Season satu : Polisi Sang Penakluk Hati
Season dua : Antara Aku Kamu dan Dia
Season ke tiga : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU.
Berkisah tantang rumitnya perjalanan sebuah rasa yang di sebut cinta.
Angga jatuh cinta kepada Cia.
Cia yang justru jatuh cinta kepada Arfi
Dan Arfi yang masih menharapkan Sisi sang mantan Istri.
Kejutan kian menjadi, saat Cia tahu ia mencintai mantan suami sahabatnya sendiri.
***
Follow IG aku yak : @shanty_fadillah123
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu Tapi Rindu
🌺Selamat Membaca🌺
"Pak, ini benar rumahnya Alvian Atala Putra?" tanya Airin pada pak satpam.
"Lengkap banget sih, neng, nyebutin namanya," ujar pak satpam tersebut.
Airin justru tertawa setelah mendengar ucapan pak satpam yang menjaga rumah Alvian.
"Iya.... ini rumah mas Alvian, nama papanya pak Reyhan, mari saya antar ke dalam! Kalau boleh tau, mba siapa ya? saya belum pernah melihat,"
"Namaku Airin, ini pertama kalinya aku ke rumah Alvian, jadi wajar kalau anda belum kenal saya,"
Si satpam pun tersenyum, ia segera membantu Airin untuk membawa tas besar yang sejak tadi berada di tangan si cantik.
Airin berjalan pelan, menyusuri satu persatu sudut ruangan, untuk mencari keberadaan Alvian.
"Ini rumah, besarnya luar biasa, tapi nggak ada penghuninya," ucap Airin dalam hati.
"Pak, dimana tante Tania dan suaminya?"
"Kerja mba, kalau mas Alvian pasti ada di dalam kamarnya,"
"Ohh... gitu ya,"
Pak satpam pun, membuka pintu kamar anak muda, yang sudah 3 bulan ini tak pernah kemana-mana.
"Mas Al, ada yang mau bertemu anda," ujar pak satpam lagi.
"Siapa? Suruh masuk saja!"
Airin pun berjalan pelan, lalu masuk ke dalam kamar milik Alvian. Mata keduanya kini saling menatap, sosok yang sudah 3 bulan ini tak pernah berjumpa, kini saling menatap muka.
"Rin... kau!"
Alvian pun mendorong kursi roda dan mendekati keberadaan gadis tersebut.
"Pergi, Rin! Mau apa kau kemari," usir Alvian yang tak mau gadis itu melihat betapa lemah ia saat ini.
"Kenapa? Apa kau tak rindu padaku?" Airin justru bersikap semanis mungkin.
"Ri_rindu," gugup Alvian luar biasa. "Aku, tak rindu dirimu sedikitpun," kilah si tampan untuk menutupi perasaan yang sebenarnya.
"Yakin, kau tak rindu?" goda si cantik lagi.
Sungguh saat ini, Airin berusaha untuk bersikap sejenaka mungkin, meski sebenarnya hatinya sungguh hancur setelah melihat keadaan Alvian yang sebenatnya. Airin seketika paham, apa alasan Alvian tak pernah menemui dirinya.
"Pergi!" usir Alvian lagi, lalu menjauhkan kursi roda dari kebaradaan Airin.
Si cantik tak perduli, ia semakin mendekati Alvian, sebab Airin paham, bahwa saat ini Alvian hanya malu, bukan benci padanya.
"Pergi, Rin, atau....," ucapan Alvian tertahan, kini di tanganya sudah ada gelas kaca yang memang selalu ada di atas mejanya.
"Atau apa?!" todong Airin lagi seraya terus mendekat.
Namun Alvian kini memilih diam, tanganya tiba-tiba saja gemetaran.
"Apa kau mau melemparku dengan gelas itu? Jika itu membuatmu puas, lakukanlah!" titah Airin lagi.
"Haaah.. apa kau tengah menantangku, Rin?"
Praaaaaaaak!
Alvian benar-benar memecahkan gelas itu tepat di hadapan Airin, hingga membuat si cantik terkejut luar biasa.
"Al....," lirihnya.
"Pergi.... pergi.... pergi....!" ucapan itu berkali-kali keluar dari mulut Alvian, bahkan si tampan melempar apa saja yang ada di dekatnya.
Meski ketakutan, Airin tak berniat sedikit pun untuk meninggalkan anak muda itu. Airin kini justru melangkah dan sudah berada di dekat Alvian, tanpa ragu gadis cantik itu memeluk erat tubuh si tampan dan berusaha menghentikan aksinya yang sejak tadi melepar semua barang yang ada di kamarnya.
"Jangan sakiti dirimu sendiri Al! Ulahmu ini, justru membuat batinmu sakit,"
"Haaah... pergi," ucap Alvian lirih, tenaganya kini sudah tidak ada lagi.
"Aku tidak akan pergi, meski kau akan membunuhku sekalipun,"
Airin semakin mengeratkan dekapanya. Dekapan yang sangat Alvian harapkan, hangat, aman dan nyaman.
"Hm," senyum Airin mengembang sebab Alvian kini membalas dekapanya.
"Aku malu, Rin," bisiknya.
"Apa yang membuatmu, malu?"
"Keadaanku,"
"Kenapa keadaanmu? Selagi kau masih menggunakan baju, kenapa harus malu?"
"Tapi, aku,"
Lagi-lagi, ucapan Alvian tertahan, karena telunjuk Airin kini berada tepat di bibir Alvian.
"Jangan katakan apapun! Aku akan tetap ada di sampingmu," bisiknya lirih.
Senyum kini tersungging lebar dari bibir si tampan, sikap Airin benar-benar membuatnya nyaman.
"Istirahatlah, aku akan ambilkan air minum untukmu!"
5 menit kemudian, Airin datang dengan membawa segelas air hangat untuk Alvian. Si cantik melakukan hal yang benar-benar si tampan harapkan. Memperhatikanya dan perduli padanya.
"Aku bersihkan, kamarmu dulu,"
Airin membersihkan kamar Alvian yang berserakan dengan di bantu bi Nina. Ulah Alvian tadi membuat kamarnya bagaikan kapal pecah.
"Biar aku yang menyelesaikanya, terima kasih bi, sudah membantu,"
Si bibi tersenyum sumringah, karena sikap Airin yang benar-benar ramah, bahkan gadis itu terlihat tidak sombong sama sekali.
"Neng cantik siapa namanya?"
"Airin, bi,"
"Ohhh, mba Airin, salam kenal ya,"
Bi Nina pun keluar dari kamar Alvian, ia menggaruk-garuk kepala yang tak gatal di rasakanya, sebab kini ia tengah memikirkan siapa Airin sebenarnya, sebab nama itu seolah tak asing di telinganya.
"Kau istirhat, ya! Aku keluar dulu," ujar Airin kepada Alvian.
Ia pun keluar dari kamar pria yang baru saja brontak di hadapanya, Airin paham, jika Alvian saat ini merasa tertekan karena keadaan, sebab Tuhan mengambil semua nikmat yang Alvian punya, tanpa sisa.
Sssssttt...
Tangan Airin di tarik oleh seseorang, membuatnya terkejut luar biasa.
"Omm..,"
"Mau apa kau ke sini?"
"A_aku, hanya," ucapan Airin terhenti sebab pria paruh baya itu menatapnya penuh benci.
"Jangan katakan apapun, asal kau tau, anakku lumpuh itu semua karenamu, karena Nino membenci anakku, sebab Alvian selalu membelamu. Itulah sebabnya dia merencanakan pembunuhan terhadap Alvian," ungkap Reyhan dengan tatapan yang kian memancarkan kemarahan.
"Tapi om,"
"Tidak ada, tapi-tapi... pergi atau aku akan meminta satpam untuk mengusirmu,"
Airin menarik nafas panjang, ia sebenarnya tak marah akan sikap Reyhan kepadanya, sebab kenyataanya memang Alvian lumpuh karena ulah Nino... Nino yang menyabotase mobil milik Alvian sebelum kecelakaan.
"Pah, jangan marah-marah! Papa tidak punya bukti menuduh Airin, bahwa Nino mencelakai Alvian karena anak kita membela gadis ini," tukas Tania seraya mendekati Airin.
Tania tiba-tiba hadir di antara percakapan Airin dan Reyhan, ia tak setujuh jika Nino mencelakai Alvian karena selalu berpihak kepada Airin.
"Menurut pihak kepolisian, Nino melakukan itu atas dasar balas dendam, sebab anak kita telah membongkar pekerjaan haram yang di lakukan Nino bersama anak buahnya. Hancurnya sindikat jual beli narkoba yang sudah sekian lama Nino jalankan, itulah penyebab motif Nino berniat membunuh Alvian," jelas sang mama.
Reyhan terdiam, ia sebenarnya mengetahui bahwa motif Nino memang balas dendam kepada anaknya.
"Dulu polisi mengira, itu ulah musuh-musuh papa, setelah di selidiki lebih lanjut, ternyata Nino adalah otak dari semuanya." Tambah Tania pula.
Airin yang berada di sana, mulai paham titik masalah yang menyebabkan Alvian celaka, kini kadar benci di hatinya untuk Nino semakin membuncah.
"Rin........!"
Paggil Alvian dari kamarnya, yang berteriak memanggil nama gadis itu.
"Temuilah, Rin!" titah Tania.
"Tapi tante," tatapan Airin mengarah ke wajah Reyhan.
"Tidak apa-apa," Tania meyakinkan.
Tanpa pikir lagi, Airin pun segera berlari masuk ke dalam kamar Alvian, sementara Tania berbicara empat mata kepada suaminya, untuk meminta agar Airin tetap tinggal di rumahnya.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu