Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putus ( Revisi )
Kais melangkah mendekat ke meja dimana Marsya dan Bagas duduk.
Ehemmm..
Kais berdehem saat sampai di dekat dengan meja Marsya. Terlihat Marsya dan Bagas menoleh ke arah di mana Kais yang menatap kearah mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.
Melihat kehadiran Kais, Marsya langsung beranjak dari tempat duduknya dengan wajah yang terlihat memucat.
"Ka_Kai..kamu sudah datang. Kenapa nggak balas pesan ku. Kalau aku tahu kamu sudah jalan tadi aku langsung ke Rumah Sakit."
" Sya, kamu memang lupa kalau dari awal kita janjian di sini bukan?" Kais melirik ke arah Bagas yang beranjak dari tempat duduknya.
"Karena tuan Kais sudah datang, saya pamit permisi dulu Sya, mari.. tuan.." Bagas menatap ke arah Marsya dan juga Kais. Dia melangkah meninggalkan pasangan itu.
Namun baru satu langkah Bagas sudah di buat menghentikan langkahnya setelah mendengar perkataan Kais.
"Kalau nggak niat buat nikahi Anisa, lebih baik lepaskan dia." Bagas menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kais.
Marsya menatap terkejut saat mendengar ucapan suaminya.
"Kai, maksud kamu apa? Kenapa kamu suruh Bagas tinggalin Anisa. Bagas sangat mencintai Anisa, begitu pun Anisa. Kamu malah tiba-tiba suruh Bagas putusin Anisa, sih?".
"Kenapa, kamu kenapa kelihatan kesel gitu? Aku cuma bicara fakta. Kalau Bagas nggak ada niatan menikahi Anisa, lebih baik dia putus. Bahkan saat dia luang saja lebih milih berduaan sama kamu di Cafe, sementara sudah lama kan kamu nggak ketemu Anisa, bahkan dia nunggu kamu hubungi dia. Anisa nggak mungkin hubungi kamu duluan, karena dia takut kamu marah." Bagas mengepalkan kedua tangannya mendengar penuturan Kais.
"Terimakasih tuan Kais atas perhatian nya. Saya rasa hubungan saya dengan Anisa cukup jadi urusan saya. Permisi.." Bagas kembali melangkah keluar cafe sementara Kais mendengar penuturan Bagas mengumpat dalam hati sikap Bagas.
"Kamu kenapa sih, keliatan nya kesel banget sama Bagas?'
"Sudahlah, kita harus segera ke Rumah Sakit. Udah waktunya bukan?" tanpa ingin membahas lebih jauh tentang Bagas dan Anisa, Kais mengajak Marsya untuk segera ke Rumah Sakit'.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anisa yang baru selesai membersihkan diri menatap ke arah ponselnya yang ada di atas nakas setelah bunyi notif pesan terdengar.
Anisa meraih ponselnya dan tertera nama Bagas disana. Dalam pesannya, Bagas ingin bertemu dengan Anisa malam ini.
Dengan segara Anisa membalas dan menyetujui nya. Tepatnya jam tujuh malam, Anisa sudah siap dengan baju santainya dan membawa slim bag nya keluar dari kost nya menuju sebuah cafe yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
" Haii..Nis, sorry aku mendadak ngajak kamu ketemuan malam ini."
"Nggak apa-apa kok, lagi pula ada yang ingin aku bahas sama kamu."
"Oh ya, apa itu?" Bagas dan Anisa kini duduk di sebuah cafe.
"Lebih baik kita pesan minum dulu saja mas.." Bagas pun menyetujui. Mereka pesan minum dan juga camilan. Setelah selesai pesan, Bagas kembali membuka suara.
"Nisa, aku ingin tanya ke kamu sesuatu. Ini berhubungan dengan hubungan kita." Nisa tak langsung bicara, seorang pelayan terlihat mendekat ke arah meja mereka dan membawa pesanan mereka.
"Terimakasih mba.." Nisa dengan sopan berterimakasih pada seorang pelayan dan terdengar jawaban yang sopan dari si pelayan. Setelah melihat pelayan itu pergi, Anisa mulai membuka obrolan mereka lagi. "Aku juga ingin tahu juga hubungan kamu dengan Marsya mas, seberapa dekat kamu dengan Marsya?" Bagas mendengar pertanyaan itu terlihat raut wajahnya mulai berubah.
"Maksud kamu apa Nis, kamu curiga sama aku dan Marsya?"
"Bukan begitu, tapi aku bahkan lihat kalian makan malam romantis di sebuah restoran."
Deg..
Bagas melebarkan matanya mendengar penuturan Anisa. Nada bicara Anisa terlihat biasa bahkan terkesan santai dan tenang.
"Ka_kamu....
"Iya. Kebetulan aku dan pak Kais ada di restoran yang sama. Karena kami nggak mau ada keributan disana, kami memilih buat pergi."
"Kamu sama Kais, kalian berdua?"
Anisa mengangguk.
"Iya. Kami berdua, waktu itu habis ada meeting dan kami melihat kalian begitu akrab tidak seperti sekedar teman pada umumnya.Bahkan kalian terlihat sangat intim."
"Nisa, jangan berpikir aneh-aneh. Kamu sama Kais pun dekat kan? Apa kamu nggak merasa kalau sikap dan pandangan Kais saat menatap mu terlihat berbeda. Sepertinya Kais menganggap mu lebih dari sekertaris." dengan nada sinis Bagas bicara pada Nisa. Sedangkan Anisa hanya menghela nafas panjang.
"Kamu tahu mas, apa yang selama ini aku rasakan? Aku merasa sudah mengkhianati kamu. Tapi, saat melihat interaksi kamu dan Marsya waktu itu, aku nggak yakin kalau yang awalnya perasaan bersalah ku itu, berubah jadi curiga. Katakan sebenarnya, apa kamu mencintai Marsya?" Bagas tak langsung menjawab. Dia menelan ludah nya dengan susah payah. Rasanya tenggorokan nya terasa tercekat saat Bagas ingin menampik jika dia mencintai Marsya.
"Coba katakan yang sejujurnya. Aku akan mendengarkannya."
"Nisa, aku..." Bagas mejeda ucapannya. Sebelum benar-benar bicara yang sebenarnya, Bagas menarik nafas dalam-dalam.
"Sebenarnya, aku nggak tahu apa yang ada dalam hati ku Nis. Tapi yang jelas, perasaan yang dulu ada tak lagi sama. Aku sudah terjebak dalam perasaan bersalah, cinta, juga marah." Anisa mengernyitkan dahinya. Anisa belum paham dengan apa yang di katakan Bagas barusan.
"Nisa , apa kamu mau menerima aku kalau kamu tahu perasaan ku sama kamu tak lagi sama?" Anisa menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Nggak.Aku akan mengambil jalan putus.Lebih baik kita putus sekarang dari pada aku harus terus sakit saat ingat kalau pasangan aku tidak bisa benar-benar cinta lagi sama aku. Perasaan kamu nggak lagi sama seperti dulu, apa itu karena Marsya?" Bagas tersenyum kecut.
"Kadang aku berpikir kalau aku memang salah. Awalnya ini memang salah ku Nisa. Aku salah sudah punya perasaan lain pada perempuan lain saat masih bersama mu. Aku pikir, pasti kamu sakit saat tahu kalau aku tidak lagi sama mencintai kamu. Aku terlalu sibuk dan kita semakin jauh. Kadang aku merasa cemburu melihat kedekatan kamu dengan Kais beberapa bulan ini. Tapi aku sadar, aku juga bukan orang yang sempurna."
Anisa meremas ujung bajunya. Dia menatap Bagas dengan dalam. Matanya saat ini bahkan sudah berkaca-kaca.
"Mas, kamu sadar kan kalau Marsya masih istri orang?" Bagas diam tak menjawab. "Kamu sudah tahu resiko nya kalau Kais sampai tahu? Walaupun memang dia sudah lihat kalian di restoran itu. Tapi, kamu sudah bisa tebak apa yang akan Kais lakukan pada Marsya?" Bagas mengeraskan rahangnya saat terlintas dipikiran hal gila apa yang akan Kais lakukan pada Marsya.
"Mas, kamu tahu kalau Marsya begitu mencintai Kais, kamu tahu gimana perasaan Kais saat tahu kamu mencintai istrinya?"
" Lalu kamu, kenapa kamu terlihat tenang saat tahu kalau aku tidak mencintaimu seperti dulu?" Anisa terkekeh mendengar pertanyaan Bagas.
"Aku nggak marah. Aku hanya kecewa. Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin-kemarin. Kenapa kamu menghukum ku dengan perasaan bersalah itu, kenapa? Aku rasa hubungan ini sudah tidak lagi sehat, sudah tidak ada lagi kejujuran. Aku rasa hubungan ini cukup sampai disini." Bagas mengangguk. Dia pikir itu lebih baik. Mungkin setelah dia mengakhiri hubungan nya dengan Anisa, dia akan perlahan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Marsya.
Bersambung