NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan

Matahari pagi mulai beranjak naik, namun pergerakan waktu terasa merayap lambat. Sisa ketegangan dan kepedihan dari pengeroyokan itu masih menggantung pekat di udara.

Rencana investigasi ladang yang telah mereka susun semalaman terpaksa tertunda untuk sementara.

Fokus keempat gadis itu kini hanya tertuju pada satu hal. Membawa pulang tubuh Takahiro yang terkapar tak berdaya di atas gerobak kayu yang berderit ringkih.

Berada di garis paling depan, Chtholly mengambil alih kendali. Gaun bangsawan ungunya yang bersih kini harus berdamai dengan debu.

Telapak tangannya mencengkeram erat tuas gerobak, memaksakan diri menarik beban berat tersebut dengan susah payah.

Meski ia lahir di desa ini, menyentuh tuas gerobak adalah hal yang sangat asing dalam hidupnya, terlebih ia baru saja tiba setelah menempuh perjalanan jauh dari Terrovia.

Di belakangnya, Cate, Uchi, dan Vyora menumpukan sisa tenaga mereka. Mereka mendorong papan gerobak itu dalam kebisuan yang hanya diselingi napas menderu.

"Chtholly? Apa dia Chtholly?" bisik lirih seorang warga pada temannya.

"Kamu benar Liu, dia Chtholly, anak si Yoto."

Meski nada bicara mereka direndahkan, Chtholly yang berada di depan masih bisa menangkap sayup-sayup obrolan saat rombongan kecil itu melewati kumpulan warga yang asyik bergosip.

"Tapi siapa pemuda yang ada di atas gerobak itu?" tanya Liu. "Apa dia pacarnya?"

Pertanyaan lancang yang keluar dari mulut Liu sukses menyulut sumbu emosi Cate. Gadis berambut merah yang sedari tadi diam menahan lelah itu mendadak menghentikan dorongannya.

Tangannya terlepas dari gerobak. Dengan gerakan memutar yang cepat, ia berbalik penuh menantang arah pandang Liu dan Rattes.

"Mmmm!!" gerutunya kesal. Urat kekesalan seolah tercetak di dahinya. Ia menggembungkan kedua pipinya, memajukan tubuhnya ke depan dengan tangan yang sudah bertolak pinggang. Tatapan matanya menajam, mengunci kedua pria dewasa itu dengan gurat permusuhan yang kental.

Aura intimidasi yang memancar dari postur Cate sukses membuat nyali Liu dan Rattes ciut seketika. Keduanya refleks membuang muka, pura-pura mencari objek langit untuk dilihat.

Tanpa perlu aba-aba, kedua pria itu memutar tumit cepat-cepat, melarikan diri ke arah berlawanan dan meninggalkan Cate yang masih berdiri mendengus kasar menatap punggung mereka.

Dari posisinya, Uchi melirik dari sudut mata. Ia tak berniat menegur, apalagi menahan kelakuan sahabatnya. Sebaliknya, Uchi diam-diam menahan napas kagum melihat keberanian Cate yang tak ragu mengintimidasi dua pria sakaligus.

Di sebelahnya, Vyora sebenarnya juga merasakan letupan amarah yang sama saat kakak perempuannya digosipkan berpacaran dengan pemuda asing tak dikenal.

Namun, berbeda dengan Cate yang meledak-ledak, Vyora memilih bungkam. Ia melampiaskan emosinya dengan mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat di sisi tubuhnya, lalu kembali berfokus mendorong gerobak.

Tak berselang lama, derit roda gerobak melewati pertigaan jalan. Atap rumah keluarga Vyora mulai terlihat di ujung pandangan.

Cate yang napasnya sudah kembali teratur kini hanya mengekor santai di belakang rombongan, membiarkan tangannya beristirahat dari papan kayu.

Di posisi terdepan sebagai pemandu jalan, langkah Chtholly mulai melambat. Suasana gang sempit dengan pagar-pagar rumah yang familier ini memicu nostalgia di dadanya.

Sorot matanya menyapu liar ke segala arah, mengamati dinding, pepohonan, dan jalan tanah, membiarkan dirinya jatuh sepenuhnya ke dalam pelukan rindu yang sudah bertahun-tahun tak ia rasakan.

Berjalan di sisi kiri gerobak, Vyora menangkap gurat kekaguman yang hangat di wajah kakaknya. Hatinya ikut meleleh. Dengan lengkungan senyum tipis, ia menyapa.

"Selamat datang kembali, Chtholly nee-san."

Sapaan lembut itu membuat Chtholly melirik adiknya dari sudut mata. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman tulus, mengonfirmasi betapa bahagianya ia mendengar sambutan itu langsung dari lisan sang adik.

Pemandangan manis itu tak luput dari perhatian Cate di belakang. Meski tak ada ikatan darah, dadanya ikut terasa penuh melihat kebahagiaan yang kini tengah merangkul Vyora dan kakaknya.

Sayangnya, reuni hangat itu menguap dalam hitungan detik.

Langkah Uchi mulai gontai. Keringat membanjiri dahi gadis mungil itu. Dengan napas terputus-putus, ia akhirnya menyerah pada batas ketahanan fisiknya.

"Sebentar lagi kita sampai di rumah, kan? Kakiku udah nggak tahan lagi nih untuk berjalan. Bisa nggak kita beristirahat sebentar?"

'Istirahat'—kata itu sepertinya tidak pernah tercetak dalam kamus kehidupan yang dianut Chtholly. Menanggapi keluhan itu, ia menghentikan laju gerobaknya. Tanpa aba-aba, dan jauh dari kesadaran Uchi, wanita bergaun ungu itu melangkah ke belakang. Ia meraih tubuh mungil Uchi dan mengangkatnya semudah memindahkan boneka jerami.

Hup!

Uchi tak sempat menjerit apalagi menghindar. Ia mengerjap kaget saat mendapati dirinya mendadak mendarat dan terduduk di atas papan gerobak, bersebelahan dengan tubuh Takahiro. Wajahnya cengo, pasrah karena tak bisa berbuat apa-apa selain takjub dengan tenaga gila milik kakak sahabatnya itu.

Melihat wajah blank Uchi, tawa Vyora dan Cate meledak seketika. Hiburan spontan itu sukses menyapu bersih sisa-sisa ketegangan pengeroyokan pagi tadi.

"Yosh, ayo kita lanjutkan perjalanan kita!" Chtholly berseru lantang.

Ia kembali menempati posisinya di depan tuas gerobak, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara bak kapten yang memimpin pelayaran.

"U-weii!" Cate dan Vyora bersorak serempak. Mereka menyambut antusias ajakan Chtholly, memastikan energi semangat rombongan kecil ini tetap menyala hingga tiba di rumah.

Di atas gerobak, Uchi perlahan ikut mengangkat tangannya yang bergetar lelah. Namun, berbeda dengan dua temannya yang berapi-api, kepalanya menunduk dalam.

"U-weii..." cicit Uchi dengan suara super kecil, mati-matian menahan wajahnya yang kini merona merah padam karena canggung dan malu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!