Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Penculikan Siska
Kesadaran Siska perlahan kembali di tengah denyut nyeri yang menusuk tajam di belakang kepalanya. Aroma debu busuk, minyak mesin, dan karat yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya saat ia membuka mata. Pandangannya remang-remang, dibatasi oleh kegelapan sebuah gudang tua terlantar di pinggiran kota yang hanya diterangi oleh satu lampu pijar redup yang bergoyang pelan digantung pada atap seng. Udara di dalam ruangan itu begitu dingin, kering, dan mencekam.
Siska berusaha menggerakkan tubuhnya, namun rasa kebas dan sakit langsung merayapi kedua pergelangan tangan dan kakinya. Ia terduduk di atas sebuah kursi kayu lapuk, dengan tali tamang tebal mengikat dada, perut, dan kedua tangannya rapat-rapat ke sandaran kursi. Jemarinya yang masih terbalut perban tipis terasa perih akibat tergores simpul tali yang kasar.
"P-Penolong... Ada orang di sini?!" bisik Siska dengan suara yang sangat serak, tenggorokannya terasa kering dan membakar.
Derap langkah kaki yang berat dan terseret bergema di atas lantai semen yang retak-retak dari balik kegelapan tumpukan peti kayu.
"Sudah bangun, Putri?" sebuah suara parau, gila, dan penuh kemurkaan menyapa keheningan gudang tua itu.
Danang melangkah keluar dari bayang-bayang. Penampilannya kini benar-benar murni seperti seorang psychopath. Jas mewahnya yang dulu membanggakan kini kotor berjelutut, kemejanya robek di sudut kerah, dan rahang kirinya yang lebam bekas pukulan Rendy tampak memerah mengerikan. Rambutnya acak-acakan dan matanya merah memancarkan kilatan kejahatan yang tak lagi tersentuh oleh akal sehat.
Siska membelalakkan mata, dadanya naik turun oleh ketakutan yang luar biasa. "Danang?! Kamu... kamu benar-benar sudah gila! Lepaskan aku!"
"Lepaskan?!" tawa Danang melengking, bergema menakutkan di dalam ruangan kosong itu. Ia melangkah maju, mencengkeram rahang Siska secara kasar hingga wanita itu memekik kesakitan.
"Kamu tahu berapa banyak yang harus kubayar untuk bisa keluar dengan jaminan?! Semua hartaku habis, Siska! Dan esok malam aku harus kabur dari negara ini sebagai buronan!"
Danang merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel tua. Dengan senyum miring yang gila, ia mengarahkan layar ponsel itu ke depan wajah Siska.
"Tahu apa yang baru saja kulakukan?" desis Danang di depan wajah Siska. "Aku baru saja menelepon ayahmu yang jantungan itu! Aku minta tebusan sepuluh miliar rupiah secara tunai dalam waktu dua jam!"
"A-Apa?!" jerit Siska, air mata ketakutan seketika menetes deras membasahi pipinya yang pucat.
"Ayahku tidak punya uang sebesar itu! Semua aset keluargaku sudah disita bank! Kamu mau membunuh ayahku, Danang?!"
"Memang itu tujuannya!" bentak Danang seraya menampar pipi Siska dengan sangat keras.
PLAK!
Suara tamparan itu membentak nyaring di dalam gudang. Kepala Siska terlempar ke samping, darah segar seketika meleleh dari sudut bibirnya yang pecah. Siska meringis kesakitan, napasnya tersengal-sengal di tengah isak tangisnya yang tak tertahankan.
Danang tidak peduli. Rasa putus asa telah membuatnya berubah menjadi monster tanpa belas kasihan. "Kalau tua bangkai itu tidak bisa menyediakan uangnya, maka kamu yang harus membayar semuanya! Tapi tunggu dulu... kenapa aku harus repot-repot memeras ayahmu yang miskin, kalau ada gembel kaya yang sangat mempedulikanmu?"
Danang menghentikan kalimatnya, merogoh saku dalamnya, dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar milik Siska yang ia sita. Ia membuka aplikasi kamera dan mengatur mode perekaman video.
"Lihat ke kamera, Siska," perintahkan Danang dengan nada dingin yang membekukan darah.
Danang berdiri di samping Siska yang terikat tak berdaya. Ia menyalakan tombol rekam, lalu tanpa peringatan sedikit pun, Danang mengayunkan kepalan tangannya yang keras, mendaratkan sebuah pukulan brutal tepat ke perut Siska.
"Arghhh!" Siska menjerit histeris saat rasa sakit yang luar biasa menusuk ulu hatinya, membuat tubuhnya meliuk ketakutan di atas kursi seraya terbatuk-batuk menahan muntah dan darah.
"Menangislah! Memohonlah!" teriak Danang gila di depan kamera ponsel. Ia menarik rambut Siska ke belakang secara kasar, memperlihatkan wajah Siska yang bersimbah air mata dan darah ke arah kamera.
"Kirimkan penderitaanmu ini pada mantan kekasihmu yang agung itu!"
Danang menghentikan rekaman video berdurasi belasan detik yang mengerikan tersebut. Dengan jari-jarinya yang gemetar oleh pacuan gairah dendam yang membakar, ia membuka nomor kontak pribadi milik Rendy Adhitama.
Tanpa ragu sedikit pun, Danang menekan tombol kirim, meluncurkan rekaman video penyiksaan Siska beserta pesan singkat berisi koordinat gudang tua tersebut langsung ke ponsel pribadi Rendy—menyajikan penderitaan sang mantan kekasih sebagai umpan maut untuk menyeret Rendy masuk ke dalam jebakan berdarah yang telah ia siapkan dengan revolver di tangannya.