NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9 - Sindrom Lapar Sentuhan

Dari awal sampai akhir, semua isinya wajahnya.

Felicia menutup sketchbook itu dengan satu tangan.

Calvin tidak merebutnya. Ia hanya berdiri di dekat meja, jari bernoda arang berhenti mengetuk kayu. Untuk pertama kalinya sejak Felicia masuk ke studio, senyumnya tidak sepenuhnya terbentuk.

"Ci marah?"

"Harus?"

"Orang normal biasanya marah kalau tahu wajahnya digambar diam-diam."

"Aku bukan orang normal."

Calvin tertawa pelan. Ketegangan di bahunya turun sedikit, tetapi matanya tetap memperhatikan sketchbook di tangan Felicia seperti benda itu bagian dari tubuhnya.

"Boleh kukembalikan?" tanya Felicia.

"Kalau Ci mau menyimpannya, aku tidak keberatan."

"Terlalu banyak wajahku. Nanti kamu rindu."

Senyum Calvin muncul lagi. "Aku sudah rindu bahkan saat Ci berdiri di depanku."

Sis membuat suara seperti tersedak. "Tuan Rumah, kalimat itu... agak bahaya."

"Anak ini memang bahaya."

Felicia meletakkan sketchbook ke meja. "Tidur, Cal. Besok sekolah."

Panggilan singkat itu membuat Calvin diam.

Cal.

Bukan "Calvin", bukan "kamu". Hanya satu suku kata, tetapi efeknya seperti seseorang mengetuk kaca dari sisi dalam.

Calvin menunduk sedikit. "Iya, Ci."

Felicia keluar dari studio tanpa menoleh.

Malam itu, tubuh barunya akhirnya menagih semua penggunaan hari pertama. Memar di tangan kanan menggelap. Lutut kiri terasa kaku. Pergelangan kiri masih menyimpan bekas hangat genggaman Jayden. Felicia mengoleskan salep Calvin, mandi cepat, lalu tidur begitu kepala menyentuh bantal.

Keesokan paginya, Akademi Bintang Mulia sudah punya tiga gosip besar.

Felicia menjatuhkan siswa laki-laki.

Felicia memenangkan turnamen bulu tangkis untuk Kelas F.

Felicia membuat Jayden Hartono kalah balapan.

Gosip ketiga belum punya bukti jelas, tetapi justru itu yang membuatnya lebih liar. Setiap lorong punya versi sendiri. Ada yang bilang Jayden sengaja mengalah. Ada yang bilang Felicia naik mobil tanpa menyentuh setir. Ada yang bilang Nathan dan Calvin bertaruh diam-diam untuknya.

Felicia berjalan melewati semua itu dengan wajah tenang.

Hari kedua dimulai dengan pelajaran gabungan di gedung akademik. Karena persiapan Olimpiade Sains, beberapa kelas dikumpulkan di aula kecil untuk melihat demonstrasi soal dari Kelas Olimpiade. Kelas F duduk di barisan belakang, tempat yang biasanya membuat mereka tidak terlihat.

Di depan, Sebastian Widjaja berdiri dekat layar interaktif.

Ia memakai sarung tangan tipis berwarna abu muda.

Bukan sarung tangan tebal yang mencolok, melainkan jenis yang cukup rapi untuk terlihat seperti aksesori, cukup jelas untuk memberi peringatan: jangan sentuh.

Di meja dekatnya ada hand sanitizer, tisu antiseptik, dan satu pulpen yang dibungkus plastik transparan.

"Ini tidak sekadar germaphobia," bisik Sis. "Data sistem menyebutnya Sindrom lapar sentuhan."

"Nama yang kontradiktif."

"Penderitanya menolak sentuhan karena kontak kulit memicu rasa sakit, mual, atau sensasi terbakar. Tapi tubuhnya juga kekurangan rangsangan sentuhan yang sehat. Jadi dia lapar sentuhan, tapi tidak bisa menerima sentuhan."

Felicia menatap Sebastian.

"Merepotkan."

"Sangat."

Felicia segera melihat bahwa seluruh sekolah sudah belajar menyesuaikan diri dengan kerepotan itu.

Kursi di sebelah Sebastian dibiarkan kosong meski aula kecil penuh. Saat seorang siswa Kelas A hampir meletakkan tas di meja dekatnya, temannya langsung menarik lengan anak itu dengan wajah panik. Guru yang berdiri di samping layar pun menjaga jarak setengah meter lebih jauh dibanding saat berbicara dengan siswa lain.

Tidak ada yang menertawakan.

Itu bagian paling menarik.

Rasa takut pada Sebastian bukan rasa takut kasar seperti pada Jayden, bukan pula rasa hormat sosial seperti pada Nathan. Ini lebih mirip aturan laboratorium: jangan sentuh bahan berbahaya, jangan ganggu prosedur, jangan membuat kesalahan bodoh.

Sebastian sendiri tampak menerima semua itu tanpa emosi. Ia membersihkan ujung stylus sebelum dipakai. Ia tidak duduk. Ia tidak menyentuh meja dengan kulit telanjang. Setiap gerakannya efisien, tetapi dinginnya bukan dibuat-buat.

"Dia selalu seperti ini?" tanya Felicia.

"Sejak kecil," jawab Sis. "Data medisnya tidak terbuka penuh, tapi keluarga Widjaja sudah mencoba banyak dokter. Tidak ada yang benar-benar berhasil."

"Jadi dia hidup di tengah orang, tapi tidak bisa disentuh siapa pun."

Sis pelan menjawab, "Iya."

Di depan aula, seorang guru menampilkan soal kombinatorika tingkat olimpiade. Beberapa siswa Kelas A langsung menunduk. Anak Kelas Olimpiade pun tidak semuanya berani mengangkat kepala.

Sebastian membaca soal itu selama lima detik.

"Jawabannya 420," katanya.

Guru terdiam. "Kamu belum menulis langkah."

"Tidak perlu untuk menemukan jawaban. Tapi kalau diminta pembuktian, ada tiga jalur." Sebastian mengambil stylus yang sudah dibersihkan, lalu menulis di layar. Garis-garis rumus muncul rapi, hampir tanpa koreksi. "Pertama, pemisahan kasus. Kedua, prinsip inklusi-eksklusi. Ketiga, transformasi ke bentuk distribusi terbatas."

Suaranya datar, tidak pamer.

Justru karena tidak pamer, seluruh aula terasa lebih bodoh.

Felicia memperhatikan bukan rumusnya, melainkan cara Sebastian berpikir. Ia tidak menyerang soal dari depan. Ia memotongnya menjadi struktur, memilih jalur, lalu membuang bagian yang tidak perlu.

Otak yang bersih.

Sayang sekali tubuhnya seperti penjara.

Setelah demonstrasi selesai, siswa mulai bubar. Kelas F harus melewati lorong samping yang sama dengan Kelas Olimpiade. Semua orang otomatis memberi jarak saat Sebastian berjalan, seperti air terbelah di depan batu dingin.

Lalu seorang siswa dari belakang tersandung kabel proyektor yang belum digulung.

Gelas kopi panas di tangannya terlempar ke arah Sebastian.

Sebastian melihatnya. Tubuhnya bergerak mundur, tetapi di belakangnya ada meja. Jika ia mundur lagi, punggungnya akan menghantam sudut meja, kopi tetap mengenai kemeja dan sarung tangannya.

Felicia berada paling dekat.

Ia menarik pergelangan tangan Sebastian.

Gerakannya cepat, tepat, cukup kuat untuk memindahkan tubuh tinggi itu setengah langkah ke samping. Kopi panas menghantam lantai, memercik ke sepatu seorang siswa lain, tetapi tidak mengenai Sebastian.

Aula kecil langsung membeku.

Felicia baru sadar setelahnya.

Sarung tangan Sebastian tertarik sedikit saat ia bergerak. Ujung jarinya yang telanjang menyentuh telapak Felicia.

Kontak kulit.

Sebastian tidak bernapas.

Siswa yang menumpahkan kopi pucat. "Sebastian, maaf, aku..."

"Diam," kata Sebastian.

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia tidak melihat siswa itu. Ia menatap tangan sendiri, tepat pada bagian yang tadi menyentuh Felicia.

Biasanya, menurut data Sis, sentuhan sekecil itu cukup membuatnya mual atau kesakitan.

Tetapi Sebastian berdiri lurus.

Tidak gemetar. Tidak mundur. Tidak mencari sanitizer.

Tisu antiseptik di meja hanya berjarak dua langkah, tetapi ia bahkan tidak meliriknya. Beberapa siswa Kelas Olimpiade saling menatap, bingung melihat aturan yang selama bertahun-tahun tidak pernah dilanggar tiba-tiba berhenti berlaku.

Mata biru gelapnya melebar sangat pelan, seperti logika di kepalanya baru saja menemukan angka yang tidak mungkin.

Felicia melepas tangannya.

Sebastian tetap menatap kulitnya sendiri.

Aula menahan napas.

"Kenapa..." gumamnya, "tidak sakit?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!