Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Hari Pertama
"Selamat pagi." Rendra mengangguk kepada beberapa karyawan sambil berusaha terlihat tenang meskipun jantungnya berdegup jauh lebih cepat daripada biasanya.
Hari pertamanya di Pradana Group seharusnya menjadi awal baru, tetapi tatapan dingin Kirana yang menyambut kedatangannya membuat semua persiapan yang sudah ia susun semalam terasa sia-sia.
"Dia benar-benar datang." Dita menggeser kursinya sedikit sambil menatap ke arah lift.
"Iya." Kirana membuka laptopnya dan berusaha mengalihkan perhatian pada layar di depannya.
"Kamu terlihat terlalu tenang." Dita mengamati wajah sahabatnya.
"Aku sedang bekerja." Kirana menggerakkan mouse di tangannya.
Dita menghela napas pelan, jawaban itu selalu muncul setiap kali Kirana sedang menyembunyikan sesuatu.
"Bos pasti akan senang." Gavin keluar dari ruang CEO sambil membawa secangkir kopi.
"Kenapa?" tanya salah satu staf yang kebetulan lewat.
"Karena hidupnya tidak pernah membosankan." Gavin menunjuk ke arah lift.
Beberapa orang mengikuti arah telunjuknya dan langsung memahami maksud ucapan tersebut, kehadiran Rendra sudah cukup untuk membuat suasana kantor berubah tetapi kemunculan Selina beberapa detik kemudian membuat semuanya menjadi jauh lebih rumit.
"Kenapa dia ada di sini?" gumam Gavin sambil mengerutkan kening.
"Tanya saja langsung." saran staf itu sambil menahan senyum.
"Saya masih ingin hidup." Gavin menggeleng cepat.
"Selina." Rendra menghentikan langkahnya sambil menatap wanita yang baru keluar dari lift.
"Halo." Selina membalas dengan anggukan singkat.
"Kamu sedang apa di sini?" Rendra mendekat beberapa langkah.
"Aku datang untuk urusan pribadi." Selina memegang tasnya lebih erat.
"Kamu tidak bilang akan ke sini."
"Kamu juga tidak bilang akan mulai bekerja hari ini." Selina mengangkat alis.
Percakapan mereka langsung menarik perhatian beberapa orang di sekitar, tidak ada yang berani mendekat tetapi hampir semua orang diam-diam mendengarkan.
"Kita bisa bicara di luar." Rendra mengusap tengkuknya.
"Tidak perlu." Selina menggeleng pelan.
"Selina."
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepada Kirana." Selina mengalihkan pandangannya ke arah meja sekretaris.
Nama itu membuat suasana menjadi lebih canggung, beberapa staf bahkan langsung pura-pura sibuk agar tidak terlihat sedang menguping.
"Aku tidak punya apa pun untuk dibicarakan." Kirana tetap fokus pada layar laptopnya.
"Sebentar saja." Selina mendekat.
"Kamu sudah mengatakan semuanya." Kirana menghentikan ketikannya.
"Belum." Selina menggeleng.
Kirana akhirnya mengangkat kepala , dari ekspresi wanita di hadapannya ia tahu pembicaraan itu tidak akan selesai jika terus dihindari.
"Kirana." Aiden keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa dokumen.
"Iya, Tuan." Kirana langsung berdiri.
"Rapat dimulai tiga puluh menit lagi." Aiden menyerahkan map kepadanya.
"Semua berkas sudah siap." Kirana menerima dokumen tersebut.
Aiden mengangguk singkat, lalu pandangannya bergeser ke arah Rendra dan Selina yang berdiri tidak jauh dari sana, hanya sepersekian detik tetapi cukup untuk membuat Gavin buru-buru memalingkan wajah agar tidak tertawa.
"Bos sedang kesal." Gavin berbisik kepada staf di dekatnya.
"Kelihatan?" tanya staf itu pelan.
"Bagi saya sangat kelihatan." Gavin mengangguk mantap.
"Saya tidak melihat apa-apa."
"Itu karena kamu masih ingin gajian bulan depan." Gavin menepuk bahu staf tersebut.
"Aku ingin bicara denganmu saat istirahat." Selina menatap Kirana.
"Kita lihat nanti." Kirana merapikan dokumen di tangannya.
"Ini penting."
"Kamu juga mengatakan itu kemarin." Kirana memasukkan beberapa berkas ke dalam map.
Selina terdiam. Ia tahu kepercayaan adalah sesuatu yang sulit didapat dan sangat mudah hilang. Dalam posisi seperti sekarang, tidak banyak alasan bagi Kirana untuk mempercayainya.
"Semua orang punya pekerjaan." Aiden menatap mereka bertiga dengan tenang.
"Tentu." Selina mengangguk sopan.
"Saya mengerti." Rendra menghela napas.
"Kalau begitu kembali bekerja." Aiden memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Tidak ada nada tinggi dalam suaranya, tetapi semua orang langsung memahami bahwa percakapan itu harus berakhir.
Ruang rapat kembali dipenuhi suasana formal beberapa saat kemudian. Kirana duduk di sisi kanan meja sambil mencatat poin-poin penting yang dibahas sedangkan Aiden memimpin jalannya pertemuan dengan ekspresi tenang seperti biasa. Tidak seorang pun akan menyangka bahwa beberapa menit sebelumnya suasana kantor hampir berubah menjadi drama keluarga.
"Bagian ketiga perlu direvisi." Aiden membalik halaman laporan di depannya.
"Saya akan memperbaikinya." Kirana menulis catatan kecil di sudut dokumen.
"Jangan hari ini." Aiden menoleh kepadanya.
Kirana mengangkat kepala.
"Kenapa?" Kirana mengernyit.
"Karena kamu sudah membawa pekerjaan pulang tiga hari berturut-turut." Aiden menutup map tersebut.
Beberapa manajer langsung saling berpandangan.
"Tuan memperhatikan itu?" tanya Kirana.
"Aku memperhatikan banyak hal." Aiden menyandarkan tubuh ke kursinya.
"Itu terdengar menyeramkan." Kirana menghela napas pelan.
"Itu terdengar seperti pekerjaan CEO." Aiden mengangkat alis.
Beberapa orang di ruang rapat langsung menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyum mereka.
"Wah." Gavin menggeleng pelan dari kursinya.
"Ada masalah?" tanya Aiden.
"Tidak." Gavin tersenyum tipis.
"Kalau begitu diam."
"Saya diam." Gavin mengangguk cepat.
Dua detik kemudian ia kembali membuka mulut.
"Tapi saya tetap kagum."
Aiden menatapnya tanpa ekspresi, Gavin langsung menunduk dan pura-pura membaca dokumen.
.
Jam makan siang akhirnya tiba setelah rapat yang berlangsung hampir dua jam berakhir, sebagian besar karyawan bergegas menuju kantin atau keluar gedung untuk mencari makan. Sementara itu, Kirana memilih tetap berada di mejanya sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.
"Kamu benar-benar tidak belajar." Dita berhenti di samping mejanya.
"Aku sedang menyelesaikan laporan." Kirana memeriksa data di layar monitor.
"Kamu juga butuh makan."
"Nanti."
Dita hendak membalas ketika seseorang lebih dulu menghampiri mereka.
"Aku perlu bicara." Selina berdiri beberapa langkah dari meja Kirana.
"Kalau soal kemarin..." Kirana mulai berbicara.
"Bukan." Selina menggeleng.
"Lalu?"
"Soal mutasi."
Kirana terdiam beberapa saat, kalimat itu berhasil menarik perhatiannya lebih cepat daripada yang diharapkan Selina.
"Apa yang kamu tahu?" Kirana akhirnya menutup laptopnya.
"Lebih baik kita bicara di luar." Selina melirik ke sekeliling.
"Di sini saja." Dita menyilangkan tangan.
"Ini bukan urusanmu." Selina menatap Dita.
"Dia sahabatku." Dita membalas tanpa kalah tajam.
Kirana memijat pelipisnya pelan, a baru menyadari bahwa hari itu belum genap setengah berjalan tetapi kepalanya sudah terasa penuh.
"Kita ke kafe depan kantor." Kirana berdiri sambil mengambil tasnya.
"Aku ikut." Dita langsung bergerak.
"Kamu tidak ikut." Kirana menahan lengannya.
"Kenapa?"
"Karena aku ingin pulang hidup-hidup." Kirana menatapnya datar.
Dita mendengus pelan, tetapi akhirnya menyerah.
.
Kafe di depan gedung tidak terlalu ramai pada jam tersebut, Selina memilih meja di sudut ruangan yang jauh dari keramaian. Sementara Kirana duduk di hadapannya sambil menunggu wanita itu mulai berbicara.
"Sekarang katakan." Kirana melipat kedua tangannya di atas meja.
"Rendra pernah menyebut nama Aiden." Selina langsung masuk ke inti pembicaraan.
Kirana mengernyit.
"Aiden?" Kirana mengulang nama itu.
"Iya." Selina mengangguk.
"Apa hubungannya?"
Selina menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Beberapa bulan lalu, Rendra tahu kamu bekerja sangat dekat dengan Aiden." Selina memutar gelas minumnya perlahan.
"Itu bukan rahasia." Kirana tetap tenang.
"Masalahnya bukan itu."
"Lalu apa?"
"Dia mulai terobsesi dengan nama itu."
Kirana tidak langsung menjawab, ia berusaha mengingat apakah pernah melihat tanda-tanda yang dimaksud tetapi tidak menemukan apa pun.
"Suatu malam dia mabuk." Selina menundukkan pandangannya. "Dia mengatakan bahwa suatu hari akan membuat Aiden melihatnya sebagai lawan."
Kirana membeku, kalimat itu terdengar aneh.
"Apa maksudnya?" Kirana bertanya pelan.
"Itu yang tidak aku mengerti." Selina menggeleng.
Namun sebelum percakapan bisa berlanjut, ponsel Kirana tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar membuat napasnya tertahan sesaat dan entah kenapa, firasat buruk langsung kembali muncul.