Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jasmine
Bianglala telah berhenti, keduanya telah turun dari wahana. Namun, Celine tak berani mengucapkan sepatah kata. Banyak kalimat yang tersusun di otaknya, tapi tak ada yang benar-benar mampu dia ucapkan. Otaknya seolah menolak keras. Ares menyadari hal itu, kali ini dia tidak ingin terburu-buru. Ia akan menunggu.
"Kamu serius?" tanya Celine akhirnya, mereka berjalan entah ke mana tujuannya.
"Aku serius."
Celine mengulum bibirnya. Ia membuka bibir kemudian mengatupkannya kembali, batinnya berperang, kenapa sulit sekali mengatakan, iya aku mau. Bukankah ini yang selalu Celine nantikan.
"Kalo kamu sulit untuk mengatakannya, mengangguk saja. Aku tidak akan memaksa." Ares tertawa kecil, ia menggenggam jemari Celine yang mulai dingin.
Gadis itu tersentak, tapi tak menolak, ada getaran kecil ketika Ares menyentuhnya. Apa aku beneran bisa percaya, memang ini yang aku mau sejak awal kan? pikirnya. Setelah memantapkan hatinya, ia lalu mengangguk kecil. Itu sudah cukup sebagai jawaban untuk Ares.
"Jadi sekarang kita pacaran?" tanya Celine dengan suara pelan, dia mengulas senyum kecil.
"Benar, mulai sekarang kamu bisa mengandalkanku."
***
Mentari seolah ikut senang ketika Celine melangkah melewati koridor kelas. Semua orang dia sapa sampai matanya ikut tersenyum, genggamannya pada tas ranselnya begitu erat, jantungnya berdebar.
Hei kalian semua, aku ini pacar Ares!
Semua yang terjadi di pasar malam seolah adalah mimpi. Gadis itu menepuk pipinya pelan begitu sampai di pintu kelas, rasanya berat untuk masuk. Ia menarik napas panjang kemudian menyemangati diri sendiri.
Matanya bertemu pandang dengan Ares, kali ini laki-laki itu tersenyum. Sangat manis, sampai Celine menjadi kikuk ketika berjalan menuju bangkunya, ia menenggelamkan kepalanya di meja. Tidak menghiraukan keberadaan Berlian yang terus memanggilnya.
"Budeg kau, ya?!" Berlian geram, dia goyangkan lengan gadis itu. Namun Celine hanya meracau.
"Diam deh, pagi-pagi udah berisik!"
"Ya kau aneh, datang-datang kayak habis dapat duit. Eh beneran dapat?" Mata Berlian berbinar, ia dekatkan bangkunya ke sisi Celine. "Berapaan?"
Celine memutar bola matanya malas, ia jauhkan kepala Berlian yang condong ke arahnya. "Uang mulu dah yang dipikirkan, aku senang ya karna emang moodnya lagi bagus." ujarnya.
"Masa?" Berlian menaikkan sebelah alisnya, kali ini senyumannya jauh lebih menyebalkan. Otaknya kini nalar, ketika Celine tanpa sengaja melirik ke arah bangku Ares. "wih, kenapa lirik-lirik tuh, kayak punya status aja."
"Emang!" Celine reflek mengatakannya, karena jengah.
Sepersekian detik Berlian membeku, berusaha memahami maksud perkataan Celine. Ia melotot lebar, kemudian berkata, "Hah? Maksudnya apa?"
"Nggak, bukan apa-apa. Tadi asal ngomong doang."
Gadis itu mengalihkan pandangan, menulikan pendengarannya.
"Kok datang lagi, sih," gumamnya dengan tangan yang terkepal di bawah meja. Bibirnya melengkung ke bawah kala dari arah pintu muncul sesosok perempuan, ia membawa medali dan sertifikat.
Keadaan kelas menjadi ricuh kala Jasmine mendatangi meja Ares. Gadis itu mengulas senyum lebar, kemarin dia membawa pulang medali emas untuk kompetesi yang dia ikuti. Semua orang sudah menduga itu, otak jenius memang tidak diragukan.
"Buat apa coba dia bawa medalinya ke sini? Cari sensasi banget," komentar Berlian bertopang dagu. "Jangan panas ya Celine, sabar aja, nanti kita bimbel tiap hari biar bisa nyaingin si Jasmine."
Namun Celine tidak menanggapi, ia terlampau memperhatikan gelagat Jasmine.
"Kak, makasih ya udah mau ajarin aku. Senang banget deh, lihat, aku bisa menang berkat kakak," kata Jasmine tulus, ia tunjukkan sertifikat atas namanya. "Boleh nggak aku traktir kakak?"
Ares tersenyum kecil, ketika tak sengaja matanya menangkap ekspresi Celine yang merengut. Gadis itu tampak tidak senang, ia berkacak pinggang. Namun Jasmine yang di hadapannya menangkap itu berbeda, perempuan itu mengulum bibir berusaha tampak biasa.
"Kakak suka makan apa?" tanyanya.
Bian bersiul lantas menepuk pundak temannya itu, berkata dengan nada sarkas, "Kapan lagi ditraktir cewek cantik plus pintar gini. Nasibmu bagus banget bro!"
Jasmine makin tersenyum, merasa semua orang berpihak untuk hubungannya dan Ares. Kepalanya telah menyusun skenario, di mana Ares akan tersenyum dan dengan lembut menyetujui permintaannya. Namun apa yang Ares katakan selanjutnya, jauh dari bayangannya.
"Nggak usah Jasmine. Kamu menang juga bukan karna aku, sejatinya emang pintar. Jangan terlalu merendah, congrats ya," ujarnya.
"Tapi kak aku beneran mau berterimakasih, ya kalau bukan karna kakak mana bisa aku paham banyak materi." Jasmine panik, ia tidak ingin melewatkan momen makan bersama dengan Ares, mungkin ini bisa menjadi jalan mereka bersama.
"Aku lagi nggak bisa, sebaiknya kamu kembali ke kelasmu Jasmine, sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai."
Jasmine terdiam tidak percaya, akhirnya ia mengangguk, tersenyum dengan canggung. Hatinya begitu sakit menerima penolakan dari Ares. Kenapa tiba-tiba jadi gini, perasaan kak Ares fine-fine aja waktu itu, kenapa sekarang balik kaku lagi? pikirnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu, ya kak." Tanpa menunggu jawaban dari Ares, Jasmine langsung pergi dengan raut wajah masam.
"Elah Bro, judes banget, kasihan itu anak orang ditolak," kata Bian, ia duduk di samping Ares dengan tatapan prihatin. "cewek kayak dia aja ditolak."
"Aku punya tipe dan bukan dia," kata Ares, laki-laki itu sibuk dengan ponselnya. Ia sedang mengetik pesan.
Awas bola matanya keluar!
Alis Celine menukik tajam, sedikit tersinggung dengan pesan Ares.
Maksudnya? —Celine
Jangan was was mulu, udah aku bilang kamu dan Jasmine itu beda.
Celine mendelik. "Dih apaan banget, kok dia jadi nyebelin gini, ya?" gumamnya.
Siapa yang was-was?
Kamu lah, kelihatan banget cemburunya. —Ares
Celine meletakkan ponselnya agak keras, membuat Berlian tersentak. "Kesambet nih bocah, tadi kepalang senang sekarang mukanya udah kayak ditagih utang puluhan juta. Kataku mending tobat deh!" kata Berlian geleng-geleng kepala.
"Orang-orang kok ngeselin banget ya, satu hari ini freak banget emang!" cetus Celine kemudian menelungkupkan wajahnya.
Salut banget sih author lucu gemes