Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Sentuhan lembut bibir Arkan menyapu seluruh pertahanan logika yang selama ini Milly bangun dengan susah payah. Di dalam ruang tunggu VIP yang kedap suara itu, waktu seolah berhenti berputar. Tidak ada deretan angka saham yang berkedip, tidak ada analisis data dari Bara, dan tidak ada hitungan denda harian. Yang ada hanya dekapan hangat yang terasa begitu protektif, seolah pria itu sedang mendeklarasikan kepemilikan mutlak atas hidupnya.
Ketika Arkan perlahan menjauhkan wajahnya, napas Milly masih tersengal kecil. Wajahnya merona hebat, dan ia buru-buru membetulkan letak kacamatanya yang sempat bergeser akibat keintiman mendadak tadi.
"T-Tuan... Anda melanggar protokol ruang publik," cicit Milly, berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang melompat jauh di luar batas aman. "Bagaimana jika ada staf humas atau jurnalis yang mendadak masuk?"
Arkan menegakkan punggungnya tanpa melepas genggaman tangan mereka. Sorot mata elangnya kembali fokus, namun ada kilat kepuasan yang tidak bisa disembunyikan. "Bara mendeteksi perimeter dalam radius sepuluh meter. Probabilitas interupsi pihak ketiga saat ini adalah 0%, Milly. Aku tidak pernah mengambil tindakan tanpa memastikan keamanan variabel lingkungan."
Milly mendengus, separuh jengkel karena pria ini masih sempat memikirkan persentase, namun separuh lainnya merasa lega. "Tetap saja... istilah 'absolutitas' itu terdengar terlalu abstrak untuk seseorang yang bahkan menghitung jam tidur saya sampai ke desimal menit."
"Abstrak bagi pasar, tapi tidak bagi Mahendra Group," sahut Arkan tenang. Ia melirik jam tangan taktisnya yang menunjukkan pukul sembilan tepat. "Waktu istirahatmu habis. Sekarang, kita harus kembali ke mansion utama. Ada seseorang dari masa lalu Keluarga Wijaya yang meminta audiensi resmi terkait sisa aset likuidasi mereka, dan aku membutuhkan kehadiranmu sebagai indikator stabilitas domestik."
Satu jam kemudian, limosin hitam mewah yang membawa mereka tiba di halaman depan mansion utama Mahendra Group. Suasana mansion tampak tenang, namun Milly bisa melihat personel pengamanan Bara berjaga dua kali lebih ketat di sekitar gerbang utama.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruang tamu agung, sosok tamu yang dimaksud Arkan sudah menunggu. Seorang pria paruh baya berambut keperakan dengan setelan jas mahal yang tampak sedikit kusut duduk dengan gelisah. Dia adalah Raymond Wijaya, mantan direktur utama dari faksi perbankan yang baru saja dilikuidasi oleh Arkan kemarin pagi.
Saat melihat Arkan masuk bersama Milly, Raymond langsung bangkit dari kursinya. Wajahnya menyiratkan perpaduan antara kemarahan yang tertahan dan keputusasaan yang mendalam.
"Arkananta!" suara Raymond bergetar. "Kau menghancurkan seluruh sirkuit investasi kami dalam waktu kurang dari sembilan puluh detik di depan altar pernikahanmu! Apakah ini caramu membalas kerja sama faksi kami selama puluhan tahun dengan Mahendra Group?"
Arkan tidak langsung menjawab. Ia menuntun Milly untuk duduk di sofa utama sebelum ia sendiri duduk dengan keanggunan seorang penguasa yang memegang kendali penuh.
"Kerja sama berakhir saat faksi Anda mulai mendanai tentara bayaran untuk menyabotase katedral tempat calon istri saya berdiri, Tuan Raymond," ucap Arkan, suaranya beralih ke nada rendah yang sangat dingin, penuh dengan otoritas yang membekukan atmosfer ruangan. "Kalkulasi bisnis saya selalu menoleransi persaingan pasar, tetapi manajemen risiko saya tidak pernah membiarkan adanya ancaman fisik terhadap aset internal saya."
Raymond terbelalak, matanya beralih menatap Milly yang duduk dengan tegak di samping Arkan. "Gadis ceroboh ini...? Kau mempertaruhkan seluruh valuasi Mahendra Group hanya demi melindungi seorang wanita dari panti asuhan?"
Milly merasakan cengkeraman tangan Arkan pada jemarinya mengencang. Arkan menatap lurus ke arah Raymond dengan sorot mata setajam silet.
"Dia bukan sekadar wanita, Raymond," desis Arkan pelan, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti vonis mutlak. "Dia adalah Nyonya Mahendra. Dan dalam duniaku, menyerangnya berarti memicu likuiditas total atas seluruh sejarah hidupmu."
Ruangan seketika hening. Raymond Wijaya melangkah mundur, wajahnya memucat mendengar penekanan dingin yang keluar dari mulut Arkan. Kalimat itu bukan sekadar gertakan, melainkan sebuah kepastian hukum dan finansial yang sudah ketuk palu.
"Kau... kau gila, Arkananta," bisik Raymond dengan suara serak, napasnya memburu. "Kau menghancurkan pilar perbankan yang ikut membesarkan korporasimu hanya untuk sebuah ego? Para pemegang saham tidak akan tinggal diam jika tahu kau bertindak seimpulsif ini!"
Arkan bersandar pada sofa, melipat kakinya dengan santai namun memancarkan intimidasi yang luar biasa. "Pemegang saham hanya peduli pada angka pertumbuhan, Raymond. Dan pagi ini, indeks sentimen mereka justru berada di titik tertinggi setelah faksi Anda tereliminasi dari sistem."
Pria itu kemudian melirik Bara yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu. Tanpa perlu perintah verbal, Bara maju satu langkah dan menyerahkan sebuah map tipis berwarna abu-abu gelap kepada Raymond.
"Itu adalah draf penyelesaian restrukturisasi sisa utang Anda," ujar Arkan datar. "Tanda tangani, serahkan seluruh hak suara Anda di dewan direksi faksi perbankan lama, dan Mahendra Group akan menjamin tunjangan hari tua Anda di luar negeri tetap aman. Jika Anda menolak, sistem pelacakan aset internasional kami akan membekukan sisa rekening pribadi Anda dalam waktu kurang dari enam puluh detik dari sekarang."
Raymond menatap map itu dengan tangan gemetar. Ia tahu betul tidak ada pilihan ketiga. Dengan sisa-sisa harga diri yang hancur, ia menyambar pena di atas meja, membubuhkan tanda tangan dengan cepat, lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Milly mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan begitu pintu ruang tamu tertutup rapat. "Tuan... ekspresi Anda tadi benar-benar menyeramkan. Saya hampir berpikir Anda akan menembaknya di tempat."
Arkan menoleh, tatapan tajamnya perlahan melunak saat mendapati Milly yang sedang memijat pelipisnya di balik kacamata bulat itu. "Kekerasan fisik adalah indikasi kegagalan strategi, Milly. Menguras isi rekeningnya jauh lebih efisien dan menyakitkan bagi pria seperti Raymond."
Sore harinya, ketegangan di mansion utama perlahan menyurut. Setelah makan siang yang diatur dengan kalori ketat oleh koki mansion, Arkan mengajak Milly berjalan-jalan di area taman dalam yang menghubungkan mansion utama dengan Paviliun Barat.
Angin sore berembus pelan, memainkan ujung rambut hitam Arkan yang kini tampak sedikit lebih santai tanpa balutan jas formal. Di sampingnya, Milly berjalan dengan langkah pelan, menikmati ketenangan yang jarang ia rasakan sejak terlibat dalam pusaran hidup sang monster korporat.
"Ibu dan adik-adikmu sudah mulai terbiasa dengan protokol keamanan baru di paviliun," ucap Arkan memecah keheningan, suaranya terdengar lebih rendah dan tenang.
Milly menoleh, menatap profil samping wajah suaminya. "Terima kasih, Tuan. Ibu tadi sempat bilang... dia merasa aman di sini. Dan itu semua karena Anda."
Arkan menghentikan langkahnya, membuat Milly turut berhenti. Pria itu berbalik menghadap Milly, menatapnya lekat-lekat di bawah bayangan pohon-pohon palem yang rindang.
"Aku tidak melakukan ini hanya karena isi kontrak, Milly," ujar Arkan, tangannya terangkat perlahan untuk menyelipkan sehelai rambut Milly yang berantakan ke belakang telinganya. Sentuhan jemarinya yang hangat membuat detak jantung Milly kembali berkejaran. "Melindungi mereka adalah bagian dari menjaga stabilitasmu. Dan menjaga stabilitasmu adalah prioritas nomor satu dalam seluruh kalkulasi hidupku sekarang."
Milly tertegun, matanya berkedip beberapa kali di balik lensa kacamatanya. "Tuan Arkananta... apakah ini cara Anda mengatakan bahwa Anda... peduli pada saya?"
Arkan terdiam sejenak, sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di sudut bibirnya. Ia mendekatkan wajahnya, membuat jarak di antara mereka kembali mengikis.
"Aku tidak menggunakan kata 'peduli', Millyanita. Itu terlalu bias dan sulit diukur dengan metrik," bisik Arkan pelan, namun tatapan matanya memancarkan kesungguhan yang mutlak. "Tapi jika kau bertanya apakah eksistensimu telah menggeser seluruh skala prioritasku... maka jawabannya adalah seratus persen, tanpa ada keraguan sedikit pun."
Milly tersenyum tulus, rasa hangat yang begitu penuh merayapi dadanya. Di balik semua rumus, angka, dan kekakuannya, monster korporat ini telah menyerahkan ruang paling aman di dalam dunianya hanya untuk dirinya. Dan berjalan di samping Arkan, kini bukan lagi tentang bertahan hidup, melainkan tentang memulai sebuah cerita baru yang takkan pernah bisa dihapus oleh angka tahun mana pun.