Bella sudah berusia dua puluh delapan. Ia masih belum memikirkan soal pernikahan dengan siapapun. Namun, ketika adiknya dilamar orang lain ia dijodohkan dengan seorang yang bahkan tak ia kenal dan sama sekali bukan tipenya.
Bella si perfeksionis harus menikah dengan Aska si urakan. Lantas kehidupan Bella berubah drastis setelah pernikahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Etika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Baik
Aska terbangun dengan Bella di pelukannya. Ia nyaris menampar pipi Bella jika tidak ingat dia yang pertama berusaha melakukannya.
Bego! Ngapain sih?
Aska mengumpat dirinya sendiri. Ia menarik lengannya dari pinggang Bella dan segera membersihkan diri seolah-olah Bella adalah najis.
Ia berendam selama setengah jam dan mengutuk diri berkali-kali jika ingat kejadian semalam. Tapi, mengingat Bella masih sempit membuatnya tergelitik geli.
Ia pikir semua perempuan di Jakarta sudah bekas. Aska pikir semua perempuan Jakarta sudah kehilangan keperawanan sejak SMP, mengingat ia pertama kali melakukannya waktu kelas tiga SMP. Cinta monyet yang menyenangkan.
Tetapi, Bella merubah pemikirannya. Rupanya Bella benar-benar menjaga bahkan setelah ia menikah.
" Ka, jangan lama-lama. Saya juga mau mandi."
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Itu suara Bella, lagipula tak ada orang lain lagi di sini selain Bella.
Aska memakai handuk dan membukakan pintu.
" Lama banget sih!" Bella menggerutu dan masuk ke kamar mandi.
Bella melotot melihat Aska menutup pintu dan kembali merendamkan badan di dalam bath tub.
" Kamu kok nggak keluar?" tanya Bella yang mulai geram.
Aska tertawa, " nggak keluar lah, Bel, kan belum goyang," Aska meledek.
Bella melirik jijik kepada Aska, dan meraih gagang pintu hendak keluar lagi.
" Mau kemana kamu?" Aska menghentikan aktivitas Bella.
" Keluar lah. Ngapain di sini?"
" Mandi dong. Mandi bareng."
Bella berbalik dan menyedekapkan tangan di depan dada, " nggak sudi!"
Aska terkekeh lagi dan berdiri, menampakkan semua tubuh polosnya. Ia berjalan mendekati Bella dan berbisik, " yakin nggak sudi?"
Aska membuka pakaian Bella dan menggendongnya ke bath tub. Aska merasakan degup jantung Bella yang kencang, tubuhnya gemetar dan hangat.
" Aska jangan macam-macam!"
Aska tak peduli. Ia mencium Bella yang kepalanya berputar-putar seperti cacing kepanasan. Ketika Bella tak berusaha menolak lagi, Aska melakukannya. Menyantuh seluruh tubuh Bella dan memasukkan miliknya pelan-pelan.
Dan mereka telah menjadi satu. Beradu dalam satu irama ditemani gemeeicik air dan udara pagi yang menyejukkan.
Akhirnya, mereka menjadi suami istri sungguhan.
***
Pagi ini, keadaan Diana jauh dari baik. Semenjak seseorang bernama Doni mengajaknya berjalan-berjalan dan bermain-main hingga malam, Diana merasa pikirannya kembali tenang.
Pagi ini, Doni mengajaknya untuk lari pagi. Lelaki itu terlihat kekar dan kuat. Diana tahu jika Doni adalah orang yang berkerja dengan Ayah Aska.
" Ayo cepet-cepatan. Yang berhasil sampe ujung sana duluan yang menang. Yang menang dapat hadiah dari yang kalah, gimana?" Doni menantang.
" Oke!" ucap Diana mantap.
Mereka berdiri bersisian, menyiapkan kuda-kuda...
" Satu... dua..." ucap Doni, membuat Diana semakin siap, " ... tiga!"
Mereka berdua lari. Doni tampak lari santai sedangkan Diana lari cepat. Dua menit pertama, posisi dimenangkan Diana, namun menit berikutnya Diana mulai lambat, bahkan Doni berhasil melampaui Diana hanya dengan berlari santai.
Di tengah pertandingan, Diana berhenti. Ia ngos-ngosan karena sudah terlalu lama tak olah raga. Ia berjalan santai sampai tempat tujuan. Ketika melihat Doni nyaris sampai, Diana berlari cepat lagi, namun terlambat. Doni sudah melewati garis finish lebih dulu.
" Jadi, nnghh," ucap Doni ngos-ngosan, " aku menang, kan?"
Diana menepi dan duduk, " jadi?"
" Jadi aku mau..." ucapnya terputus. Doni memberi Diana sebotol air mineral, " tolong jauhi Mas Aska."
Diana terkejut. Ia beringsut menjauh dari Doni. Rupanya lelaki itu hanya menjalankan tugas untuk memisahkan antara Diana dan Aska.
" Aku minta tolong sekali."
" Aku tahu, kamu pasti disuruh Om Niko. Tapi aku nggak akan menyerah. Selama Aska sayang sama saya, saya juga akan sayang sama dia."
" Kamu cinta banget sama Mas Aska?"
Diana memgangguk, " tiada tara. Cuma dia yang aku punya, Don."
Doni terdiam. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi. Di satu sisi ia harus melakukan tugasnya sebagai anak buah Ayah Aska, di satu sisi ia menempatkan diri sebagai teman baru Diana.
" Aku jatuh cinta sama Aska dari pertama kali ketemu. Selain baik dan penyayang, dia bisa paham perasaanku," Diana menerawang.
" Di, Pak Niko menyewakan apartemen tempat tinggal kamu ke orang lain."
Diana terkejut, " sejak kapan?"
" Sejak kemarin."
" Terus Aska?"
" Kamu jangan khawatir sama Mas Aska. Dia hidup baik dan tinggal di tempat yang layak sama Mbak Bella, istrinya."
Mendengar begitu, Diana merasa sedih. Rupanya Aska sekarang tinggal bersama istrinya.
" Aska nggak bahagia, Don."
" Mungkin iya, awalnya. Nanti kan kita semua nggak tahu."
Doni benar. Ayah Aska berusaha untuk memisahkan mereka berdua dengan cara menyewakan tempat tinggal mereka berdua kepada orang lain dan memindahkan Aska ke tempat yang lain bersama istrinya. Namun, dada Diana terasa nyeri jika membayangkan nantinya Aska akan mencintai Bella.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi terhadapnya jika hal itu terjadi. Yang jelas, Diana tak tahu arah lagi jika benar-benar kehilangan raga Aska dan cinta lelaki itu.
Karena Diana masih ingin hidup bersama Aska. Sampai akhir waktunya.
" Don, saya harus tinggal dimana?"
***
Bella memandangi tubuhnya di depan lemari yang bercermin besar, dari kepala hingga kaki. Ia sentuh bibirnya dan beberapa bagian tubuhnya yang paling banyak disentuh Aska.
Astaga, Bella benar-benar menyesal membiarkan Aska melakukan hal itu terhadapnya. Bella malu setengah mati bertingkah seperti itu di depan Aska.
" Aku pergi dulu," ucap Aska seraya memakai hoodie-nya.
" Mau kemana kamu?"
" Kantor Polisi."
" Kantor Polisi?"
" Mau melaporkan orang hilang."
" Orang hilang?"
" Diana."
Bella meng-oh-kan ucapan Aska. Perempuan itu kemudian berbalik dan melihat Aska yang sudah menjauh. Sekali lagi ia pegang bagian-bagian tubuh yang paling banyak disentuh Aska. Lelaki itu bahkan masih mencari Diana. Artinya, Aska masih belum bisa mencintai Bella.
Tapi mengapa ia melakukannya?
Ah, Bella tak bisa berpikir jernih pada situasi seperti ini. Bella segera mengganti handuknya dengan setelan santai berbahan katun. Menyalakan televisi, mencari tontonan yang lumayan. Paling tidak untuk melupakan tragedi di kamar mandi tadi.
Tapi, semakin dilupakan Bella justru semakin terbayang. Bagaimana Aska melakukannya dan memperlakukannya terasa lembut, halus dan hanya sedikit sakit. Kata orang jika pertama kali, pasti akan sakit sekali. Nyatanya Bella tidak sesakit apa kata orang.
Bella membuang napas. Tak menemukan acara menarik apapun, Bella memilih menelpon Ibunya. Sudah lama sekali, semenjak pernikahannya dengan Aska ia tak menghubungi ibunya.
" Hallo, Bu,"
" Hallo, Bel. Ya ampun. Akhirnya, kamu nelepon juga. Ibu kangen banget tau."
" Maaf ya, Bu. Bella kemarin-kemarin sibuk pindahan."
" Iya nggak apa-apa, Bel. Oh ya, ibu mau ngabarin kalau Adit mau ngelamar Citra dua bulan lagi."
" Dua bulan?"
" Iya, nunggu Bapakmu pulang.""
Bella bersyukur, Akhirnya keinginan adiknya akan segera menjadi nyata. Semua berkat dirinya dan berkat bantuan Aska.
Bagaimanapun, seburuk apapun Aska, ia tetap membantu Citra agar segera menikah.
***
sukses
.....semangat