Sekuel Terpaksa Menikah.
Yang langsung mau baca season dua juga boleh, ada di sini semua ya gaes.
Chelsi Amira Putri berusaha menghindari perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Namun, dia malah terjebak dalam kesalahannya sendiri. Dia menjadikan Alaska Lencana kambing hitam untuk menolongnya agar terhindar dari perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Perasaan Cinta
Matahari mulai turun, sinarnya membias sedikit meredup. Angin sepoi bergerak liar menerpa daun-daun pohon mangga. Amira memilih bersantai setelah membantu Laska membersihkan kebun belakang. Hatinya terus menggerutu, seumur-umur baru kali ini dia melakukan itu.
“Kentara sekali tidak pernah bekerja,” ejek Laska, pria itu menjatuhkan bokongnya di kursi tunggu sebelah Amira.
“Memang iya. Kenapa?”
“Gak apa sih, santai aja.”
Amira mendengkus kesal, dia menendang-nendang rumput yang tumbuh dengan liar. Sukses membuat Laska mengernyit dahi heran.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya pria itu sembari menyesap es teh miliknya.
“Banyak! Salah satunya masalah hidup dengan Om!” cetus Amira.
“Kok saya?”
“Ya iya lah, apes banget deh nikah sama Om.” Amira langsung menutup mulutnya, dia benar-benar kelepasan.
Laska menatap tak percaya sang istri, dia mendekatkan wajah. Hingga terlihat jelas wajah pucat Amira yang sedang ketakutan.
“Bukankah kamu yang ngotot? ‘Om yang hamilin aku, iya’.” Laska memperagakan bagaimana Amira berbicara, hingga membuat gadis itu kesal sendiri.
“Dahlah malas!” Tanpa memandang Laska lagi, Amira berjalan memasuki rumah. Dia ingin segera membersihkan badan.
Selesai mandi, Amira memilih duduk di balkon kamar. Tak lupa dia membawa ponsel yang selalu menemaninya akhir-akhir ini. Dia membuka aplikasi video, lalu mencari drama Korea yang sudah dia download.
Sebelumnya dia tak tahu drama-drama begini, apalagi berteman dengan Cinta, tak ada pembahasan tentang negara ginseng itu. Cinta selalu sibuk dengan buku, gadis berhijab itu lebih suka menekuni buku-buku dibanding hal-hal yang penting. Dan itu, sukses membuat Amira kesal.
“Apa kamu tidak lapar?” Pertanyaan dari seseorang mengharuskan Amira putar badan. Dia menatap jengah sang suami, selalu saja mengganggu.
“Belum. Kenapa sih Om, ganggu terus?” kesal Amira.
“Saya hanya bertanya.” Laska mendekat, dia menarik kursi di sebelah meja dan menjatuhkan bokongnya di sana.
Senja mulai terlihat, cahaya jingganya terlihat begitu indah. Lama sekali mata Laska menelisik awan, hingga dia memalingkan wajah menjadi menatap Amira.
“Apa kamu punya pacar?” Pertanyaan Laska sukses membuat Amira tersedak ludah sendiri. Dia menatap tak percaya pria tampan ini.
“Maksudnya?”
“Pacar? Kamu punya pacar? Mustahil gadis jaman sekarang tak mengerti itu,”
“Bukankah Om suamiku, kenapa harus ada pacar lagi?” Amira berbicara dengan polos. Namun sukses menggetarkan hati Laska.
Keadaan kembali hening, Laska masih bingung ingin bertanya apa lagi. Otaknya tak sinkron dengan hati, hingga membuat dia jadi linglung.
“Menurut Om, arti mencintai itu seperti apa?” tanya Amira sembari menyenderkan kepalanya di bahu Laska.
“Mendoakan yang terbaik, menjaga dia semampuku. Dan membuatnya selalu bahagia,” jawab Laska dengan suara bergetar.
“Kalau aku jatuh cinta sama Om, gimana?”
Habis sudah, Laska tak tahu harus menjawab apa. Dia bingung, sementara itu jantungnya terus berdebar. Apalagi ketika dia melihat senyum manis Amira yang selama ini selalu dia abaikan.
“Ya begitu. Memangnya kenapa? Bukannya kamu menikah hanya untuk anakmu itu,”
Amira menghembuskan napas kasar, lalu menegakkan badannya kembali. “Mungkin salah satunya itu. Tetapi wajar, bila istri mencintai suaminya.”
“Tapi saya tidak mencintaimu. Kamu bukan tipe saya.”
Berusaha kuat menahan sesak didada, Amira memalingkan wajah agar tak terlihat air mata yang hampir saja jatuh. Dia berusaha mengerti hati, bahwa saat ini, hanya nama Laska lah yang mampu menggetarkannya. Tetapi sayang, sang pemilik nama terlalu jauh untuk dia gapai.
Jujur saja selama ini Amira hanya gengsi, dia tidak ingin orang tahu. Bahwa gadis petakilan sepertinya bisa jatuh cinta. Tetapi sekarang Amira sadar, dia normal, cinta itu kebutuhan. Datang dan pergi sesuka hati.
“Ahaha, aku hanya bercanda kok.” Amira tertawa untuk meyakinkan Laska, bahwa dia benar-benar sedang bercanda.
“Saya berharap begitu,” ucap Laska kembali.
Amira terdiam, meremas rok yang ia kenakan hingga kusut. “Kalau anak ini lahir, Om bakalan cerain aku ya?” Takut-takut dia bertanya, hingga mengundang wajah kaget Laska.
“Biarkan semua ini mengalir dulu, kita hanya perlu jalani sebagaimana mestinya suami istri.”
**
Melihat anaknya yang hanya mengurung diri di kamar, akhirnya Kia berinisiatif untuk mendatangi Alfa. Sejak pulang sekolah pria itu belum juga keluar kamar, hingga membuatnya khawatir.
“Sayang, kamu di dalam?” panggil Kia, namun tidak ada jawaban. Membuatnya semakin cemas.
“Alfa!” panggilnya lagi, kali ini lebih keras.
Bruk
Terdengar suara benda jatuh. Kia langsung menempelkan telinganya di daun pintu. Namun tak mendengar apa-apa lagi, susah payah dia menahan rasa cemas. Dan terus mengetuk pintu kamar Alfa.
Kriet
“Ada apa Mi? Alfa baru bangun,” tukas Alfa dengan suara khas orang bangun tidur. Membuat Kia bisa bernapas lega.
“Kenapa enggak turun, makan?”
“Belum lapar Mi. Nanti kalau Alfa lapar pasti turun.”
“Ya sudah. Kalau gitu Umi ke bawah dulu ya. Kamu mandi sana, sudah mau Magrib.” Alfa hanya mengangguk menanggapi ucapan Kia. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar.
Sebenarnya Alfa tak tidur, dia berbohong. Sejak tadi dia hanya memandangi ponsel, menatap gambar Cinta di layar benda persegi panjang itu. Betapa cantik dan sangat menggemaskan.
Baru saja ingin duduk, dia harus beranjak kembali saat mendengar suara pesan masuk dari ponsel. Gegas dia mengambil benda pipih itu di meja dekat lemari.
Cinta Amira
[Kak, bisa kita ketemuan besok, di belakang sekolah?]
Sungguh ini di luar dugaan Alfa, apakah cintanya akan terbalaskan. Atau, akan ada kata putus di antara mereka? Alfa memilih tak peduli, dia menyimpan kembali ponsel lalu mengambil handuk dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
**
Tumis kangkung sudah terhidang di meja, terlihat sangat enak tetapi justru menakutkan bagi Amira. Dia mencoba memasak, ingin membuktikan bahwa dia bisa. Awalnya ada rasa takut, tetapi langsung ia tepis mengingat perkataan Cinta tadi di sekolah.
“Kalau kamu tidak peduli, bisa saja om Laska akan mencari wanita lain yang bisa dia andalkan. Jadi, menurutku, sekarang kamu harus giat di dapur. Nanti aku kirimin deh resep masakan enak.”
Ini bukan hobi Amira. Sedari kecil dia hanya ingin tidur dan bersenang-senang. Karena terlahir dari keluarga berada, dia lupa segalanya. Tuntutan sebagai perempuan, bahkan dia lupa dengan orang tua sendiri.
Sebelum berteman dengan Cinta, dia sering ikut balap liar. Namun selalu kalah karena sang ayah menggagalkan aksinya.
“Kamu yang masak?” Laska menarik kursi makan, lalu duduk di sana. Dia hanya menatap tumis kangkung itu, tak berniat mengambilnya.
“Iya. Om mau cobain, itung-itung sebagai juri,” papar Amira sambil tertawa pelan.
“Boleh.”
Amira mulai mengambilkan nasi dan sayur, lalu meletakkan di piring milik Laska. Pria itu langsung menerima. Tampak sekali Laska takut-takut ingin memakannya.
“Gimana Om? Enggak enak ya?” tanya Amira dengan takut-takut ketika Laska sudah memasukkan sesendok masakan buatannya.
“Jangan menyimpulkan sebelum mencoba. Lumayanlah untuk pemula.”
Amira tersenyum penuh kebanggaan saat Laska mengangkat dua jempol tangannya. Ternyata bahagia tak terlihat dari besar atau kecil hal yang kita lakukan.
Bersambung
Terima kasih saya ucapkan untuk semuanya yang sudah mau membaca cerita ini. Tetap ikuti kisah mereka, karena konflik akan segera dimulai😀😉
Kamu masih muda,Kamu juga cantik,kamu juga gak benaran hamil kan,terus kenapa harus ngemis2 cinta sama orang..
awas Lo bucin sama om om 😃