Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 - Maling teriak Maling
Jika di rumah Rahmat sedang bersitegang berakhir nikah dadakan lain halnya di rumah Andre, Silvi sedang marah-marah tidak bisa menemukan keberadaan Fathan dan sulit di hubungi.
"Brengsek! Dia benar-benar pergi tanpa bilang-bilang. Kemana dia? Tidak bisa dihubungi, tidak ada di rumah, kemana kamu Fathan?" Silvi mondar mandir.
"Udah jangan memikirkan dia terus, kamu jauhi Fathan, dia tidak menyukaimu! Jadi wanita harus punya harga diri." pinta Anita seraya keluar dari rumah hendak belanja kebutuhan sehari-hari.
Silvi menoleh tajam, dia tidak menyukai ucapan Silvi. "Dasar gila! Emang mesti di kasih pelajaran supaya tidak ikut campur lagi sama urusanku," gumam Silvi marah.
Sedetik kemudian bibirnya menyeringai penuh misteri, tertawa namun sedetik kemudian berubah lagi jadi mode marah.
********
Lain halnya dengan Aldi, pria yang Gavin minta tolong sama Ayumi sedang mendengus kesal sebab ban mobilnya tiba-tiba saja bocor ketika balik menjemput ustad cukup kondang di daerah sana.
Jika ditanya darimana mereka tahu alamat ustadz nya tentu saja dari orang-orang, rumah nya pun cukup jauh dari rumah Rahmat sehingga harus menempuh perjalanan sekitar 20 menit lamanya. Baru saja setengah perjalanan balik tiba-tiba ban mobilnya kempes melindas paku.
"Ini ban kenapa mesti bocor segala sih, jadinya gue repot sendiri, mesti ganti sendiri, jarak jauh lagi, emang apes banget hari ini." Aldi berjuang sendiri mengganti ban mobil yang tiba-tiba mendadak pecah di jalan, terpaksa Ayumi dan ustadz nya naik ojek.
Sekian lama mencoba mengganti seorang diri akhirnya kegiatannya yang melelahkan ini selesai juga. Aldi berdiri mengusap keringat di dahi. "Panas banget lagi, haus juga."
Dia celingukan mencari warung terdekat untuk membeli minuman, dari sebrang jalan ada warung kecil dan dia pun singgah sebentar di warung itu.
Tidak jauh dari sana seseorang mendapat kabar dari tetangga lewat ponsel, dia yang mau ke pasar sejenak menghentikan langkahnya.
"Emak bikin ulah lagi? Sama siapa, Bi?" ujarnya kaget sambil memegang ponsel menempel di telinga.
Di sebrang sana menjawab, "sama anaknya Rahmat, Euis. Buruan kamu datang kesini sebelum emak kamu bikin ulah sama mereka."
Yang dipanggil Euis diam mencerna siapa kiranya anak Pak Rahmat, sedetik kemudian. "Maksud bibi Alea datang ke sini?"
"Iya, sama keluarganya."
"Ok, Euis segera datang sebelum emak buat keributan dan bikin mereka ..." Euis menggantung ucapannya.
"Buruan Is, di tunggu." Kemudian sambungan telponnya mati.
Dia celingukan mencari tumpangan maupun ojek. "Euis harus segera datang kerumah Emak ini mah, takut banget emak bikin keributan. Gak boleh ada korban lagi cukup Bi Kirana saja."
Kepalanya celingukan, mencari kendaraan. Matanya menemukan mobil yang di kendarai Aldi malah pintu mobilnya terbuka sedikit.
Euis mendekat, memperhatikan mobilnya seraya celingukan mencari pemiliknya hingga matanya melihat sosok laki-laki di depan warung tengah duduk.
"Gak apa-apa kan kalau pinjem, darurat ini mah harus segera datang sebelum badai topan menghadang." Lalu Euis berteriak sambil menatap ke seberang jalan.
"AKANG EUIS PINJAM MOBILNYA DULU YA, KALAU MAU AMBIL KEJAR EUIS AJA." Dengan suara lantang Euis berteriak sampai Aldi melihat ke arahnya, kemudian dia naik menutup pintu keras.
Blugh.
Mata Aldi terbelalak mobilnya dibawa orang asing tanpa permisi lagi. "Woi, mobil gue jangan dibawa kabur, woi! Berhenti!"
Aldi berdiri seraya mengambil uang seratus ribu dari dalam sakunya. "Bu ini uangnya." lalu lari.
"Kembaliannya belum!" teriak tukang warung.
"Buat ibu aja," balas Aldi sambil berlari mengejar mobilnya. "Berhenti hei!"
Mata Aldi celingukan berharap dapat tumpangan, kebetulan sekali aja angkot warna hijau nangkring di pinggir jalan dan keberuntungan berpihak sebab ada kuncinya tergantung.
"Mang saya pinjam angkotnya dulu," ujarnya seraya naik ke dalam angkot terus tancap gas.
Sopir angkot terbelalak, dia yang sedang buang air kecil segera menaikkan sleting celananya berlari mengejar Aldi.
"Angkot saya jangan dibawa atuh! Kembalikan hei!"
Tapi karena tidak ke kejar dan rasa lelah mulai ia rasakan, ada bentor nganggur ada kuncinya pula ikut pinjam. "Kang pinjem dulu, mau ngejar maling angkot saya, Kang."
"Mana maling nya Kang Jajang?" rupanya kang bentor mengenalnya.
"Itu di depan Kang, kita kejar dia," sambil menjalankan bentornya.
"Maling?! Wah harus di tangkap ini mah, siang-siang gini maling angkot." Dia juga berlari lalu melihat motor nganggur dan kuncinya menggantung sebab pemiliknya sedang pipis di dekat pohon, kang bentor meminjamnya.
"Akang ojek, pinjam motornya ya. Saya mau ngejar maling angkot dulu," teriaknya sambil menjalankan motornya.
Pemilik motor sedang buang air kecil terlonjak kaget "Motor saya jangan di curi!" Kang motor itu sampai lupa mensletingkan kancingnya saking panik motornya di curi.
Dia berlari mengejar motornya, ada sepeda di jalan pemilik kang sol, pemiliknya sedang istirahat di pinggir jalan sedang minum.
"Mang pinjem sepedanya, ya. Sebentar saja." Katanya sambil menaiki sepeda.
"Eh, itu sepeda saya, Kang. Jangan di curi," katanya sambil mengejarnya. Berlari mengejar demi bisa mendapatkan barangnya kembali.
Jadinya mereka saling kejar-kejaran. Aldi mengejar Euis menggunakan angkot, kang angkot mengejar Aldi menggunakan bentor, mang bentor mengejarnya menggunakan motor, Tukang motor mengejarnya menggunakan sepeda, sedangkan pemilik sepeda mengejarnya menggunakan kakinya sendiri, sungguh kasian kang sepeda.
"Maling!"
"Pencuri!"
"Perampok!"
"Tulung ... Tulung ..."
"Woooouii ... berhenti woooouii..."
Teriakan mereka mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya.
"Mana malingnya, Mang?" tanya orang-orang pada kang Sol si pemilik sepeda.
"Itu kang, di depan." Jawab akang pemilik sepeda.
"Wah, tidak bisa di biarkan ini mah. Ayo kita kejar!" Dan mereka berbondong-bondong mengejar sambil teriak maling.
Euis sampai di depan rumah Rahmat, begitu juga dengan Aldi dan yang lainnya menyusul sampai tapi tidak dengan kang sol dan warga yang masih berlari sebab kakinya kalah cepat dengan kendaraan
Aldi turun segera menghampiri Euis. "Maling turun lo!" Dia menarik tangan Euis untuk turun.
"Aduh Kang, saya bukan maling."
"Nah ini dia maling angkotnya," kata kang angkot mencekal tangan Aldi membuat Aldi bingung.
"Nah, ketangkap kan kamu," sahut pemilik bentor pada Aldi juga.
"Eh, kok jadi saya?" Aldi bingung.
"Akhirnya pencurinya berhenti," kata pemilik motor pada pemilik bentor sambil mencekal tangannya.
"Apa-apaan sih? Bukan saya."
"Kamu mau nyuri sepeda saya, hah?" Kata pemilik sepeda pada tukang motor.
"Bukan saya atuh."
"Mana malingnya?" Seru warga yang tadi mengejar-ngejar.
"Dia ....." tunjuk mereka pada orang-orang yang membawa kendaraannya lari. Tentu mereka terkejut dong, mereka semua kompak saling tunjuk sambil saling mencekal tangan.
"Kok jadi saya?" Balas mereka kompak, tapi tidak dengan pemilik sepeda.
"Ini teh yang benarnya mana? Mana malingnya?" tanya warga.
"Dia ...." mereka tetap kompak menunjuk satu sama lainnya.
"Kang saya pusing, Kang. Kalian semua maling?" tanya Euis
"Elo malingnya, elo sudah bawa mobil gue," sahut Aldi kesal pada wanita di depannya.
"BERHENTI!!"