Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Embun pagi masih menempel tebal di kaca jendela ketika mata mungil Talita terbuka. Sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya yang mulai kusam, bocah empat tahun itu merangkak turun dari tempat tidur. Suara langkah kaki kecilnya yang bertelanjang menapak halus di atas lantai, mencari sang mama.
"Mama Rembulan...?" panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur. Matahari di luar sana sudah terang, tapi merasa ada yang aneh. Kenapa sang mama tidak membangunkan untuk shalat? Menenami mandi, dan menyisir rambutnya seperti biasa.
"Ada apa Talita?" Tanya Ratih menyembulkan setengah kepalanya. Wanita itu sebenarnya masih mengantuk, tapi mendengar panggilan cucunya yang kencang itu merasa terganggu.
"Lita mencari Mama, Nek. Apa Nenek melihat?"
"Paling sudah minggat! Kenapa sih? Kamu itu selalu mencari Dia terus?!" Tandas Ratih, entah memang karena tidak sayang kepada cucu, atau karena tidurnya terganggu, tapi Ratih tidak bisa membedakan bahwa saat ini sedang bicara dengan anak kecil yang harus ia jaga hatinya.
Talita seketika menunduk memeluk bonekanya lebih erat, seolah benda tersebut membuatnya lebih nyaman daripada wajah sang nenek yang menakutkan.
Mungkin saja Ratih iri, di rumah ini masih ada Mentari yang jelas ibu yang melahirkan, ada Sherly dan juga dirinya, tapi selalu wanita asing itu yang Lita cari.
Alih-alih menghibur bocah itu, Ratih justru kembali ke kamar dan menutup pintu.
Air mata Talita mulai menggenang, bibir melengkung ke bawah, anak itu sedih karena merasa dimarahi neneknya. Lantas apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada, selain melangkah ke dapur mencari Bulan.
"Bibi... Mbak Entin... Mama mana?" Tanyanya sambil menangis.
Bibi dan Entin seketika menghentikan kegiatan, keduanya saling pandang, mereka baru menyadari jika sejak subuh belum melihat Bulan.
"Mungkin masih di kamarnya sayang..." jawab Bibi terburu-buru berlutut menyamai tinggi anak majikannya itu. "Talita kok nangis..." bibi menyusut air mata Lita dengan jari.
"Hiks hiks hiks! Lita cuma tanya Mama, tapi Nenek marah Bi..." ucapnya jujur sambil terus menangis.
Bibi memeluk Talita erat, pandangannya tertuju ke arah pintu kamar Ratih dan Sherly. "Kapan Keong racun dan Mak Lampir itu pergi dari rumah ini?"
Bibi yang memang sudah menahan kesabaran karena sering dimarahi Ratih dan Sherly, berharap mereka cepat pergi, tapi sayangnya ia hanya seorang art yang tidak punya pilihan kecuali patuh.
"Atau di kamar Bunda..." ucap bibi mengurai pelukannya.
"Mungkin sedang memeriksa Bunda... Mbak Entin juga tadi nyapu di depan belum ketemu Dokter Rembulan," sahut Entin, melihat mata Talita yang merah itu tidak tega, lalu menuntun ke kamar Mentari. Entin sudah hafal, sebelum Bulan berangkat, selalu memeriksa Mentari terlebih dahulu. Sebab, pagi ini jadwal masuk pagi.
"Mama Bulan dari pagi belum ke kamar sayang... mungkin sedang mandi," jawab Mentari lirih, saat Talita menceritakan tidak ada Bulan.
"Talita tidak usah menangis, Mama Bulan tidak mungkin kemana-mana kok," Tangan kurus Mentari mengusap punggung tangan Lita. Ia yakin sahabatnya itu akan menyayangi putrinya dengan tulus.
"Ayo, Neng, Mbak temani ke kamar Mama," Entin menuntun Talita naik tangga. Tepat di depan pintu, ia mengetuk perlahan-lahan. Tidak ada jawaban, Talita yang sudah tidak sabar mendorong gagang pintu tanpa Entin duga.
Sepi di kamar itu, Talita menatap sosok sang papa yang masih pulas di atas kasur. Bahkan aroma parfum lavender khas mamanya hanya tersisa tipis di udara. Anak itu mencari ke kamar mandi, tidak menemukan sang mama. Kemudian balik badan kembali ke pinggir ranjang. Pandangan mata bulat itu tertuju pada lemari pakaian yang terbuka sedikit.
Perasaan aneh lagi-lagi menelusup di dada, tidak biasanya mama Bulan tidak menutup pintu lemari. "Jangan pernah membiarkan lemari pakaian terbuka sayang, nanti ada debu atau serangga masuk."
Nasehat Bulan beberapa waktu yang lalu sudah membekas di telinganya. Kaki kecil itu bergerak ke depan lemari, rasa cemas seketika menyelinap di dada. Otak cerdasnya segera menangkap bahwa sang mama telah pergi, karena rak lemari pakaian sudah kosong.
"Papa... Mama kemana?" Tanyanya disertasi tangis kencang.
"Sayang..." Bintang segera turun dari tempat tidur memeluk putrinya.
"Mama kenapa pergi nggak bilang-bilang, Pah?" Tanya Talita disela-sela isak tangis.
Bintang tertegun menatap putrinya, tenggorokan tercekat, entah jawaban apa yang akan ia berikan. Jika ia jujur sama saja menambah beban pikiran Talita.
"Mama ingin menginap di rumah Mbah Putri untuk beberapa hari sayang..." jawab Bintang pada akhirnya berbohong.
"Kenapa nggak pamit Lita?" Talita tampak kecewa dan tidak percaya. Biasanya kemana pun setiap mama ingin pergi sudah pamit jauh-jauh hari.
"Perginya mendadak sayang... Sekarang Lita mandi sama Mbak Entin, pagi ini Papa mau menjemput Mama, terus nanti siang kita menjemput Mbah Putri ke rumah sakit ya..." papar Bintang.
Talita akhirnya mengangguk lalu keluar kamar sambil membersihkan air matanya.
Bintang mendengus kasar, saat ini ia masih bisa menenangkan putrinya, tapi bagaimana nanti jika Rembulan tidak pulang ke rumah mami?
Bintang ingin segera mandi, tidak mau membuang waktu. Pagi ini juga harus ke rumah mami menjemput Bulan, karena hari ini jadwal masuk pagi. Banyak yang akan Bintang lakukan hari ini, terutama mengenalkan Rembulan kepada mama.
Sebelum beranjak, Bintang melacak nomor handphone Bulan terlebih dahulu, kemana perginya saat ini, tapi sama sekali tidak ada jejak. Bintang juga mencoba menghubungi Bulan ternyata tidak aktif.
Bintang hendak meletakkan handphone di atas meja tapi menariknya kembali, saat ingatannya tentang video kemarin siang muncul di kepala. Tangannya klik salah satu medsos, berharap video dirinya tidak lagi beredar. Namun, mata Bintang seketika mendelik gusar.
"Aagghhh... Sial!" Bintang membanting handphone miliknya ke atas kasur.
...~Bersambung~...
kamu masih bisa memperbaiki keadaan usir aj ibu mertua d iparmu itu mereka yg membuat semuanya jd kacau kaku kamu bisa itu juga 😏
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban