"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18.Melenyapkan untuk melindungi.
Di perbatasan Desa Suka makmur yang kini diselimuti asap tebal dan bau belerang, Arya berdiri tegak di hadapan sosok raksasa yang mengerikan itu. Tanpa ragu sedikit pun, ia merentangkan tangan kanannya, dan seketika keris besar yang terbuat dari nyala api murni berwarna merah menyala muncul di genggamannya, memancarkan panas yang mampu mendidihkan udara di sekitarnya.
Rak shaka meraung panjang, menggetarkan tanah hingga bebatuan kecil berguling ke mana-mana. Sosoknya yang tinggi menjulang seolah menantang langit, mulut-mulut kecil di sekujur tubuhnya mengeluarkan suara sumbang yang menyakitkan telinga.
Arya tak menunggu lebih lama. Dengan satu lompatan yang membelah angin, ia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Tebasan api yang begitu dahsyat melesat, membelah kegelapan malam dan memotong tubuh raksasa itu tepat di tengah.
Sret!
Tanpa perlawanan yang berarti, tubuh Rak shaka terbelah dua. Api abadi yang menyertai tebasan itu segera melalap daging dan tulang makhluk itu dalam sekejap, merubahnya menjadi tumpukan abu hitam yang beterbangan diterpa angin.
Arya mendarat dengan ringan, menatap tumpukan abu itu dengan tatapan dingin dan tajam.
"Akhirnya selesai," ucapnya singkat, tegas, seolah memastikan bahwa mimpi buruk itu benar-benar telah usai.
Namun baru beberapa detik kata itu terucap, tumpukan abu hitam itu tiba-tiba bergerak sendiri. Perlahan berputar makin cepat, membentuk pusaran angin raksasa yang menyerap segala benda di sekitarnya. Bersama itu, tawa yang mengerikan, parau, dan penuh ejekan menggema memenuhi seluruh lembah.
"Hahaha... Kau benar-benar belum paham sifatku, Ba nas pati!"
Arya mengepalkan tangan erat, matanya menyipit tajam. "Apa maksudmu?"
"Maksudku..." suara itu kembali terdengar, kini lebih lantang dan penuh kemenangan. "Kau lupa siapa aku sebenarnya! Aku bukan makhluk biasa yang bisa kau musnahkan hanya dengan sebilah api!"
Seketika itu juga, seluruh abu yang beterbangan menyatu kembali dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Tubuh Rak shaka terbentuk kembali, namun kali ini jauh lebih besar, lebih mengerikan, dan aura kelaparan yang memancar darinya terasa berkali-kali lipat lebih kuat. Tanduknya yang tadinya pendek kini memanjang melengkung tajam menembus langit, keempat lengannya berubah menjadi delapan lengan kekar yang berujung cakar beracun. Dan yang paling mengerikan, mulut-mulut kecil kini bermunculan di setiap jengkal kulitnya, terbuka lebar seolah siap melahap apa saja yang lewat.
Bahkan api yang tadinya menyala di sekeliling Arya kini perlahan tertarik mendekat, diserap oleh mulut-mulut itu dengan lahap.
"Lihatlah!" raung Rak shaka. "Apimu yang kau banggakan itu... justru menjadi santapan lezat bagiku!"
Arya mundur selangkah, menyadari kenyataan yang mengerikan itu. Ia menatap tajam makhluk di hadapannya, mencoba mencari celah yang selama ini ia lewatkan.
"Jadi begitu..." gumamnya pelan namun penuh kesadaran pahit. "Selama masih ada energi gaib yang tersebar di sekitar desa, di tanah, di pepohonan, dan di udara... kau akan terus hidup, terus beregenerasi, dan makin kuat."
"Tepat sekali!" sahut Rak shaka dengan nada mengejek. "Kau menjaga tempat ini dengan begitu baik, menyimpan begitu banyak energi suci... tanpa sadar kau justru merawat sumber kehidupanku!"
Pertarungan pun kembali berlanjut, kali ini jauh lebih ganas dan tanpa aturan.
Tengah malam telah lewat. Langit yang tadinya gelap kini kembali merah menyala diterangi kobaran api yang dilontarkan Arya. Setiap ledakan api melahap hutan, namun setiap kali api itu mereda, Rak shaka justru tampak semakin bugar dan lapar.
Pukul satu dini hari tiba. Tanah kembali berguncang hebat. Punggung gunung di kejauhan tampak retak panjang, sungai yang mengalir jernih mendadak menguap habis menyisakan hamparan batu kering. Hutan yang rimbun kini berubah menjadi hamparan lautan bara yang tak berujung.
Jam demi jam berlalu tanpa henti.
Pukul tiga dini hari. Napas Arya mulai memburu. Keringat yang bercampur dengan cahaya api menetes dari pelipisnya. Retakan-retakan yang ada di tubuhnya semakin melebar dan bertambah banyak, darah berwarna merah keemasan perlahan menetes dari dada dan lengannya yang terluka akibat serangan balik makhluk itu. Kekuatannya yang terbatas kini mulai terkuras habis.
Rak shaka menyadari perubahan itu. Ia tertawa keras, suaranya bergema menyebar ketakutan ke mana-mana.
"Lihat dirimu sekarang, Ba nas pati! Kau mulai melemah... sementara aku justru semakin kuat!"
Ia melangkah maju, setiap langkahnya membuat tanah amblas. "Setiap kali kau membakar hutan, setiap kali kau menghancurkan penghuni gaib yang tak bersalah... energinya mengalir masuk ke dalam tubuhku! Kau sendirilah yang memberiku kekuatan untuk menghancurkanmu!"
Arya menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Ia tahu musuhnya benar. Semakin lama ia bertarung dengan kekuatan penuhnya, semakin banyak energi yang diserap makhluk itu dari lingkungan sekitar. Ia terjebak dalam lingkaran setan yang diciptakan oleh kekuatannya sendiri.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya cahaya pertama mulai mengintip samar di ufuk timur, menyelinap di antara kabut asap yang masih mengepul. Saat sinar lembut itu menyentuh bagian tubuh Rak shaka, makhluk itu seketika meringis kesakitan, mundur terhuyung-huyung.
Arya yang menyaksikannya seketika tersadar. Sebuah peluang yang tak disangka-sangka muncul di hadapannya.
"Jadi begitu..." bisiknya pelan. "Kau adalah makhluk malam. Cahaya matahari adalah musuh alami yang tak bisa kau lawan."
Ia menggenggam gagang kerisnya lebih erat, seolah mengumpulkan sisa kekuatan terakhir yang tersisa.
"Selama ratusan tahun ini, aku selalu memilih mengurungmu..." ucapnya perlahan, matanya menatap tajam ke arah makhluk yang mulai rapuh itu. "...karena aku masih percaya bahwa setiap makhluk, sekalipun sejahat dirimu, pantas diberi satu kesempatan untuk berubah."
Nyala api merah yang membalut tubuh Arya perlahan berubah. Warnanya bergeser menjadi campuran merah dan emas yang menyilaukan, hangat namun memancarkan kekuatan kehidupan yang murni. Itu bukan lagi api dendam atau api penghancur. Itu adalah Api Kehidupan—kekuatan murni yang mengalir langsung dari Inti Sakti yang dijaganya.
Rak shaka membelalakkan mata, ketakutan mulai merayap di sorot matanya. Ia mundur semakin jauh.
"Tidak... api ini bukan milikmu! Tidak mungkin kau menguasainya!"
Arya menatapnya tanpa sedikit pun rasa iba, namun tatapan itu tak lagi penuh amarah melainkan penuh keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Itu benar," jawabnya tenang namun berat. "Ini bukan kekuatanku semata. Ini adalah kekuatan yang kupinjam... demi melindungi janji yang telah kuucapkan,melindungi mereka dari makhluk seperti mu."
Ia mengangkat kerisnya tinggi-tinggi ke udara. Seketika itu juga, seluruh api yang berkobar di hutan, di tanah, dan di udara seolah memiliki nyawa sendiri, bergerak menuju Arya dan berkumpul menjadi satu bola cahaya raksasa yang bersinar terang seperti matahari kedua.
"Aku, Ba nas pati Arya..." suaranya bergema membelah angin pagi. "...atas nama perjanjian abadi, dengan kekuatan yang dipercayakan kepadaku... aku mengakhiri keberadaanmu dari dunia ini."
Dengan ayunan terakhir yang pelan namun pasti, ia menebaskan keris itu ke arah Rak shaka.
Tak ada ledakan dahsyat, tak ada suara gemuruh yang mengerikan. Hanya ada cahaya putih keemasan yang menyebar seketika, menutupi seluruh pandangan. Cahaya itu begitu murni, begitu menenangkan, seolah menyapu bersih segala kegelapan yang pernah ada.
Di tengah cahaya itu, tubuh raksasa Rak shaka perlahan melebur, hancur menjadi jutaan partikel cahaya kecil yang berkilau indah. Tak ada jeritan terakhir, tak ada sisa abu atau debu yang tertinggal. Kali ini... ia benar-benar lenyap dari muka bumi, tak tersisa jejak sedikit pun.
Tanpa ada yang menyadari malam yang cukup panjang itu, Arya sudah melindungi nyawa warga desa Suka makmur.
Jauh dari sana, di sebuah ruangan bawah tanah yang remang dan lembap, beberapa sosok berjubah hitam berkumpul mengelilingi sebuah mangkuk batu kuno. Di dalamnya menyala api hitam pekat yang tak pernah padam, yang menjadi tanda kehidupan bagi makhluk yang mereka lepaskan.
Namun saat itu juga, nyala api hitam itu perlahan meredup, lalu padam seketika seolah ditiup angin tak kasat mata.
Kesunyian yang mencekam seketika menyelimuti ruangan itu.
Seorang pria tua yang duduk di kursi utama mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih. Matanya terbelalak tak percaya menatap mangkuk yang kini gelap itu.
"...Mustahil," suaranya bergetar menahan kemarahan yang meluap. "Rak shaka... telah lenyap sepenuhnya."
Seorang anggota yang berdiri tak jauh darinya berlutut dengan gemetar. "Tuan... Ba nas pati melakukannya. Ia tidak hanya menyegelnya, tapi memusnahkan jejak keberadaannya sampai ke akar-akarnya."
Suara amarah langsung meledak dari mulut para anggota lain. Ruangan itu bergema dengan umpatan dan kekesalan yang tak terbendung.
"Kita menghabiskan ratusan tahun hanya untuk mencari lokasi segel itu!" bentak salah satu dari mereka. "Kita mengorbankan begitu banyak nyawa untuk merusak ikatan itu... dan hanya dalam satu malam semuanya gagal total!"
Namun pemimpin mereka yang berwajah pucat dan penuh kerutan perlahan mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka diam. Di sudut bibirnya tersungging senyum tipis yang mengerikan.
"Tenanglah," ucapnya pelan namun berwibawa. "Rak shaka hanyalah percobaan. Hanya batu ujian untuk melihat seberapa kuat ikatan yang mengikat Ba nas pati dengan tempat ini."
Matanya beralih menatap sebuah peta kuno yang terbentang di meja batu, menunjuk tepat pada lokasi rumah warisan Raisa.
"Yang benar-benar kita inginkan bukanlah makhluk pengganggu itu," ucapnya dingin. "Yang kita cari... yang telah dirindukan oleh para leluhur kita selama berabad-abad..."
Ia menatap semua anggotanya satu per satu.
"...adalah Inti Sakti itu sendiri."
Matahari pagi kini mulai naik perlahan, menyebarkan cahaya hangat yang menyentuh setiap sudut desa yang baru saja dilanda badai pertarungan. Kabut tipis masih melayang di halaman rumah besar itu, membawa sisa kesegaran yang perlahan mengembalikan kehidupan yang sempat terhenti.
Di dalam rumah, Raisa yang semalaman tak sedikitpun memejamkan mata tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh dari dalam dadanya. Bagian kiri dadanya berdenyut hangat, berirama seolah memanggil namanya dengan lembut namun pasti.
Ia langsung berdiri tegak, matanya membelalak penuh harap.
"Dia kembali..."
Tanpa menunggu panggilan atau izin siapa pun, ia berlari menaiki tangga dengan langkah ringan namun tergesa-gesa. Jatmika yang kebetulan lewat membawa baskom berisi air hangat dan ramuan obat hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu.
"Ikatan itu sudah mulai menyatu sepenuhnya," bisiknya pelan pada diri sendiri.
Raisa berhenti tepat di depan pintu kamar Arya yang sedikit terbuka. Napasnya memburu bukan karena lelah, melainkan karena rasa cemas yang bercampur rindu yang tak terlukiskan. Ia mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka lebar.
Di dalam sana, Arya duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong menatap lantai. Ia tidak mengenakan baju, memperlihatkan seluruh tubuhnya yang kini penuh dengan retakan merah menyala yang melukai kulitnya. Beberapa bagian masih basah oleh darah keemasan yang perlahan menetes jatuh ke lantai kayu. Jatmika yang baru saja masuk bersamanya sedang mencoba mengoleskan ramuan penyembuh pada luka di bahu Arya.
"Tuan, luka ini terlalu dalam dan menyentuh inti kekuatan Anda..." ucap Jatmika dengan nada cemas. "Ramuan ini mungkin akan memakan waktu lama untuk menyembuhkannya."
Arya hanya menggeleng pelan, tak berusaha menahan rasa sakit yang jelas terasa menyiksa.
"Biarkan saja," jawabnya singkat, suaranya serak dan lemah.
Saat ia menoleh ke arah pintu, pandangan mereka bertemu seketika. Mata Raisa yang sedari tadi berusaha menahan tangis akhirnya tak mampu lagi membendungnya. Air mata jatuh membasahi pipinya tanpa suara.
Tanpa sepatah kata pun, ia berlari mendekat dan memeluk tubuh Arya seerat yang ia bisa, seolah takut jika ia melepaskannya walau sedetik saja pria itu akan lenyap kembali.
"Arya..." hanya itu kata yang mampu keluar dari bibirnya, penuh dengan rasa haru, takut, dan rasa syukur yang bercampur menjadi satu.
Seluruh tubuh Arya seketika membeku. Berabad-abad lamanya ia hidup, berjalan, dan bertarung sendirian. Selama itu pula tak ada satu pun manusia yang berani mendekat, apalagi memeluknya tanpa rasa takut atau jijik melihat wujud aslinya. Kini, sentuhan hangat itu terasa begitu asing namun begitu mendamaikan hatinya yang keras.
Perlahan namun pasti, cahaya keemasan yang lembut mulai memancar dari seluruh tubuh Raisa. Cahaya itu bukanlah cahaya yang menyilaukan, melainkan cahaya yang menenangkan, yang perlahan mengalir masuk menyusuri setiap retakan yang ada di tubuh Arya.
Satu per satu retakan itu perlahan menutup, darah yang mengalir berhenti menetes, dan rasa panas yang menyiksa perlahan berubah menjadi rasa hangat yang nyaman.
Arya memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan sensasi yang telah hilang dari ingatannya.
Hangat...
Perasaan itu bukan berasal dari api yang melahap segalanya. Melainkan dari kebaikan hati seseorang yang kini berdiri di sampingnya, menerima segala sisi gelap dan terang dari dirinya.
Perlahan, tangan besar yang penuh bekas luka itu terangkat dan membalas pelukan itu dengan sangat hati-hati, seolah takut ia akan melukai gadis itu.
"Terima kasih... Raisa," bisiknya parau, namun penuh dengan rasa syukur yang mendalam.
Jatmika perlahan menurunkan tangannya yang memegang kain basah. Ia memperhatikan dengan mata sendiri bagaimana luka-luka yang tak mungkin sembuh dengan cara biasa kini perlahan memudar dan menutup sempurna hanya dengan sentuhan kehadiran Raisa. Senyum haru merekah di wajah tua itu.
"Dugaan leluhur Margono ternyata benar-benar nyata," ucapnya pelan pada diri sendiri. "Seorang Wadah tidak hanya sekadar menjadi perantara kekuatan Inti Sakti... melainkan juga penyeimbang hati Ba nas pati yang telah lama beku."
Dengan tenang, Jatmika meletakkan mangkuk obat itu di meja samping tempat tidur, lalu melangkah mundur perlahan dan menutup pintu kamar itu dari luar, membiarkan mereka berdua menikmati momen itu sejenak.
Di balik pintu kayu yang tertutup rapat itu, Jatmika menatap langit pagi yang mulai cerah tanpa awan, lalu berbisik pelan dengan suara penuh harap sekaligus waspada.
“Ku harap nona Raisa adalah wadah sempurna yang dicari dari keturunan Margono.”