NovelToon NovelToon
Bulan Untuk Bintang

Bulan Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.

Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.

"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."

"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."




Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Embun pagi masih menempel tebal di kaca jendela ketika mata mungil Talita terbuka. Sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya yang mulai kusam, bocah empat tahun itu merangkak turun dari tempat tidur. Suara langkah kaki kecilnya yang bertelanjang menapak halus di atas lantai, mencari sang mama.

​"Mama Rembulan...?" panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur. Matahari di luar sana sudah terang, tapi merasa ada yang aneh. Kenapa sang mama tidak membangunkan untuk shalat? Menenami mandi, dan menyisir rambutnya seperti biasa.

"Ada apa Talita?" Tanya Ratih menyembulkan setengah kepalanya. Wanita itu sebenarnya masih mengantuk, tapi mendengar panggilan cucunya yang kencang itu merasa terganggu.

"Lita mencari Mama, Nek. Apa Nenek melihat?"

"Paling sudah minggat! Kenapa sih? Kamu itu selalu mencari Dia terus?!" Tandas Ratih, entah memang karena tidak sayang kepada cucu, atau karena tidurnya terganggu, tapi Ratih tidak bisa membedakan bahwa saat ini sedang bicara dengan anak kecil yang harus ia jaga hatinya.

Talita seketika menunduk memeluk bonekanya lebih erat, seolah benda tersebut membuatnya lebih nyaman daripada wajah sang nenek yang menakutkan.

Mungkin saja Ratih iri, di rumah ini masih ada Mentari yang jelas ibu yang melahirkan, ada Sherly dan juga dirinya, tapi selalu wanita asing itu yang Lita cari.

Alih-alih menghibur bocah itu, Ratih justru kembali ke kamar dan menutup pintu.

​Air mata Talita mulai menggenang, bibir melengkung ke bawah, anak itu sedih karena merasa dimarahi neneknya. Lantas apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada, selain melangkah ke dapur mencari Bulan.

​"Bibi... Mbak Entin... Mama mana?" Tanyanya sambil menangis.

​Bibi dan Entin seketika menghentikan kegiatan, keduanya saling pandang, mereka baru menyadari jika sejak subuh belum melihat Bulan.

​"Mungkin masih di kamarnya sayang..." jawab Bibi terburu-buru berlutut menyamai tinggi anak majikannya itu. "Talita kok nangis..." bibi menyusut air mata Lita dengan jari.

"Hiks hiks hiks! Lita cuma tanya Mama, tapi Nenek marah Bi..." ucapnya jujur sambil terus menangis.

Bibi memeluk Talita erat, pandangannya tertuju ke arah pintu kamar Ratih dan Sherly. "Kapan Keong racun dan Mak Lampir itu pergi dari rumah ini?"

Bibi yang memang sudah menahan kesabaran karena sering dimarahi Ratih dan Sherly, berharap mereka cepat pergi, tapi sayangnya ia hanya seorang art yang tidak punya pilihan kecuali patuh.

 "Atau di kamar Bunda..." ucap bibi mengurai pelukannya.

​"Mungkin sedang memeriksa Bunda... Mbak Entin juga tadi nyapu di depan belum ketemu Dokter Rembulan," sahut Entin, melihat mata Talita yang merah itu tidak tega, lalu menuntun ke kamar Mentari. Entin sudah hafal, sebelum Bulan berangkat, selalu memeriksa Mentari terlebih dahulu. Sebab, pagi ini jadwal masuk pagi.

"Mama Bulan dari pagi belum ke kamar sayang... mungkin sedang mandi," jawab Mentari lirih, saat Talita menceritakan tidak ada Bulan.

"Talita tidak usah menangis, Mama Bulan tidak mungkin kemana-mana kok," Tangan kurus Mentari mengusap punggung tangan Lita. Ia yakin sahabatnya itu akan menyayangi putrinya dengan tulus.

"Ayo, Neng, Mbak temani ke kamar Mama," Entin menuntun Talita naik tangga. Tepat di depan pintu, ia mengetuk perlahan-lahan. Tidak ada jawaban, Talita yang sudah tidak sabar mendorong gagang pintu tanpa Entin duga.

 Sepi di kamar itu, Talita menatap sosok sang papa yang masih pulas di atas kasur. Bahkan aroma parfum lavender khas mamanya hanya tersisa tipis di udara. Anak itu mencari ke kamar mandi, tidak menemukan sang mama. Kemudian balik badan kembali ke pinggir ranjang. Pandangan mata bulat itu tertuju pada lemari pakaian yang terbuka sedikit.

Perasaan aneh lagi-lagi menelusup di dada, tidak biasanya mama Bulan tidak menutup pintu lemari. "Jangan pernah membiarkan lemari pakaian terbuka sayang, nanti ada debu atau serangga masuk."

Nasehat Bulan beberapa waktu yang lalu sudah membekas di telinganya. Kaki kecil itu bergerak ke depan lemari, rasa cemas seketika menyelinap di dada. Otak cerdasnya segera menangkap bahwa sang mama telah pergi, karena rak lemari pakaian sudah kosong.

"Papa... Mama kemana?" Tanyanya disertasi tangis kencang.

"Sayang..." Bintang segera turun dari tempat tidur memeluk putrinya.

"Mama kenapa pergi nggak bilang-bilang, Pah?" Tanya Talita disela-sela isak tangis.

Bintang tertegun menatap putrinya, tenggorokan tercekat, entah jawaban apa yang akan ia berikan. Jika ia jujur sama saja menambah beban pikiran Talita.

"Mama ingin menginap di rumah Mbah Putri untuk beberapa hari sayang..." jawab Bintang pada akhirnya berbohong.

"Kenapa nggak pamit Lita?" Talita tampak kecewa dan tidak percaya. Biasanya kemana pun setiap mama ingin pergi sudah pamit jauh-jauh hari.

"Perginya mendadak sayang... Sekarang Lita mandi sama Mbak Entin, pagi ini Papa mau menjemput Mama, terus nanti siang kita menjemput Mbah Putri ke rumah sakit ya..." papar Bintang.

Talita akhirnya mengangguk lalu keluar kamar sambil membersihkan air matanya.

Bintang mendengus kasar, saat ini ia masih bisa menenangkan putrinya, tapi bagaimana nanti jika Rembulan tidak pulang ke rumah mami?

Bintang ingin segera mandi, tidak mau membuang waktu. Pagi ini juga harus ke rumah mami menjemput Bulan, karena hari ini jadwal masuk pagi. Banyak yang akan Bintang lakukan hari ini, terutama mengenalkan Rembulan kepada mama.

Sebelum beranjak, Bintang melacak nomor handphone Bulan terlebih dahulu, kemana perginya saat ini, tapi sama sekali tidak ada jejak. Bintang juga mencoba menghubungi Bulan ternyata tidak aktif.

Bintang hendak meletakkan handphone di atas meja tapi menariknya kembali, saat ingatannya tentang video kemarin siang muncul di kepala. Tangannya klik salah satu medsos, berharap video dirinya tidak lagi beredar. Namun, mata Bintang seketika mendelik gusar.

"Aagghhh... Sial!" Bintang membanting handphone miliknya ke atas kasur.

...~Bersambung~...

1
Teh Yen
dengarkan mentari bagaimana kelakuan ibu d adik tirimu itu huuuh dua dua nya seperti ular d rmh mu sendiri tau engga licik mereka tuh
Teh Yen
salahmu sendiri kenapa tidak tegas kenapa diam.saja.tidka.membela bulan hanya bertengkar lalu pergi begitu saja dasar huuh 😤 sudha bagus bulan pergi dari rmh kalian bair dia Tidka tersiksa lagi
kamu masih bisa memperbaiki keadaan usir aj ibu mertua d iparmu itu mereka yg membuat semuanya jd kacau kaku kamu bisa itu juga 😏
Eka ELissa
mo ngapain mentari udh bner usir aj tu duo keong racun dari rumh Klian...😡😡😡😡
falea sezi
ini mentari egois jadiin. bulan nany doank. buat anak nya 😒 samaa biar ada yg ngurus suami nya 🤣 egois bgt tau mau. mati aja nyusain
Buna Seta: 🤣🤣🤣❤❤❤
total 1 replies
Eka ELissa
kmu cih gak tegas⭐⭐⭐ bintang giliran bulan 🌙🌙🌙 prgi aj bingung....🤦🤦🤦
Perempuan
Bintang, kamu masih bisa tidur pulas, emang lambat banget gerakannya/Panic//Panic/
Sri Devi Oktaviani
ipar adalah maut 😄
tiara
ayo Bintang usir ibu mertuamu sama iparmu yang ga ada akhlak, tinggal cuma numpang aja ga tau diri
Agunk Setyawan
laki" qo oon
Teh Yen
harus bagaimana memberitahu ibu mertuamu yg ngeyel itu yah ,, suruh aj mentari yg cerita semuanya bintang coba percaya engg tuh ibu mertuamu tp aku yakin mereka pasti akan menghasut mentari agar membenci rembulan
Eka ELissa
ksian Talita jadi korban... khilngan mama nya kan....
Eka ELissa
nah kan....
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Eka ELissa
mknya kmu yg tegas jgn mbut mbut aj...dong....klau gini ribett kan..🤦🤦🤦
falea sezi
kapok makanya bulan ngapain sok baik ma sahabat 🤣🤣 mau mati aja nyusain lu mentari sahabat prettt bkin bulan di hujat sana sini 😒😒 mati aja lu mentari gk tau diri amat lu
mery harwati
Belum lagi kenyataan yang harus Bulan hadapi di tempat kerja, pasti lah video itu udah viral & sebagian orang di tempat kerja Bulan udah nonton termasuk ibu kandung Bintang sendiri, di tempat kerja tekanan psikologis Bulan makin berat gegara video viral itu 🥴
Setyowati Setyowati
karakter bintang kurang tegas , terlalu plin-plan ...dan Bulan harusnya dlm perdebatan jangan mau kalah SM Serly dan ibunya ..mereka cuma mau depak kamu dan Serly yg bakal menggantikan posisi mentari ..karena jiwa pelakornya meronta "
tiara
kasihan Bulan udah nikah ga sesuai keinginan eh malah dibuat sakit hati sama mertua ibu dan adiknya mentari,udah usir aja tuh orang ga punya hati mah mereka cuma pengen harta aja tuh
Agunk Setyawan
Uda tau mertua sama ipar gitu tp gak ada tegas" nya malah lembek kaya kangkung
Teh Yen
huuh kenapa bukan dari siang blng begitu nya bintang huuh bikin kesel.dulu deh baru tegas hadeuuh 🙈
mery harwati
Noh Bintang liat di dunia nyata bagaimana kekuatan nitezen mengorek abis kisah asmara CEO & artis yang diberitakan dapat uang dari mantan suami ratusan juta tiap bulannya
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Buna Seta: 🤣🤣🤣🤣❤❤❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!