NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Penjaga Atau Tawanan?

Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai jendela yang tebal, menyinari lantai marmer kamar yang luas itu. Nayara terbangun dengan perasaan bingung yang seketika berubah menjadi panik hebat saat menyadari ia tidak berada di kamarnya sendiri. Ingatan semalam berputar kembali dengan cepat—hujan deras, gang gelap, suara tembakan, dan sosok pria dingin bernama Arya Satria yang kini menguasai seluruh hidupnya.

Ia bangkit duduk perlahan, menatap sekeliling ruangan yang terasa asing namun kini menjadi tempat perlindungan sekaligus penjara baginya. Di atas meja rias sudah tersedia pakaian ganti yang pas dengan ukuran tubuhnya, serta nampan berisi sarapan sederhana namun terlihat lezat. Perutnya sebenarnya terasa lapar, tapi tenggorokannya terasa kering setiap kali ia mencoba menelan ludah.

Nayara melangkah mendekati pintu, mencoba memutar gagangnya. Terkunci. Jantungnya mencelos. Rasa takut kembali menyergap. Ia mengetuk pintu pelan, lalu sedikit lebih keras. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki berat berhenti di seberang sana.

"Nona Nayara?" suara Bima terdengar samar dari balik pintu. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Pak Bima... pintunya terkunci," ucap Nayara dengan suara bergetar. "Bolehkah saya keluar sebentar? Saya ingin mencuci muka, atau sekadar berjalan-jalan sedikit..."

"Maafkan saya, Nona," jawab Bima dengan nada sungguh-sungguh. "Itu perintah Tuan Arya. Nona belum boleh keluar kamar sampai beliau datang menjemput atau memberi izin. Tapi jika Nona butuh apa saja, katakan saja lewat pintu ini, saya akan siapkan."

Nayara menghela napas panjang, menahan air mata yang hendak menetes. Ia mundur perlahan, kembali duduk di tepi tempat tidur yang empuk namun terasa sangat dingin. Di luar sana, orang tuanya pasti sudah mulai gelisah, teman-temannya mungkin bertanya-tanya mengapa ia tidak muncul. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang dikatakan Arya semalam, kembali ke kehidupan lamanya saat ini sama saja dengan membawa maut bagi orang-orang yang ia sayangi.

Tak berapa lama, pintu terbuka dari luar. Arya berdiri di sana, mengenakan kemeja putih bersih yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan kekar yang membalut otot yang terlatih. Wajahnya masih setajam semalam, namun ada sedikit perbedaan—kini ia tidak memakai jas hitam yang membuatnya tampak semakin mengintimidasi.

Nayara segera bangkit berdiri, merapatkan tubuhnya ke sisi tempat tidur seolah ingin menghilang ke dalam dinding. Tatapan Arya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti tepat pada wajah gadis itu.

"Kau belum makan?" tanyanya singkat, melangkah masuk dan menutup pintu kembali.

"Saya... saya belum lapar," jawab Nayara menunduk, tak berani menatap mata pria itu.

Arya mendekat, membuat Nayara semakin menekan punggungnya ke dinding. Pria itu berhenti berjarak satu langkah darinya, lalu menatap lekat wajah pucat gadis itu.

"Di rumah ini, kau akan makan, tidur, dan berperilaku layaknya penghuni rumah ini," ucapnya tegas. "Bukan karena aku menyayangimu, tapi karena aku butuh kau dalam keadaan sehat dan waras. Jika kau sakit atau lemah, kau hanya akan menjadi beban bagiku."

Kata-katanya terdengar kasar dan dingin, namun entah mengapa cara bicaranya begitu teratur, seolah ia sedang menetapkan aturan yang harus dipatuhi demi kebaikan bersama.

"Duduklah. Makanlah," perintahnya lagi, kali ini nadanya sedikit lebih rendah namun tetap tak bisa ditawar.

Nayara mengangguk pelan, duduk kembali dan mulai menyantap sarapannya dengan tangan yang masih gemetar. Arya berdiri tak jauh dari sana, bersandar pada lemari pakaian sambil melipat tangan di dada, mengawasinya terus-menerus. Setiap kali Nayara menoleh sedikit, ia selalu mendapati tatapan tajam itu tak lepas darinya.

"Apakah... apakah saya benar-benar tidak boleh menghubungi Ayah dan Ibu?" tanyanya tiba-tiba, memberanikan diri meski suaranya nyaris tak terdengar.

Rahang Arya mengeras seketika. "Bima sudah mengurusnya. Mereka diberitahu kau ditempatkan di asrama kantor karena ada tugas mendesak yang harus diselesaikan berhari-hari. Jika kau menelepon atau datang ke rumah, jejakmu akan terbaca oleh musuh-musuhku. Dan saat itu terjadi, kau bukan satu-satunya yang akan mati."

Kalimat itu menampar kesadaran Nayara sekali lagi. Ia mengangguk pelan, menelan ludah dengan susah payah. "Baiklah... saya mengerti."

Arya melangkah maju, mengambil kursi di seberang meja makan lalu duduk berhadapan dengan gadis itu. "Sekarang dengarkan aturan yang harus kau ikuti selama di sini. Pertama, jangan pernah mencoba melarikan diri. Penjagaan di luar sangat ketat, dan kau pasti akan tertangkap sebelum kau sampai di gerbang. Kedua, jangan bertanya hal-hal yang tidak perlu tentang urusanku. Kau cukup tahu apa yang perlu kau ketahui. Ketiga, jangan berbicara sembarangan pada siapa pun yang kau temui di rumah ini, kecuali Bima atau aku sendiri."

Ia berhenti sejenak, menatap lekat mata Nayara yang mulai berkaca-kaca. "Dan yang terakhir... jangan berharap aku akan menjadi pria yang lembut atau penuh kasih sayang. Aku bukan pahlawanmu, Nayara. Aku adalah orang yang kau temukan di tempat pembunuhan semalam. Satu-satunya alasan kau masih bernapas hari ini adalah karena aku memutuskan begitu."

Nayara meletakkan sendok dan garpunya perlahan. "Lalu kenapa? Kenapa Anda tidak membiarkan saya mati saja semalam? Bukankah lebih aman jika tidak ada yang tahu apa yang terjadi di gang itu?"

Arya terdiam. Matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menghadap kota Semarang yang mulai terang benderang. Bayangan masa lalu kembali melintas di benaknya—seorang wanita yang dulu ia cintai, yang memiliki mata persis seperti gadis di hadapannya ini. Wanita yang harus ia korbankan demi keamanan organisasinya.

"Karena," jawabnya pelan, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha menahannya, "membunuh orang yang tidak bersalah... adalah hal yang tidak akan pernah aku lakukan lagi."

Kalimat itu keluar begitu saja, dan seketika suasana di ruangan itu berubah. Ada sisi lain dari Arya yang tersembunyi di balik topeng kekejamannya—sebuah penyesalan mendalam yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

"Namun jangan salah paham," lanjutnya cepat, kembali memasang wajah dinginnya. "Itu bukan berarti aku membiarkanmu bebas. Kau akan tinggal di sini, di bawah pengawasan ketatku. Sampai aku yakin rahasia itu aman, dan kau tidak akan menjadi ancaman bagiku."

Nayara hanya bisa diam, merasakan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi ia takut setengah mati pada pria yang duduk di hadapannya. Namun di sisi lain, ia mulai menyadari bahwa pria yang dikenal sebagai pemimpin mafia kejam itu ternyata memiliki luka yang tak terlihat, luka yang mungkin lebih dalam daripada apa yang bisa ia bayangkan.

"Baiklah," ucap Nayara akhirnya, menatap lurus ke manik mata Arya. "Saya akan menuruti semua aturan Anda. Saya berjanji tidak akan melarikan diri, dan tidak akan memberitahu siapa pun tentang apa yang saya lihat semalam. Tapi tolong... janjilah Anda tidak akan mencelakai orang tuaku."

Arya menatapnya lama, lalu perlahan mengangguk. "Selama kau menuruti perkataanku, mereka akan aman. Dan kau pun akan aman."

Ia bangkit berdiri, berjalan menuju pintu. "Selesaikan sarapanmu. Nanti Bima akan mengantarmu berkeliling rumah, tapi ingat—hanya di area yang diizinkan. Jangan mencoba melangkah keluar pagar."

Saat Arya hendak membuka pintu, Nayara tiba-tiba memanggilnya. "Tuan Arya..."

Pria itu berhenti, menoleh sedikit tanpa membalikkan badan sepenuhnya.

"Terima kasih," ucap Nayara lirih, meski ia sendiri tak yakin harus berterima kasih atas apa—atas nyawanya yang terselamatkan, atau atas penjara yang kini ia tempati.

Arya tak menjawab. Ia hanya melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, meninggalkan Nayara sendirian dengan ribuan pertanyaan yang kini mulai merayap di benaknya. Siapa sebenarnya Arya Satria? Apa yang menyembunyikan di balik tatapan matanya yang kelam? Dan yang paling penting—bagaimana nasibnya selanjutnya, terkurung di antara perlindungan dan ancaman dari pria yang kini menjadi tuannya?

Di luar kamar, Arya menyandarkan punggungnya ke dinding sejenak, menutup matanya rapat-rapat. Hatinya yang selama ini keras bagaikan batu, seakan retak sedikit demi sedikit setiap kali ia melihat wajah Nayara. Ia tahu membawa gadis itu masuk ke dalam hidupnya adalah kesalahan besar. Namun melihat ketulusan yang terpancar dari mata gadis itu, ia tak sanggup melakukannya. Entah ini adalah awal dari perubahan, atau justru awal dari kehancuran yang lebih dahsyat lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!