Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Konfrontasi Sang Raja dan Kehancuran Permaisuri
Hujan lebat yang mengguyur Monako sejak dini hari perlahan menyusut menjadi rintik tipis saat roda-roda jet pribadi Gulfstream G700 mencium landasan pacu privat keluarga Garrick. Suara derit ban yang bergesekan dengan aspal basah memecah keheningan fajar yang dingin. Begitu pintu hidrolik pesawat terbuka, atmosfer di sekitar landasan seketika berubah mencekam.
Victor Garrick melangkah turun terlebih dahulu. Sang Kepala Keluarga mengenakan mantel wol hitam panjang yang berkibar ditiup angin laut, wajahnya yang penuh gurat ketegasan puluhan tahun tampak bagai pahatan batu cakar yang tak tersentuh emosi. Di belakangnya, menyusul Dominic Garrick, sang putra mahkota pertama yang bertubuh tegap dengan sepasang mata elang yang memancarkan aura dominasi mutlak. Mereka dikawal oleh selusin pasukan elite pribadi berseragam hitam tanpa emblem faksi—pasukan bayangan yang hanya tunduk pada perintah sang penguasa tertinggi.
Victor tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia langsung masuk ke dalam kabin Rolls-Royce Phantom miliknya yang sudah menunggu di tepi landasan. Kendaraan mewah itu melesat cepat membelah jalanan basah menuju kompleks utama Garrick, di mana sebuah badai domestik telah menanti untuk diselesaikan.
Satu jam kemudian, aula utama di Mansion Utama diubah menjadi ruang sidang meja bundar yang sangat dingin. Seluruh kepala faksi telah berkumpul di bawah panggilan darurat sang Bos Besar. Xavier dan Julian duduk berdampingan di sisi kanan meja, menampilkan ekspresi tenang yang teramat menipu. Sementara di sisi kiri, Eleanor Rossi duduk dengan tubuh yang bergetar hebat. Wajah permaisuri Faksi Pertama yang biasanya anggun kini tampak kuyu, pucat, dan di ambang histeria.
"Victor! Kamu harus mengeksekusi mereka semua!" Eleanor langsung berteriak begitu Victor menduduki kursi kebesaran di ujung meja, mengabaikan protokol formalitas yang biasa dia agungkan. "Xavier telah menghancurkan saham kita di pasar gelap! Julian menahan amunisi militer kita! Dan anak haram sialan itu... Alana! Dia adalah dalang dari semua kekacauan ini! Mereka melakukan kudeta, Victor!"
Xavier hanya mendengus pelan, memutar-mutar gelas wiski di tangannya dengan gerakan malas. "Nyonya Eleanor, menuduh orang lain atas kegagalan manajemen keuangan Anda sendiri adalah tindakan yang sangat memalukan. Pasar saham bergerak dinamis, bukankah begitu, Julian?"
"Tentu," sahut Julian datar sembari membetulkan letak kacamata peraknya. "Dan mengenai pasokan amunisi, data logistik kami menunjukkan bahwa ruang kerja Andalah yang mengeluarkan surat perintah pembatasan tersebut. Faksi Kedua hanya mematuhi protokol."
"Kalian bohong! Bajingan licik!" pekik Eleanor, napasnya memburu.
"Cukup."
Satu kata bernada rendah dari Victor seketika membungkam seluruh ruangan. Ruang aula itu mendadak sunyi senyap, bahkan suara napas Eleanor pun tertahan di tenggorokan. Victor tidak menatap istrinya, tidak juga menatap Xavier atau Julian. Pandangannya lurus menatap pintu besar aula yang mendadak terbuka dengan kasar.
Cedric Garrick melangkah masuk. Pria bertato ular itu tidak lagi mengenakan seragam militer kebanggaannya, melainkan kemeja taktis yang bernoda jelaga dan wajah yang dilingkupi amarah hitam. Di tangannya, dia mencengkeram sebuah tablet militer yang menampilkan dokumen-dokumen pemalsuan digital buatan Adrian.
"Ayah," suara Cedric terdengar parau dan sarat akan racun rasa dikhianati. Dia melemparkan tablet itu ke tengah meja bundar, tepat di hadapan Victor. "Lihat apa yang dilakukan wanita tua ini di belakang kita semua. Sementara aku bertaruh nyawa memimpin militer di garis depan, dia secara rahasia menguras seluruh aset Faksi Pertama untuk dikirim ke rekening pribadi Dominic di Swiss! Dia ingin menyingkirkanku dan mengganti posisiku dengan Dominic!"
Eleanor membelalakkan matanya saat melihat draf revisi dokumen Eropa Selatan dan grafik aliran dana fiktif yang terpampang di layar. "Cedric! Apa yang kamu katakan?! Itu palsu! Ibu tidak pernah melakukan itu!"
"Diam, Eleanor!" bentak Cedric, urat-urat di lehernya menegang. "Seluruh cap digital dan otentikasi keuangan ini berasal dari komputermu sendiri! Kamu membuangku seperti anjing penjaga yang tidak berguna!"
Melihat ibu dan anak kandung itu saling berteriak dan menuduh di depannya, kilatan kekecewaan yang teramat dingin terpancar dari mata Victor Garrick. Bagi seorang mafioso sekelas Victor, tidak ada dosa yang lebih besar daripada kelemahan dan ketidakmampuan menjaga stabilitas internal faksinya sendiri. Eleanor dan Cedric telah gagal total. Mereka membiarkan emosi dan paranoia menghancurkan kekuatan Faksi Pertama dari dalam, membuat dinasti Garrick tampak lemah di mata dunia bawah tanah.
Victor berdiri dari kursinya. Kehadirannya yang masif seketika menekan seluruh ruangan ke dalam titik nadir ketakutan. Dia melirik Dominic yang berdiri di belakangnya, memberikan sebuah anggukan kecil yang teramat dingin.
Dominic melangkah maju, meletakkan seberkas dokumen baru di depan Eleanor. "Mulai detik ini, atas perintah mutlak Ayah, seluruh otoritas keuangan, hak veto, dan aset Faksi Pertama resmi dibekukan dan dialihkan ke bawah pengawasan langsung Faksi Utama," ucap Dominic dengan suara bariton yang tak terbantahkan. "Nyonya Eleanor Rossi dibebaskan dari seluruh tugas kedinasan keluarga dan dilarang meninggalkan Mansion Utama tanpa izin tertulis."
"Victor... tidak! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!" Eleanor menjatuhkan dirinya berlutut di lantai marmer, air matanya merusak riasan wajahnya yang mahal. "Aku istrimu! Aku yang membangun faksi ini bersamamu!"
Victor sama sekali tidak menatap wanita yang menangis di kakinya. Pandangannya beralih kepada Cedric yang berdiri kaku. "Dan kamu, Cedric... seorang komandan militer yang membiarkan emosi pribadinya menarik mundur pasukan dan mengosongkan pos penjagaan utama hanya karena sebuah provokasi berkas, tidak layak memimpin satu orang prajurit pun. Pangkatmu dicabut. Kamu diturunkan menjadi prajurit baris depan di bawah komando Dominic."
Cedric mengepalkan tinjunya hingga berdarah, namun di hadapan aura membunuh dari ayahnya dan dominasi fisik Dominic, dia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, hancur secara mental dan struktural. Faksi Pertama yang selama puluhan tahun merajai Mansion Garrick, resmi runtuh dalam hitungan menit tanpa ada satu pun peluru yang ditembakkan dari luar.
Setelah sidang berdarah dingin itu selesai, Victor tidak kembali ke ruang kerjanya. Didampingi oleh Dominic, sang Raja melangkah keluar dari Mansion Utama menembus gerbang penghubung dan berjalan langsung menuju klinik steril di Mansion Ketiga.
Langkah kaki tegap Victor menggema di koridor klinik yang sunyi. Pintu kaca buram ruang rawat digeser terbuka. Di dalam ruangan yang temaram itu, Alana sedang duduk tegak di atas ranjang medisnya. Jubah sutra hitam tebalnya tampak kontras dengan seprai putih rumah sakit. Meskipun wajahnya masih pucat karena sisa-sisa trauma operasi punggungnya, tidak ada sedikit pun gertakan ketakutan di dalam sepasang mata jernih gadis itu.
Xavier dan Julian yang baru saja kembali dari aula utama langsung berdiri di sisi ranjang, membentuk barikade protektif yang samar di depan Alana.
Victor berhenti tepat dua langkah di kaki ranjang Alana. Sepasang matanya yang tajam bak elang malam menatap lurus ke dalam bola mata anak haram yang selama belasan tahun ini hanya dia anggap sebagai pajangan tak berguna di sudut kompleksnya. Kamar rawat itu seketika dipenuhi oleh tekanan udara yang begitu berat, sebuah perang urat syaraf yang tak kasat mata.
Sebagai seorang penguasa tertinggi, Victor tahu bahwa keruntuhan Faksi Pertama terjadi terlalu rapi, terlalu taktis, dan melibatkan sinkronisasi yang sempurna antara keuangan Xavier dan logistik Julian—dua putra mahkota yang selama ini selalu saling membenci dan bersaing. Hanya ada satu variabel baru di dalam persamaan ini: gadis kecil yang sedang terluka di atas ranjang ini.
"Konflik finansial yang menghancurkan Eleanor, dan paranoia logistik yang melumpuhkan Cedric," Victor membuka suara, nadanya terdengar tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Semua itu terjadi tepat setelah kamu melangkah keluar dari Mansion Utama dengan punggung berdarah, Alana."
Alana tidak mengedipkan matanya sedikit pun menghadapi tatapan membunuh dari ayahnya. Dia justru menarik sudut bibirnya, mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat halus, penuh rasa hormat yang menipu sekaligus keangkuhan yang luar biasa dingin.
"Saya hanya seorang anak perempuan yang sedang memulihkan diri dari luka cambuk, Ayah," jawab Alana, suaranya terdengar lirih namun bergaung dengan rasa percaya diri yang mutlak. "Konflik di Faksi Pertama adalah akibat dari keserakahan Nyonya Eleanor dan kebodohan Taun Muda Cedric sendiri. Saya tidak memiliki kekuatan atau pasukan untuk melakukan hal sebesar itu."
Victor menyipitkan matanya. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa di balik tubuh rapuh yang dibungkus perban itu, terdapat sebuah otak genius yang teramat licik dan berbahaya—sebuah replika sempurna dari kekejaman strategis yang dia miliki, namun terlahir dari rahim seorang wanita yang dia sia-siakan.
Untuk pertama kalinya, sang Raja menyadari bahwa dia tidak lagi menghadapi sebutir debu di dalam rumahnya sendiri, melainkan seorang Dalang baru yang siap menantang takhtanya.
"Kita lihat saja seberapa lama kamu bisa menyembunyikan tanganmu di balik selimut ini, Alana," desis Victor, sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan diikuti oleh Dominic yang sempat memberikan tatapan penuh selidik yang tajam kepada adik tirinya.
Begitu pintu bergeser menutup, Alana mengembuskan napas perlahan. Xavier seketika menggenggam jemari tangan Alana yang dingin, sementara Julian menatapnya dengan helaan napas lega yang tertahan. Sumbu api pertama telah selesai membakar mangsanya, dan kini, sang Dalang telah resmi masuk ke dalam radar sang Raja untuk permainan yang jauh lebih mematikan di babak berikutnya.