Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Pertemuan Nadine dan Dokter Arjuna
“Apa yang ingin Anda sampaikan, Pak Dokter?” Nadine meminum air putih di depannya dengan gerakan elegant walau hatinya tidak berkata seperti itu.
“Tunggu sebentar, ya, Nadine. Saya sedang menunggu Xavier.” Arjuna menyunggingkan senyum tipis di depan Nadine dan Andin yang duduk berhadapan dengannya.
Arjuna meminta untuk berbicara sebentar dengan Nadine ketika mereka bertemu di pedagang ayam potong tadi. Nadine ragu dan sempat menolaknya, tapi Arjuna sedikit memberi paksaan kepada Nadine. Awalnya sang bunda sempat khawatir, jadi dia akan ikut untuk menemani Nadine, tapi karena sang ayah membutuhkan bantuan dari sang bunda, maka Nadine mengajak Andin untuk ikut bersamanya.
“Xavier?” tanya Nadine.
Andin menolehkan kepalanya untuk menatap Nadine. Andin dan Nadine saling memberi tatapan tanya.
Arjuna menganggukkan kepalanya. “Xavier adalah keponakan saya, Nadine. Jadi saya adalah paman Xavier.”
Nadine terkejut mendengarnya. Arjuna adalah dokter yang Adinata panggilkan khusus untuk dirinya dan Adinata di rumah orang tua Adinata. Adinata juga yang menjadikan Arjuna sebagai dokter keluarga Adinata, bukan dokter keluarga orang tua Adinata. Dan Arjuna adalah dokter kepercayaan Adinata.
Nadine was-was mendengarnya. Nadine memberi tawa kecil. “Kalau tujuan Anda meminta untuk berbicara dengan saya karena suruhan Adinata, lebih baik saya pergi dari sini.”
Arjuna mengangkat tangannya. “Tidak. Saya bukan orang suruhan Adinata, Nadine.”
Andin memberi tatapan tajam ke Arjuna. “Nadine sudah tidak ada hubungan dengan Adinata, Pak Dokter. Seharusnya Anda tidak usah mengganggu kehidupan Nadine yang tanpa ada Adinata lagi.”
“Kalian salah paham.”
“Apa yang salah paham?”
Xavier datang diwaktu yang tepat. Nadine dan Andin masih duduk di tempatnya.
“Saya disini hanya ingin meluruskan informasi agar tidak ada miskomunikasi di pertemuan selanjutnya.” Arjuna menjelaskan dengan perlahan setelah menghela napas.
Xavier duduk di sebelah kursi sang paman. Ia masih diam, tapi pandangan matanya tidak lepas dari wajah Nadine.
“Nadine, kamu beberapa hari yang lalu datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan kamu ‘kan?” tanya Arjuna.
Nadine menganggukkan kepalanya. “Iya. Dokter Xavier yang menanganinya.”
“Xavier meminta saya untuk merahasiakan pemeriksaan kamu dari orang lain, termasuk Adinata dengan syarat dia yang menjadi dokter kandungan kamu. Benar ‘kan?”
Nadine menganggukkan kepalanya.
“Anda ini bisa cepat tidak? Langsung saja berbicara dengan jelas, Pak Dokter.”
Nadine masih sabar, tapi tidak dengan Andin. Emosinya ingin meledak.
Xavier menghela napasnya. “Kamu pulang saja. Nanti biar aku yang mengantarkan Nadine pulang.”
“Enak saja! Tidak boleh. Aku pulang, Nadine juga akan ikut pulang!” balas Andin dengan emosi.
“Kemarin, saya dipanggil Tuan Adinata untuk memeriksa tubuhnya yang sedang sakit. Apa kamu merasa mual beberapa hari ini, Nadine?”
Nadine menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku hanya merasa ingin sesuatu untuk aku makan saja.”
Arjuna menganggukkan kepalanya. “Berarti alasan sakitnya memang berasal dari kehamilan kamu.”
Xavier menatap sang paman yang duduk di sebelahnya. “Adinata sakit? Lalu apa yang paman katakan kepada dia?”
“Om hanya mengatakan kalau mungkin saja Tuan Adinata salah memakan sesuatu sebelumnya. Walau paman tahu kalau sakit yang dirasakan berhubungan dengan kehamilan sang istri.”
“Mantan istri,” ralat Andin.
“Memangnya ada pengaruhnya, Dok?”
“Xavier yang lebih bisa menjelaskannya. Omong-omong, panggil saya ‘paman’ saja seperti Xavier memanggil saya, ya, Nadine.” Tutur kata yang Arjuna sampaikan tidak mengandung sarat akan emosi.
“Namanya sindrom couvade atau kehamilan simpatik yang terjadi karena tingginya tingkat empati, ikatan emosional yang kuat hingga perubahan hormon karena stres atau kelelahan yang dirasakan oleh suami dan istri.” Xavier menjelaskan dengan santai. “Dan aku rasa jawaban yang lebih tepatnya karena ikatan emosional yang dirasakan Adinata untukmu. Dia juga sudah lama menantikan kehadiran buah hati, tapi memang dia diam.”
“Kamu ingin aku memberi tahu Adinata?”
Xavier menghela napas. Ia harus memahami mood Nadine. “Tidak juga. Kamu sendiri yang akan memberitahu Adinata. Aku tidak akan mencampuri urusanmu. Kamu hanya ingin aku diam, jadi aku akan diam saja. Tapi aku tidak tahu bagaimana dengan pamanku.”
“Kemarin setelah saya kembali ke rumah sakit ada seseorang yang mengaku menjadi suruhan Tuan Adinata. Dia bilang tidak melihat kamu datang ke rumah sakit dan dia bertanya tentang apa yang kamu lakukan disana, Nadine.” Arjuna melipat tangannya di atas meja.
Andin menggenggam tangan Nadine dengan erat.
“Anda memberitahu hasil pemeriksaan saya ke dia?”
Arjuna menggelengkan kepalanya. “Saya memberinya alasan yang masuk akal.”
“Bagaimana bisa dia percaya dengan apa yang Anda katakan?”
“Pamanku menjadi salah satu direksi atas yang memiliki kuasa untuk mengetahui hasil pemeriksaan semua pasien.” Xavier yang memberi balasan.
Nadine menghembuskan napasnya. “Saya meminta dengan sangat untuk merahasiakan pemeriksaan saya dari Adinata ataupun suruhannya. Saya masih tidak ingin dia mendengar bahwa saya mengandung anaknya. Saya hanya ingin merahasiakan anak yang saya kandung sampai dia lahir nanti dari Adinata.”
“Adinata adalah ayah dari bayi yang sedang kamu kandung, Nadine.”
Nadine menganggukkan kepalanya. “Saya mengerti. Saya akan membawa anak saya datang ke Adinata disaat dia sudah bisa memutuskan keputusan yang tepat untuk dirinya dan keluarganya. Saya hanya tidak ingin anak saya tumbuh di tengah keluarga yang saling berebut. Saya akan memperkenalkan Adinata sebagai ayahnya.”
“Saya hanya meminta bantuan kepada Anda untuk merahasiakan anak saya saja.”