandi Angel. Mathias membuang semua perlengkapan mandi dan make up Angel ke dalam kantong sampah. Kemudian dia bersihkan kamar mandi.
"Pak, biarkan saya yang sikat." Bagas menyusul masuk ke kamar mandi, ketika mendengar bunyi sikat kamar mandi. Mathias berdiri keluar meninggalkan kamar mandi, karena Bagas mendesak untuk membersihkan.
Mathias menuju balkon dan melihat apa yang ada di sana. Dia membuang semua handuk dan cucian yang ada di tempat jemuran handuk. Kemudian dia menutup jendela kamar, menyalahkan AC dan meletakan pengharum ruangan.
Setelah Bagas selesai membersihkan kamar mandi, mereka keluar dan duduk di meja makan. "Bagas, pesan makanan di restoran yang dekat di sini, agar kita makan dulu sebelum pulang. Jangan lupa pesan minuman juga." Mathias ingat kulkas kosong.
"Baik, Pak." Bagas mengambil ponselnya untuk pesan makanan. Mathias membuka tas kerja dan keluarkan tas kecil Angel untuk periksa isinya.
Mathias menumpahkan semua isi ke atas meja makan untuk mencari kunci mobil. Ternyata benar, ada kunci mobil di dalam tas. Matias ambil lalu berikan kepada Bagas.
"Astagaaa... Wanita ini bukan manusia, dia seperti binatang." Mathias terkejut melihat selebar surat pembelian perhiasan di tangannya. Mendengar ucapan bossnya, Bagas ikut melihat kertas yang ada di tangannya.
"Astagaaa... Ini baru di beli hari itu, Pak. Ini di Sency dan tanggalnya, saya ingat." Bagas sangat yakin, saat melihat tempat dan tanggal yang tercantum.
"Dia benar-benar seperti binatang yang tidak berperasaan. Padahal dia tahu, laki-laki itu suami orang. Apa jadinya dengan keluarganya?" Mathias bertanya serius saat melihat harga perhiasan yang sangat fantastik.
"Bagas, kau puas-puasin hidup bujang. Supaya jangan seperti laki-laki bodoh itu." Mathias geram, sambil memasukan semua yang ditumpahkan ke dalam tas Angel.
...~●○♡○●~...