NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

“Aurora, ikut denganku. Sekarang.”

Suara Kael terdengar tegas, hampir tak menyisakan ruang untuk berdebat.

Namun Aurora justru menarik tangannya, berusaha melepaskan diri dari genggaman pria itu.

“Tidak! Aku tidak mau pergi bersamamu!”

Kael mengembuskan napas panjang. Sejak tadi Aurora terus menolak dan memberontak. Padahal sebelumnya wanita cantik itu sudah setuju untuk ikut dengannya, sementara keadaan di sekitar mereka semakin tidak menentu.

Hah... Entahlah. Mengapa wanita sering kali bersikap seperti ini? Membuat Kael pusing saja.

Pada akhirnya, Kael mengambil keputusan. Ia mengangkat Aurora seperti karung beras dan membawanya pergi dari tempat itu.

“Turunkan aku!” Aurora memprotes sambil berusaha melepaskan diri. “Kael, aku bisa berjalan sendiri!”

“Berhenti bergerak.”

Kael berusaha mempertahankan keseimbangan meski Aurora terus meronta.

Beberapa saat kemudian, Aurora akhirnya berhenti bergerak. Wajahnya berubah pucat ketika rasa tidak nyaman menjalar di bagian perutnya.

“Kael… turunkan aku. Perutku terasa tidak nyaman.”

Kael segera menurunkannya.

Begitu kedua kakinya menyentuh lantai, Aurora refleks memegangi perutnya.

Kael langsung memperhatikan perubahan wajahnya.

“Kau sakit?”

Aurora menggeleng pelan.

“Tidak terlalu. Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman.”

Kael mengamatinya beberapa detik, memastikan Aurora benar-benar baik-baik saja.

Kemudian ia kembali menoleh ke arah luar ruangan. Suara keributan masih terdengar dari kejauhan.

“Kita harus pergi sekarang,” katanya serius. “Tempat ini sudah tidak bisa dianggap aman.”

Aurora menatapnya, lalu menggeleng.

“Tunggu. Aku harus mengambil beberapa barangku terlebih dahulu.”

Kael menatap Aurora dengan sorot mata tak sabar.

“Barang bisa diganti.”

“Tapi itu barang-barangku,” jawab Aurora bersikeras. “Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”

Suasana kembali hening sesaat.

Kael akhirnya menghela napas.

“Baik. Ambil yang paling penting. Jangan lebih dari beberapa menit.”

Aurora baru saja hendak melangkah menuju kamarnya ketika—

DUAR!

Suara ledakan kembali mengguncang udara.

Kali ini jauh lebih keras.

Getaran terasa sampai ke dalam rumah. Beberapa benda di sekitar mereka bergeser, sementara suara kepanikan mulai terdengar dari luar. Aurora spontan menghentikan langkahnya.

Kael langsung menyadari keadaan.

“Tidak ada waktu lagi, Aurora.”

Pria itu segera meraih tangan Aurora dan menariknya menjauh dari ruangan.

“Tempat ini sudah tidak aman. Kita harus pergi sekarang.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi.”

Kael membawa Aurora menuju pintu yang sebagian sudah rusak. Namun sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, seseorang muncul dari arah lorong.

“Kakak!”

Aurora langsung mengenali sosok itu.

Adrian.

Kakaknya berlari ke arah mereka dengan napas memburu. Salah satu tangannya tampak terluka dan terdapat noda merah pada pakaiannya.

Wajah Aurora seketika berubah.

“Ya Tuhan… Kakak!”

Ia segera menghampiri Adrian dan memegang lengannya dengan hati-hati.

“Kakak terluka!”

Adrian tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju pada Kael, seolah ingin memastikan pria itu membawa Aurora keluar dari tempat tersebut.

“Kak, apa yang sebenarnya terjadi?”

Adrian tetap diam sejenak.

Di luar, suara kekacauan semakin jelas. Teriakan warga terdengar bersahutan dari berbagai arah. Rumah-rumah di sekitar mereka mulai dipenuhi kepulan asap akibat ledakan yang terjadi sebelumnya.

Kael mengamati keadaan dengan wajah serius.

Beberapa anak buahnya telah bergerak menyisir kawasan tersebut untuk mencari sumber serangan dan memastikan jalur keluar tetap aman.

“Adrian, kita harus bergerak,” ujar Kael tegas. “Sekarang.”

Adrian akhirnya mengangguk.

Ia tahu tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya kepada adiknya.

“Aurora, dengarkan Tuan Kael,” katanya singkat. “Kita harus meninggalkan tempat ini.”

“Tapi Kakak juga ikut, kan?”

Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam.

Aurora menggenggam tangannya lebih erat.

Di kejauhan, suara sirene mulai terdengar samar, bercampur dengan teriakan orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri.

Api mulai menjalar di beberapa bagian kawasan tersebut. Asap perlahan memenuhi udara dan membuat suasana semakin mencekam.

Kael kembali mengulurkan tangannya kepada Aurora.

“Kita pergi bersama.”

Aurora menatap kakaknya, kemudian menoleh kepada Kael.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak membantah.

Ia menggenggam tangan Kael, sementara Adrian berjalan di belakang mereka.

Mereka bertiga segera meninggalkan rumah tersebut sebelum keadaan berubah menjadi jauh lebih buruk.

Langkah mereka baru saja menjauh dari rumah ketika Adrian tiba-tiba berhenti. Napasnya masih berat akibat berlari, sementara suara keributan dari berbagai penjuru belum juga mereda.

Salah seorang anak buah Kael segera menghampiri mereka.

“Tuan, kami sudah mendapatkan informasi mengenai serangan ini.”

Kael menoleh.

“Katakan.”

Pria itu menarik napas sebelum berbicara.

“Kelompok mafia lain yang melakukan serangkaian ledakan di kawasan ini. Dari informasi yang kami dapat, mereka sedang mengincar wilayah yang dipercaya memiliki cadangan emas di bawah tanah.”

Tatapan Kael berubah tajam.

Ia melirik Adrian.

“Adrian, bukankah kawasan ini merupakan tanah milikmu?”

Adrian mengangguk pelan.

“Benar, Tuan. Sebagian warga memang sudah menyerahkan tanah mereka kepada kelompok tersebut dengan harga yang jauh di bawah nilai sebenarnya. Namun masih ada beberapa orang yang memilih bertahan.”

Ia berhenti sejenak, kemudian menatap rumah yang mulai dipenuhi asap.

“Termasuk saya.”

Kael mengernyit.

“Alasannya?”

Adrian terdiam beberapa saat sebelum menjawab.

“Ada banyak kenangan bersama orang tua saya yang tidak bisa saya tinggalkan begitu saja. Karena itu, saya tidak pernah berniat menjual rumah maupun tanah tersebut.”

Aurora yang berdiri tak jauh dari mereka menundukkan wajah. Ia memahami alasan kakaknya bertahan selama ini.

Kael kembali bertanya kepada anak buahnya.

“Dari mana kelompok itu berasal?”

“Pemimpinnya berasal dari Amerika, Tuan. Namun jaringan mereka sudah berkembang cukup luas di negara ini.”

Kael terdiam.

Potongan informasi yang baru saja diterimanya perlahan membentuk sebuah kesimpulan.

Sejak ledakan pertama, ia sempat mengira serangan tersebut merupakan ulah musuh yang sedang memburunya. Namun kini ia menyadari bahwa dugaannya keliru.

Kelompok itu tidak datang untuk menyerangnya.

Mereka memiliki kepentingan sendiri terhadap kawasan tersebut.

Tatapan Kael mengeras.

“Jadi semua kekacauan ini bukan berkaitan denganku?”

“Sepertinya begitu, Tuan.”

Kael mengembuskan napas perlahan.

Setidaknya untuk sementara, ia tahu bahwa dirinya bukan sasaran utama.

Namun hal itu tidak membuat situasi menjadi lebih aman.

Justru sebaliknya.

Jika kelompok tersebut benar-benar mengincar wilayah itu, Aurora dan Adrian berada dalam bahaya karena mereka tinggal di sana.

Kael segera menyentuh alat komunikasi di telinganya.

“Siapkan mobil di jalan keluar rahasia. Aku akan menyusul ke sana.”

Ia kemudian kembali menatap Adrian.

“Pergilah lebih dulu. Aku akan memastikan Aurora tetap bersamaku.”

Adrian tampak hendak membantah, tetapi kondisi di sekitar mereka membuatnya sadar bahwa berdebat hanya akan membuang waktu.

Ia akhirnya mengangguk dan segera meninggalkan tempat itu, meskipun langkahnya masih terlihat berat karena kondisi tangannya yang terluka.

Aurora hanya mampu memandang kepergian kakaknya.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung.

“Kau benar-benar memberikan kejutan yang luar biasa di hari pernikahanku, Kael.”

Suaranya bergetar.

“Sayangnya, bukan kejutan yang ingin kuterima.”

Ia mengusap air matanya dengan cepat, tetapi semakin berusaha menahannya, semakin sulit pula bendungan emosinya bertahan.

Melihat kakaknya pergi dalam keadaan terluka membuat hatinya semakin sesak.

Di luar rumah, suara kepanikan semakin ramai.

Teriakan terdengar dari berbagai arah. Beberapa warga bergegas meninggalkan rumah mereka sambil membawa barang-barang penting yang sempat diselamatkan. Suasana yang sebelumnya tenang berubah menjadi kekacauan dalam hitungan menit.

Aurora meraih ponselnya.

Jarinya sempat gemetar ketika membuka layar.

“Aurora, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kael.

Aurora mengangkat ponselnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

“Aku mau menghubungi polisi.”

Kael langsung menatapnya tajam.

“Jangan.”

Aurora mengernyit. “Kenapa?”

“Percuma jika kita hanya mengandalkan mereka.” Suara Kael terdengar rendah, tetapi tegas. “Kelompok seperti ini tidak bekerja sendirian. Mereka punya pengaruh dan jaringan yang luas. Kita tidak tahu siapa saja yang berada di belakang mereka.”

Kael melirik ke arah jendela. Dari luar, cahaya api memantul di dinding rumah, sementara suara kepanikan semakin jelas terdengar.

“Jangan mengambil risiko dengan tetap berada di sini. Kita harus segera pergi sebelum tempat ini benar-benar tidak bisa diselamatkan.”

Aurora terdiam.

Untuk sesaat, ia ingin membantah. Namun ketika melihat keadaan di luar, keberaniannya perlahan surut.

Kael kemudian memeriksa keadaan sekitar.

Situasi seperti ini bukan pertama kalinya ia hadapi. Namun kali ini kondisinya berbeda. Persediaan amunisi yang dibawanya juga terbatas setelah sebelumnya digunakan untuk membuka jalan keluar dari kamar Aurora.

Ia tidak boleh bertindak gegabah.

Kael mengalihkan pandangan ke sekitar ruangan. Saat hendak meninggalkan rumah, matanya menangkap sebuah gunting yang tergeletak di dekat meja.

Ia mengambilnya.

Aurora menatap heran.

“Untuk apa itu?”

“Gaunmu akan menyulitkanmu bergerak.”

Kael kemudian membantu membuat bagian bawah gaun pengantin Aurora menjadi lebih longgar agar langkahnya tidak terhambat ketika mereka harus berlari.

Aurora menunduk memperhatikan gaunnya.

“Bukankah ini baru sekitar pukul sembilan malam?” gumamnya. “Tapi suasananya seperti tengah terjadi bencana besar.”

Kael tidak menjawab.

Ia hanya terus mengamati keadaan di luar.

Api tampak menjalar di beberapa tempat. Asap mulai memenuhi udara, sementara suara warga yang meminta pertolongan terdengar dari kejauhan.

Namun ada sesuatu yang membuat Kael merasa tidak nyaman.

Tidak terdengar sirene pemadam kebakaran.

Tidak ada suara kendaraan darurat yang mendekat.

Padahal kekacauan sebesar ini seharusnya sudah mengundang perhatian banyak pihak.

Kael menyipitkan mata.

“Ke mana mereka semua?”

Aurora menatapnya.

“Maksudmu?”

Kael tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tertuju pada jalan di luar rumah yang semakin diselimuti asap.

“Seharusnya bantuan sudah datang.”

Keheningan singkat menyelimuti mereka.

Dan untuk pertama kalinya, Aurora menyadari bahwa mungkin masalah mereka jauh lebih besar daripada sekadar serangan terhadap sebuah kawasan.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Dan seseorang tampaknya sengaja memastikan tidak ada bantuan yang datang tepat waktu.

...****************...

1
Nur Halida
oh jadi brema kek gitu ...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
Yudi Chandra: Hahaha....betul juga ya😅
total 1 replies
Nur Halida
pernikahan itu terjadi karena kamu menggagalkan pernikahan aurora dg brema kael kalo kamu lupa ..
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
Yudi Chandra: hihihi....kamu tuh yaaaa🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
aku baru ngeh kalo sekarang aurora gak manggil om lagi😁
Nur Halida
loh kok ayahnya ??bukannya aurora dan adrian udah gak punya ortu??🤔
Yudi Chandra: Hehehe...😅 maaf ya, aku khilaf 🙏
skarang udah aku koreksi.😊
total 1 replies
Visitor7755
uhui..
Yudi Chandra: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
baru aja nikah udah mau gelut aja😁
Yudi Chandra: Hehehe....abis istrinya cantik🤭
total 1 replies
Nur Halida
nah .. gitu dong kael .. tangging jawab sama aurora ... kirain kamu gak bakal dateng .. ku susul kau ke rumahmu kalo berani gak dateng..😁
Yudi Chandra: helleh...emang tau alamatnya🤭
total 1 replies
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Yudi Chandra: it's okey.😊 but thanks for stopping by.🙏🤗
total 1 replies
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Yudi Chandra: 😘😘😘💞💞💞💞
total 3 replies
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Yudi Chandra: sabar buuu🤗🤭
total 1 replies
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!