NovelToon NovelToon
Diantara Kita

Diantara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: MonAmour19

Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minggu Pagi (15)

Festival Seni akhirnya usai. Setelah berminggu-minggu dipenuhi rapat, gladi bersih, revisi jadwal, dan kepanitiaan yang seolah tak ada habisnya, SMA Bintang Nusantara kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Koridor sekolah tak lagi dipenuhi siswa yang mondar-mandir membawa properti. Aula kembali lengang. Bel pulang tak lagi menjadi pertanda dimulainya rapat hingga sore hari.

Semuanya kembali normal.

Namun, bagi Naya, ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan karena kesibukan yang hilang. Melainkan karena seseorang yang kini tak lagi sering ia temui.

 

Sudah hampir dua minggu sejak Festival Seni berakhir. Naya kembali fokus menghadapi pelajaran, tugas, dan persiapan Penilaian Tengah Semester. Hari-harinya tetap padat, tetapi rasanya tidak lagi sama.

Dulu, hampir setiap hari ia bertemu Arga. Entah saat rapat, di kantin, di aula. Atau hanya sekadar berpapasan di koridor sekolah.

Sekarang...

Pertemuan mereka hanya sebatas sapaan singkat.

"Selamat pagi."

"Udah makan?"

"Semangat belajarnya."

Kalimat-kalimat sederhana yang berlangsung tak lebih dari beberapa menit sebelum masing-masing kembali ke kelas.

Naya berulang kali mengingatkan dirinya untuk tidak berharap lebih pada yang mungkin tidak ada. Bagaimanapun juga, kedekatan mereka selama Festival Seni memang terjadi karena mereka memiliki tujuan yang sama.

Sekarang acara itu sudah selesai. Wajar jika semuanya kembali seperti semula. Bukan begitu?

"Nay!" Suara Tasya membuyarkan lamunannya. Naya menoleh.

"Hah?"

"Kamu denger nggak sih dari tadi aku ngomong?"

Naya tersenyum canggung. "Maaf, lagi mikir soalnya." Tasya menghela napas sambil menutup buku catatannya.

"Kamu akhir-akhir ini sering bengong tau."

"Ada apa?" tanya Tasya membuat Naya menggelengkan kepalanya

"hah? nggak ada."

"Yakin?" Naya mengangguk pelan.

"Cuma capek." Tasya menatap sahabatnya beberapa detik. Ia tahu Naya sedang menyembunyikan sesuatu. Tetapi ia juga tahu...

Kalau Naya belum ingin bercerita, dipaksa pun tidak akan membuatnya berbicara.

"Yaudah."

"Kalau ada apa-apa cerita." lanjutnya, Naya mengangguk pelan

"Iya."

Bel pulang berbunyi tak lama kemudian. Siswa mulai berhamburan keluar kelas. Naya membereskan bukunya perlahan sebelum berjalan menuju parkiran sepeda(sekarang Naya ke sekola membawa sepeda).

Saat sedang memasukkan tas ke keranjang sepeda, suara motor berhenti tepat di sampingnya.

"Mau langsung pulang?" Naya menoleh.

"Kak Arga?" Arga membuka kaca helmnya sambil tersenyum.

"Iya."

"Kamu?"

"Mau latihan basket."

"Oalah." Naya mengangguk kecil. Suasana mendadak canggung.

Biasanya selalu ada rapat yang membuat mereka mengobrol lebih lama. Kini...

Tak ada alasan untuk berhenti.

"Yaudah."

"Hati-hati ya."

"Iya."

"Kakak juga." Arga mengangguk lalu menyalakan motornya.

"Oya." Naya kembali menoleh.

"Hm?"

"Jangan lupa makan." Kalimat itu diucapkan begitu saja. Sederhana, Seolah sudah menjadi kebiasaan.

Namun cukup membuat sudut bibir Naya terangkat.

"Iya." Motor Arga perlahan menjauh meninggalkan parkiran.

Naya masih berdiri beberapa detik. Tanpa sadar... Ia kembali tersenyum sendiri.

 

Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama. Kadang mereka bertemu di kantin. Kadang hanya saling melambaikan tangan dari kejauhan. Sesekali Arga mengirim pesan singkat menanyakan tugas atau jadwal pelajaran.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Sampai akhirnya...

Minggu pagi tiba.

 

Udara Kota Bandung masih terasa dingin ketika alarm ponsel Naya berbunyi pukul lima lewat tiga puluh. Ia meraih ponselnya dengan mata yang masih setengah terpejam.

Layar menunjukkan hari yang paling ia sukai. Minggu, hari tanpa seragam. Tanpa PR yang harus dikumpulkan. Dan tanpa jadwal yang terburu-buru.

Setelah mencuci muka dan mengenakan pakaian olahraga berwarna abu-abu, Naya turun ke lantai bawah. Aroma roti panggang langsung menyambutnya.

"Ibu udah bangun?" Ibunya yang sedang menuang teh tersenyum.

"Kamu juga. Mau jogging?" ucapnya kembali

"Iya."

"Seperti biasa." ucapnya sambil tersenyum membuat Ibunya mengangguk.

"Jangan lupa sarapan setelah pulang."

"Iya, Bu." Ayah Naya yang sedang membaca koran melirik sekilas.

"Hati-hati di jalan."

"Siap."

Naya mengambil botol minum dari kulkas lalu memasukkannya ke dalam tas kecil yang biasa ia bawa saat berolahraga.

"Berangkat dulu."

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

 

Taman kota masih belum terlalu ramai. Beberapa orang lanjut usia berjalan santai mengelilingi lintasan.

Ada yang bersepeda.

Ada pula yang melakukan senam bersama.

Naya memasang earphone sebelum mulai berlari kecil. Jogging adalah satu-satunya waktu di mana ia bisa mengosongkan pikirannya.

Tidak memikirkan nilai.

Tidak memikirkan tugas.

Tidak memikirkan sekolah.

Hanya menikmati udara pagi. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran, peluh mulai membasahi dahinya.

Ia memperlambat langkah untuk mengambil napas. Saat itulah seseorang menepuk pelan bahunya dari belakang.

"Naya?" Ia spontan menoleh. Dan seketika matanya membulat.

"Kak Arga?" Arga mengenakan kaus hitam sederhana dengan celana training gelap. Di lehernya tergantung handuk kecil, rambutnya sedikit berantakan karena tertiup angin, tampilan itu malah membuat Naya terpesona berkali-kal, lagi dan lagi harapan itu datang ketika melihat wajah Arga.

"Kamu juga di sini?" Naya tersenyum.

"Iya."

"Biasanya memang jogging di sini."

"Wah, kebetulan banget."

"Kakak juga?"

"Iya."

"Udah beberapa bulan." Naya tampak terkejut.

"Serius?"

"Iya."

"Kok baru ketemu?" Arga tertawa kecil.

"Mungkin jamnya beda."

"Bisa jadi." Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap sambil mengatur napas. Aneh, padahal baru dua minggu tidak mengobrol lama.

Tetapi rasanya seperti bertemu teman yang sudah lama tidak dijumpai.

"Lanjut lari?" Suara Arga memecah keheningan.

"Boleh."

"Bareng?" Naya sempat ragu sepersekian detik, Namun kemudian mengangguk, ini adalah kesempatan baginya untuk tetap dekat dengan Arga.

"Boleh." Mereka mulai berlari berdampingan. Arga sengaja menyesuaikan kecepatannya dengan langkah Naya.

"Kamu kuat berapa putaran?"

"Lima biasanya."

"Kakak?"

"Enam atau tujuh."

"Wah, pantes stamina Kakak bagus." Arga terkekeh mendengarnya.

"Nggak juga."

"Cuma udah kebiasaan." Mereka kembali berlari. Sesekali saling melempar obrolan ringan, tentang guru matematika yang terkenal galak, tentang tugas bahasa Indonesia yang baru diberikan, tentang Steven yang sempat salah mengirim file tugas ke grup kelas.

Obrolan itu mengalir begitu saja, tanpa terasa dipaksakan, tanpa jeda yang canggung.

Di tengah lintasan, Naya tiba-tiba memperlambat langkahnya.

"Nggak apa-apa?" tanya Arga.

"Aku minum dulu."

"Oke." Mereka berhenti di bawah pohon besar yang cukup rindang. Naya membuka botol minumnya lalu meneguk beberapa kali. Arga memperhatikannya sekilas.

"Kamu memang selalu bawa botol sendiri?"

"Iya."

"Lebih hemat."

"Terus kalau haus tinggal minum." Arga mengangguk pelan.

"Kebiasaan yang bagus." Naya tersenyum kecil.

"Kakak nggak bawa?" Arga mengangkat botol minum yang terselip di saku belakang tas pinggangnya.

"Bawa juga." Naya tertawa kecil.

"Kirain nggak."

"Kalau nggak bawa..."

"Nanti haus." Mereka sama-sama tertawa.

Entah kenapa.

Percakapan yang sangat sederhana itu terasa menyenangkan, tak perlu topik besar, tak perlu kata-kata manis. Cukup saling menemani di Minggu pagi yang tenang.

Dan tanpa mereka sadari...

Pagi itu menjadi awal dari kebiasaan baru yang perlahan akan mengubah hubungan mereka.

Setelah beristirahat beberapa menit di bawah rindangnya pepohonan taman, Naya kembali menutup botol minumnya. Embusan angin pagi membuat beberapa helai rambutnya tertiup ke depan wajah.

"Masih lanjut?" tanya Arga sambil berdiri, Naya mengangguk pelan.

"Putaran terakhir." ucapnya

"Siap." Mereka kembali berlari.

Langkah keduanya kini jauh lebih santai dibanding sebelumnya. Jika pada awalnya mereka masih sibuk mengatur napas, kini obrolan mulai mengalir dengan sendirinya.

Arga bercerita bahwa ia sebenarnya sudah cukup lama menjadikan jogging sebagai rutinitas setiap akhir pekan.

"Awalnya gara-gara latihan basket," katanya.

"Pelatih nyuruh jaga stamina."

"Terus lama-lama kebiasaan." Naya tersenyum kecil.

"Aku juga awalnya dipaksa Ayah, katanya jangan cuma belajar terus, lama-lama malah jadi suka, berarti sama. Sama-sama dipaksa dulu." Mereka tertawa bersamaan. Obrolan sederhana itu membuat suasana terasa ringan.

Tidak ada rasa canggung.

Tidak ada jeda yang dipenuhi kebingungan mencari topik.

Seolah-olah mereka memang sudah sering menghabiskan waktu bersama seperti ini.

...

Usai menyelesaikan putaran terakhir, mereka berjalan perlahan menuju pintu keluar taman.

Di dekat gerbang, aroma bubur ayam mulai tercium.

Beberapa meja plastik sudah dipenuhi pengunjung yang baru selesai berolahraga. Arga melirik ke arah warung kecil itu.

"Lapar?" Naya ikut melihat.

"Sedikit." Arga mengangguk.

"Kalau nggak keberatan..."

"Temenin sarapan?" Naya sempat diam beberapa detik, lalu mengangguk.

"Boleh." Mereka berjalan menuju warung itu. Pemilik warung yang tampak sudah mengenal Arga langsung menyapa ramah.

"Seperti biasa, Ga?"

"Iya, Bu."

"Lho, sekarang sama pasangannya toh?" Arga langsung menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, namun Naya yang berada di belakangnya menunduk sambil tersenyum kecil,

"semoga saja" batinnya

"eh, bukan Bu, ini teman saya namanya Naya." ucap Arga masih dengan kekehan kecilnya itu.

"oh seperti itu toh, yasudah kalau begitu buburnya dua?." tanya ibu itu membuat Arga mengangguk

"iya bu." Naya memperhatikan percakapan itu, sedari tadi dia tidak henti-hentinya tersenyum.

"Kakak sering ke sini?" tanya Naya pada akhirnya

"Hampir tiap Minggu." jawab Arga.

"Pantes ibu penjualnya hafal."

"Iya."

"Nanti juga kamu hafal." Naya tertawa kecil.

"Belum tentu." Arga hanya tersenyum tanpa membalas.

Beberapa menit kemudian, dua mangkuk bubur hangat tersaji di hadapan mereka.

Saat Naya mulai memisahkan daun bawang ke sisi mangkuk, Arga tanpa sadar berkata,

"Kamu memang nggak suka daun bawang ya?" Naya mengangkat wajahnya, lalu mengangguk dengan tersenyum kecil.

"Iya, kok tahu?" Arga tampak berpikir sejenak.

"Waktu di kantin..."

"Kamu juga misahin."

"Oh..." Naya tidak menyangka hal sekecil itu diperhatikan. Mereka kembali makan.

Sesekali saling bertukar cerita tentang masa kecil, guru favorit, sampai film yang baru saja tayang di bioskop.

Naya baru menyadari satu hal. Arga ternyata jauh lebih banyak bercanda ketika berada di luar sekolah.

Ia bahkan beberapa kali membuat Naya tertawa sampai hampir tersedak bubur.

"Hati-hati." Arga menyodorkan segelas air. Naya menerima gelas itu sambil tertawa malu.

"Makasih."

"Santai aja."

"Kebanyakan ketawa."

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Arga, Naya merasa mereka benar-benar sedang berbicara sebagai dua orang teman.

Bukan kakak kelas dan adik kelas.

Bukan ketua panitia dan anggota.

Hanya Arga Dan Naya.

...

Matahari mulai naik ketika mereka keluar dari warung. Arga mengenakan kembali helmnya.

"Rumahmu masih searah?" Naya mengangguk.

"Iya."

"Kalau gitu aku antar."

"Nggak usah, Kak."

"Nggak enak." Arga tersenyum.

"Kan searah."

"Sayang kalau motorku lewat sendiri." Kalimat itu membuat Naya terkekeh.

"Yaudah."

"Kalau gitu makasih." Sepanjang perjalanan, angin pagi masih terasa sejuk.

Tidak banyak percakapan.

Namun keheningan itu justru terasa nyaman.

Sesampainya di depan rumah, Naya melepas helm lalu mengembalikannya.

"Terima kasih."

"Sama-sama." Arga menerima helm itu. Ia sempat menyalakan motor. Namun beberapa detik kemudian mematikannya lagi.

"Naya."

"Iya?"

"Minggu depan..."

"Kamu jogging lagi, kan?" Naya mengangguk.

"Seperti biasa."

"Kalau aku ikut lagi..."

"...nggak ganggu?" Naya tersenyum.

"Tentu nggak."

"Bukannya lebih seru kalau ada teman?" Arga ikut tersenyum.

"Berarti minggu depan ketemu lagi."

"Iya."

Tanpa mereka sadari, kalimat sederhana itu bukan sekadar janji untuk berolahraga.

Melainkan awal dari sebuah rutinitas yang sedikit demi sedikit, akan membuat mereka menjadi bagian penting dalam kehidupan satu sama lain.

Di balik pagar rumah, Naya masih memperhatikan motor Arga yang perlahan menghilang di tikungan. Entah mengapa, pagi itu terasa berbeda.

Bukan karena jogging.

Bukan karena bubur ayam

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia pulang dengan perasaan ringan.

Sementara di sisi lain jalan, Arga mengembangkan senyum kecil di balik helmnya. Ia tidak tahu mengapa pagi itu terasa lebih menyenangkan dari biasanya.

Yang ia tahu hanyalah satu hal.

Ia tidak keberatan jika Minggu depan datang lebih cepat.

......................

Soon to bee

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!