NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:23.3k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Kunci Hati

"Untuk kami."

Kalimat itu tidak pernah Reynard katakan padaku.

Yang kutahu, keesokan paginya aku bangun di tempat tidur, bukan di lantai, dengan Boba tidur di atas kakiku dan kepala terasa seperti dipukul panci.

Di meja samping ada segelas air, obat sakit kepala, dan catatan kecil.

Minum. Jangan berdebat.

Tidak ada tanda tangan.

Tidak perlu.

Aku menatap tulisan itu lama.

Reynard.

Aku meminum obat tanpa berdebat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menghargai pria yang suka memberi perintah.

Tiga hari berikutnya berjalan lebih tenang. Atau setidaknya tampak begitu. Reynard lebih sering di ruang kerja, menerima panggilan dari Leo, Steven, dan orang-orang yang namanya tidak kukenal. Aku pura-pura tidak tahu bahwa sebagian panggilan itu membahas penelitian darah langka.

Si Kepo juga pelit informasi.

[Bahan penawar berikutnya belum terbuka.]

Kalimat itu membuatku ingin menggigit bantal.

Pada hari kedelapan belas, Sari masuk ke ruang keluarga membawa map besar.

"Nyonya Muda, Pak Hadi meminta tanda tangan Nyonya."

"Tanda tangan apa?"

Pak Hadi muncul di belakangnya, sangat rapi. "Dokumen administrasi rumah, Nyonya Muda."

Aku membuka map.

Lalu hampir menutupnya lagi.

Sertifikat properti.

Asuransi.

Akses rekening operasional.

Dokumen bank.

Namaku tercetak di banyak halaman: Keira Liem Wijaya.

"Pak Hadi," kataku pelan, "kenapa nama saya ada di sini?"

Pak Hadi menjawab dengan wajah damai. "Instruksi Tuan Muda."

Tentu.

Kalau ada hal yang membuatku hampir pingsan, kemungkinan besar jawabannya adalah instruksi Tuan Muda.

Reynard masuk dari ruang kerja tepat saat aku berdiri membawa map seperti membawa bom.

"Ini apa?"

"Dokumen."

"Aku tahu ini dokumen."

"Untuk rumah."

"Reynard." Aku mengangkat satu lembar. "Ini sertifikat PIK villa."

"Ya."

"Kenapa namaku masuk?"

"Kau tinggal di sini."

Aku menatapnya.

Logika macam apa itu? Kalau begitu nama cicak di dinding juga harus masuk sertifikat.

Sudut bibirnya bergerak tipis.

"Ini aset bernilai sangat besar."

"Aku tahu."

"Dan kau memberikannya padaku?"

"Bukan memberikan. Menambahkan hak."

Aku duduk karena lututku mulai tidak kooperatif.

[Estimasi nilai aset: sangat tinggi.]

Si Kepo, aku butuh angka yang lebih manusiawi.

[Jika dikonversi ke bakso: tidak disarankan.]

Aku hampir tertawa histeris.

Reynard meletakkan kartu baru di atas map. Kartu itu bukan hitam, melainkan platinum gelap dengan namaku.

"Kartu operasional rumah."

"Limit?"

"Dua ratus miliar rupiah."

Aku yakin jiwaku keluar sebentar, melihat situasi, lalu masuk lagi karena belum waktunya mati.

"Dua ratus miliar?"

"Untuk mengurus rumah."

"Reynard, kau mau aku mengurus rumah atau negara kecil?"

Pak Hadi batuk sangat halus.

Sari menunduk, bahunya bergetar.

Reynard hanya menatapku. "PIK villa, staf, keamanan, kebutuhan medis, operasional darurat."

"Tetap saja dua ratus miliar!"

"Kurang?"

"Itu bukan masalahnya!"

Aku berdiri lagi, membawa kartu itu seperti benda terlarang. "Kenapa kau percaya padaku sebesar ini?"

Pertanyaan itu membuat ruangan hening.

Reynard menatapku lama.

"Karena kau tidak mengambil kesempatan ketika bisa."

Aku terdiam.

"Kau menemukan pencurian Bibi Yanti. Kau bisa memakai itu untuk memperkaya diri, tapi kau menyerahkannya sebagai bukti. Kau tahu ramuan itu berbahaya, tapi tidak langsung menuduh tanpa data. Kau mengurus rumah ini seperti tempat yang ingin kau selamatkan."

Suaranya datar.

Tapi setiap kata terasa seperti tangan hangat di punggung.

"Jadi," lanjutnya, "aku percaya."

[Tingkat kedekatan meningkat.]

[Hadiah misi: progres relasi +20.]

Aku menatap panel itu, lalu menatap Reynard.

Kalau ini bagian dari misi, kenapa rasanya bukan angka?

Kenapa rasanya seperti seseorang akhirnya memberikan kunci dan berkata, ini rumahmu juga?

Aku menandatangani dokumen dengan tangan sedikit gemetar.

Prosesnya tidak selesai dalam satu tanda tangan. Ada pengacara keluarga lewat video call, petugas bank privat yang datang dengan koper dokumen, dan Pak Hadi yang menjelaskan setiap pos biaya rumah seolah sedang mengajar mata kuliah Manajemen Konglomerat untuk Pemula.

"Ini rekening operasional staf."

"Ini dana darurat medis Tuan Muda."

"Ini anggaran keamanan."

"Ini anggaran perawatan Boba."

Aku menoleh. "Boba punya anggaran sendiri?"

Pak Hadi menjawab serius, "Tentu, Nyonya Muda."

Di lantai, Boba menggonggong sekali, seolah menyetujui kapitalisme.

Reynard duduk di sofa, membaca dokumen tanpa ekspresi, tapi aku merasa ia menikmati kepanikanku.

"Kalau aku salah tanda tangan?"

"Ada tim legal," katanya.

"Kalau aku salah transfer?"

"Ada audit."

"Kalau aku panik?"

"Ada aku."

Aku berhenti.

Sari pura-pura merapikan nampan. Pak Hadi pura-pura tidak mendengar. Pengacara di layar mendadak sangat sibuk melihat dokumen.

Aku menunduk dan menandatangani halaman berikutnya dengan telinga panas.

Setelah tanda tangan selesai, petugas bank privat mengeluarkan tablet kecil.

"Nyonya Muda dapat menentukan batas transaksi harian, daftar penerima tetap, dan notifikasi keamanan."

"Batas transaksi harian?"

"Jika tidak diatur, mengikuti limit penuh."

Aku langsung duduk lebih tegak. "Tidak. Tolong buat batas normal untuk operasional harian. Pembayaran staf, belanja rumah, obat, perawatan Boba, dan keadaan darurat harus dipisah."

Pak Hadi menatapku dengan kilatan puas yang sangat kecil.

Aku mulai menyusun daftar. Gaji staf dibayarkan tanggal tetap. Belanja dapur harus pakai vendor terverifikasi. Obat Reynard masuk kategori prioritas medis. Semua pengeluaran di atas angka tertentu harus ada dua persetujuan, aku dan Pak Hadi.

Reynard tidak menyela.

Ia hanya duduk diam, memperhatikanku mengambil kartu yang bisa membeli gedung lalu mengubahnya menjadi sistem yang tidak mudah dicuri.

"Tuan Muda?" tanya petugas bank, mungkin menunggu persetujuan pemilik asli kekacauan finansial ini.

"Ikuti Nyonya Muda."

Tiga kata itu turun seperti stempel resmi.

Aku menunduk, pura-pura membaca tablet, padahal jantungku sedang membuat konser dangdut.

Di sisi lain sofa, Boba menggigit boneka baru yang entah siapa beli.

"Anggaran Boba jangan terlalu besar," kataku cepat.

Reynard menjawab tanpa mengangkat mata, "Dia bagian keamanan moral rumah."

Aku hampir salah menekan tombol.

Petugas bank tersenyum sopan, mungkin mengira kami sedang bercanda. Tidak. Di rumah ini, anjing kecil yang pernah diselamatkan dari hujan memang bisa tiba-tiba masuk struktur anggaran.

Saat semua orang sibuk membereskan dokumen, Reynard berdiri di sampingku.

"Kau tidak mengambil limit penuh."

"Aku masih ingin tidur nyenyak malam ini."

"Kau bisa saja memakai semuanya."

"Lalu dikejar audit, hukum, dan tatapan Pak Hadi? Tidak, terima kasih."

Pak Hadi tersenyum tipis dari belakang map.

Reynard menatap kartu di tanganku. "Karena itu aku memberikannya padamu."

Aku menunduk lagi.

Entah kenapa, kalimat itu lebih berat daripada dua ratus miliar.

Malamnya, ketika aku masih memandangi kartu itu di kamar, ponselku berbunyi.

Natasha.

Begitu kuangkat, suaranya meledak.

"Ci Kei! Kau sudah dengar?"

"Dengar apa?"

"Om Hendra mengirim delapan perempuan cantik ke kantor Ko Rey! Katanya asisten baru, tapi satu grup keluarga sudah tahu itu bukan cuma asisten."

Aku duduk tegak.

Delapan.

Perempuan.

Cantik.

Ke kantor Reynard.

Di sudut kamar, Boba mengangkat kepala.

Si Kepo berkedip.

[Peringatan: plot kecemburuan dan mata-mata masuk.]

Aku menatap kartu dua ratus miliar di tanganku.

Baik.

Kalau mereka mau main rumah tangga, Nyonya Muda baru punya anggaran.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!