NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vonis 30 putaran

“LILY, JAVIN! KALIAN CARI KESEMPATAN YAAA!!!” teriak Owen memekakkan keheningan pagi.

Di atas sofa, Javin masih tertidur lelap dengan posisi melingkarkan tangannya merangkul Lily. Sementara itu, kepala Lily bersandar nyaman di dada bidang laki-laki itu.

Seluruh orang yang tidur bergelimpangan di ruang tengah seketika tersentak kaget dan langsung duduk tegak. Rafa mengucak matanya kaku. “Apaan sih, Bang? Pagi-pagi udah teriak-teriak aja...” gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.

Wafa menoleh ke arah sofa. Mulutnya menganga lebar. Tanpa buang waktu, ia langsung menyambar ponselnya dan memotret pemandangan langka itu beberapa kali.

Owen hendak melangkah maju untuk membangunkan adiknya, namun Wafa cepat-cepat menahan tangannya. “Jangan dibangunin dulu! Panggil Papi buruan!” bisik Wafa bersemangat.

“Biar Ell yang panggil Papi!” seru Ell berinisiatif, langsung berlari kencang memanjat tangga menuju kamar Jaya.

Brak!

“Aduh, Dek! Kamu ini kenapa sih, pagi-pagi udah lari-larian masuk kamar Papi tanpa permisi?” tanya Jaya kaget saat si bungsu menerobos masuk.

“Ayo, Pih, buruan! Papi harus lihat Kak Lily!” seru Ell panik seraya menarik-narik ujung baju papinya.

Sesampainya di tangga, Jaya menatap anaknya penuh curiga. “Kak Lily kenapa sih, Dek?”

“Ssstt! Nanti Papi juga tahu sendiri!” Ell menurunkan nada suaranya sok rahasia.

Begitu tumit Jaya berpijak di ruang tengah dan matanya menangkap pemandangan di sofa...

“ASTAGA! BENAR-BENAR KALIAN BERDUA YA!” Jaya melangkah lebar, lalu tanpa ampun menyambar dan menjewer telinga kedua sejoli yang masih terlelap itu.

“Aduh! Aduh! Apaan sih ini, main jewer-jewer... sakit, Pihhh!” rengek Lily dengan mata yang masih terpejam rapat. 

Sementara di sebelahnya, Javin hanya melenguh pelan, masih belum terkumpul penuh kesadarannya.

“KAKAK, BUKA MATAMU!” teriak Ell tepat di lubang telinga Lily, membuat gadis itu melompat kaget.

“Kenapa sih, Dek...?” keluh Lily seraya mengucek matanya perlahan. Ell yang gemas melotot lebar. 

“AAAA!” jerit Lily, lalu melayangkan pukulan cukup keras tepat ke wajah Javin.

PLAK!

“ADUHHH!” Javin langsung terduduk tegak, mengelus-elus pipinya yang terasa panas dan berdenyut.

“Lily, Javin! Kalian cari kesempatan ya?! Tidur berdua sambil peluk-pelukan gini!” omel Jaya dengan berkacak pinggang.

Lily dan Javin refleks membetulkan posisi duduk mereka menjadi super tegak bak prajurit.

“Bukan Lily, Pih! Kemarin Lily tidur sambil duduk kok!” celetuk Lily membela diri seraya memperagakan posisinya semalam saat menonton televisi.

Javin menoleh ke arah Lily, memprotes. “Mana ada kamu tidur sambil duduk? Jelas-jelas kamu—”

“Udah! Kalian berdua sama-sama salah!” potong Owen tegas, berdiri di hadapan Lily dengan raut wajah yang sudah memerah menahan panas dingin.

Wafa mengusap dagunya, menyipitkan mata penuh selidik. “Mendingan kita cek CCTV aja deh, Pih. Wafa curiga ada hal lain juga yang terjadi semalam.”

“Apa yang bikin Lo curiga, Waf?” tanya Rafa penasaran.

“Kemarin kan Bang Javin tidurnya di samping Malik. Lah, kok tiba-tiba pas bangun udah pindah ke sofa? Apa dia tidur sambil jalan?” jelas Wafa membeberkan fakta, membuat seluruh anak bujang di sana manggut-manggut setuju.

“Iya, bener! Kemarin Bang Javin tidurnya di samping gue! Udah, langsung cek CCTV aja, Om!” sahut Malik memanasi.

“Setuju! Ayo kita ke ruang operator, semua orang wajib ikut!” tegas Jaya tak bantah.

'Gawat... kalau mereka sampai lihat kejadian tadi malam!' batin Javin panik setengah mati.

Lily yang menyadari arah bahaya langsung mencoba mengalihkan perhatian. “Dengerin penjelasan Lily dulu, Pih! Jadi semalam Lily belum tidur karena nungguin Adek Ell sama Sean selesai main Lego. Nah, setelah mereka tidur, Lily pergi ke kamar mandi buat bersih-bersih...”

“Terus saya kebangun, Om! Gara-gara denger suara 'dug.. dug..' dari arah pintu depan. Makanya Javin sama Lily langsung cek ke luar,” potong Javin cepat seraya melirik Lily memberi kode rahasia.

Lily yang juga tidak mau kena omel panjang lebar hanya bisa mengangguk-angguk cepat mengikuti skenario buatan Javin.

“Iya, Pih! Dan ternyata suara itu Papi sendiri! Kita berdua langsung papah Papi ke kamar. Nah, setelah itu Lily belum ngantuk, makanya minta Kak Javin nemenin non—”

“Om Jaya, lihat! Mereka main kode-kodean mata! Jangan percaya sama mereka, Om!” seru Kino mendadak memotong kalimat Lily.

“Iya, Pih! Bener kata Kino!” sahut Ell tak mau kalah. “Mending kita langsung cek CCTV-nya aja!” lanjut si bungsu penuh semangat.

'Dasar bocah!' umpat Javin dalam hati, melayangkan tatapan jengkel ke arah Ell dan Kino.

Jaya memicingkan mata, menunjuk Lily dan Javin secara bergantian. “Lihat aja nanti kalau kalian berani bohong sama Papi! Siap-siap terima hukuman berat dari Papi!”

Wajah Lily seketika memucat kaku. 'Mampus gue... Kalau mereka semua lihat kejadian semalam pas Kak Javin menggendong gue... Ah, ini semua gara-gara Kak Javin!' batin Lily kesal setengah mati.

Rafa menyeringai jahil melihat gelagat panik dua orang di depannya. “Kalau mereka berdua takut, berarti semalam memang ada 'sesuatu' yang terjadi, Pih! Udah, ayok!” Rafa melangkah paling depan.

Rafa dan Wafa memimpin barisan, disusul oleh Jaya, Ell, dan Kino. Sementara Lily dan Javin berjalan paling belakang dengan langkah gontai seperti terpidana mati.

Sesampainya di ruang operator, Jaya langsung duduk di depan monitor utama dan mengatur waktu rekaman menjadi pukul 23.20 - saat di mana Lily baru saja keluar dari kamar mandi dan Javin terbangun.

“Nah tuh! Ngapain kalian jalan berdua ke dapur?” tanya Wafa curiga saat melihat dua siluet di layar monitor.

“Cari makan,” jawab Javin singkat dan berusaha setenang mungkin.

Setelah itu, suasana ruang operator mendadak hening. Mereka semua menyaksikan rekaman gambar berdurasi jernih itu secara saksama - mulai dari insiden jari Javin yang terluka kena panci panas, sampai momen saat mereka berdua memapah tubuh Jaya yang mabuk masuk ke dalam kamar.

“Papi... minum lagi?” tanya Owen dengan nada suara dingin dan berat sangat berbeda dari intonasi biasanya.

Jaya dengan cepat menekan tombol jeda pada rekaman video. Ia berdeham kaku, mencoba berbohong. “Enggak, Kak... Itu Papi cuma lagi pusing aja, banyak pikiran dan kerjaan di kantor.”

“Bohong, Kak. Om Jaya semalam beneran minum alkohol, badannya aja bau banget,” sela Javin membongkar kebenaran tanpa ragu.

Jaya seketika melayangkan tatapan tajam ke arah Javin. Namun, akibat pernyataan jujur anak laki-laki itu, Jaya akhirnya tak bisa mengelak lagi. Sudut bibirnya terkatup rapat, tak mampu menyangkal.

Owen menarik napas panjang, menahan kekecewaan yang menyeruak di dadanya. “Lanjut, Pih.”

Dengan tangan sedikit gemetar, Jaya menekan tombol play kembali.

Di layar monitor, rekaman memperlihatkan momen saat Lily membungkuk dan memperhatikan area leher Jaya cukup lama. Karena kamera CCTV tersebut tidak merekam suara, perdebatan kecil mereka semalam tidak terdengar sama sekali.

“Itu Lo lagi ngapain, Ly?” tanya Wafa menunjuk layar.

Lily menelan ludah kaku. Ia sebenarnya ingin sekali menanyakan soal noda lipstik itu langsung di hadapan Papinya, namun ia tahu situasinya sama sekali tidak tepat. “I-itu... gue cuma ngecek leher Papi. Ada merah-merah, kayaknya kena gigit nyamuk,” bohong Lily halus.

Kino yang berada di samping Ell memicingkan mata, memperhatikan lelehan air mata Lily di dalam layar rekaman. “Terus... kenapa Kak Lily sampai menangis?”

“Dia sedih,” jawab Javin mengambil alih. “Om Jaya kan sebelumnya udah berhasil berhenti minum sekitar satu tahunan, tapi tadi malam malah minum-minum lagi.”

Ell yang masih menaruh rasa curiga menunjuk gerakan Javin di video. “Terus kenapa Kak Javin sampai narik-narik tangan Kak Li—”

Belum sempat Ell menyelesaikan kalimatnya, Wafa mendadak berteriak nyaring seraya menepuk meja operator.

“NAH! ITU KENAPA SAMPAI GENDONG-GENDONGAN BEGITU?!”

Seluruh isi ruangan seketika menahan napas. Di layar monitor, terlihat jelas bagaimana Javin menggendong Lily ala bridal style menyusuri koridor menuju dapur saat gadis itu menolak turun.

Raut wajah Jaya berubah padam. Garis rahangnya mengeras ketat saat beralih menatap kedua 'tersangka' di belakangnya secara bergantian.

“Ayo... coba sekarang jelasin ke Papi, apa maksudnya semua ini?!” ujar Jaya penuh penekanan, intonasinya terdengar amat mengintimidasi.

Javin melangkah satu tapak ke depan, mengatur napasnya agar tetap tenang. “Itu karena saya ngajak Lily buat turun ke dapur, Om. Tapi Lily nolak terus dan nangisnya enggak berhenti-berhenti. Karena situasi makin kacau, ya makanya saya gendong dia ke bawah.”

Jaya menghembuskan napas berat, mencoba menahan emosinya yang siap meledak. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memutar kembali rekaman video.

Kamera kini menyorot area dapur. Layar menampilkan pemandangan yang tak kalah memancing emosi - Lily sedang duduk di samping Javin, menyuapkan sendok demi sendok mi instan ke dalam mulut laki-laki itu dengan telaten.

“LILY! JAVIN!” seru Jaya menggelegar, berbalik menyudutkan mereka. “KENAPA SEKARANG MALAH PAKAI SUAP-SUAPAN, HAH?!”

“I-itu... Kak Javin yang minta, Pih! Katanya tangannya sakit. Awalnya Lily nolak kok, tapi Kak Javin ngomong terus, terus bawel banget, jadi ya gitu deh akhirnya...” jawab Lily terbata-bata seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap sang papi.

"Bener, Javin, apa yang Lily jelasin?" tanya Owen dengan raut wajah tak kalah tajam dari sang papi.

Javin mengangguk kaku, tak bisa lagi berkutik.

"Wah, bener-bener Lo ya, Vin! Cari kesempatan banget!" Tanpa aba-aba, Rafa langsung menyambar dan menjewer kuping Javin gemas.

"Ampun, Raf! Ampun! Tangan gue beneran sakit kok!" rintih Javin meringis kesakitan, cepat-cepat menunjukkan jari telunjuk kanannya yang memang masih memerah dan bengkak akibat luka bakar semalam.

Sean yang menyandarkan tubuhnya di pintu melipat tangan di dada, lalu melempar nada sarkas. "Sakit, tapi masih bisa menggendong Kak Lily dari koridor sampai dapur? Itu tadi namanya apa, Kak?"

Jaya dan Owen hanya bisa menghela napas berat secara bersamaan, memijat pelipis mereka yang mendadak berdenyut.

Jaya kembali menekan tombol play pada layar monitor. Rekaman kini menampilkan momen ketika Lily dan Javin menonton televisi hingga akhirnya Lily tertidur lelap. 

Tak lama kemudian, Javin terlihat mematikan televisi dan memilih ikut memejamkan mata di samping Lily dengan posisi duduk.

"Lah, terus kenapa pas bangun tadi pagi posisinya bisa pelukan begitu?" tanya Wafa makin heran.

Jaya yang ikut penasaran langsung memajukan durasi video ke pukul dua dini hari.

Di layar, Lily yang sedang tertidur lelap tampak menggeser posisinya, menyandarkan kepala di pundak Javin. Selang beberapa menit, gadis itu melingkarkan kedua lengannya merangkul erat tubuh Javin, hingga dorongan itu membuat tubuh Javin terjatuh telentang di sofa bersama Lily.

"Lho?! Kak Lily yang duluan meluk Kak Javin!" seru Ell tak percaya, membelalakkan matanya lebar-lebar.

Malik mendadak memanyunkan bibirnya kesal. "Kenapa Kak Lily harus tidur di sofa sih? Kan di samping Malik masih muat, masih ada tempat kosong!"

TAK!

Wafa menonyor kepala Malik tanpa ampun. "Lo juga sama aja cari kesempatan, dasar Malik!"

"Ya kan Lily udah terlanjur ketiduran di sofa! Lagian gue kira Kak Javin bakal balik tidur ke kasur lantai!" sahut Lily membela diri, mukanya memerah menahan malu karena ulahnya sendiri saat tertidur melindur.

Jaya beralih menatap putri tunggalnya dengan pandangan ketus. "Terus, alasan kamu meluk-meluk Javin begitu apa, Ly?"

"Ya mana Lily tahu, Pih! Lagian kondisinya kan Lily lagi tidur nyenyak, mana sadar!" balas Lily sewot.

Pandangan Jaya berpindah tajam ke arah Javin. "Javin! Alasan kamu malah ikut tidur di sofa apa?"

"Awalnya saya berpikiran mau memindahkan Lily ke kamarnya, Om. Tapi... saya udah ngantuk berat, eh malah ketiduran di sana," bohong Javin halus. Padahal, alasan sebenarnya ia hanya ingin terus berada di dekat Lily.

Owen memicingkan mata, menatap sahabat adiknya itu dingin. "Kan Lo bisa tidur di kasur lantai bawah sama yang lain."

Javin menarik napas panjang, lalu mengangkat tangan pasrah karena sudah kehabisan seribu alasan. "Siap, salah."

Jaya bersedekap dada, memasang raut wajah ketat tanpa kompromi. "Lari keliling rumah tiga puluh kali!" tegas Jaya menjatuhkan vonis hukuman.

"Tapi, Pih—!"

1
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!