Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.
Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.
Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Apakah Pertanda Jodoh?
Uhuk.. Uhuk..
Kamila tersedak minumannya mendengar ucapan Papanya tadi.
"Pelan-pelan sayang," Pak Herman reflek mengusap punggung Kamila guna meredakan batuknya.
"Ekhem, Papa sih bikin Kamila kaget aja," gerutu Kamila disela-sela batuknya.
"Maaf sayang, gimana udah mendingan?," tanya Pak Herman merasa bersalah.
"Udah, untung aja nggak ketemu," celetuk Kamila langsung mendapat pelototan mata oleh Papanya.
"Emang Papa lupa dengan janji Papa?," tanya Kamila membalas tatapan Papanya.
"Ya nggak sayang, kalau hari ini kamu ketemu dia mungkin saja kamu berubah fikiran," goda Pak Herman sambil menaik turunkan alisnya.
"Orangnya ganteng nggak Om?," tanya Veni tiba-tiba karena penasaran. Dia sudah nggak canggung lagi dengan Pak Herman setelah melihat beliau tak semenyeramkan seperti yang dibayangkannya.
"Emmm, kalau menurut Om sih ganteng ya. Nggak kalah dari model terkenal. Yang terpenting lagi dia pintar, berwibawa dan tegas. Om yakin nggak akan salah pilih," terang Pak Herman dengan yakin.
"Wah, kayaknya perfect tuh Mil. Rugi kamu kalau buru-buru nolak," Veni ikut mengompori sahabatnya.
"Ih, kok kamu ikut-ikutan Papa sih Ven? Aku tuh masih pengen bebas melakukan apa aja yang aku suka. Aku nggak mau kalau sudah nikah terus nggak bisa melakukan apa yang aku suka lagi, harus nurut dirumah terus kayak Kak Karin. Apalagi nikah sama tentara, pasti hidupku persis kayak Kak Karin," Kamila sudah nggak tahan lagi mengutarakan isi hatinya.
"Itu kan karena kamu hanya melihat Kak Karin sayang. Semua bisa dibicarakan dengan suamimu kelak. Keputusan kakak kamu itu juga pasti sudah difikirkannya matang-matang," terang Pak Herman mencoba memberi pemahaman pada putrinya itu.
"Pokoknya Kamila belum siap Pa, tolong ngertiin dong," Kamila masih keras kepala dengan pendiriannya.
"Baiklah, Papa tidak akan memaksa lagi. Tapi ingat kalau kamu nggak bisa membuktikan perkataan kamu, maka kamu harus menuruti permintaan Papa," ucap Pak Herman final.
"Oke, deal," Kamila menyetujui kesepakatan itu. Dia sudah capek berdebat dengan Papanya.
"Ya udah, ayo makan dulu. Kasian Veni pasti sudah capek dan lapar karena nganterin kamu kemana-mana," lanjut Pak Herman.
"Terima kasih Om, tau aja kalau Veni laper," timpal Veni sudah nggak canggung lagi.
Kamila hanya menggelengkan kepala pelan melihat sahabatnya itu yang mudah sekali tergiur hanya dengan makanan. Kamila tersenyum kecil, lalu mengikuti langkah kaki Papanya untuk makan di restoran hotel.
Veni kembali terpukau melihat hidangan di restoran mahal. Dia menahan air liurnya agar tidak menetes melihat berbagai macam makanan yang tersaji.
"Banyak banget makanannya Om?," tanya Veni masih dengan ekspresi kagum.
"Ayo dimakan, jangan sungkan Veni. Kamu boleh makan sepuasnya," ucap Pak Herman mempersilahkan.
"Iya Ven, mumpung Papa yang traktir," tawa mereka semua pecah mendengar penuturan Kamila itu. Ketegangan yang sempat terjadi diantara Kamila dan Papanya seakan menguap begitu saja.
Mungkin yang baru melihat merasa heran dengan mereka. Yang beberapa saat lalu masih bersitegang, eh sekarang sudah tertawa bersama. Padahal memang seperti itulah mereka setiap kali bertemu. Ada aja yang diributin, tapi itu nggak berlangsung lama.
"Alhamdulillah, kenyang. Makasih Om jamuannya. Veni puas," ucap Veni penuh semangat.
"Sama-sama Ven, Om juga terima kasih karena kamu sudah menjaga putri Om yang menggemaskan ini selama disini," balas Pak Herman sambil mencubit hidung mancung Kamila.
"Ih Papa, aku kan bukan anak kecil lagi," rengek Kamila sambil mengusap hidungnya.
"Kamu tetap akan menjadi putri kecil Papa sampai kapanpun sayang," lanjut Pak Herman kemudian memeluk Kamila. Mereka terlihat melepas rindu. Sesayang itu Pak Herman pada Kamila.
"Kita pulang dulu ya Pa? Maaf Kamila nggak bisa nemanin Papa," Kamila melepaskan pelukannya dan berpamitan.
"Iya sayang, Papa juga tidak lama disini. Setelah urusan selesai Papa langsung pulang kerumah menemui kakakmu dan juga Vano," Pak Herman juga melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Kamila.
"Ini ada sedikit oleh-oleh untuk keluarga Nak Veni. Salam dari saya ya? Tolong sampaikan terima kasih saya pada kedua orang tuamu," lanjut Pak Herman memberi kode pada anak buahnya untuk memberi oleh-oleh untuk Veni dan keluarganya.
"Terima kasih banyak Om. Seharusnya Om nggak perlu repot-repot. Kami semua senang ada Kamila di rumah kami," Veni menerima oleh-oleh itu dengan perasaan canggung.
"Tidak repot Veni. Ya udah hati-hati dijalan, nggak usah ngebut,"
"Siap Om," Kamila dan Veni pun meninggalkan hotel tempat Pak Herman menginap.
Tanpa sepengetahuan mereka Pak Herman menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Kamila dan Veni dari belakang. Beliau merasa khawatir, tapi kalau terang-terangan pasti Kamila akan menolak jika Papanya menyuruh anak buahnya mengikutinya.
"Oh iya, aku ingat," Pak Herman tersenyum simpul kemudian menghubungi seseorang.
"Hallo," ucap Pak Herman setelah panggilannya tersambung.
"Iya Pak. Apa ada perintah baru?," tanya orang diseberang yang ternyata adalah Dika.
"Saya mau minta tolong sama kamu untuk menjaga anak saya, kebetulan sekarang dia juga berada di kampung yang sama dengan kamu saat ini. Tapi jangan sampai dia tahu saya yang menyuruhmu. Paham?," lanjut Pak Herman menjelaskan.
"Baik Pak, mengerti," jawab Dika tegas tidak bisa membantah perintah atasannya. Walau saat ini tugasnya masih belum beres, tapi dia tidak bisa menolak kalau atasannya itu memerintahkan yang lain.
"Nanti saya kirimkan Fotonya sama kamu," ucap Pak Herman kemudian mengakhiri panggilannya.
"Baik Pak,"
Dika mengerutkan keningnya. Sebenarnya dia masih heran, kok bisa anak atasannya saat ini berada di kampung terpencil di sebuah kota kecil yang cukup jauh dari Surabaya? Bukannya seharusnya dia sudah hidup enak di kota?
Fikirannya saat ini dipenuhi dengan banyak sekali pertanyaan yang belum dia ketahui jawabannya. Sampai akhirnya suara notif pesan di handphone nya mengalihkan perhatiannya.
Ting
Terlihat dilayar handphone Dika tertulis nama Pak Herman yang sedang mengirimkannya sebuah foto. Dengan cekatan Dika segera membuka pesan tersebut karena penasaran dengan wajah putri atasannya itu.
Dia memelototkan matanya lebar saat mengenali wajah gadis didalam foto tersebut. Gadis yang sudah tidak asing lagi baginya. Yang mungkin akhir-akhir ini juga memenuhi isi fikirannya itu.
"Kamila?," gumamnya mengucapkan nama gadis itu.
Dika menyunggingkan senyumnya mengingat Pak Herman pernah mengatakan kepadanya bahwa beliau akan menjodohkan dia dengan putri bungsunya. Dika tahu Pak Herman hanya mempunyai dua orang putri, dan yang satunya sudah menikah bahkan sudah mempunyai anak. Jadi dia yakin bahwa yang dijodohkan dengannya pasti Kamila.
"Apakah ini pertanda kami ditakdirkan untuk berjodoh?," gumamnya lagi masih memandangi foto Kamila yang terlihat sangat cantik dengan senyum manisnya.