Side Story dari "GHEA: Cinta Lama Belum Usai"
Juna Attala yang baru saja kehilangan istrinya karena sebuah kecelakaan, sedang mencari seorang pengasuh untuk putrinya yang baru berusia dua tahun.
Lalu suatu malam, Juna yang pulang dalam kondisi setengah mabuk tak sengaja menabrak seorang wanita bernama Lilyana.
Juna menolong Lilyana dan membawanya pulang ke rumah.
Lilyana yang mengaku sebatang kara, akhirnya dipekerjakan Juna sebagai pengasuh untuk putrinya, Alsya Attala karena keduanya langsung akrab di pertemuan pertama.
Tahun berganti, kedekatan Lily dan Alsya rupanya juga menumbuhkan sebuah perasaan di hati seorang Juna hingga akhirnya Juna memutuskan untuk mempersunting Lily menjadi istrinya sekaligus ibu sambung untuk Alsya.
Namun beberapa bulan setelah pernikahan Juna dan Lily, sebuah fakta tentang kematian Emma yang merupakan mendiang istri Juna sekaligus mama kandung Alsya terungkap.
Kecelakaan yang menimpa Emma bukanlah sebuah kecelakaan biasa, melainkan sebuah pembunuhan berencana dengan Lily sebagai aktor utama pelaku pembunuhan.
Lantas bagaimana selanjutnya nasib pernikahan Lily dan Juna?
Lalu, apa sebenarnya alasan Lily membunuh Emma?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAU MENIPUKU?
"Maaf!" Cicit Lily seraya meringis pada Juna yang masih mematung tak percaya.
"Tidak! Tidak! Tidak!" sergah Juna tiba-tiba.
"Tidak mungkin, Ly! Kamu pasti menipuku!" Tuduh Juna yang hendak memeriksa lebih dalam, namun dicegah Lily dengan cepat.
"Aku tidak menipu atau berpura-pura, Jun! Aku memang sedang datang bulan!" Sergah Lily menyangkal tuduhan Juna.
"Awas!" Lily bangun dan menyambar bajunya yang tadi dilucuti oleh Juna, lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Ly!" Juna menyusul Lily masuk ke dalam kamar mandi, dan masih mengenakan underwear saja.
"Ly, itu mungkin hanya noda atau apa saja! Kau tidak boleh datang bulan!"
"Aku bahkan belum menusukmu! Kenapa kau sudah berdarah!" Cecar Juna berteriak-teriak di dalam kamar mandi dan merasa frustasi.
"Iya, ini memang sudah jadwalku datang bulan, Jun! Seharusnya malah dua hari yang lalu jadwalnya. Tapi memang kadang maju mundur begini," jawab Lily mencoba menjelaskan.
"Tapi aku akan ke luar kota selama tiga hari, dan aku belum mendapatkan hakku sebagai suami!" Juna ganti menjambak-jambak rambutnya sendiri karena frustasi.
Lily hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Juna yang sebenarnya sedikit kekanakan tersebut.
Semoga Juna tak pernah menunjukkan sisi kekanakannya ini di hadapan Alsya.
"Aku minta maaf, oke! Nanti setelah datang bulanku selesai, aku akan menunaikan kewajibanku dan kau bebas melakukan apa saja!" Tutur Lily yang sesaat langsung membuat wajah Juna menjadi sumringah. Sebelum kemudian pria itu kembali merengut pada Lily.
"Ada apa lagi?" Tanya Lily tak paham.
"Nanti pasti ada Alsya yang akan mengganggu kita! Seperti kemarin malam itu!" Sungut Juna yang tetap merengut.
"Aku nanti yang akan membujuk Alsya dan memberinya pengertian. Kemarin itu, kan Alsya manja karena sedang sakit," bujuk Lily pada Juna.
Lily meraih kedua tangan Juna dan menggenggamnya erat, lalu mengecup kedua tangan suaminya tersebut berulang kali.
"Selesaikan dulu tanggung jawabmu di kota B. Dan aku akan menunggumu pulang," ucap Lily yang kali ini tangannya sudah terulur untuk mengusap wajah Juna.
Juna menghela nafas sejenak, sebelum kemudian pria itu mengangguk dan menggenggam tangan Lily yang masih berada di wajahnya.
"Baiklah!"
Juna tiba-tiba sudah menarik Lily ke arahnya, hingga istrinya tersebut kaget.
"Jun, aku sedang-"
"Aku tahu! Tapi bukan berarti kita dilarang mandi bersama, kan?" Juna mengerling nakal pada Lily, sementara Lily langsung membulatkan kedua bola matanya.
"Ta-tapi-"
"Sssstttt!" Juna meletakkan telunjukmya di depan bibir Lily dan segera menutup tirai kamar mandi, lalu menyalakan shower. Dua tubuh yang hanya terbalut baju dalam tersebut, segera saling menyentuh di bawah pancuran air dari shower.
****
"Satu ciuman lagi," bisik Juna di depan pintu masuk bandara, saat pria itu berpamitan pada Lily.
Lily dan Alsya memang sedang mengantar Juna ke bandara kota.
"Ada Alsya!" Jawab Lily sedikit tersipu malu.
Bayang-bayang saat dirinya mandi bersama Juna tadi di bawah pancuran air shower masih saja berkelebat di benak Lily dan seolah tak mau hilang dari dalam pikiran wanita itu.
"Alsya tidak akan lihat!" Ujar Juna enteng seraya menutup mata Alsya denagn telapak tangannya, lalu mengecup singkat bibir Lily yang merekah.
Ya ampun!
Rasanya Juna ingin berlama-lama mencium bibir istrinya tersebut seperti saat mereka mandi bersam tadi.
"Papi, apa, sih?" Protes Alsya mencebik karena sang papi yang tiba-tiba menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
"Apa? Papi nggak ngapa-ngapain!" Kilah Juna yang malah semakin membuat Alsya merengut dan Lily yang hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan bapak dan anak tersebut.
"Sudah masuk sana!" Titah Lily akhirnya pada Juna yang masih saja sibuk menggoda sang putri.
"Baiklah! Nanti aku telepon kalau sudah tiba!" Juna mengecup kening Lily dan Alsya secara bergantian.
"Bye, Papi nakal!" Ucap Alsya seraya melambaikan tangan pada Juna yang sudah melangkah ke arah pintu utama bandara.
"Bye juga, Tukang merengut!" Balas Juna yang juga melambaikan tangan pada Alsya.
Masih bisa Juna lihat Alsya yang semakin merengut dan menghentak-hentakkan kakinya karena dipanggil tukang merengut oleh Juna. Namun Lily sepertinya langsung bisa menenangkan putri Juna tersebut, dan dua wanita itu juga segera berbalik, lalu pulang meninggalkan bandara.
Sementara Juna baru saja akan menuju ke meja check ini, saat pria dua puluh delapan tahun tersebut tak sengaja menabrak seorang wanita yang mengenakan syal dengan logo brand terkenal serta sebuah kacamata hitam besar.
"Maaf, Nyonya! Saya tak sengaja," ucap Juna seraya memungut paperbag milik saniga tadi yang terjatuh ke lantai.
Juna mengembalikan paperbag tersebut, bersamaan dengan si wanita yang membuka kacamatanya dan tersenyum pada Juna.
"Tidak apa! Terima kasih, Juna Attala!" Ucap wanita tadi yang terang saja langsung membuat Juna tercengang saat melihta wajahnya.
Meskipun ini sudah lebih dari dua tahun berlalu, namun Juna masih ingat dengan jelas wajah wanita tersebut.
Ya,
Ini adalah wanita yang sama yang menemui Juna di kedai es krim beberapa tahun yang lalu dan menyampaikan sebuah berita yang membuat rumah tangga Juna dan Emma mulai goyah.
"Istrimu selingkuh!" Ucap seorang wanita seraya melempar beberapa foto ke hadapan Juna yang sedang duduk di kedai es krim bersama Alsya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
APA GK JERIT2 TU LIDYA DIGILIR...
RASAKN, JDI WANITA, TRLALU JAHAT DN PNGIRI SAMA SAUDARI SENDIRI..